Selasa, 04 Juni 2013

Beda Standar

“Ah, ayah gimana sih, jaket kan bukan di sini tempatnya! Yang begini bisa ditiru anak! Ngasih contoh anak yang benar dong!” Lisa kembali ngomel-ngomel ketika melihat suaminya pulang kerja, merasakan kepayahan yang mendera, langsung menaruh jaket di atas meja ruang tamu. Ruang tamu? Entahlah apa namanya. Lisa dan suaminya saat ini masih mengontrak sebuah rumah petak di sebuah kota yang padat penduduknya. Kecil, seukuran rumah tipe 21. Tak jelas apakah ruang kecil di bagian depan rumah itu bisa layak disebut ruang tamu. Tidur saja juga disitu. Mungkin tepatnya, ruang serba guna. Di rumah petak ini pula Lisa dan suaminya berusaha mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya.

Dan, senja yang sudah bersiap menyambut malam. Langit mulai kemerahan segera berganti dengan langit yang gelap kelam. Namun senja tak luput menyodorkan kehebohan. Lisa seorang yang rapi, sedang suaminya, Yayan, seorang yang asal naruh barang. Lisa kembali sewot manakala kejadian itu selalu berulang. Yayan paling hanya sering diam. Dibiarkannya jaket itu tetap di meja. Kerinduan dengan anaknya lebih menguasai emosinya ketika itu ketimbang melayani omelan istrinya. Dia memilih untuk segera masuk kamar, menjauhi istrinya, lalu bercengkrama dengan sang anak. Gurauan bersama buah hati menghilangkan kepenatan setelah kerja sepanjang hari. Waktu yang sebentar dimanfaatkannya untuk sekedar mendongeng atau mendengarkan cerita anaknya. Isya mereka sudah tidur kembali. “Kapan lagi?” pikir Yayan. Masalah jaket bisa nanti-nanti dirapikan. Itu jika Yayan tak lupa. Kenyataannya, malah lupa yang selalu nomor satu. Alih-alih, Lisa akhirnya ngomel lagi dan merapikan semuanya.
“Ini kotor nggak sih? Kok celana ada di dekat kulkas? Kalau kotor ya ditaruh kamar mandi di timba biar nggak lupa dicuci. Nggak enak banget dilihatnya di sini!” Lisa kembali protes dengan tingkah laku suaminya. Diciumnya celana itu. Baunya memang menyengat membuat hidung Lisa yang tak seberapa mancung terangkat.
“Biar di situ dulu!” teriak Yayan dari kamar. Namun, tangan cekatan Lisa sudah terlanjur membawa celana jeans itu ke kamar mandi. Terlambat!
“Mau ke mana?” tanya Lisa melihat suaminya mengenakan celana baru dari almari selesai mandi dan sholat magrib.
“Ke depan sebentar, beli pulsa,” jawab Yayan tenang, seolah tanpa kejengkelan.
“Oalah, tahu gitu pakai celana tadi aja! Banyak-banyakin celana di gantungan baju aja! Kan nyamuk!”
Yayan tak menggubris. Tanpa banyak bicara dia langsung keluar dengan tatapan mata yang tetap teduh, seakan tak terjadi apa-apa. Memang, jika ditilik lagi ke hari-hari sebelumnya, begitulah Yayan. Sifatnya memang cenderung berbeda dengan Lisa. Yayan seorang pecinta kedamaian, tak terlalu ambil pusing dengan apa yang sudah terjadi. Beda dengan Lisa. Perempuan yang seumuran dengan suaminya ini sifatnya lebih dominan. Masalah rumah yang berantakan sudah bisa membuat raut mukanya cemberut kesal. Antara Yayan dan Lisa ada perbedaan standar kebersihan dan kerapian.
“Ayah selalu aja begitu! Lihat nih! Di atas kuda-kudaan kok ada kemeja, di kursi ada celana, nggak dilipat rapi lagi. Emang susah ya naruh di gantungan baju atau timba di kamar mandi?” pagi-pagi semburan kemarahan sudah meledak kembali. Pasalnya sederhana, Yayan yang semalam baru saja datang dari luar kota, baju kotor yang melekat di tubuhnya ditaruh saja di situ. Ngantuk dan keletihan tak kuat dia tahan. Yayan segera berganti dengan sarung, lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi. Lupa tidak membawa serta bajunya yang kotor tadi. Pagi menjelang, omelan istri sudah menyerang. Kemeja dan celana segara dicantolkan kembali oleh Yayan di gantungan baju. Kali ini bukan di kamar, tapi di kamar mandi. Tidak dicuci. Dibiarkannya tetap menggantung di sana. Asal nggak di kamar, biar tak ada nyamuk bersarang.
“Lho, kok nggak dicuci sekalian yang tadi kotor?” Lisa bertanya heran ketika sedang menjemur baju yang baru saja dicuci suaminya.
“Nggak apa-apa. Yang ini sudah banyak. Besok saja. Biar aja di gantungan baju di kamar mandi,” jawab Yayan datar.
“Kan mumpung lagi panas!” di teras Lisa masih saja berkomentar. Ketika gilirannya mandi, dia pun akhirnya yang mencuci baju kotor kepunyaan suaminya tadi.
