Minggu, 09 Juni 2013

Balita Perlu Belajar Berhitung (Tulisanku yang dimuat di Tribun Kaltim 9 Juni 2013)

            Selama ini banyak orang tua semakin paham dan akhirnya berbondong-bondong mencari sekolah yang tidak mengajari anaknya belajar berhitung yang biasanya sepaket dengan membaca dan menulis. Terlalu dini sehingga khawatir menuai bosan ketika semestinya si anak akan belajar nantinya. Padahal berhitung itu sangat penting bagi kehidupan meskipun itu bagi anak balita.
            Anak menginjak usia dua tahun biasanya sudah sangat familiar dan mengerti makna kata tanya termasuk kata “berapa”. Bahkan anak-anak sering bertanya ketika didapatinya kue di piring dengan pertanyaan,”Kuenya ada berapa?” Atau tatkala si ibunya sendiri bernyanyi lagu “2 mata saya”, si kecil kembali bertanya,”Mata ada berapa?” Tentu saja pertanyaan ini harus mendapatkan jawabannya. Mereka tidak akan berhenti bertanya sebelum memperolehnya. Bahkan cenderung mengejar dengan pertanyaan serupa. Pun, anak seusia segitu rata-rata juga memahami makna kata “banyak” dan “sedikit”. Lucu bukan jika seorang anak bertanya,”Bunda, ini rotinya banyak atau sedikit? Kalau sedikit, itu ada berapa?” tapi terus tak mendapatkan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahunya? Padahal tabiat anak selalu saja ingin tahu. Mengekplor apa yang ada dalam jangkauan inderanya. Dan rasa ingin tahu yang besar ini merupakan fondasi mereka untuk kreatif. Maka, balita perlu belajar berhitung.
            Sederhana saja mengajarinya. Bilangan yang ingin dikenalkan pun yang kecil-kecil saja. Segala aktivitas yang dilakukan anak bisa dijadikan sumber bermain sambil belajar. Ketika anak berhasil memasukkan kancing bajunya sekali, orang tua bisa berkata,”Nak, itu 1 kancing” sambil menunjuk kancingnya. Saat naik tangga perosotan anak diajak berhitung banyak anak tangga yang dinaiki, ketika anak memegang roti di kedua tangannya pun ajak mereka menghitungnya. Bermain di alam juga bisa menjadi sarana belajar matematika untuk balita. Memunguti daunan yang kuning dan kering dan membuangnya ke tong sampah bisa menjadi sarananya. Anak memungut 1 daun, sang ibu berujar,”Satu.”

            Berhitung untuk anak balita penting. Bukan pada urutan 1, 2, 3, dst atau bagaimana simbol bilangan itu dituliskan, namun berhitung yang disesuaikan dengan makna semestinya dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan ketika si anak mendapati sepatunya yang mau dipakai tinggal satu, dia tidak akan diam saja. Dia kemudian bertanya,”Sepatu yang satunya lagi dimana?” Lagi-lagi, secara tak sadar anak pun belajar berhitung meski sederhana dan tak terpikirkan sebelumnya. Bermain dan suasana menyenangkan membuat balita menumbuhkan kecintaan mereka terhadap berhitung.

14 komentar:

  1. keren mbaa... :D Selalu suka dengan tulisan mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jazakillah, tulisan mbak juga bagus-bagus ...

      Hapus
  2. Balasan
    1. wah, terimakasih,moga ke depan tulisan kita semakin bagus ya

      Hapus
  3. Balasan
    1. terima kasih mbak, senang rasanya nih ... maaf balasnya telat nih

      Hapus
  4. Assalamu'alaykum Mbak Henny, minta ijin meninggalkan jejak :-0

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikum salam, silakan, senang ni jika ada yang mau ninggalin jejak, komentarnya apalagi

      Hapus
  5. Balasan
    1. terima kasih, salam kenal mbak wiwid

      Hapus
  6. Sip, bisa buat bahan buku mbaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampeyan aja mbak yang nulis bukunya ...ha ha ha

      Hapus
  7. Balasan
    1. makasih mbak, sampeyan tetap jagonya kok..ayo aku didorong terus ki

      Hapus