Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

Manfaat Balita Bisa Berdiri Satu Kaki



                Usia balita adalah usia dimana mereka sangat aktif bergerak. Kemampuan motorik kasar yang sudah diasah sejak bayi akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia mereka. Masih bayi masih sebatas tengkurap, guling-guling, merangkak, dan berjalan. Ketika batita, kemampuan motorik kasarnya sudah meningkat seperti berlari, melompat dengan 2 kaki, naik tangga, dsb. Meningkat lagi usianya, balita makin mahir memainkan alat main di playground, berjalan di atas titian, memanjat, bergelantungan, dsb. Namun, beberapa orang tua malah kecolongan untuk menstimulus balitanya agar mahir berdiri satu kaki.

                Balita bisa melakukannya, namun masih dalam durasi yang tidak lama. Rata-rata maksimal 3-5 detik mereka bisa bertahan berdiri satu kaki. Diminta mencoba lagi, rata-rata enggan melakukannya. Padahal jika bisa lebih lama, akan banyak manfaat yang bisa diperoleh anak. Apa saja?

                Anak yang mampu berdiri satu kaki cukup lama, akan sangat berguna untuk meningkatkan kemandiriannya. Terutama dalam hal memakai celana/rok sendiri. Awalnya anak-anak akan memakai celana/rok dengan duduk dengan memasukkan kakinya satu per satu, lalu berdiri dan mengangkat celana/roknya itu. Tentu saja tak bisa seperti ini terus. Bagaimana jika memakai celana/rok habis buang air di toilet umum? Masih kecil mungkin akan dipakaikan orang tuanya. Anak berdiri satu kaki bergantian dengan memegang pundak orang tuanya. Bagaimana jika usianya kian bertambah misal ketika menapaki jenjang SD kelak? Balita harus terus dilatih berdiri satu kaki dengan durasi yang cukup untuk memakai celana/rok. Minimal itu.

                Ada manfaat lain dari aktivitas berdiri satu kaki ini untuk balita. Kemampuan berdiri satu kaki akan berpengaruh pada keseimbangan otak kanan dan otak kirinya. Ini merupakan salah satu gerakan yoga yang bisa dilakukan anak secara sederhana. Namun, memang membutuhkan latihan yang cukup agar kualitas berdiri satu kaki bisa lama. Kalau kondisi otak sudah seimbang, anak akan lebih siap belajar. Bahkan banyak penelitian mengungkapkan, kemampuan berdiri satu kaki bisa mencegah kepikunan dini. Ya, intinya kondisi otak balita sejak dini disiapkan dalam keadaan baik dan sehat.

                Dan yang jelas, otot kaki balita menjadi lebih kuat. Hal ini penting mengingat keaktifan mereka bergerak masih sangat tinggi. Eksplorasi mereka terhadap lingkungan juga semakin luar biasa. Mereka hampir tak pernah diam. Berdiri satu kaki akan memfokuskan balita sejenak sekaligus menguatkan otot-otot kaki mereka. Balita pun akan sehat secara fisik.


                Menstimulus balita agar bagus dalam berdiri satu kaki tidak bisa diabaikan begitu saja. Bahkan setiap hari, orang tua perlu melatihnya agar balita bisa melakukannya lebih lama. Orang tua bisa memotivasinya dengan memberinya contoh. Senam sederhana diirngi musik yang melibatkan berdiri satu kaki dalam salah satu gerakannya, bisa dijadikan cara berlatih balita. Berdiri satu kaki banyak manfaatnya untuk mereka.

Minggu, 15 Maret 2015

1001

          Ini  bukan kisah 1001 malam. Yup, ini adalah permainan matematika yang sangat menyenangkan. Bisa dipraktikkan oleh anak SD minimal kelas 3. Tapi, jangan salah! Bahkan orang tua pun ternyata suka juga melakukan permainan ini. Hiks, pengalaman nih!

          Tak usah lama-lama ya! Bagaimana sih aturan permainannya?
·       Permainan ini dilakukan oleh 2 pemain. Maka, jika anak ibu mau melakukan permainan ini harus mencari 1 orang teman untuk dijadikan lawan tanding. Atau ibu bisa melakukannya bersama anak ibu.

·                          Secara bergiliran, pemain menyebut bilangan, misalkan dari 985 sampai 1001 secara urut satu atau dua bilangan. Bilangan awal seperti 985 adalah sesuai kesepakatan. Jika ingin menggunakan bilangan lain, silakan saja.

         Contoh simulasi untuk aturan kedua permainan ini adalah sebagai berikut:
Giliran pertama, pemain pertama, misal ibu. Ibu menyebut bilangan 985, 986 (sebenarnya ibu bisa juga hanya menyebut 985 saja), maka anak (pemain kedua) boleh menyebut selanjutnya 987 (atau 987, 988, terserah saja!), dst. Intinya maksimal hanya boleh menyebut dua bilangan saja. Tentu saja, hal ini juga sudah disepakati sebelumnya. Bisa saja jika mau menyepakati boleh menyebut maksimal 3, 4, atau berapa pun bilangan.
·         Pemain yang menyebut bilangan 1001 terlebih dahulu dialah yang akan menjadi pemenangnya.

        Coba deh! Dan rasakan! Bagaimana sebenarnya matematika tak harus berhadapan dengan kertas dan pensil saja. Tak harus mengerjakan LKS, tak harus menulis.

        Kembali ke permainan 1001, kira-kira konsep matematika apa yang ingin dilihat ibu dari anaknya? Aha, ya! Mengurutkan bilangan dari yang terkecil ke terbesar. Selama ini seringnya ditulis di buku soal seperti ini: 985, …, 987, …, …, 989, dst. Bosan, sangat membosankan. Anak pun cenderung tak menyukainya. Permainan ini juga sekaligus melihat kemampuan anak dalam membilang dan membaca bilangan. Ingat! Bahwa 985 dibacanya sembilan ratus delapan puluh lima, bukan sembilan delapan lima. Nah, meski begitu permainan ini juga bisa lho jika bilangannya diganti dengan bilangan loncat, bilangan pecahan, bahkan bilangan bulat sekalipun.

       Ada hebatnya lagi permainan ini lho! Yang jelas, ibu dan anak jadi semakin erat jalinannya. Anak semakin percaya bahwa ibunya benar-benar teman yang enak diajak bermain bersamanya.


         Ok, selamat bermain!

Sabtu, 14 Maret 2015

Ibu, Peluklah Kembali Anakmu!



            Ini tentang cinta. Dan tak ada yang bisa memberikan cinta kepada seorang anak, melainkan ibunya sendiri. Seorang pengasuh bisa memberikan perhatian kepada seorang anak manakala ditinggal ibunya bekerja. Namun, pengasuh tak bisa memberikan cinta. Sekelas Halimatus Sa’diah sekalipun, ketika Muhammad kecil disusui dan diasuhnya, tetap saja Halimatus tak sanggup memberikan cinta. Ketika peristiwa pembelahan dada atau ketika Muhammad akan diculik orang dari Habasyah, Halimatus mengambil keputusan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya. Aminah memeluk dan menggendongnya. Tak ada ketakutan sedikit pun atas peristiwa yang dialami anaknya. Aminah tenang, maka Muhammad pun tenang.

