Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

5 Cara Agar Daycare Senantiasa Diminati

Salah satu variasi kegiatan anak dengan menghadirkan sesuatu dari alam

                Yang namanya bisnis kalau laris, senang, bukan? Apalagi sampai sering menolak. Termasuk jika Anda, khususnya ibu rumah tangga yang mengelola bisnis daycare/penitipan anak. Pasti, pemilik daycare berharap selain daycare bisa memberi manfaat seluas-luasnya kepada orang tua bekerja yang ingin menitipkan anaknya. Berharap daycare tak pernah sepi, kuota jumlah anak terpenuhi. Minato rang tua terhadap daycare tinggi.

                Wah, bagaimana caranya? Ada 5 cara ampuh agar daycare senantiasa diminati orang tua sehingga mereka nyaman menitipkan anaknya di daycare.

                Pertama, jangan anggap remeh soal makna daycare. Beda, bukan, kesan yang ditangkap orang tua jika pemilik daycare memasang spanduknya besar dengan tulisan “tempat penitipan anak” dibandingkan dengan “rumah bermain anak”? Ini akan menimbulkan persepsi pada orang tua. Kesan positif lebih timbul jika pemilik daycare memaknai daycare sebagai rumah bermain anak. Bermain adalah kebutuhan utama anak selain kasih sayang. Anak pasti senang dan betah di daycare karena kebutuhan bermainnya terpenuhi. Sedang kesan “tempat penitipan anak”, ya, seolah anak hanya sekedar dititip. Wajar jika akhirnya orang tua senantiasa menanyakan program kegiatan anak di daycare. Jika kebutuhan anak bermain terpenuhi, orang tua akan mempercayakan anaknya di daycare selama mereka bekerja.

                Kedua, kegiatan anak yang bervariasi serta mengasah tumbuh kembang anak. Tujuannya, biar anak tidak bosan dan merasa kaya entah dari segi kognitif maupun ketrampilan yang sesuai dengan jenjang usianya. Hal yang paling menyenangkan adalah manakala anak di rumah juga mengajak orang tuanya melakukan hal serupa seperti yang dilakukan di daycare. Misalkan di daycare anak membuat kreasi dari biji jagung, sesampainya di rumah meminta orang tuanya melakukan hal serupa dengannya ketika di daycare. Anak berkurang banyak kecanduan main gadget dan menonton televisi.

           Ketiga, ada laporan perkembangan anak. Minimal per tiga bulan sekali. Namun demikian, pencapaian kemampuan dan perkembangan anak setiap hari perlu ada laporannya juga. Yang sifatnya harian bisa berupa lembar observasi harian yang kemudian diserahkan/dilaporkan secara verbal kepada orang tua. Sedangkan yang sifatnya per tiga bulan bisa berupa lembaran seperti rapor pada umumnya. Laporan ini sangat dinanti orang tua karena mereka jadi tahu bagaimana hasil anaknya di daycare. Ini bukan tentang anak cerdas atau tidak, tapi lebih pada bagaimana orang tua juga bisa bersinergi menstimulus tumbuh kembang anaknya di rumah.

                Keempat, tempat daycare yang strategis. Bagaimanapun orang tua berharap bisa menggunakan waktunya lebih efektif dan efisien dalam setiap aktivitasnya. Membawa anak ke daycare sejalan dengan ke tempat kerja. Tak perlu putar jalan, apalagi sampai harus melewati jalanan kecil berkelok-kelok yang malah akan menghabiskan waktunya. Tempat daycare yang strategis, seperti dekat dengan sarana transportasi biasanya akan sering dicari orang tua. Selain itu lokasi daycare yang berada di perumahan juga sangat mendukung mengingat tingkat keamanan yang cukup tinggi jika anaknya berada di daycare.  Bosan di dalam daycare, keliling perumahan masih aman untuk anak mengingat ada satpam yang senantiasa berjaga. Tentu, pihak daycare harus menjalin kerjasama dengan satpam tersebut.

          Kelima, pengasuh dan guru yang sabar menghadapi anak serta semangat belajar yang tinggi. Faktanya, orang tua tak terlalu pusing soal lulusan apa pengasuh yang bekerja di daycare. Ya, mereka sadar karena mencari pengasuh itu memang gampang-gampang susah. Asal pengasuh sabar dan bertutur kata baik kepada anak, orang tua sudah sangat senang membiarkan anaknya di daycare selama mereka bekerja. Pemilik daycare jangan sampai terlena. Pengasuh juga tetap diasah pengetahuan dan ketrampilannya dalam mendidik anak. Kegiatan anak yang bervariasi sangat menuntut pengasuh pada akhirnya untuk kreatif dsb. Mengikutkan pengasuh ke pelatihan dan seminar akan sangat membantu mereka. Orang tua anak perlu mendapat informasi ini bahwa meski mungkin pengasuh hanya lulusan SMA, namun semangat belajar mereka sangat tinggi.


                Masih ada lagi hal-hal lain yang bisa menyebabkan daycare senantiasa diminati dan tak pernah sepi, diantaranya marketing yang tepat, harga yang terjangkau, dan pelayanan yang memuaskan. Lima hal di atas termasuk yang paling penting. Jika pemilik daycare memperhatikannya dengan baik, maka tiap hari keberadaan daycare akan ditanya orang tua, entah survey langsung ke daycare, telepon, atau melalui pesan. Pasti senang, bukan? 

Selasa, 17 Maret 2015

Tips Mengatasi Sembelit


                Melihat orang lain lancar buang air besar setiap hari, tentu senang dan berharap tubuh yang kita miliki juga memiliki siklus pencernaan yang bagus seperti itu. Kotoran tubuh bisa dikeluarkan tanpa ada hambatan. Sembelit memang membuat gelisah dan makin stres saja. Ketika sembelit menyerang, badan pegal bahkan kepala juga pusing dibuatnya. Tak enak sama sekali.

                Lantas bagaimana? Bagi sebagian orang,melakukan detoksifikasi dengan meminum ramuan, obat, atau herbal tertentu sangat membantu. Beberapa kali mengkonsumsinya, buang air besar jadi lancar. Namun, bagi sebagian orang tidak berpengaruh sama sekali kecuali memang harus mengubah pola hidup sehat dalam kesehariannya.

            Berikut tips sederhana, namun butuh komitmen dan kekonsistenan untuk melakukannya agar sembelit tak menyerang.

1.       Pola makan
Salah satunya dengan menggunakan pola makan sehat ala food combaining. Ketika bangun tidur pagi, saat mulut belum kemasukan apapun, segera siapkan air hangat berisi perasan air jeruk nipis. Lanjutkan ketika waktu biasa Anda sarapan dengan menyantap buah berserat dan cukup kandungan airnya minimal 3 jenis buah. Pisang tidak termasuk di sini karena pisang mengandung zat pati. Sebisa mungkin pagi sampai jelang makan siang tidak mengkonsumsi nasi. Cukup buah. Kalau mau pisang,silakan disantap jelang makan siang. Kapan makan nasi? Manfaatkan makan siang dan makan malam dengan dilengkapi sayur bergizi (mentah atau melalui proses pemanasan yang tidak lama) serta lauk yang kaya  protein nabati. Oh ya tak harus nasi ya. Bisa juga makanan lain sumber karbohidrat yang cukup.
Tak lupa minum air putih yang cukup. Dalam piramida makanan, kebutuhan air putih adalah kebutuhan terbesar tubuh kita. Jangan sampai Anda melupakannya. Termasuk anak Anda, ketika usia 2 tahun, air putih adalah kebutuhan utama.

