Tampilkan postingan dengan label Gila Matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gila Matematika. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2015

Agar Sama Panjang



            “Sedotannya lagi diapakan Nak?”
            “Buat mainan aja kok Pak, disambung-sambung,”jawab Farzan.
            “Kalau disambung bisa panjang dong?”
            “Memang begitu.”
            “Bisa minta sedotannya 4 buah, sayang?”
            “Ini,”jawab Farzan.
       Lalu bapaknya meminta tolong Farzan untuk menyambung 2 sedotan yang lain. Bapak Farzan memberdirikan 1 sedotan dan 2 sedotan yang sudah disambung anaknya di lantai.
            “Mana yang lebih panjang?”tanya sang bapak.
            “Yang disambung Pak!”jawab Farzan.
            “Mengapa lebih panjang?”
            “Terlihat lebih tinggi ketika berdiri.”
            “Bagaimana agar sama panjang?”
            “Yang lebih panjang tadi diambil saja sedotannya 1, pasti akan sama,”jawab Farzan sambil melepas sambungan sedotan sehingga sisa 1 sedotan.
            “Wah, benar sekali, tapi rasanya ada yang janggal tidak?”
            “Nggak ada tuh Pak.”
            “Coba bapak tanya, kalau misalkan 2 sedotan yang tadi kamu sambung itu adalah sebuah tanaman dengan panjang segitu, lalu tiba-tiba kamu potong tanamannya agar dia panjangnya jadi sama dengan tanaman serupa di sebelahnya yang masih baru saja tumbuh, kira-kira apa yang terjadi?”
            “Bisa-bisa mati ayah.”
            “Tanaman yang di sebelahnya?”
            “Tetap hidup karena tidak dipotong.”
            “Karena tidak dipotong, kira-kira bisa tidak suatu saat panjangnya menyamai tanaman yang tadi mau dipotong tapi nggak jadi?”
            “Bisa saja, apalagi dikasih pupuk lebih banyak, disiram tiap hari.”
            “Berarti bagaimana tadi mestinya agar sedotannya jadi sama panjang?”
        “Mendingan sedotan yang cuma satu ditambah lagi 1 dengan cara disambung, sama kayak sebelahnya.”
            “Betul. 2 sedotan yang sudah disambung sebelumnya adakah merasa dirugikan?”
            “Nggak lah, kan nggak diapa-apain."

            Intisari dialog sederhana di atas adalah bagaimana ketika seseorang ingin berubah, maka dialah sendiri yang harus berusaha mengubahnya, tanpa merugikan orang lain. Dan ini tidaklah mudah. Buktinya, masih ada saja karena ingin menjadi kaya, seseorang nekat menjadi pencuri, seseorang berani untuk korupsi. Yang demikian ini tentu saja merugikan orang lain. Seharusnya dia bisa bersikap seperti Abdurrahman bin Auf yang ketika hijrah ke Madinah dalam keadaan tidak punya apa-apa, ketika ditawari harta saudara kaum Anshar, dia tidak mau menerima melainkan Abdurrahman bin Auf ingin ditunjukkan dimana pasar. Di sanalah dia akhirnya berdagang. Usaha berdagangnya membuahkan hasil sehingga dia menjadi orang yang kaya raya. Saking kayanya Abdurrahman bin Auf bingung kemana dia harus infakkan hartanya. Hingga suatu ketika aka nada berita bahwa pasukan muslim akan menghadapi Perang Tabuk. Maka Abdurrahman bin Auf bersegera menemui Rasulullah dengan membawa 200 uqiyah emas. 


            Pesannya singkat saja. Jika ingin berubah, berubah saja. Jika tak mau pun tak usah merugikan orang lain, karena apa yang dilakukannya juga berlaku untuk dirinya sendiri. Allah Maha Menyaksikan apa yang manusia niatkan tentang sebuah perubahan. Dia akan menolong hamba-Nya manakala dia berusaha sendiri mengubah hidupnya. Lagi-lagi anak harus mampu memaknai hal ini. Bahwa jika dia ingin menjadi juara di kelasnya dia pun harus berusaha sendiri tanpa merugikan orang lain. Filosofi sedotan bisa mengajarkannya. Anak tak sekedar memahami konsep panjang, namun lebih dari itu.