            Ini tentang siapakah madrasah anak pertama dan utama? Ibu, jawabannya. Memeluk adalah bagian pengejawantahan kasih sayang serta cinta, dan karenanya anak akan dekat dengan ibunya. Kalau sudah dekat, ibu berkata apa saja akan mudah anak menerimanya. Ketika pertama kali ibu yang mengajarkan kebaikan, anak akan mengingatkan dalam pikiran bawah sadarnya. Apalagi jika berulang-ulang terekam. Apa jadinya jika pertama kali dekat dengan anak adalah keburukan yang datang di luar ibunya? Oh, mohon jangan salahkan anak! Ibu, peluklah kembali anakmu!

            Tapi bagaimana? Terkadang ibu terpaksa harus bekerja. Berangkat pagi pulang malam, sampai rumah lelah melanda. Masalahnya bukan karena itu. Namun, seberapa mau ibu kembali memeluk anaknya. Memeluk itu mudah, namun memulainya kembali yang susah. Apalagi jika anak sudah tak balita lagi. Sudah saatnya menyudahi. Meluangkan waktu sesaat sebelum dan sesudah pulang kerja untuk memeluk anak adalah terapi hubungan yang luar biasa. Tahanlah kantuk, bercengkramalah sebentar dengan anak. Anak akan memahami kelelahan ibunya. Bahwa bekerjanya ibu bukan adalah untuk kebaikannya. Dua jam sehari sungguh akan memberi rasa dan warna.

            Ini soal peradaban. Dan pepatah berkata bahwa ibu adalah tiang negara, patut direnungkan kembali dalam dada. Asma binti Abu Bakar, sang ibu yang begitu luar biasa menggembleng anaknya hingga berani syahid membela Islam adalah contohnya. Peradaban ada karena peran seorang ibu di dalamnya. Serangkaian motivasi dan pembelajaran berharga dari ibu akan mudah diserap anak manakala ibu bersamanya. Memeluk, mencium, dan ungkapan kasih sayang lain hingga mampu mensibghah kebenaran dan kebaikan dalam jiwa, pikiran, dan tingkah laku anaknya.

            Bukankah tujuh tahun pertama adalah pondasi yang seharusnya kuat untuk anak bertumbuh dan berkembang setelahnya? Golden age akan mencapai puncaknya manakala anak benar-benar merasakan kelembutan dan sentuhan kasih sayang ibunya. Tak ada hukuman fisik ataupun hukuman verbal. Tujuh tahun berikutnya, pelukan itu tetaplah dibutuhkan. Ibu sedang cerewet-cerewetnya mendampingi anak mengenal dan mempraktikkan kebaikan hingga usia ini pun mencapai masa emasnya. Memeluk bisa menjadi baterai baru bagi anak. Dan tujuh tahun berikutnya lagi anak sudah siap dan matang menjalani hidupnya. Mana yang benar dan mana yang salah, anak sudah punya landasannya.

            Tabungan pelukan tetaplah harus diberikan oleh seorang ibu. Banyak godaan dan masalah yang membelit anak. Rona kehidupan bersliweran tiada henti di hadapannya. Ada yang menakjubkan namun mengandung dosa. Ada pula yang kelihatannya tak sedap dinikmati, namun sebenarnya jalan surga. Anak bimbang. Ada kebingungan. Peluklah, karena pelukan itu menentramkannya, menyejukkannya. Ibu akan mudah menjelaskan mengapa itu demikian.


            Memeluk bukan persoalan sempat atau tidak sempat. Memeluk adalah bagian yang tak boleh terlupakan dari seorang ibu kepada anak. Memeluk adalah bagian pengungkapan bagaimana peradaban itu sanggup tercipta. Ibu, peluklah kembali anakmu!

Minggu, 08 Februari 2015

Faktor

Faktor bilangan 8 dan faktor bilangan 9


           “Ayah, apa yang menyebabkan orang bisa buta?” Malik tiba-tiba datang terengah-engah mengganggu ayahnya yang sedang membaca koran di teras. Sedang Malik sendiri baru saja pulang dari bermain bersama temannya.
            “Kenapa tiba-tiba tanya hal itu?’
            “Tadi waktu bermain bersama Fadhil, Fadhil cerita tentang orang buta yang baik yang dijumpainya saat pergi ke supermarket minggu kemarin.”
            “Memang baiknya orang buta itu apa kok Fadhil sampai bilang begitu?”
            “Orang buta itu kan lagi berjalan, ditabrak pengendara sepeda motor. Nggak sampai luka parah sih, eh, tapi pengendara motornya malah marah-marah karena orang buta tersebut nggak lihat-lihat. Kan wajar ayah, orang buta nggak lihat. Tapi, orang buta itu malah berbalik minta maaf dengan bertutur kata yang sopan. Nah, Fadhil iba dengan orang buta tadi. Katanya pingin menyembuhkan mata orang buta tadi andai dia bisa.”
            “O begitu ceritanya, subhanallah ya orang buta tadi?”
            “Iya, tapi apa jawabannya ayah, tentang apa penyebab buta?”
            “Ya macam-macam. Bisa sudah takdir Allah semenjak dia lahir. Ada yang karena kecelakaan hingga syaraf matanya rusak dan menyebabkan kebutaan. Itu sih yang ayah tahu.”
            “Segala sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya ya ayah?”
            “Begitulah! Nah, sekarang ayah tanya biar kamu lebih mendapatkan gambarannya yang lebih gamblang.”
            “Apa ayah? Nggak sulit, kan?”
            “Berapakah faktor dari 8?”
            “1, 2, 4, dan 8. Kok jadi pelajaran matematika Ayah?”
            “Sabar, ntar kamu akan mengerti sendiri apa kaitannya. Terus, mengapa bilangan-bilangan itu disebut faktor dari 8?”
            “Ya karena ketika bilangan itu dikalikan akan menghasilkan bilangan 8. Misalkan 1 x 8, 2 x 4, 4 x 2, dan 8 x 1.”
            “Kalau faktor dari 10?”
            “Ah Ayah, mau menguji kemampuan Malik ya? Faktor 10 itu 1, 2, 5, dan 10. Betul, bukan?”
            “Sipplah! Nah, kira-kira apa yang menyebabkan orang bisa masuk surga, Nak? Maksudnya kalau mau dicari faktornya, apa coba?”
            “Banyak, bisa karena amal kebaikan yang dia lakukan, bisa karena rahmat Allah.”
            “Lalu, orang yang buta tadi bisa masuk surga tidak karena sifat pemaafnya terhadap orang yang menabraknya?”
            “Ya bisalah. Kan pemaaf adalah amal baik.”
            “Terus, dengan menjadi orang buta, ada tidak peluang orang tersebut untuk lebih menjadikannya penghuni surga?”
            Malik tampak berpikir keras. Dia nampak memutar otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan ayahnya. Ayahnya pun menunggu dengan sabar dan tenang sambil meneruskan membaca koran. Sesekali dilirik anaknya, jari-jari tangannya masih memukul-mukul ringan meja di samping ayahnya. Tampak kosong, belum ada tanda-tanda dia berhasil mendapatkan jawaban.
            Sang ayah segara meletakkan kembali korannya. Malik cengar-cengir berkata bahwa dia menyerah. Lalu ayahnya bercerita tentang seorang anak yang diajak ayahnya jalan-jalan, dan selama dalam perjalanan mereka melihat seorang perempuan bertangan satu. Tangan sebelahnya lagi sudah tidak ada alias buntung. Sang ayah bertanya tentang siapakah yang lebih beruntung antara perempuan tersebut dengan diri anaknya. Sang anak menjawab bahwa dia sendiri yang lebih beruntung karena dengan punya tangan lengkap dia bisa melakukan banyak hal dengan sempurna dan lebih cepat. Sedangkan perempuan yang dilihatnya tidak demikian. Sang ayah mengiyakan, lalu beliau bertanya tentang peluang perempuan tersebut untuk berbuat maksiat dengan tangannya. Sang anak menjawab bahwa perempuan tersebut akan merasa senang karena minimal satu tangannya tidak akan pernah berbuat maksiat. Otomatis satu tangannya yang tidak ada tidak ada dimintai pertanggungjawaban. Sang ayah menegaskan tentang siapa yang sebenarnya lebih beruntung.
            “Oh, aku tahu ayah. Berarti orang yang buta tadi bisa menjadi penghuni surga lagi karena matanya diselamatkan dari melihat yang tidak diperbolehkan ayah. Betul, bukan?”
            “Luar biasa anak ayah,”sanjung ayah Malik sambil mengelus rambut anaknya yang mulai kemerah-merahan.
           