2.       Olahraga
Aha! Ini yang biasanya terlewat dari agenda rutin harian kita. Padahal ini penting untuk kesehatan tubuh. Badan yang terbiasa olahraga akan mudah buang air besar karena gerak peristaltic ususnya bekerja dengan baik. 30 menit saja setiap hari.

3.       Hilangkan stres
Seorang bapak pernah bercerita bahwa pola makan yang sehat sudah dijalaninya selama ini. Olahraga juga, namun dia tetap saja sembelit. Apa pasalnya? Ternyata si bapak mudah sekali stres. Ketika tubuh stres, memang akhirnya anggota tubuh tidak bekerja sebagaimana juknisnya. Tertekan, dan biasanya jika stres menyerang, yang muncul adalah pikiran negatif. Kalau sudah negatif, mau apa saja juga bisa gagal, termasuk buang air besar.

Relaksasi sebentar akan bisa membantu Anda. Ajak ngobrol anggota tubuh Anda, ucapkan terimakasih karena selama ini menjalankan tugasnya dengan baik, dan bersyukurlah kepada Sang Maha Pencipta. Ambil nafas dan keluarkan dengan teratur, maka aliran positif akan menjalar di seluruh tubuh Anda.


Sembelit memang menyiksa. Anda tak bisa melakukan pekerjaan Anda dengan lincah dan lancar karena banyak gangguan yang terjadi ketika sembelit datang. Cek pola hidup Anda!

Sabtu, 14 Maret 2015

Ibu, Peluklah Kembali Anakmu!



            Ini tentang cinta. Dan tak ada yang bisa memberikan cinta kepada seorang anak, melainkan ibunya sendiri. Seorang pengasuh bisa memberikan perhatian kepada seorang anak manakala ditinggal ibunya bekerja. Namun, pengasuh tak bisa memberikan cinta. Sekelas Halimatus Sa’diah sekalipun, ketika Muhammad kecil disusui dan diasuhnya, tetap saja Halimatus tak sanggup memberikan cinta. Ketika peristiwa pembelahan dada atau ketika Muhammad akan diculik orang dari Habasyah, Halimatus mengambil keputusan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya. Aminah memeluk dan menggendongnya. Tak ada ketakutan sedikit pun atas peristiwa yang dialami anaknya. Aminah tenang, maka Muhammad pun tenang.

            Ini tentang siapakah madrasah anak pertama dan utama? Ibu, jawabannya. Memeluk adalah bagian pengejawantahan kasih sayang serta cinta, dan karenanya anak akan dekat dengan ibunya. Kalau sudah dekat, ibu berkata apa saja akan mudah anak menerimanya. Ketika pertama kali ibu yang mengajarkan kebaikan, anak akan mengingatkan dalam pikiran bawah sadarnya. Apalagi jika berulang-ulang terekam. Apa jadinya jika pertama kali dekat dengan anak adalah keburukan yang datang di luar ibunya? Oh, mohon jangan salahkan anak! Ibu, peluklah kembali anakmu!

            Tapi bagaimana? Terkadang ibu terpaksa harus bekerja. Berangkat pagi pulang malam, sampai rumah lelah melanda. Masalahnya bukan karena itu. Namun, seberapa mau ibu kembali memeluk anaknya. Memeluk itu mudah, namun memulainya kembali yang susah. Apalagi jika anak sudah tak balita lagi. Sudah saatnya menyudahi. Meluangkan waktu sesaat sebelum dan sesudah pulang kerja untuk memeluk anak adalah terapi hubungan yang luar biasa. Tahanlah kantuk, bercengkramalah sebentar dengan anak. Anak akan memahami kelelahan ibunya. Bahwa bekerjanya ibu bukan adalah untuk kebaikannya. Dua jam sehari sungguh akan memberi rasa dan warna.

            Ini soal peradaban. Dan pepatah berkata bahwa ibu adalah tiang negara, patut direnungkan kembali dalam dada. Asma binti Abu Bakar, sang ibu yang begitu luar biasa menggembleng anaknya hingga berani syahid membela Islam adalah contohnya. Peradaban ada karena peran seorang ibu di dalamnya. Serangkaian motivasi dan pembelajaran berharga dari ibu akan mudah diserap anak manakala ibu bersamanya. Memeluk, mencium, dan ungkapan kasih sayang lain hingga mampu mensibghah kebenaran dan kebaikan dalam jiwa, pikiran, dan tingkah laku anaknya.

            Bukankah tujuh tahun pertama adalah pondasi yang seharusnya kuat untuk anak bertumbuh dan berkembang setelahnya? Golden age akan mencapai puncaknya manakala anak benar-benar merasakan kelembutan dan sentuhan kasih sayang ibunya. Tak ada hukuman fisik ataupun hukuman verbal. Tujuh tahun berikutnya, pelukan itu tetaplah dibutuhkan. Ibu sedang cerewet-cerewetnya mendampingi anak mengenal dan mempraktikkan kebaikan hingga usia ini pun mencapai masa emasnya. Memeluk bisa menjadi baterai baru bagi anak. Dan tujuh tahun berikutnya lagi anak sudah siap dan matang menjalani hidupnya. Mana yang benar dan mana yang salah, anak sudah punya landasannya.

            Tabungan pelukan tetaplah harus diberikan oleh seorang ibu. Banyak godaan dan masalah yang membelit anak. Rona kehidupan bersliweran tiada henti di hadapannya. Ada yang menakjubkan namun mengandung dosa. Ada pula yang kelihatannya tak sedap dinikmati, namun sebenarnya jalan surga. Anak bimbang. Ada kebingungan. Peluklah, karena pelukan itu menentramkannya, menyejukkannya. Ibu akan mudah menjelaskan mengapa itu demikian.


            Memeluk bukan persoalan sempat atau tidak sempat. Memeluk adalah bagian yang tak boleh terlupakan dari seorang ibu kepada anak. Memeluk adalah bagian pengungkapan bagaimana peradaban itu sanggup tercipta. Ibu, peluklah kembali anakmu!

Kamis, 12 Maret 2015

Islam dan Pemuda, bukan Islam dan Remaja


Ini adalah tulisan saya yang dimuat di Majalah Al Falah Surabaya, Januari 2015
Belum ada foto bukti dimuatnya nih! Tapi tulisan aslinya seperti ini. Moga bermanfaat.

            Dia adalah seorang panglima muda Islam yang gagah berani, kuat, matang, dan berkepribadian mulia. Rasulullah tak salah memilihnya untuk menjadi panglima perang meski saat itu ada sahabat senior sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Putra Zaid bin Haritshah dan Ummu Aiman ini memikat hati Rasulullah untuk memimpin pasukan perang. Padahal usianya ketika itu masihlah 16 tahun. Siapakah dia? Ya, Usamah bin Zaid.