Namun, apa boleh dikata, nasi sudah menjadi bubur. Tak perlu disesali. Untungnya, Yayan tak menyalahkan keadaan punya istri bersih dan rapi. Bahkan Yayan berpikiran sebaliknya, keberadaan Lisa dalam rumah tangganya patut untuk disyukuri. Makanya tak pernah dia melayani dengan serius, apalagi menimpali dengan hal serupa istrinya yang cerewet itu ketika kasus demi kasus menyangkut kebersihan dan kerapian rumah terjadi. Lagi pula, dulu ketika masih ta’aruf dan tukar biodata, sifat bersih dan rapi ini pula yang disenangi Yayan dari sesosok Lisa. Yayan sadar dia butuh pertolongan agar dirinya juga bisa menaikkan derajat kebersihan dan kerapiannya. Maka, dipilihnya Lisa sebagai pasangan hidupnya. Lisa pun mengangguk paham ketika masa ta’aruf itu.
“Ya nanti belajar sama-sama, saling mengingatkan,” ujar Lisa kala Sabtu siang 2 tahun lebih yang lalu.
Plong rasanya. Pernikahan pun terjadi. Hari keempat pasca menikah Lisa sudah dikagetkan dengan kondisi kamar tempat suaminya dulu nge-kos sebelum menikah. Maklum, ketika akan menikah, Yayan belum sempat merapikan dan pamitan dengan yang punya kamar. Maka, Lisa diajaknya untuk beres-beres, pindahan ke rumah kontrakan. Kali ini Lisa masih biasa saja. Suasana pengantin baru masih terngiang indahnya. Tanpa omelan, cerewetnya masih tersimpan.
Hingga waktu berjalan watak asli Lisa terbongkar. Suatu sore ketika pulang kerja Lisa mengambil sapu langsung segera membersihkan rumah. Kertas-kertas penting masih tercecer di lantai. Ini pasti kerjaan suaminya. Yayan pulang kerja juga, dan dia dapati istrinya sedang cemberut tanda tak senang. Ketika itu belum ada momongan. Lisa masih bekerja dan senantiasa berharap ketika pulang kerja rumah tidak berantakan, kalaupun mungkin belum sempat disapu. Yayan berusaha menghibur dengan membantu merapikan kertas-kertas penting itu dan mengambil alih sapu yang dipegang Lisa. Ternyata, belum mereda pula kejengkelan Lisa.
Guliran hari akhirnya membawa Lisa dan Yayan pada kehidupan kota besar. Yayan beralih pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil di Jakarta sehingga mengharuskannya berangkat pagi. Pulangnya sering sampai rumah sudah menjelang magrib. Dan itu ada kepayahan yang mengiringi plus rindu menggebu dengan sang buah hati. Maka, wajar sebenarnya jika Yayan sering melupakan nasehat istrinya untuk menaruh jaket dan teman-temannya itu di tempat yang semestinya. Yayan tak marah meski omelan istrinya datang bertubi-tubi, tak enak didengarnya.
“Ya Allah, ternyata ada di sini sweater merahnya. Ini kotor apa bersih?” tiba-tiba Lisa menemukan baju hangat kesukaan suaminya ini di dalam keranjang di antara tumpukan-tumpukan tas ransel. Lisa mengulangi pertanyaan tentang status baju hangat itu, apakah kotor atau bersih karena Yayan tak segera menjawab sebelumnya. Kali ini lebih keras seperti berteriak namun tak sampai menjerit. Yayan yang masih di kamar mandi segera menghentikan kran sehingga suara istrinya bisa terdengar. Yayan tak segera menjawab, namun dia buru-buru keluar kamar mandi. Ketika Lisa akan mengulangi pertanyaan lagi, Yayan segera menyerobot baju hangat miliknya itu.
“Ayah kan lagi di kamar mandi, bisa sabar sebentar nggak sih?” Yayan bertolak meninggalkan Lisa sambil membawa baju hangatnya ke kamar mandi. Yang artinya baju hangat merah itu memang kotor. Kali ini ada bara membara menghiasi wajah Yayan. Ketika berbicara pun matanya yang bulat tegas sekali memandangi istrinya. Lisa terkejut bukan main. Sulit dipercaya.
“Bruk!” pelan terdengar baju itu dilempar ke timba. Tumben, Yayan kali ini berbeda dengan biasanya ketika Lisa mulai gelisah dan mengeluarkan jurus omelannya. Lisa terpaku di pagi berselimut mendung. Dia pun membisu menyaksikan polah suaminya. Kian lama ada penyesalan bergelanyut mulai membuka mata hati, terus masuk membisik di nurani. “Ya Allah, ampuni hambamu ini,”Lisa berkata sambil menahan derai mata yang ingin berlinang menetes di pipi.
Perubahan terjadi meski penyakit Yayan meletakkan baju sembarangan masih saja sering kambuh. Kali ini Lisa bawelnya tersembunyi, atau bahkan sudah mati, tak ingin menghidupkan kembali. Tiap kali Yayan seenaknya meletakkan baju tidak pada tempatnya, Lisa segera memungut dan merapikannya tanpa banyak kata yang keluar lagi dari mulutnya. Simpul-simpul senyum selalu dia suguhkan meski rumah kontrakannya yang kecil berantakan.

Lama itu berjalan, hampir 2 bulan. Yayan diam-diam merasakan ada yang janggal. Hingga sebuah pesan singkat akhirnya mendarat di handphone jadul punya Lisa,“Sayang, ayah rindu omelanmu, betapa itu yang lebih menyemangatiku.” 

4 komentar:

  1. dan sayapun meninggalkan jejak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Wiwid, apa nih komentarnya tentang cerpen saya? ha ha ha masih acak-acakan ya?

      Hapus
  2. Cerita ini terasa familiar banget bagi saya mbak, hihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksudnya, mbak ngalaminya gitu ya?

      Hapus