            Wahai para orang tua, apa yang didiskusikan Malik dan ayahnya sungguh suatu hal yang membawa kebaikan. Mengapa? Secara tak langsung, meski ayah Malik menanyakan tentang faktor sebuah bilangan, namun beliau cerdas sekali mengajak anaknya mengambil hikmah dari makna faktor tersebut. Bahwa segala sesuatu terjadi karena ada faktor penyebabnya. Dan semuanya kembali kepada kehendak Allah.

            Anak jadi memahami ada peran Allah dibalik semua peristiwa. Dan setiap kejadian yang menimpa manusia tidak akan melebihi kemampuan manusia itu sendiri, bahwa ada pelajaran berharga yang bisa dipetik jika manusia mampu memaknai. Pun, dari dialog di atas, dari bab faktor sebuah bilangan, anak akan mengerti bahwa sesuatu bisa menyebabkan sesuatu. Ada hukum sebab akibat disana. Lebih jauh, ayah Malik begitu pintar mengajak anaknya berpikir tentang demikianlah sifat Allah. Allah Maha Memberi Pembalasan. Setiap amal kebaikan diganjar dengan kebaikan, demikian pula sebaliknya. Anak tak hanya pintar menjawab bahwa 1 x 8 akan menyebabkan hasil 8, namun anak punya pikiran yang mendalam bahwa amal baik bisa membawa manusia ke dalam surga. Sehingga manusia tidak dinilai dari bentuk fisiknya, namun lebih kepada amal yang dilakukannya.

Senin, 02 Februari 2015

Karakter Positif Anakku Mulai Tampak Wujudnya

Dimuat di Nakita Januari 2015

Membangun karakter positif pada anak dibutuhkan pembiasaan (Indari Mastuti)