            Usia 16 tahun merupakan usia remaja. Tepatnya remaja pertengahan. Begitu menurut pandangan beberapa ahli di dunia ini. Pada usia ini, atau remaja pada umumnya (13-21 tahun) identik dengan manusia yang penuh masalah. Kondisi emosi yang labil karena peralihan dari anak-anak menuju orang dewasa. Kadang sok berani, namun dalam hati juga masih merasa takut. Kecenderungan untuk ikut-ikutan pun tinggi, seolah remaja adalah pribadi yang plin plan, bodoh, dan tak punya pendirian. Keguncangan sering terjadi dalam jiwa remaja. Pokoknya bermasalah! Sering menimbulkan kegelisahan orang tua.  Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan bahwa usia remaja memang usia penuh masalah. Banyak perubahan terjadi dan butuh penyesuaian. Dan adakalanya, remaja beradaptasi dengan cara yang ekstrim.

            Banyak definisi remaja (adolensence) yang diungkap para ahli. Secara umum memang menyatakan masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Belum matang karena peralihan dan masih dalam proses menuju kematangan dalam segala aspek. Dalam bahasa arab, istilah remaja dikenal dengan sebutan Al Murohaqoh, yang memiliki makna dungu,jahat, dzalim, dan senang melakukan kesalahan. Intinya, remaja adalah pribadi yang bermasalah, senada dengan ciri yang sudah tertulis sebelumnya.

            Lantas, apakah seperti ini generasi remaja Islam? Bagaimana dengan Usamah bin Zaid tadi? Tampakkah kedunguan dan kejahatan, atau masalah lain yang tak beres dalam dirinya? Tidak! Dan sejarah Islam sudah banyak menelurkan generasi yang matang di usia remaja ini. Karena itulah, istilah remaja tidak layak ada dalam kamus Islam. Rasulullah sendiri tak pernah menggunakan istilah ini. Yang ada adalah “pemuda”. Pemuda (syabab) memiliki arti yang beda. Kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Dari definisi ini menunjukkan bahwa pemuda itu lambang optimisme, kemenangan, positif. Bukan kebalikannya, sebuah penyakit dan masalah.

            Allah berfirman,”Dialah Allah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS ar Ruum:54)

            Dari ayat di atas tampak ada fase lemah lalu kuat dan berakhir lemah kembali. Kata “lemah” yang pertama memang menunjukkan masa anak-anak, sedangkan kata “lemah” yang kedua menunjukkan masa tua. Hanya ada satu masa di antaranya, yaitu masa kuat. Dan inilah masa muda, masa pemuda (syabab), masa penuh kekuatan.

            Apa yang ada di pikiran, itulah yang akan jadi lisan yang terucap. Lisan inilah yang akan membentuk kebiasaan hingga berujung kepada karakter yang terbentuk. Apa yang terjadi jika dalam benak orang tua bahwa ketika anaknya berusia 13-21 tahun adalah remaja? Orang tua senantiasa berpikir penuh ketakutan karena anaknya pasti bermasalah. Orang tua akan dibuat bingung meski bagaimana memperlakukan anaknya dalam usia ini. Berbeda jika mindset awal bahwa anaknya usia tersebut adalah seorang pemuda (syabab). Keyakinan orang tua bertambah karena generasi hebat dan tangguh muncul di tengah-tengah kehidupan mereka.Apalagi jika sang anaknya sendiri berpikiran bahwa dirinya adalah pemuda. Peradaban akan terjadi.

            Mulai sekarang, gunakan istilah “pemuda”! Islam jaya karena peran pemuda. Islam tampak tinggi di dunia juga karena semangat dan kemauan keras pemuda. Mari kita tilik beberapanya. Ada Zaid bin Tsabit sang pakar faraidh (ahli ilmu waris) yang ketika Nabi Muhammad wafat usianya tidak lebih dari 23 tahun. Tercatat dalam sejarah pula bagaimana Rafi’bin Khudaij, seorang ahli panah dan Samurah bin Jundub (ahli gulat) akhirnya pun berhasil menaklukkan hati Rasulullah untuk bisa ikut perang Uhud padahal usia keduanya belum mencapai 15 tahun. Atau Umair bin Abi Waqqas, saudara Sa’ad bin Abi Waqqash yang secara sembunyi-sembunyi ikut perang Badar karena tak ingin Rasulullah menolaknya hanya karena beliau menganggap dirinya masih kecil.


            Cukup satu kata “pemuda”. Bukan remaja.  

Senin, 02 Februari 2015

Karakter Positif Anakku Mulai Tampak Wujudnya

Dimuat di Nakita Januari 2015

Membangun karakter positif pada anak dibutuhkan pembiasaan (Indari Mastuti)