Telur Mirip Bola



            “Ma, enaknya pagi-pagi begini ngapain ya? Mumpung masih libur sekolah nih!”tiba-tiba Lutfiah menyeletuk mamanya yang ada di dapur.
            “Lha mau ngapain sayang? Gimana kalau bantu mama masak sekarang. Biar cepat selesai juga, biar cepat sarapan,” Bu Ridho menawarkan.
            “Ehm, boleh-boleh.”
            “Oke, sekarang tolong bantu mama ambil telur di kulkas sebanyak 4 ya!”
         Lutfiyah langsung melangkahkan kaki. Diambilnya telur sebanyak 4 lalu diberikannya kepada mamanya.
            “Ok, terima kasih sayang! Nah, sebelum kita masak telurnya, mama mau tanya dulu sama adik Lutfiah.”
            “Katanya mau masak, kok pakai pertanyaan segala, Ma.”
            “Nggak apa-apa, biar masaknya nggak bisu, nggak sepi.”
            “Oh. Ok, Lutfiyah siap!”
          “Dari 4 telur yang kamu ambil tadi, mana yang mirip bola?”tanya Bu Ridho.
            “Yang mana ya? Sepertinya nggak ada. Kan bola itu bulat penuh, Ma.”
            “Coba dilihat lagi dengan lebih teliti!”
          Lutfiyah memandangi kembali 4 telur yang diambilnya tadi. Diamati satu per satu, tapi bentuknya tidak ada yang seperti yang ditanyakan mamanya. Bola itu kelereng, bola itu bola tenis, bola pingpong. Telur bukan bola. Demikian yang dipikirkan Lutfiyah.
            “Nggak ada yang bentuknya seperti bola, Ma!” 
           “Benar? Coba simak kembali pertanyaan mama tadi! Manakah dari 4 telur tadi yang bentuknya mirip bola?”
            Lutfiyah diam sejenak. Dicernanya kembali pertanyaan ulangan dari mamanya. 
            “Mirip bola? Oh ya, yang ini Ma. Yang agak kecilan ini!”
            “Pinternya anak mama. Emang yang lain kenapa nggak mirip bola?”
            “Yang lain lebih panjangan. Nggak bulat-bulat amat.”
            “Kok bisa tahu?”
            “Kan mama yang suruh Luthfiyah teliti lagi!”
           “Kira-kira kalau mama berkata bahwa kemarin Luthfiyah marah karena nggak dibelikan mainan sama papa, gimana?”
            “Ya marah! Kan bukan karena itu!”
            “Kenapa marah?”
            “Ya bukan karena itu!”

            Telur mirip bola. Namanya saja mirip, bukan seperti. Tapi, karena justru namanya mirip, maka butuh kejelian apakah telur tersebut benar-benar mirip bola. Butuh kejelasan melihat. Teliti. Bahkan, butuh kejelasan mendengar, jika memang kabar yang didengar masih samar-samar. Tak perlu berprasangka buruk karena itu berbahaya. 

         Buku Seven Habits for Teens karangan Sean Covey juga menceritakan bahayanya berprasangka buruk. Ada seseorang bernama A sedang menunggu kedatangan pesawatnya di ruang tunggu keberangkatan bandara. Karena bosan, ia ingin sekali memakan makanan ringan yang ia beli sebelumnya. Makanan ringan itu belum dimakan, tiba-tiba seseorang bernama B mengambilnya dari tempat duduk di sampingnya dan tanpa minta izin langsung membuka dan memakannya. A langsung kaget.
A segera merebut kembali makanan ringan tersebut dari tangan B, kemudian memakannya dengan penuh emosi. Karena jengkel, B pun mencomot makanan yang telah direbut sama A lagi. A merebutnya lagi lalu segera menghabiskannya.
Begitu akhirnya pesawat tiba. Dan A sudah duduk di dalamnya, alangkah terkejutnya ia ketika membuka tas, rupanya makanan yang ia beli masih berada di dalam tasnya. Berarti, makanan ringan yang tadi ia makan adalah milik B. 