            Jangan dikira kalau anak usia balita tidak mengerti tentang “mimpi”. Memang, ketika orang tua bertanya,”Nak, apakah mimpi yang ingin kau capai?” anak belum tentu mengerti apa maksudnya. Dengan penggunaan bahasa yang tepat sesuai dengan kemampuan anak, istilah “mimpi” akan mudah dipahaminya.
            Anak usia 2 tahun biasanya memiliki kemampuan berbicara dan perbendaharaan kata yang cukup banyak. Berbicara 2 kata atau lebih sekaligus juga sudah dikuasainya. Bahkan, kecenderungan anak usia ini senang dan selalu bertanya “apa” tentang kata baru yang didengarnya. Dengan kemampuan berbicara dan menangkap bahasa ini pun, anak dengan mudah memahami 1-2 perintah sekaligus untuk bisa dilakukannya.
            Sudah menjadi hal yang wajar bahwa orang tua ingin anaknya nanti tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter positif. Membangunnya ini tidak serta merta langsung jadi. Ada proses yang harus dilakukan orang tua dan anak sendiri dengan penuh kesabaran, Menurut Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, minimal ada 3 hal yang harus dicermati dan dilakukan sungguh-sungguh untuk membentuk karakter positif anak ini, yaitu konsisten, berkelanjutan, dan konsekuen. Proses ini membutuhkan waktu. Karakter positif tidak tumbuh alami dalam diri anak.
            Awalnya, saya bingung bagaimana bisa mengontrol proses pembiasaan ini. Apakah seperti saya yang tiap bulan selalu mengeprint target jadwal sebulan lalu diisikan? Ah, rasanya akan tidak menghemat kertas. Belum lagi kalau lupa mengeprint karena printer rusak/tintanya habis. Dicatat di buku? Anak tak bisa melihat langsung dengan mudah setiap saat. Untunglah, akhirnya saya menemukan papan target ajaib bernama metrik. Saya tuliskan target hariannya di kolom yang disediakan dan saya catat hasilnya setiap hari. Jika terpenuhi targetnya, maka tak ada utang. Jika tidak terpenuhi, maka target esok harinya ditambah. Namun jika berlebih targetnya, keesokan harinya tetap dengan target yang sama.
            Sulung saya. Qowiyy (5 tahun) yang pertama kali menggunakan metrik di keluarga saya. Qowiyy anak yang enggan berbicara dengan orang lain jika belum kenal sebelumnya. Dia cenderung diam dan mengamati. Ketika ditanya orang juga cenderung enggan menjawab. Saya mencoba menantang dia agar dalam sehari berani berbicara dengan orang lain di setiap kesempatan. Awalnya susah. Qowiyy belum keluar dari zona nyamannya. Bahkan sering tak tercapai target harian itu. Namun, lambat laun, dengan terus saya dampingi setiap kali mau berbicara dengan orang lain, Qowiyy tampak kepercayaan dirinya meski belum seignifikan. Paling tidak jika ketemu kakek neneknya dan saudara lain yang jauh di luar kota, Qowiyy sudah menunjukkan rasa percaya diri yang berarti.
            Orang tua Nasywah (2 tahun 4 bulan) sejak bulan November 2014 kemarin memberlakukan target harian “merapikan mainan setelah selesai bermain” kepada anaknya. Pasalnya, Nasywah cukup sulit diminta untuk merapikan mainan jika sudah usai bermain. Ada saja alasannya, entah lapar, capek, ngantuk, dsb. Bahkan diajak merapikan bersama-sama pun Nasywah malah tidak ikut membantu. Untuk memulai membentuk karakter ini, ada pembicaraan awal antara ibunda Nasywah dengan anaknya.
            “Kau tahu, Nak, apa itu tanggung jawab?”
            Nasywah tentu saja menggeleng tidak tahu, bahkan dia lanjut bertanya apa itu tanggung jawab. Ibundanya pun memberikan keteladanan langsung tentang tanggung jawab ini dengan mengajak Nasywah merapikan mainan. Ogah-ogahan? Ya.
            “Nasywah, gimana sih senyum itu? Nasywah suka ayah dan bunda tersenyum?” Nasywah  mempraktikkannya dan menjawab,”Iya, aku tak mau lihat ayah bunda sedih.”. Dari jawaban ini, tampak bahwa Nasywah bermimpi, berkeinginan melihat orang tuanya tersenyum untuknya. Lalu, ibundanya berkata bahwa senyum itu akan didapatkannya jika dalam sehari berhasil merapikan mainannya sebanyak 2 kali. Dilengkapi dengan stiker bergambar emoticon “senyum” ibundanya berharap kesenangan Nasywah merapikan mainan bisa terwujud. Setiap hari, stiker ini ditempel di papan target harian Nasywah yang dipasang di kamarnya. Kegiatan menempel stiker ini pun menyenangkan baginya selain mengasah motorik halus anak.
            Bulan November berlalu. Ibundanya mendapati Nasywah cukup kooperatif. Sempat bolong 3 hari Nasywah tidak mau bertanggung jawab merapikan mainannya, namun selebihnya ada hal yang mengesankan terlontar dari Nasywah. “Biar Nasywah aja yang merapikan. Kamu jangan merapikan!” Bermula dari mainan favoritnya, kini di bulan Desember, Nasywah mau merapikan mainan apa saja.
            Ashalina, anak dengan usia yang tidak terpaut jauh dari Nasywah, tapi lebih tua, demikian halnya. Anak yang dititip di sebuah daycare ini berasal dari keluarga yang mapan. Namun, bagaimanapun dititip bukan berarti anak dimanja, bukan? Karakter tanggung jawab untuk hal sesederhana sekalipun tetap harus dilatihkan. Karena anak-anak di daycare cukup banyak tentunya Asha memiliki kecenderungan ingin bermain dengan teman-temannya. Makan pun akan sulit duduk tenang. Apalagi jika makan sudah selesai, inginnya kabur saja segera bergabung dengan temannya. Lupa dengan piring yang dipakainya makan. Apalagi ada pengasuh daycare dan pegawai kebersihan daycare. Anak bisa memanfaatkan mereka untuk mengangkat piring dan meletakkannya di tempat cucian piring.
            Pengasuh Asha tidak ingin hal itu terus terjadi. Dengan target harian bahwa sehari 2 kali Asha mau membawa dan menaruh piring bekas makannya di tempat semestinya, pengasuh berharap Asha lebih bertanggung jawab. Hasilnya, sesekali saja Asha lalai. Sampai bulan Desember ini didapati Asha sudah makin terbiasa melakukannya. Jika lupa dan buru-buru ingin main, pengasuhnya hanya berkata,”Ini piring makan siapa ya?” Tak lupa sang pengasuh memberikan penguatan selesai Asha melakukannya.

            Inilah konsisten itu. Inilah berkelanjutan itu. Tak cukup sekali saja atau sehari saja. Harus terus menerus, berkelanjutan setiap hari. Rutinitas akan membiasakan karakter positif pada diri anak. Orang tua harus telaten dan konsekuen dengan apa yang dilakukan bersama anaknya. Ketika anak berbuat sesuai harapan, ada penguatan yang diberikan orang tua untuk anaknya. Jika ternyata belum berhasil mengajak anak mencapai targetnya, orang tua dituntut kreatif berbahasa dan mempersuasif anak. Memasang papan target harian sebagai salah satu caranya.

Rabu, 21 Januari 2015

Kegiatan Seru Meningkatkan Konsentrasi Balita Kinestetik



                Gaya belajar anak itu berbeda satu dengan yang lainnya. Salah satunya anak dengan gaya belajar kinestetik. Biasanya, anak ini sering dikesampingkan. Sudah banyak gerak, tidak bisa diam, dan kalau disuruh untuk fokus sebentar saja susahnya amit-amit.

             Benarkah anak kinestetik tak bisa berkonsentrasi? Setiap anak bisa berkonsentrasi selama dia tumbuh dan berkembang dengan baik. Agar bisa berkonsentrasi, tentu stimulus yang diberikan juga harus sesuai dengan gaya belajarnya. Anak yang kinestetik sangat menyukai gerak. Misalkan dia dilatih konsentrasinya dengan cara mewarnai gambar sambil duduk tenang, maka keberhasilannya tidaklah sempurna.

                Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi anak kinestetik. Tentu saja harus melibatkan olah gerak tubuhnya.

           Senam. Apalagi jika diiringi musik. Anak akan berusaha menyelaraskan antara gerakan dan musiknya. Kalaupun tidak pakai musik, juga tak mengapa. Menghafalkan urutan gerakannya sudah merupakan cara untuk meningkatkan konsentrasinya. Senam pun bisa dilakukan sampai selesai. Tentu durasi senam menyesuaikan dengan jenjang usia anak.

                Memanah dengan bola. Ini sebenarnya cara yang lain agar merapikan mainan misalnya bola jadi menarik bagi anak kinestetik. Terkadang, merapikan mainan menjadi sesuatu yang membosankan dan tidak menarik bagi anak. Namun, dengan cara ini justru konsentrasi anak kinestetik jadi terasah. Mintalah anak merapikan bolanya tidak dengan memasukkan langsung bola mendekat ke keranjangnya, tetapi dari jarak yang cukup jauh mintalah anak melemparkannya ke dalam keranjang. Anak akan senang. Dia seolah seperti bermain bola basket.

           Tepuk tangan. Awali dengan yang mudah dengan 1 pola sehingga anak bisa dengan mudah menirukannya. Misalkan prok, prok. Lalu, naikkan tingkat kesulitannya, misal dengan 2 pola, seperti prok, prok prok, prok. Demikian seterusnya hingga anak mahir menirukannya. Ingat, semakin banyak pola tepuk yang bisa anak ikuti, konsentrasinya semakin baik.

              Memindahkan air dari satu botol ke botol yang lain. Apalagi seperti lomba Agustusan, tentu semakin seru. Agar airnya tidak banyak yang tumpah, anak kinestetik dituntut konsentrasi melakukannya. Semakin sedikit yang tumpah, maka semakin bagus konsentrasinya.