            Jangan dikira kalau anak usia balita tidak mengerti tentang “mimpi”. Memang, ketika orang tua bertanya,”Nak, apakah mimpi yang ingin kau capai?” anak belum tentu mengerti apa maksudnya. Dengan penggunaan bahasa yang tepat sesuai dengan kemampuan anak, istilah “mimpi” akan mudah dipahaminya.
            Anak usia 2 tahun biasanya memiliki kemampuan berbicara dan perbendaharaan kata yang cukup banyak. Berbicara 2 kata atau lebih sekaligus juga sudah dikuasainya. Bahkan, kecenderungan anak usia ini senang dan selalu bertanya “apa” tentang kata baru yang didengarnya. Dengan kemampuan berbicara dan menangkap bahasa ini pun, anak dengan mudah memahami 1-2 perintah sekaligus untuk bisa dilakukannya.
            Sudah menjadi hal yang wajar bahwa orang tua ingin anaknya nanti tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter positif. Membangunnya ini tidak serta merta langsung jadi. Ada proses yang harus dilakukan orang tua dan anak sendiri dengan penuh kesabaran, Menurut Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, minimal ada 3 hal yang harus dicermati dan dilakukan sungguh-sungguh untuk membentuk karakter positif anak ini, yaitu konsisten, berkelanjutan, dan konsekuen. Proses ini membutuhkan waktu. Karakter positif tidak tumbuh alami dalam diri anak.
            Awalnya, saya bingung bagaimana bisa mengontrol proses pembiasaan ini. Apakah seperti saya yang tiap bulan selalu mengeprint target jadwal sebulan lalu diisikan? Ah, rasanya akan tidak menghemat kertas. Belum lagi kalau lupa mengeprint karena printer rusak/tintanya habis. Dicatat di buku? Anak tak bisa melihat langsung dengan mudah setiap saat. Untunglah, akhirnya saya menemukan papan target ajaib bernama metrik. Saya tuliskan target hariannya di kolom yang disediakan dan saya catat hasilnya setiap hari. Jika terpenuhi targetnya, maka tak ada utang. Jika tidak terpenuhi, maka target esok harinya ditambah. Namun jika berlebih targetnya, keesokan harinya tetap dengan target yang sama.
            Sulung saya. Qowiyy (5 tahun) yang pertama kali menggunakan metrik di keluarga saya. Qowiyy anak yang enggan berbicara dengan orang lain jika belum kenal sebelumnya. Dia cenderung diam dan mengamati. Ketika ditanya orang juga cenderung enggan menjawab. Saya mencoba menantang dia agar dalam sehari berani berbicara dengan orang lain di setiap kesempatan. Awalnya susah. Qowiyy belum keluar dari zona nyamannya. Bahkan sering tak tercapai target harian itu. Namun, lambat laun, dengan terus saya dampingi setiap kali mau berbicara dengan orang lain, Qowiyy tampak kepercayaan dirinya meski belum seignifikan. Paling tidak jika ketemu kakek neneknya dan saudara lain yang jauh di luar kota, Qowiyy sudah menunjukkan rasa percaya diri yang berarti.
            Orang tua Nasywah (2 tahun 4 bulan) sejak bulan November 2014 kemarin memberlakukan target harian “merapikan mainan setelah selesai bermain” kepada anaknya. Pasalnya, Nasywah cukup sulit diminta untuk merapikan mainan jika sudah usai bermain. Ada saja alasannya, entah lapar, capek, ngantuk, dsb. Bahkan diajak merapikan bersama-sama pun Nasywah malah tidak ikut membantu. Untuk memulai membentuk karakter ini, ada pembicaraan awal antara ibunda Nasywah dengan anaknya.
            “Kau tahu, Nak, apa itu tanggung jawab?”
            Nasywah tentu saja menggeleng tidak tahu, bahkan dia lanjut bertanya apa itu tanggung jawab. Ibundanya pun memberikan keteladanan langsung tentang tanggung jawab ini dengan mengajak Nasywah merapikan mainan. Ogah-ogahan? Ya.
            “Nasywah, gimana sih senyum itu? Nasywah suka ayah dan bunda tersenyum?” Nasywah  mempraktikkannya dan menjawab,”Iya, aku tak mau lihat ayah bunda sedih.”. Dari jawaban ini, tampak bahwa Nasywah bermimpi, berkeinginan melihat orang tuanya tersenyum untuknya. Lalu, ibundanya berkata bahwa senyum itu akan didapatkannya jika dalam sehari berhasil merapikan mainannya sebanyak 2 kali. Dilengkapi dengan stiker bergambar emoticon “senyum” ibundanya berharap kesenangan Nasywah merapikan mainan bisa terwujud. Setiap hari, stiker ini ditempel di papan target harian Nasywah yang dipasang di kamarnya. Kegiatan menempel stiker ini pun menyenangkan baginya selain mengasah motorik halus anak.
            Bulan November berlalu. Ibundanya mendapati Nasywah cukup kooperatif. Sempat bolong 3 hari Nasywah tidak mau bertanggung jawab merapikan mainannya, namun selebihnya ada hal yang mengesankan terlontar dari Nasywah. “Biar Nasywah aja yang merapikan. Kamu jangan merapikan!” Bermula dari mainan favoritnya, kini di bulan Desember, Nasywah mau merapikan mainan apa saja.
            Ashalina, anak dengan usia yang tidak terpaut jauh dari Nasywah, tapi lebih tua, demikian halnya. Anak yang dititip di sebuah daycare ini berasal dari keluarga yang mapan. Namun, bagaimanapun dititip bukan berarti anak dimanja, bukan? Karakter tanggung jawab untuk hal sesederhana sekalipun tetap harus dilatihkan. Karena anak-anak di daycare cukup banyak tentunya Asha memiliki kecenderungan ingin bermain dengan teman-temannya. Makan pun akan sulit duduk tenang. Apalagi jika makan sudah selesai, inginnya kabur saja segera bergabung dengan temannya. Lupa dengan piring yang dipakainya makan. Apalagi ada pengasuh daycare dan pegawai kebersihan daycare. Anak bisa memanfaatkan mereka untuk mengangkat piring dan meletakkannya di tempat cucian piring.
            Pengasuh Asha tidak ingin hal itu terus terjadi. Dengan target harian bahwa sehari 2 kali Asha mau membawa dan menaruh piring bekas makannya di tempat semestinya, pengasuh berharap Asha lebih bertanggung jawab. Hasilnya, sesekali saja Asha lalai. Sampai bulan Desember ini didapati Asha sudah makin terbiasa melakukannya. Jika lupa dan buru-buru ingin main, pengasuhnya hanya berkata,”Ini piring makan siapa ya?” Tak lupa sang pengasuh memberikan penguatan selesai Asha melakukannya.

            Inilah konsisten itu. Inilah berkelanjutan itu. Tak cukup sekali saja atau sehari saja. Harus terus menerus, berkelanjutan setiap hari. Rutinitas akan membiasakan karakter positif pada diri anak. Orang tua harus telaten dan konsekuen dengan apa yang dilakukan bersama anaknya. Ketika anak berbuat sesuai harapan, ada penguatan yang diberikan orang tua untuk anaknya. Jika ternyata belum berhasil mengajak anak mencapai targetnya, orang tua dituntut kreatif berbahasa dan mempersuasif anak. Memasang papan target harian sebagai salah satu caranya.

Topi Merah Kesayangan


Alhamdulillah dimuat!
Ini tulisan aslinya ya. Yang ada di majalah Ummi-Permata edisi Februari 2015 sudah direvisi sama sananya. Beberapa saja. Tapi tak mengurangi isinya.
Selamat membaca!



