Minggu, 28 September 2014

Kerugian Berbisnis Daycare

Anak-anak di daycare adalah investasi akhirat

                Daycare kini banyak bermunculan dimana-mana, seolah memang menjadi kebutuhan orang tua untuk menjaga anak-anaknya selagi mereka bekerja. Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, anak sudah diajak berangkat menuju daycare. Pulang sampai rumah maghrib/malam sudah biasa bagi anak-anak yang dititip di daycare.

                Sungguh, rugi berbisnis daycare. Jika niatnya untuk meraup untung saja. Awal saya mendirikan Rumah Pelangi Daycare ada bimbang dalam hati saya. Seolah bertentangan dengan prinsip saya, bahwa ibu, khususnya, selayaknya di rumah saja mendidik dan membesarkan buah hatinya. Tapi, saya pendam dan kubur kebimbangan saya. Toh, faktanya tidak semua ibu bekerja tidak peduli dengan pengasuhan dan pendidikan anaknya. Buktinya, ada orang tua yang menitipkan anaknya di daycare sangat perhatian dengan makan, progress tumbuh kembang, dan kemampuan lain anaknya. Meski, jujur ada juga orang tua yang tak terlalu peduli soal itu. Bahkan diberi rapor perkembangan anaknya pun biasa saja. Tak bertanya apa pun. Yang menyedihkan lagi adalah karena alasan pekerjaan dan tidak mau dimarahi atasannya, orang tua malah tega dan ngeyel menitipkan anaknya di daycare ketika sakit. Padahal sudah jelas itu saya larang karena memang demikian aturannya. Kenyataan seperti inilah yang membuat saya maju mendirikan daycare. Membantu orang tua soal anaknya dan mengajak orang tua bisa senantiasa belajar dan berlatih menjadi orang tua yang baik.

                Sungguh, rugi berbisnis daycare. Jika malah menjadikan anak jauh dari orang tuanya. Anak-anak di Rumah Pelangi Daycare sangat dekat dengan para pengasuhnya. Mereka biasa mendongeng, bermain, belajar sholat, berdoa, dan makan bersama. Namun, pengasuh berusaha saya ajari agar menceritakan kebaikan orang tua anak-anak kepada mereka. Bahwa orang tua mereka bekerja untuk kebaikan mereka, ibunya lah yang melahirkan mereka, yang mengajarkan banyak nama benda, tempat bersandar ketika sakit, mengajak bermain ketika libur, menemani ketika tidur malam, dsb. Bagaimanapun, meski durasi anak-anak lama di daycare, namun kebersamaan mereka bersama orang tuanya tentu ada yang berkesan. Dan ini yang selalu dihadirkan pengasuh kepada mereka agar tetap dekat dengan orang tuanya. Jangan sampai seperti kacang lupa akan kulitnya.

                Sungguh, rugi berbisnis daycare. Jika terus mengungkit betapa lelahnya mengurus anak orang. Karenanyalah, suntikan motivasi kepada pengasuh tentang pahala melimpah berbisnis ini senantiasa saya berikan. Lelah? Memang iya. Apalagi beragam sekali tingkah polah anak. Ada yang suka menggigit, ada yang suka mojok di kamar saja, ada yang suka nangis seharian, ada yang tidak bisa makan nasi, dsb. Wajar lelah, lumrah mengeluh ini itu. Namun, bukankah ini ladang amal yang sangat besar?


                Daycare bukan soal lagi tentang “Ini lho saya punya daycare”. Bukan, bukan itu! Daycare adalah inspirasi amal. Daycare adalah sumur kebaikan.

8 komentar:

  1. Saya salut dg daycare-nya mak, mungkin inilah harapan orang tua yang menitipkan buah hatinya di daycare...sayang tidak semua daycare sungguh2 dan profesional kerjanya, ada yang hanya meraup untung saja, namun kembali pada orang tua, bahwa sebenarnya yang diinginkan buah hati adalah kehangatan dan kasih sayang tulus dr orang tuanya bukan dr pengasuhan orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, makanya daycare saya tak mau menerima anak dijemput lewat jam 7 malam. kasihan anak-anak. dah nggak tenang, kangen ma orang tuanya

      Hapus
  2. Hebat Mak, amanah. Kebanyakan daycare nerima klien tanpa kasih sayang. Padahal ngasuh anak lahir batin ya Mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, syarat utama memang pengasuh harus sayang anak dulu kalau mau kerja di daycare saya

      Hapus
  3. duh, jadi mellow baca ini. inget anakku di daycare. *emaknya malah blogwalking di kantor* T_____T

    BalasHapus
  4. Semoga tetap menjadi ladang amal yang berkah mbak..

    BalasHapus