                Permainan dimana aku berdiri. Orang tua cukup menyediakan 4 alas lantai yang tidak licin dan ditempatkan di sudut rumah yang berbeda. Anak berdiri bersama orang tua di tempat yang cukup berjarak dengan 4 alas lantai tadi. Misalnya alas lantai 1 adalah gajah, alas lantai 2 adalah kelinci, alas lantai 3 adalah kambing, dan alas lantai 4 adalah semut. Orang tua tugasnya memberikan 4-5 kalimat kunci tentang binatang tersebut. Tugas anak adalah bergerak dalam durasi waktu yang sudah ditentukan orang tua menempati alas lantai yang dimaksud sebagai jawabannya. Misalkan kalimat kunci itu antara lain: aku hewan yang kecil, aku suka yang manis-manis, aku ada yang berwarna hitam dan merah, aku suka berjalan di dinding tembok, aku juga hidup di lubang tanah.  

                Konsentrasi memang sangat penting untuk perkembangan anak ke depannya. Memahami gaya belajarnya sebagai modal awal menentukan kegiatan apa yang cocok untuk mengasah dan meningkatkan daya konsentrasinya. Termasuk anak bergaya belajar kinestetik.

Selasa, 13 Januari 2015

Mengenal Allah Lewat Bilangan


Senja sudah ditelan malam. Pasca magrib yang masih begitu menawan. Gemerlap bintang bertebaran menghias langit tanpa awan. Seorang ibu memulai pembicaraan dengan anak perempuannya yang masih menginjak kelas 1 SD.
“Nak, tahukah siapa nama lengkap bapak ibumu?” tanya sang ibu.
“Tahu lah ibu. Bapakku Ahmad Farizi, ibuku Salimah Putri. Betul kan?”
“Bapak Salma orangnya seperti apa?” ibu lanjut bertanya.
“Ehm, aku bangga sama bapakku. Bapak orangnya pemberani, selalu memperdulikan orang lain. Kalau ibu orangnya sabar, lembut, pintar,” jawab Salma, sang anak, melebihi keinginan ibunya.
“Kalau Salma sendiri?”
“Salma? Ehm, Salma sama kayak ibu.”
“Sama apanya?”
“Salma pintar, lembut, suka membantu ibu beres-beres rumah.” 
“Nah, sekarang Salma kenal tidak dengan bilangan 5?” ibu Salma tak berhenti bertanya.
“5 itu banyaknya rukun Islam, 5 itu setelah 4, 5 itu banyaknya jari tangan kanan atau tangan kiri, 5 itu angka belakang dari 15, 5 itu ada di lagu balonku ada lima, 5 itu banyaknya sehari kita sholat, 5 itu isi permen dalam 1 bungkus. Kenapa sih Bu?”
“Gak papa, anak ibu ternyata bisa ya mengenali bilangan 5. Jempol! Jika 2 apa? Sama tidak 9 dengan 5?”
“Oh, ceritanya ibu ngajak diskusi Salma ya? Oke. Ehm, 2, apa ya? Oh iya, 2 itu begini (sambil menunjukkan kepada ibunya jari telunjuk dan jari tengah terbuka sedang jari lain tertutup), 2 itu banyaknya bantal di kamar Salma, 2 itu kaki ayam. 9 jelas tak sama dengan 5.”
“Kok tahu kalau nggak sama?”
“9 lebih banyak dari 5.”
“Ok, ibu bangga sama Salma. Lalu, tahukah engkau Nak, apa dan siapa itu Allah?”
“Aku sering mendengarnya. Ibu dan bapak selalu mengajariku untuk senantiasa menyebut nama-Nya. Allahu Akbar, Allah ada dimana-mana, Allah yang menciptakan Salma. Emang Allah itu siapa Bu?” Salma balik bertanya. Selama ini dia memang sedikit bingung jika ada kata Allah terdengar di telinganya. Dia selalu mencarinya, tapi tak ketemu juga wujud aslinya. Tapi Salma percaya bahwa apa yang diajarkan kedua orang tuanya pasti benar adanya.
“Yang dikatakan Salma benar. Coba ingat-ingat kembali jawaban Salma terhadap pertanyaan ibu sebelum-sebelumnya! Betapa Salma begitu mengenal keluarga Salma, bahkan bilangan 5 dan 2 yang ada dalam pelajaran matematika. Betul, bukan?”
Salma mengiyakan pernyataan ibunya. Jika mengenal ibu bapaknya saja Salma tidak merasa kesulitan. Dirinya pun bisa mengenali dirinya sendiri. Tentang bilangan yang pernah dipelajarinya di sekolah pun dengan mudah dia menjelaskannya.
“Apa hubungannya dengan Allah, Bu, jawaban Salma tadi?”
“Ada. Bahkan sangat dekat. Salma harus bisa menemukannya,” tantang sang ibu.

Cukup. Kira-kira, para orang tua, pembaca semuanya, tahu tidak apa hubungannya? Saya yakin, Anda semua pasti akan mudah memahaminya. Jika kita telusuri kembali tentang sifat-sifat Allah, tentang nama-nama Allah (asmaul husna), maka kita akan bisa mengambil benang merahnya.

Siapakah yang sesungguhnya Maha Pemberani, Maha Menolong, Maha Sabar, Maha Lembut, dan Maha Pintar? Ayah Salma, Salma, dan ibunya kah? Tentu tidak. Dengan terus menggali jawaban anak, orang tua secara tidak langsung sebenarnya ingin sekali mengarahkan bahwa ketika semakin dalam anak mengenali dirinya, maka semakin jauh pula dia akan mengenal Allah. Bahwa sifat baik yang dia miliki sesungguhnya adalah sifat Allah yang memang dengan sengaja Allah meniupkan ke dalam dirinya.  Kecerdasan intrapersonal anak akan semakin diasah jika pertanyaan-pertanyaan seperti di atas senantiasa diberikan orang tua. Anak akan lebih mudah menelaah hal baik dan hal buruk yang ada pada dirinya. Ketika hal baik dia temukan, anak bisa mengambil kesimpulan bahwa semuanya datangnya dari Allah, dan jika hal buruk dia temukan, dia akan segera mengubahknya menjadi hal yang baik.

Lalu, bagaimana dengan bilangan-bilangan pada pelajaran matematika, misalkan 5 dan 2 tadi? Terlihat bahwa juga mengenali bilangan tersebut dengan baik sebaik dia mengenali ibu bapaknya. Bahkan, dia bisa menjelaskan bahwa 5 bukan 2, dan sebaliknya. Begitulah hakikat manusia dengan pencipta-Nya. Orang tua, melalui dialog yang lebih jauh lagi bisa mengajak anak memahami bahwasanya manusia berbeda dengan Allah. Sebaik-baik manusia tetap saja hamba Allah. Selembut manusia, ternyata masih ada yang super lembut, yaitu Allah.  Sebisa-bisanya membuat mobil canggih, ada Dzat yang super canggih menciptakan alam raya ini. Dialah Allah.