            Semua geleng-geleng kepala melihat tingkah Dindo. Ke sekolah pakai topi. Bermain di lapangan dekat rumah juga pakai topi. Ke toko buku juga memakai topi. Bahkan pergi ke masjid pun memakai topi. Warnanya yang merah meski sudah agak luntur sedikit tak menyurutkan rasa sayangnya kepada topi itu.
            “Nak, bunda cucikan ya topi merah kesayanganmu itu?” Bu Riska menawarkan diri. Ibu Dindo ini merasa risih karena topi idola Dindo itu tak pernah dicuci sejak membelinya 1 bulan yang lalu.
            “Nggak usah, Bunda! Kalau mau dicuci, ntar biar Dindo yang lakuin sendiri.”
            Dindo meskipun baru kelas 5 SD memang sudah bisa mencuci, terutama kaos dan celana dalamnya. Kalau mencuci topi, pasti bisa. Namun, sudah berkali-kali bundanya mengingatkan, rupanya Dindo merasa sayang kalau topinya dicuci. Takut jika ada yang rusak nantinya. Saking khawatirnya diambil bundanya masuk bak cucian, Dindo pun memakainya sepanjang hari. Ketika mandi pun dibawanya serta ke kamar mandi.
            “Dindo,emang nggak bau topimu itu?” Bu Riska bertanya lagi.
            Dindo nyengir. Dengan centil dan sok percaya diri dia menjawab kalau topinya baik-baik saja. Daripada ngobrol sama bundanya panjang lebar yang ujung-ujungnya topi mau dicuci, Dindo segera pamit main di lapangan. Sudah banyak teman menunggunya di sana bermain sepak bola.
            Sore itu adalah kesempatan pertama Dindo bermain sepak bola lagi sejak memiliki topi merah itu. Musim hujan membuatnya tak bisa bermain sepak bola di sore hari. Hari itu cuaca tampak cerah. Begitu girang hati Dindo dan teman-temannya karena bisa bermain sepak bola lagi. Seperti biasa, Dindo memakai topi merah kesayangannya.
            Sudah berkumpul semua teman-temannya. Dibagi dua kelompok agar bisa bertanding bermain sepak bola. Dindo siap bermain memenangkan pertandingan sepak bola sore itu. Ada Firzi di regunya. Teman yang sangat cerewet tapi banyak disenangi anak-anak. Idenya suka di luar pikiran anak pada umumnya. Namun benar dan sangat berguna.
            Pertandingan sepak bola pun dimulai. Bunyi peluit wasit sudah terdengar kencang. Para pemain siap menjebol gawang lawan. Tak terkecuali Dindo. Kakinya semangat menendang bola. Diarahkan ke temannya. Tak jarang dia pun menerima umpan dari temannya. Semua berjalan lancar. Meski demikian gol belum juga tercipta.
            “Dindo, sundul bola ini!” teriak Firzi.
            Dindo segera sigap menyundul. Namun, sundulannya tak sempurna. Meleset. Bahkan berhasil diambil alih lawan penguasaan bolanya. Firzi sedikit kecewa. Masalahnya bukan sekali saja Dindo gagal menyundul bola dengan benar. Berkali-kali. Sampai babak pertama berhasil, regunya Dindo tak berhasil mencetak gol. Bahkan sudah ketinggalan 0-1 dibanding lawannya.
            “Dindo, tadi kenapa dengan sundulanmu?” tanya Firzi.
            Dindo mengangkat kedua pundaknya pertanda tak tahu. Firzi tambah berpikir keras apa yang menyebabkan sundulan Dindo meleset terus. Padahal sebelumnya Dindo jago soal sundulan bola. Dindo hanya terdiam. Dia masih setia memakai topinya. Babak kedua segera dimulai lagi. Waktu istirahat sudah hampir habis. Tiba-tiba Firzi menyeletuk.
            “Wah, kayaknya kamu harus lepas topimu itu Dindo!”
            Dindo terperanjat kaget. Mana mungkin dia melepas topinya. Sore itu dia tidak membawa tas untuk menyimpan topinya. Temannya pun demikian halnya. Biasanya juga begitu. Kalau mau menang, topi kesayangannya harus terpaksa dilepas sejenak selama pertandingan babak kedua dimulai. 20 menit saja. Dindo masih ragu. Mau ditaruh mana topinya?
            “Topinya cantolin di ranting pohon itu saja. Aman kok. Nggak usah takut hilang!” sahut Firzi lagi setengah mendesak Dindo.
            Bagaimanapun sepak bola adalah kesenangan Dindo juga. Tak pernah kalah sebelumnya. Apakah sore ini harus kalah gara-gara topinya? Dindo akhirnya menuruti nasihat Firzi. Dan babak kedua pun berlangsung dengan seru. Sundulan Dindo tak meleset lagi. Bisa diterima temannya dengan baik dan akhirnya berhasil menjebol gawang lawan. Sedikit mulai gentar lawannya. Pertandingan semakin ramai dan Dindo seolah lupa dengan topinya. Regu Dindo pun akhirnya unggul dengan skor 1-2.
            “Hore! Kita menang!” teriak Firzi mendekap Dindo.
            Dindo tampak gembira juga. Namun, buru-buru dilepaskannya dekapan Dindo. Dia segera bergegas menuju pohon dimana topinya ditaruh di rantingnya. Topi itu tidak ada di tempatnya. Dindo memarahi Firzi. Sore jelang magrib itu berubah warna raut wajah Dindo. Dicarinya topi merah kesayangannya itu di sekitar lapangan. Tak ditemukannya juga. Sambil cemberut dan menggerutu karena tak menemukan topinya, Dindo berjalan kesal menuju rumah.
            “Kok kesal begitu wajahnya? Lho topinya mana?” tanya Bu Riska.
            Dindo tak menjawab. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan bajunya. Dan di sana dia temukan topinya sudah terendam air sabun, siap untuk dicuci.

            “Kak, kebersihan pangkal kesehatan, bukan? Ntar rambut Kakak bau dan penuh kuman lho!” sahut Tiara, adik Dindo ketika kakaknya keluar kamar mandi. 

Rabu, 14 Januari 2015

Pesawat Terbang dan Allah


Biar kurakit pesawatku 
rentangkan pelan dua sayapnya 
Nyalakan sumbunya sampai terpercik api menari 
Lepaskan pengaitnya relakan pergi ke arah bulan
Tak perlu kau rindu menyinggungnya 
Perlahan lupakan kepergiannya 
Tunggulah kerling lampunya disaat bulan purnama tiba 
Pertanda dia telah bertemu dengan peri kecilnya di bulan
Reff:
Pesawatku terbang ke bulan
Pesawatku terbang ke bulan

            Masih mengenal syair lagu ini, bukan? Lagu yang dibawakan oleh penyanyi kawakan “Memes” ini kali ini menginspirasi untuk dibedah maknanya terkait keseimbangan hidup, konsep simetris dalam matematika, dan bagaimana seharusnya manusia menyikapi kehidupan ini. Tak terkecuali anak-anak.
            “Irsyad, gimana kabarnya sayang hari ini?”tanya Bu Fatimah kepada anaknya yang sedang asyik bermain melipat-lipat kertas koran bekas di ruang keluarga.
            “Eh, bunda. Baik bunda. Nih sedang iseng membuat origami sambil dengerin musik !”
            “Emang mau bikin apa?”
            “Apa aja, tapi tertantang banget pingin buat pesawat terbang.”
            “Boleh tuh, tapi bisa dong sambil bunda ajak ngobrol? Tentang pesawat terbang juga.”
            “Wah, dengan senang hati!”jawab Irsyad mantap sambil menganggukkan kepala.
            “Apa yang Irsyad ketahui tentang pesawat terbang?”
          “Yah Bunda, begitu aja ditanyain, kayak nggak pernah naik aja! Yang jelas pesawat terbang itu besar, muat penumpang banyak, ada pilot yang mengendalikannya. ”
            “Cara membuatnya gimana?”
            “Ya ada ilmunya sendiri, Bunda. Itu yang aku belum tahu banyak.”
            “Bener nggak ada yang tahu sedikitpun?”
           “Apa ya? Ehm, ya dibuat gimana caranya pesawatnya bisa terbang dengan aman. Ada sayapnya, biar bisa terbang kayak burung gitu.”
            “Wah, pintar anak bunda. Terkait sayap pesawat, memang gimana ya bentuknya?”
            “Panjang, ada 2 di samping kanan dan samping kiri.”
            “Panjang sayapnya gimana antara yang di samping kanan dan samping kiri?”
            “Sama. Diapit badan pesawat.”
            “Kalau panjangnya nggak sama bagaimana?Atau mungkin sayapnya cuma satu, apa yang terjadi?”
            “Ya nggak bisa terbang. Bisa, tapi mungkin akan mudah jatuh kali.”
            “Mengapa?”
            “Karena nggak seimbang.”
            “Betul!”
            