            Seram, bukan? Alias ngeri! Bisa juga memalukan! Maka, itulah yang sedang ditumbuhkan dalam diri Luthfiyah oleh mamanya. Sikap berprasangka, hindari prasangka buruk. KH Abdullah Gymnastiar berkata bahwa su `udzon atau berburuk sangka dapat membuat hati kita menjadi busuk karena apapun yang kita sangka akan mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita bersikap, dan cara kita mengambil keputusan. Berbahagialah bagi orang-orang yang bisa berkhusnudzon atau berbaik sangka.

            

            

Selasa, 24 Maret 2015

Konsep Luas dan Menutup Aib Saudara


            “Uh, sebel banget sama Salsa, awas besok aku pasti akan membalasnya,” gerutu Azka.
           “Sepertinya anak ibu sedang jengkel ya? Mungkin bisa cerita ke ibu?” tanya Bu Farida.
            “Iya Bu, aku lagi jengkel. Salsa mah hanya baik namanya doang, tapi kata-katanya itu lho terdengar pedas di telinga!”
            “Oh, kamu marah dikatain Salsa? Emang parah ya?”
            “Ya iyalah, masak Azka dikatain ‘Kaki Koreng’ ma dia! Kan wajar jika aku marah Ibu!”
            “Kaki koreng?”
         “Iya, kan kaki Azka sedang sakit Bu, dia tahu kalau kakiAzka yang dibalut perban ini sedikit bernanah waktu diganti perbannya ma Bu guru. Eh, dia langsung nyebut Kaki Koreng. Sebel deh!”
            “Trus, besok Azka mau berbuat apa sama dia?”
            “Mau aku katain juga Bu, dengan sebutan, sebutan, sebutan apa ya?”
            “Sebutan apa sayang?”
            “Nggak tahu. Nggak jadi aja deh. Kasihan!”
            “Kenapa nggak jadi?”
            “Memang Ibu setuju jika aku balas dendam ke Salsa?”
            “Menurut Azka gimana?”
            “Sepertinya nggak!”
            Bu Farida memeluk anaknya. Beliau bangga mendengar keputusan anaknya untuk mengurungkan niat membalas dendam temannya.
            “Oh ya Azka, engkau sudah belajar tentang luas untuk pelajaran matematika?”
            “Sudah Bu, minggu kemarin.”
        “Apa makna luas Nak? Jika ada permukaan meja seperti ini bisa tidak Azka mengetahui luasnya?”tanya Bu Farida sambil menunjuk meja belajar Azka di kamar.
            Azka mencari kertas HVS bekas di rak buku. Diambilnya beberapa buah  lalu menatanya satu per satu hingga menutupi permukaan meja yang ditunjuk ibunya.
            “Permukaan meja ini luasnya segini Bu,” jawab Azka sambil menghitung banyaknya kertas yang menutupi permukaan meja.
            “Yap benar sekali. Lalu, bagaimana jika kertasnya ibu ambil 1?”
            “Ya luasnya jadi berkurang, permukaan meja nggak jadi tertutupi semua.”
            “Jika ibu ambil lagi 1?”
            “Ya yang nggak ketutup jadi 2 Bu, jika ibu ambil lebih banyak lagi atau semuanya ya permukaan meja jadi terlihat semua.” 
            “Nah, sekarang andaikan permukaan meja tadi sudah usang bahkan banyak coret-coretannya, kira-kira enak tidak dipandang atau digunakan?”
            “Ya nggak lah. Mata jadi perih malahan!”
            “Mau nggak menggunakannya?”
            “Nggak mau.”
            “Kalau itu hanya meja satu-satunya dan Azka sangat membutuhkannya untuk belajar gimana?”
            “Ya dipakai ja, tapi sebisa mungkin dicat ulang lagi aja Bu, atau digambari dengan lukisan yang lebih baik.”
            “Seberapa yang dicat atau digambari?”
            “Semua permukaan meja.”
            “Kalau hanya setengah saja gimana?”
            “Ya aneh, tetap nggak enak dilihat juga Bu!’
            “Andaikan permukaan meja tadi yang buruk rupa adalah kejelekan orang lain bagaimana? Apakah Azka juga akan berusaha menutupinya hingga tak terlihat orang lain?”
            “Semestinya begitu. Sama kayak kertas yang menutupi tadi. Jika diambil ibu jadinya malah nggak menutupi.”
            “Jadi Azka bisa dong menjadi seperti kertas-kertas tadi?”
            “Jadi kertas? Maksudnya menjadi penutup permukaan meja?’
            “Iya, yang akan menutup kejekan orang lain sebagaimana kertas menutupi meja.”
            “InsyaAllah Bu. Makasih dah ingetin Azka. Tadi Azka hanya jengkel ja ma Salsa.”