Apa pengaruh positifnya? Anak akan sadar posisi dirinya. Dia akan melek mata dan melek hati, Allah di atas segala-galanya. Sedikit demi sedikit orang tua sedang menumbuhkan karakter tawadhu dan rendah hati kepada anak. Anak mengerti pakaian kesombongan hanyalah milik Allah semata, hingga ujung-ujungnya dia akan menjadi hamba yang akan bersandar kepada Allah semata. Selanjutnya, anak akan memandang bahwa dirinya sama dengan diri manusia yang lain, apakah itu teman, guru, orang tua, ataupun tetangganya. Bahkan pengemis sekalipun. Sama-sama lemah di hadapan Allah.
Lebih jauh lagi, orang tua bisa saja menggali lebih dalam tentang hakikat bilangan 1 kepada anak. Satu lambang sendiri, simbol kemenangan, tak ada yang menandingi. Tak hanya sekedar bermakna 1 buah pensil atau 1 almari di kamar pribadi. Satu adalah milik Allah. Atau makna yang jauh tentang bilangan 10. Bahwa sepuluh tak hanya nilai yang digoreskan guru karena siswanya mengerjakan tugasnya betul semua, atau 10 adalah banyaknya jari-jari tangan. Namun, orang tua bisa memaparkan bahwa 10 adalah nilai kebaikan yang terkandung pada 1 huruf alif atau 1 huruf lam, atau 1 huruf mim jika manusia membacanya. Dan dari hal ini orang tua bisa mengangkat fakta bahwa Allah lah yang paling baik dalam memberikan balasan kebaikan yang dilakukan manusia.


Dahsyat, bukan? Matematika tak hanya bilangan semata dengan definisinya adalah banyaknya benda. Tapi dengan matematika, salah satu ilmu Allah, manusia diajak untuk lebih mengenali diri dan Sang Pencipta.

Selasa, 30 Desember 2014

MPASI Homemade Itu Menghemat Biaya Hidup


                Pengalaman berMPASI ria dengan membuat sendiri di rumah untuk kedua anak saya, memang pada akhirnya menuai manfaat yang banyak saya rasakan. Padahal dulu ketika mempraktikkannya untuk anak pertama sempat putus asa. Qowiyy tak begitu suka, apalagi itu tanpa gula dan garam. Maksimal 8 suap sendok teh saja bisa masuk mulutnya. Itupun harus sambil bernyanyi, bermain pesawat-pesawatan, dsb. Perlu waktu lama deh biar termakan olehnya. Sering tidak habisnya.  Tapi saya tetap sabar. Hingga suatu kejutan terjadi menggembirakan saya. Usia 11 bulan Qowiyy mulai lahap makan. Bahkan sampai sekarang. Sayur dan buah tetap doyan. Waktu sakit dan rawat inap pun tetap doyan makan. Alhasil, cepat sembuhnya. Dokternya geleng-geleng kepala.

                Lain Qowiyy, lain pula adiknya, Nasywah. Ketika MPASI tak ada menunjukkan masalah yang berarti.Usia 6-7 bulan makan puree buah sangat lahap. Lalu lanjut nasi tim saring dan nasi tim biasa juga sangat lahap meski tanpa gula dan garam. Seneng deh pokoknya. Makin semangat MPASI homemade. Namun, ketika usia setahun sampai 18 bulan, makan mulai susah. Masuk sih ke mulutnya, tapi tak sebanyak ketika MPASI. Untungnya, karena sudah terbiasa buah sebelumnya, ketika makan susah, buah masih mau banyak. Hati saya masih tenang. Baru deh, setelah usia 18 bulan, Nasywah doyan makan lagi. Bahkan sekarang di usianya 2 tahun 5 bulan, makan sayurnya juga lebih banyak porsinya. Suka dicemili ketika makan barengan nasi.

                Yang pasti, dampak MPASI homemade adalah anak jadi suka makan di rumah. Saya amati kedua anak saya tidak begitu suka makan beli di warung. Kalaupun mau hanya beberapa menu dan sering tak habis. Masak sayur bening begitu saja sama tempe goreng, anak-anak saya sudah doyan makan. Tak pernah repot masak. Asyik, bukan?

                Dan yang pasti, dimana-mana masak sendiri di rumah itu lebih hemat biaya. Lha menunya sayur bening. Hemat, bukan? Apalagi anak-anak sekarang tidak minum susu lagi di rumah. Sesekali saja kalau lagi bepergian jauh. Wow, minum air putihnya jauh lebih hebat lagi. Makan sayur dan buahnya tambah menggila pula. Pepaya bisa habis separuh berdua sama anak saya. Pisang sekali makan masing-masing ambil 2.  Jeruk sekali makan bisa 4 berdua. Oh ya, anak saya juga sangat jarang minta untuk jajan di luar. Apalagi sampai merengek, kecuali jika memang di rumah tidak ada apa-apa untuk dimakan.

                Apakah saya tidak pernah membelikan jajan di luar? Pernah, dong! Tapi tetap terbatas. Paling juga biskuit seringnya. Itupun sebulan paling habis tak sampai 50 ribu sama kue yang lain. Belikan roti tawar juga paling sebulan sekali. Beli es krim paling juga 3 bulan sekali. Kue cubit juga sebulan sekali rata-rata. Seringnya saya buatin ubi rebus, jagung rebus, singkong goreng, dan beli makanan tradisional (sawut, gemblong, gethuk, dsb).. Anak-anak malah lebih doyan. Hemat, bukan?

                Tak ada ruginya deh orang tua bergerilya praktik MPASI. Saya sampai sekarang juga masak hampir tak pernah pakai gula. Dampak kebiasaan MPASI dulu. Kalau garam pakai secukupnya saja. Tambah hemat lagi, kan? Jangan ragu deh untuk MPASI homemade. Yuk..



Minggu, 28 Desember 2014

Akhirnya Sang Ibu Bertanya



           
                 Mengelola sebuah daycare memang menimbulkan rasa senang dan sedih dalam diri saya. Senang, karenanya saya bisa membantu orang tua dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan yang baik buat anaknya. Ya, meski sebenarnya takkan bisa menggantikan posisi orang tua di hadapan sang anak. Sedihnya, jika terkadang menjumpai orang tua yang seolah melepas begitu saja anaknya di daycare. Asal sudah dibawakan jajanan kesukaan anaknya, sudah!

                Ada seorang anak, sebut saja namanya Farid, usianya sudah hampir 3 tahun. Anaknya begitu aktif.  Perkembangan motorik kasarnya sangat bagus. Dia sudah bisa memanjat pagar pinggiran tangga, perosotan dengan gaya akrobatik yang suka membuat deg-degan pengasuh di daycare. Berloncatan dari satu kursi ke kursi lainnya juga bisa dilakukan dengan lincah. Bergelantungan apalagi. Farid anak yang pemberani. Pernah di daycare jatuh 2 kali hingga luka wajahnya, juga tak ada kapoknya. Untung ibunya tak marah ketika Farid kecelakaan di daycare. Dan karena itu pula, saya dan pengasuh menganggap bahwa ibu Farid mengerti tentang polah dan keaktifan gerak anaknya.

                Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Pengasuh yang memegang Farid bercerita bahwa suatu hari ibu Farid bertanya,”Bu, Farid anak yang sangat aktif ya geraknya?” Nah lho? Pengasuh kaget, tapi tetap tersenyum. Sang ibu lanjut bertanya lagi,”Gitu tuh bisa berhenti sendiri nggak ya, Bu, geraknya yang banyak itu?”

                Ayo, bisa berhenti, tidak? Ya, wajar dong kalau anak bergerak aktif, yang penting tidak mengganggu dan merusak yang ada. Dalam artian jika masih sifatnya bukan destruktif ya tidak mengapa.  Jatuh, luka, dan sakit? Itu juga wajar. Konsekuensi yang mesti diterima. Namun, ada kekhawatiran dalam benak ibunya Farid. Khawatir Farid susah untuk diam dan konsentrasi sejenak untuk belajar, dsb.

                Pengasuh Farid di daycare tetap tersenyum. Farid tidak seperti yang dikhawatirkan ibunya. Dengan program mendongeng setiap hari untuk Farid, meski awalnya Farid acuh dan tak mau mendengarkan, kini meski belum bisa bertahan lama, Farid mulai melirik buku dongeng yang dipegang pengasuhnya.Mulai bertanya tentang gambar yang dilihatnya. Mulai ada perhatian untuk fokus sejenak. Ibunya senang mendengar kabar itu.

                Pengasuh lebih senang lagi. Akhirnya sang ibu bertanya soal anaknya. Sehari-hari Farid dulunya diantar dan dijemput sama pengasuhnya yang di rumah menuju dan pulang dari daycare. Sejak pengasuhnya tidak bekerja lagi, ibunya lah sendiri yang mengantar dan menjemput meski lewat magrib. Bisa jadi kebersamaan Farid bersama ibunya kurang, sehingga wajar ibunya bertanya seperti tadi. Seperti apa Farid kurang detail mengenalnya.

                Untunglah, syukurlah, sang ibu akhirnya bertanya. Dengan jawaban pengasuh daycare, ada harapan Farid ke depannya akan jauh lebih baik lagi. Ada andil dan turun tangan orang tuanya yang lebih intensif dan maksimal untuk tumbuh kembang Farid.

                 

Kamis, 04 Desember 2014

Kenalkan Allah di Setiap Kegiatan Anak


                Anak Anda yang masih balita sudah mengenal Allah? Sudah hafal asmaul husna? Ehm, di sekolahnya diajarkan dan dihafalkan ya? Wajar dong kalau hafal? Apalagi jika orang tua juga mengulanginya atau sengaja mengenalkan asmaul husna ini di rumah.

                Saya pun demikian halnya. Di setiap kegiatan anak berusaha mengenalkan Allah kepada mereka. Ketika makan, misalnya. Adakalanya anak nyeletuk,”Ih, nggak mau tahu ah!” Ketika itu saya mengingatkan,”Siapa ya yang memberikan tahu?” Anak saya langsung diam. Mengapa? Karena sebelumnya setiap makan saya selalu berkata,”Lauk ini Allah yang kasih. Allah Ya Wahab. Bersyukur masih dikasih lauk seperti nama Allah, Ya Syukur!”

               Ya, nggak serta merta langsung paham sih, tapi dengan selalu menyertakan Allah di setiap kejadian yang dialami anak, lambat laun anak lebih mengenal Allah. Ya, nggak mesti juga sih anak langsung diam. Adakalanya protes juga jika tak cocok lauknya, namun dengan menunjukkan bukti bahwa di tempat lain ada yang tidak bisa makan, anak akan tumbuh empatinya. Meski tak sesempurna yang kita harapkan. Tapi, mengenalkan Allah tak bisa lantas berhenti.

                Lewat permainan juga bisa lho! Ketika itu, saya menyiapkan mainan orang-orangan dari kertas dengan tinggi yang berbeda-beda. Anak saya menyusunnya dengan memasukkan benang ke lubang di tangan tiap orang-orangan tersebut. Qowiyy berhasil menyusun orang-orangan tersebut dari yang paling pendek ke yang paling tinggi.

                “Yang paling pendek yang mana, Mas?” tanya saya.
                Qowiyy pun menunjukkan dengan tepat. Demikian juga untuk orang-orangan yang paling tinggi. Qowiyy tahu dan mengerti.
                “Adakah yang lebih tinggi dari orang-orangan yang paling tinggi itu, Mas?”
                “Tinggian adik!”
                “Yang lebih tinggi dari adik?”
                “Qowiyy deh!”
                “Kalau Qowiyy sama ayah tinggian siapa?”
                “Ayah lah!”
                “Yang lebih tinggi dari ayah?”
                “Pohon!”
                “Yang lebih tinggi dari pohon?”
                “Awan yang ada di langit, Bunda!”
                “Terus, yang lebih tinggi dari awan?”
                Qowiyy terdiam seolah berpikir. Lalu, tiba-tiba dia menjawab,”Allah yang paling tinggi!”

                Saya kaget sekaligus kagum. Begitukah yang dipikirkan Qowiyy? Padahal selama ini tak pernah tahu kalau Allah Maha Tinggi. Saya hanya menjelaskan setiap saat bahwa awan, langit, bumi, pohon, manusia, dsb adalah Allah yang menciptakannya. Tak tahu saya bagaimana logika sulung saya bisa sampai ke sana.


                Intinya, libatkan senantiasa Allah dalam kegiatan anak. Jiwanya akan mengenali dan senantiasa mengingatnya. Bukankah iman kepada-Nya adalah bekal segala-galanya?

Selasa, 02 Desember 2014

Permainan “Di mana Aku Berada?” untuk Melatih Kemampuan Klasifikasi Anak

                Anak-anak suka bermain. Bahkan dengan bermain, banyak hal positif yang didapatkan anak. Tak sekedar secara kognitif, namun lebih dari itu karakter positif anak juga bisa dibangun dengan permainan. Sebagai contoh permainan “Di mana Aku Berada” yang beberapa waktu yang lalu saya lakukan untuk anak-anak.

                Bagaimana cara mainnya? Sebelumnya siapkan terlebih dahulu bahan-bahan yang dibutuhkan. Saya menyiapkan beberapa gambar benda yang biasanya ada di kamar tidur, ruang tamu, dapur, tempat jemuran, dan kamar mandi. Ya, ini sesuai dengan kondisi rumah saya. Sangat kontekstual. Orang tua bisa menyesuaikan sendiri dengan kondisi rumahnya masing-masing.