            Filosofi pesawat terbang sangat tepat bisa mengundang anak berpikir bagaimana seharusnya dia menjaga dirinya. Bentuk simetris yang dimiliki pesawat terbang mampu membuat sebuah generalisasi bahwa meskipun seorang anak SD kelas 4 bisa  menangkap pesan “keseimbangan hidup”. Jika tak simetris akan berat sebelah layaknya ayunan yang porosnya tak tepat di tengah atau lengannya panjang sebelah.
            Simetris adalah keseimbangan.Simetris tak hanya teori dimana segala sesuatu yang simetris memiliki sumbu simetri, tak hanya bangun datar seperti halnya dipelajari anak-anak bersama gurunya.

            Simetri adalah tak pilih kasih. Begitulah Allah. Allah Yang Maha Adil. Dan betapa seharusnya anak bisa memaknainya. Dari sudut pandang lain, anak seharusnya juga mengerti bahwa ada dua sisi dengan porsi yang sama. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penerima Taubat, dan masih banyak lagi kemahaan Allah yang baik-baik. Namun, anak juga harus tetap dipahamkan bahwa Allah juga mempunyai kemahaan yang sebaliknya. Allah Maha Pedih Adzab-Nya, Allah Maha Merendahkan, dsb. Apa yang terjadi jika anak paham konsep ini? Tentu, anak akan lebih berhati-hati menjalani kehidupannya. Dia seimbangkan perasaan takut dan harap yang dia tambatkan kepada Allah semata. Tidak kurang tidak lebih. 

Senin, 12 Januari 2015

Sekali Waktu, Berhentilah Bekerja!


            “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

            Ehm, tak ada yang salah dengan firman Allah di atas. Tugas kekhalifahan manusia di bumi memang mau tidak mau menuntut manusia bekerja dan bergerak aktif. Sehingga kata “sibuk” melekat pada jati diri manusia. Bahkan sangat sibuk. Ada yang untuk urusan dunia, ada pula yang untuk urusan akhirat, ada pula untuk urusan keduanya. Manusia tidak diam saja seperti patung. Bergerak adalah tanda kehidupan. Diam simbol kematian.

            Namun, di sisi lain Rasulullah bersabda,”Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga ia tidak dapat melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 macam penyakit padanya: kebingungan yang tiada putus-putusnya, kesibukan yang yang tidak pernah jelas akhirnya, kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi, dan khayalan yang tidak berujung wujudnya.”(HR Muslim)

 Kontradiksi, bukan, dengan yang difirmankan Allah tadi?
            Tidak! Sama sekali tidak! Justru ini akan saling melengkapi. Bekerja, bergerak adalah ciri mendasar manusia yang hidup. Ya bergerak memenuhi kebutuhan hidup, menyeru orang pada kebaikan, menuntut ilmu, dsb. Tidak bisa tidak, manusia akan bergerak. Namun, manusia tetap punya keterbatasan. Ada lelah yang mendera, lahir dan batin. Apa yang terjadi jika manusia bekerja tiada henti? Fisiknya lama-lama lemah, bahkan menderita sakit karenanya. Untuk urusan ini, yakin, manusia sudah bisa tahu diri. Ketika mendapati tubuhnya kurang sehat, izin tidak bekerja pun akan dilakukan. Manusia akan beristirahat.

            Bagaimana jika manusia lelah batin? Terkadang, hal ini malah manusia sering melupakannya, apalagi jika kondisi fisik senantiasa kuat. Bekerja sepanjang hari seolah tak dirasa. Sampai-sampai pulang larut malam adalah hal yang biasa. Tidur berkualitas akan menyegarkan tubuh kembali. Manusia lupa bahwa batinnya, ruhnya, jiwanya juga sedang lelah. Ingin rasanya batin berteriak menyampaikan keinginannya. Ya, aku ingin mendekat kepada-Nya. Dan kealphaan ini juga bisa melanda siapapun termasuk aktivis dakwah sekalipun. Bergerak ke sana kemari, menulis ini dan itu, mengajar sana dan sini hingga tak tersisa waktu baginya untuk menghadap-Nya. Sekedar munajat malam hari pun sering terlewat begitu saja. Sibuk bergerak, namun isi jiwanya kosong. Apakah ada dampaknya? Ada, sering kali dia bergerak namun tak memberi bekas.

            Maka, sekali waktu, berhentilah bekerja! Bukan untuk tidur menghabiskan malam, namun untuk mengingat kembali siapa diri dan siapa Dia. Bukan untuk memejamkan mata begitu saja, namun bagaimana dzikir mengingat-Nya bisa menjadi pengantar terpejamnya mata.


            Bukankah Allah akan membuat lupa manusia akan hal yang membawa manfaat untuknya manakala manusia melalaikan dzikir mengingat-Nya? Mengingat hak Allah dalam setiap aktivitas kesibukan adalah cara aman jiwa kembali mendapatkan siraman sejuknya. 

Minggu, 28 Desember 2014

Akhirnya Sang Ibu Bertanya



           
                 Mengelola sebuah daycare memang menimbulkan rasa senang dan sedih dalam diri saya. Senang, karenanya saya bisa membantu orang tua dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan yang baik buat anaknya. Ya, meski sebenarnya takkan bisa menggantikan posisi orang tua di hadapan sang anak. Sedihnya, jika terkadang menjumpai orang tua yang seolah melepas begitu saja anaknya di daycare. Asal sudah dibawakan jajanan kesukaan anaknya, sudah!

                Ada seorang anak, sebut saja namanya Farid, usianya sudah hampir 3 tahun. Anaknya begitu aktif.  Perkembangan motorik kasarnya sangat bagus. Dia sudah bisa memanjat pagar pinggiran tangga, perosotan dengan gaya akrobatik yang suka membuat deg-degan pengasuh di daycare. Berloncatan dari satu kursi ke kursi lainnya juga bisa dilakukan dengan lincah. Bergelantungan apalagi. Farid anak yang pemberani. Pernah di daycare jatuh 2 kali hingga luka wajahnya, juga tak ada kapoknya. Untung ibunya tak marah ketika Farid kecelakaan di daycare. Dan karena itu pula, saya dan pengasuh menganggap bahwa ibu Farid mengerti tentang polah dan keaktifan gerak anaknya.

                Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Pengasuh yang memegang Farid bercerita bahwa suatu hari ibu Farid bertanya,”Bu, Farid anak yang sangat aktif ya geraknya?” Nah lho? Pengasuh kaget, tapi tetap tersenyum. Sang ibu lanjut bertanya lagi,”Gitu tuh bisa berhenti sendiri nggak ya, Bu, geraknya yang banyak itu?”

                Ayo, bisa berhenti, tidak? Ya, wajar dong kalau anak bergerak aktif, yang penting tidak mengganggu dan merusak yang ada. Dalam artian jika masih sifatnya bukan destruktif ya tidak mengapa.  Jatuh, luka, dan sakit? Itu juga wajar. Konsekuensi yang mesti diterima. Namun, ada kekhawatiran dalam benak ibunya Farid. Khawatir Farid susah untuk diam dan konsentrasi sejenak untuk belajar, dsb.

                Pengasuh Farid di daycare tetap tersenyum. Farid tidak seperti yang dikhawatirkan ibunya. Dengan program mendongeng setiap hari untuk Farid, meski awalnya Farid acuh dan tak mau mendengarkan, kini meski belum bisa bertahan lama, Farid mulai melirik buku dongeng yang dipegang pengasuhnya.Mulai bertanya tentang gambar yang dilihatnya. Mulai ada perhatian untuk fokus sejenak. Ibunya senang mendengar kabar itu.

                Pengasuh lebih senang lagi. Akhirnya sang ibu bertanya soal anaknya. Sehari-hari Farid dulunya diantar dan dijemput sama pengasuhnya yang di rumah menuju dan pulang dari daycare. Sejak pengasuhnya tidak bekerja lagi, ibunya lah sendiri yang mengantar dan menjemput meski lewat magrib. Bisa jadi kebersamaan Farid bersama ibunya kurang, sehingga wajar ibunya bertanya seperti tadi. Seperti apa Farid kurang detail mengenalnya.

                Untunglah, syukurlah, sang ibu akhirnya bertanya. Dengan jawaban pengasuh daycare, ada harapan Farid ke depannya akan jauh lebih baik lagi. Ada andil dan turun tangan orang tuanya yang lebih intensif dan maksimal untuk tumbuh kembang Farid.

                 

Senin, 08 Desember 2014

Dari Baby Sitter Sampai Jadi Owner

Siera Ngangi

                Liku-liku perjalanan hidup setiap orang memang beda-beda. Setiap problematika senantiasa hadir di sela-selanya dengan kadarnya masing-masing. Manusia senantiasa berpikir keras menyelesaikannya apapun pekerjaannya.

                Siera Ngangi pun mengalami. Bahwa yang namanya hidup memang butuh pengorbanan. Apalagi ketika apa yang dicita-citakan tak menjadi kenyataan. Kecintaannya pada tari ballet membuat Siera Ngangi bermimpi menjadi penari yang professional tari ini. Namun, impian itu belum kesampaian. Lantas, murung dan berhenti di tengah jalan kah perempuan yang dalam usinya 18 tahun sudah berani berbisnis ini?

             Tidak! Siera Ngangi memang belum menjadi penari ballet professional, namun kepiawaiannya menari disalurkan menjadi guru tari ballet. Tercetuslah ide membuka sanggar tari. Tak mudah lho Siera Ngangi memantapkan membuka sanggar ini! Profesi baby sitter pun pernah dijalani Siera Ngangi semasa SMA dulu di Canada. Apakah Siera Ngangi malu? Tidak. Justru Siera Ngangi sangat mencintai anak-anak yang diasuhnya. Hasil dari pekerjaan inilah yang dijadikannya modal mendirikan Stefie’s House of Creativity (SHOC). Bekerja sambil sekolah sudah biasa bagi Siera Ngangi. Termasuk ketika SHOC sudah berdiri. Otomatis, sambil kuliah, Siera Ngangi mengelola sanggar ini. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dari waktu ke waktu, perkembangan SHOC sangat menakjubkan. Berbagai apresiasi positif disematkan untuk sanggar ini karena telah mampu mengakomodasi bakat anak di bidang tari.

                Bahkan kini kesibukan Siera Ngangi bertambah. Kepeduliannya terhadap dunia anak-anak tak berhenti begitu saja dengan dia menjadi owner SHOC. Bisnisnya merambah ke dunia pendidikan anak usia dini. Pengalamannya melakoni hidup dengan kemandirian berhasil melabuhkan dirinya di KiwiKids Preschool dan Kindergarten. Sebagai owner lembaga pendidikan ini, Siera Ngangi berharap bahwa keberadaan sekolah ini mampu memberikan andil bagi tumbuh kembang anak yang maksimal. Pendekatan Montessori yang diterapkan di KiwiKids Preschool dan Kindergarten ini diharapkan mampu melecut anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berkarakter.


          Muda dan berkarya? Siera Ngangi bisa. Rela dicap sebagai perempuan rumahan pun tak menyurutkan semangatnya menggarap bisnisnya di usianya yang masih belia. 

Kamis, 04 Desember 2014

Jangan-jangan Anda Koruptor!

Zeti Arina

                “Bebaskan negara dari koruptor!”

                Sering dengar atau membaca tulisan seperti kalimat di atas? Baik yang disuarakan lantang para demonstran atau cukup bisa Anda lihat di spanduk-spanduk yang mereka bawa. Keberadaan koruptor memang harus disapu bersih di negara ini. O, o. Apa sih definisi koruptor? Orang yang memakai uang negara/rakyat untuk kepentingan pribadi tanpa izin? Ya, benar sekali. Namun, gelar koruptor tak melulu tersemat pada orang yang demikian, yang banyak digembar-gemborkan di media massa dan elektronik hingga terang-terangan disebut koruptor. Awas! Jangan-jangan Anda pun koruptor!

                Kok bisa? Zeti Arina, seorang konsultan pajak sekaligus ketua Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) wilayah Jawa Timur menerangkan panjang lebar soal koruptor tak kentara ini. Hal ini terkait erat dengan prosentase membayar pajak di Indonesia yang masih tergolong rendah.  Masih banyak warga Indonesia yang wajib pajak tidak membayar pajak.

                Ada banyak penyebabnya mengapa hal ini terjadi. Adanya peraturan soal perpajakan yang cukup rumit sehingga warga jadi enggan menghitung dan membayar pajak. Ada juga yang memang tidak tahu bagaimana seharusnya membayar pajak. Apapun itu, fakta ini menjadi landasan bagi Zeti, CEO Artha Raya Consultan untuk senantiasa semangat mengedukasi warga agar melek pajak. Bahwa pajak tak seseram yang dikabarkan orang. Pajak banyak manfaatnya, termasuk kembali kepada si pembayar pajak itu sendiri.

                Tak ingin bukan Anda disebut koruptor gegara tak sadar pajak dan tidak membayarnya? Mulai sekarang, apapun profesi dan pekerjaan Anda, entah penulis, pebisnis, pegiat UKM, karyawan, pemilik perusahaan, dsb tunaikan pajak Anda. Bahkan ketika Anda menjadi pengunjung restoran pun jangan protes jika tagihannya membengkak. Itu pajak, lho! Nah, kalau bingung menghitungnya, konsultan keuangan bisa membantunya. Daripada kena denda dan sanksi yang nilainya malah lebih besar lagi jika ketahuan nantinya. Dan ini sering terjadi. Sengaja tidak melapor atau melapor tapi salah pencatatan malah akhirnya menjadikan seseorang terkena denda pajak.