                Ada gambar kasur, bantal, guling, almari baju, dsb untuk benda-benda di kamar tidur. Ada sofa, karpet, rak buku, dsb untuk benda-benda di ruang tamu, dst. Gambar bisa menggambar sendiri atau mencari di internet lalu diprint, atau bisa juga foto langsung lalu dicetak. Terserah saja. Lalu campur semua gambar tersebut. Selanjutnya, siapkan kertas agak besar/papan yang masing-masing sudah ditulisi “kamar tidur, ruang tamu”, dst. Tata rapi di lantai atau di dinding. Jika permainan dilakukan di dinding maka gambar benda-benda tadi dilengkapi dengan alat perekat agar bisa menempel di kertas/papan yang dipasang di dinding. Saya sih mainnya di lantai saja.

             Selanjutnya, jelaskan instruksinya kepada anak. Bahwa anak harus menempatkan gambar di tempat yang sesuai. Karena anak saya belum bisa membaca, saya berikan petunjuk, bahwa kertas ini untuk benda-benda yang ada di dapur (sambil menunjukkan tulisan “dapur” yang ada di kertas/papan) dst. Lalu, biarkan anak mengambil satu per satu gambar dan menaruhnya di tempat yang benar. Tak ada kendala berarti bagi anak sulung saya yang hampir 5 tahun meski belum membaca. Bagi adiknya yang 2 tahun 3 bulan, awalnya agak susah. Saya tak membantunya langsung. Saya memintanya untuk meminta tolong kepada kakaknya untuk membantu.



                “Mas, gayung di mana? Di kamar mandi ya?”
              “Ya, tuh kamar mandinya!” sahut sulung saya sambil menunjuk kertas/papan bertuliskan “kamar mandi”. Adiknya pun menaruh gambar gayung di sana. Tak ada kesulitan bagi anak kedua saya untuk menaruh gambar benda yang lain setelah semua kertas/papan terisi minimal 1 gambar benda. Anak saya bisa mengklasifikasi sendiri.

                Mudah,bukan, cara bermainnya? Permainan ini memang sangat bermanfaat untuk mengasah kemampuan klasifikasi anak. Semakin diasah dengan berbagai jenis permainan dan kegiatan yang menarik, kemampuan ini akan sangat bermanfaat bagi anak nantinya. Anak semakin peka mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Kemampuannya memilih dan memilah sudah terasah, dan tentunya di zaman yang makin deras arus informasi seperti sekarang ini, kemampuan ini sangat dibutuhkan. Anak takkan ragu lagi untuk berkata “tidak” manakala diajak temannya untuk tidak sholat, misalnya.

                Permainan ini juga mampu mengasah kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi terutama jika dimainkan bersama-sama. Kakak menolong adiknya, dan adik bisa dengan baik bertanya kepada kakaknya. Apalagi jika ini diterapkan di lingkup yang lebih luas dan banyak anak (tentu didukung media yang cukup banyak juga) maka permainan ini akan lebih seru.


                Mengasah kemampuan klasifikasi anak sejak dini akan bermanfaat di kemudian hari. Permainan sederhana ini selain menyenangkan, juga bisa menstimulus kemampuan ini. Selamat mencoba!

Minggu, 23 November 2014

Kartu Bergambar untuk Kecerdasan Linguistik Anak Usia 4-6 Tahun

                Senang ya jika anak TK yang masih imut-imut itu fasih dan lancar berbicara? Diajak ngomong juga cepat tanggap dalam takaran usianya. Kosakatanya pun banyak. Bahkan sampai-sampai orang tua dan gurunya pun tak mengerti darimana anak mengenal kosakata itu. Yah, saking cepatnya otak anak menyerap dan merekam apa yang didengarnya. Namun, ada juga lho, anak yang pendiam dan cenderung tak mau ngomong. Bukan karena malu, tapi karena anak bingung mau bicara apa. Apa yang diinginkannya hanya tersalurkan dengan isyarat tubuh saja. Bicaranya sepatah-dua patah kata saja.

                Nah, permainan ini bisa benget lho untuk menstimulus kecerdasan linguistic anak usia 4-6 tahun. Sebenarnya cara ini sudah saya praktikkan lama ketika sulung saya berusia 2,5 tahun. Ketika usianya sekarang mendekati 5 tahun saya mendapati dia sangat asyik dengan permainan ini. Adiknya pun yang usia 2 tahun 3 bulan ketularan. Permainan apa sih?

                Sebelumnya siapkan kartu bergambar seperti gambar berikut ini! Banyaknya terserah saja, meliputi benda yang sekiranya sudah dikenal anak. Kartu bergambar ini bisa Anda buat sendiri atau memanfaatkan kartu yang biasa dijual di toko buku atau tempat lainnya.

Kartu bergambar buatan saya
               
                Jika sudah, kocok kartu bergambar tersebut. Minta anak untuk mengambil 1 buah dalam keadaan tetap tertutup (tertelungkup). Minta anak untuk membalik posisi kartu sehingga tampak gambarnya. Anak menebak gambar apakah itu? Misal, gambar pensil. Selanjutnya, anak diminta berbicara tentang fakta pensil sebanyak minimal 3 fakta (yang saya lakukan seperti ini ya, banyaknya berapa terserah saja sih!). Anak akan berbicara. Awalnya susah bagi mereka mengingat selama ini sejak usia 2 tahun anak hanya cenderung ditanya,”Ini gambar apa?” Habis itu, selesai! Atau bisa 3 fakta tapi senada. Misal, pensil untuk menulis, pensil untuk menggambar, pensil untuk coret-coret. Biarkan saja! Selanjutnya, pancing anak dengan kata kunci ,misalkan “bentuk”. Keluar deh fakta lain pensil lainnya. Bentuknya panjang, warna hitam, keras, dsb. Ketika berhasil menyebutkan minimal 3 fakta, kartu tersebut menjadi miliknya. Jika tidak, kartu menjadi milik Anda. Anak akan menjadi pemenang jika dia berhasil mengumpulkan kartu lebih banyak dari Anda.

                Semakin diasah dan dimainkan tiap hari, anak akan terbiasa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya sehingga kecerdasan linguistiknya terstimulus. Menjumpai benda lainnya, anak akan berbicara banyak. Tak sekedar menyebut nama benda. Semakin anak detail menyebutkan fakta, semakin bagus. Dan, kemampuan ini akan berdampak bagus bagi tumbuh kembang anak. Anak jadi peka mana yang janggal dan mana yang kurang. Anak lebih teliti.

                Ketika didapatinya gambar ayam berkaki 4, anak bisa protes dengan cepat. Bahkan ketika ada benda lain selain buku di rak buku, anak pun bisa mengetahuinya.

      “Ayah, kok tiket kereta api ada di sini sih?”
      “Ih bukan, ini bis yang kayak di Jakarta itu!”
      “Kok teh rasanya manisnya gini? Sama bunda dikasih madu ya?”


      Nah lho! Jadi kritis, kan? Anak cerdas linguistik dengan permainan kartu bergambar.