                Siap membayar pajak? Iya dong! Ehm, malu disebut koruptor gara-gara tak bayar pajak. Belajar tentang pajak kini lebih mudah. Banyak edukasi dan penyuluhan yang dilakukan konsultan pajak. Curhat dengannya bisa menyelesaikan masalah. Jadi, tunggu apa lagi? Bayar pajak, yuk!

Minggu, 23 November 2014

Tetap Menulis Meski Anak Sakit Campak

Buku keduaku

                Rasanya sujud syukur mendengar kabar buku keduaku terbit. Saat itu Juni 2014 saya menerima bukti terbitnya. Bukunya sih sudah terbit sejak Mei 2014. Sangat berterima kasih kepada Allah karena kemudahan diberikan-Nya kepadaku dalam menyelesaikan naskahnya 10 November 2013-9 Januari 2014.

                Yah, ingat betul. Saat itu kedua anakku terserang campak bergantian namun dalam jeda waktu yang tidak lama. Qowiyy kena campak duluan. Awalnya demam dan keluar bintik-bintik merah. Eh, juga ada batuknya lho! Langsung deh ke dokter. Kata dokter itu campak Jerman yang dalam waktu 3 hari juga akan sembuh. Batinku, paling nggak hanya 3 hari saja mungkin menulis naskah buku keduaku agak tertanggu, tak sesuai target. Tapi aku tetap menulis meski sedikit. Apalagi ketika harus menginap di rumah teman karena tak ingin adiknya Qowiyy ketularan, malam malah tak bisa menulis. Pagi harinya, demi melindungi Nasywah dan saya bisa mengejar ketertinggalan menulis, anak keduaku terpaksa dititip di RumahPelangi Daycare. Namun, sama saja. Menulis hari itu sambil merawat Qowiyy yang akhirnya ingusan juga tak sesuai dengan yang kuharapkan. Tak apalah, yang penting masih bisa menulis. Untung, kalau malam Qowiyy mau bersama ayahnya. Malam selanjutnya, aku sungkan menginap di rumah teman lagi. Nasywah dan aku tidur di ruang tamu. Qowiyy dan ayahnya di kamar tidur. Maklum, saat itu masih tinggal di kontrakan kecil. Pasrah.

                Qowiyy sudah membaik setelah 10 hari sakit campak. Selama 10 hari itu tak ada tanda-tanda adiknya ketularan. Ealah, ternyata aku salah. Di hari berikutnya gantian Nasywah yang kena campak. Malah lebih parah. Saat itu Nasywah masih berusia 16 bulan. Masih menyusui. Campak datang menyerang, lengketnya bukan kepalang. Tak mau lepas ASI sama sekali. Bahkan tak mau sama ayahnya juga. Kalau kutinggal sebentar nangisnya luar biasa. Alhasil, menulis jadi tersendat. Saat itu juga barengan menulis buku antalagi. Sampai-sampai saya hampir nyerah karena revisi terus. Sedang naskah buku keduaku ada permintaan tambahan banyaknya halaman dari penerbit dari 120 halaman menjadi 170 halaman. Menengok yang sudah kukerjakan baru 70 halaman. Nasywah campak juga 10 hari.

                Bagaimanapun target harus tetap diusahakan tercapai tepat waktu. Dari sisa hari sebanyak 20 hari aku harus menyelesaikan 100 halaman lagi. Berarti sehari menulis 5 halaman. Bukan hal yang mudah di tengah anak sedang sakit. Sambil duduk menyusui mengetik dengan satu jari. Sambil tiduran dan menyusui, juga mengetik dengan satu hari. Capek? Sangat! Malam hampir begadang. Untungnya suami rela menggantikan peran memasak tiap pagi karena si kecil juga masih nempel saja.


                Syukurlah, naskah buku keduaku berhasil selesai juga. Dan buku ini hadir untuk meramaikan khasanah perbukuan Indonesia. Bisa didapatkan online atau di toko buku Gramedia..

Jumat, 21 November 2014

Mengajar Lintas Negara untuk IRT Sejahtera


                      Wah, BBM lagi naik ya? Meski naiknya hanya dua ribu rupiah, namun efeknya sangat terasa bagi keluarga tentunya. Seolah, kata “sejatera” kian bersembunyi saja. Tapi, semua keluarga pasti ingin sejahtera, dong? Makanya, ibu rumah tangga (IRT) pun makin memberanikan diri untuk berbisnis. Ups, meski sebagian dari mereka juga berharap bisa aktualisasi diri. Bisnis online menjadi pilihan mereka tanpa harus meninggalkan rumah dan mengabaikan si buah hati.

                Tentunya, berbisnis online sangat membutuhkan kepiawaian agar bisa laris manis dan dilirik banyak orang. Biar nggak tekor alias gulung tikar. IRT yang menekuni bisnis online harus senantiasa up grade diri.

             Muri Handayani mengerti kebutuhan ini. Pengalamannya berbisnis sebanyak 7 kali ingin ditularkannya kepada para IRT supaya bisnis online mereka tak stagnan diam di tempat saja. Membuka Sekolah Bisnis Online (SBO) adalah solusinya. Hani, begitu perempuan asal Bandung ini disapa, siap mengajar dan berbagi pengalaman. IRT harus melek teknologi, berinovasi di depan leppi. Hasilnya, SBO sampai detik ini sudah mempunyai 600 lebih alumni. Bahkan sekarang masih ada 150 orang yang menjadi pesertanya sedang menjalani proses belajar. Tercatat, SBO dengan Hani sebagai pengajarnya langsung sudah merambah mancanegara. Diantaranya Amerika Serikat, Singapura, Australia, Oman, Swedia, Hongkong, Jerman, Jeddah, Abu Dhabi, Filipina, dan Kairo.

                IRT mapan finansial bukanlah angan-angan semata. Belajar di SBO akan mendapatkan materi yang cespleng dan mudah diterapkan IRT sehari-harinya. Tentu saja tetap bergantung kemauan dan komitmen IRT untuk melakukannya. Apa saja sih materinya? IRT diajak untuk tak gagap teknologi, tentunya. Ada materi bagaimana memaksimalkan media sosial, membangun branding, strategi pemasaran yang handal, jurus kekuatan langit dan bumi, menetapkan harga, dan juga bagaimana foto produk yang bagus.

                Dan, tara! Alumni SBO membuktikan bahwa sukses berbisnis online hadir di depan mata. Ada yang omzetnya naik, followernya meningkat. Apa yang didapatkan di SBO bisa menjadi tabungan ilmu yang bisa dipraktikkan kapan saja. SBO sendiri pun setiap bulannya membuka pendaftaran lho! Cukup merogoh dompet 300 ribu saja untuk banyak materi tadi. Yang tak bisa bayar cash bisa nyicil juga. Masa belajar 2 kali dalam sepekan yaitu hari Senin dan Rabu. Selebihnya bisa berdiskusi dengan Hani. Owner bisnis hijab RaZha ini pun akan melayani dengan senang hati.

                SBO bisa menjadi solusi IRT melejitkan bisnis online mereka. Buruan daftar ke sini nih! Jangan sampai kehabisan kursi!