            Suasana di kamar itu benar-benar terharu. Bu Farida memeluk anaknya. Menjadi pemaaf adalah lebih baik dan Allah juga Maha Pemaaf bagi hamba-Nya yang berbuat salah lagi memohon maaf. Lebih jauh lagi, orang tua juga bisa menambahkan penjelasan bahwa ketika seseorang mau menutup kejelekan atau aib saudaranya, maka Allah akan menutupi kejelekan atau aibnya di akhirat kelak. Berbanding lurus. Dan fitrah manusia adalah ia tak menginginkan kejelekannya diketahui orang lain.

            Dialog di atas juga bisa digunakan untuk menanamkan karakter kepada anak tentang pentingnya berkata sopan. Ada lidah yang harus dijaga karena banyak sekali penghuni neraka adalah orang-orang yang tidak menyelamatkan lidahnya. Kata-kata kasar dan menyakitkan keluar tanpa ada penyaringnya. Di sini, self control anak akan terbangun dengan sendirinya. Dia akan memikirkan setiap kata yang akan diucapkannya sebelum berlanjut kepada tingkah laku nyata.


            Matematika, terutama tentang konsep luas tak sekedar akhirnya anak bisa menghitung, tapi bagaimana ada makna yang dalam terkandung di dalamnya jika orang tua mau menggali. Integralitas matematika dan dunia anak akan nampak indah di sini.

Minggu, 15 Maret 2015

1001

          Ini  bukan kisah 1001 malam. Yup, ini adalah permainan matematika yang sangat menyenangkan. Bisa dipraktikkan oleh anak SD minimal kelas 3. Tapi, jangan salah! Bahkan orang tua pun ternyata suka juga melakukan permainan ini. Hiks, pengalaman nih!

          Tak usah lama-lama ya! Bagaimana sih aturan permainannya?
·       Permainan ini dilakukan oleh 2 pemain. Maka, jika anak ibu mau melakukan permainan ini harus mencari 1 orang teman untuk dijadikan lawan tanding. Atau ibu bisa melakukannya bersama anak ibu.

·                          Secara bergiliran, pemain menyebut bilangan, misalkan dari 985 sampai 1001 secara urut satu atau dua bilangan. Bilangan awal seperti 985 adalah sesuai kesepakatan. Jika ingin menggunakan bilangan lain, silakan saja.

         Contoh simulasi untuk aturan kedua permainan ini adalah sebagai berikut:
Giliran pertama, pemain pertama, misal ibu. Ibu menyebut bilangan 985, 986 (sebenarnya ibu bisa juga hanya menyebut 985 saja), maka anak (pemain kedua) boleh menyebut selanjutnya 987 (atau 987, 988, terserah saja!), dst. Intinya maksimal hanya boleh menyebut dua bilangan saja. Tentu saja, hal ini juga sudah disepakati sebelumnya. Bisa saja jika mau menyepakati boleh menyebut maksimal 3, 4, atau berapa pun bilangan.
·         Pemain yang menyebut bilangan 1001 terlebih dahulu dialah yang akan menjadi pemenangnya.

        Coba deh! Dan rasakan! Bagaimana sebenarnya matematika tak harus berhadapan dengan kertas dan pensil saja. Tak harus mengerjakan LKS, tak harus menulis.

        Kembali ke permainan 1001, kira-kira konsep matematika apa yang ingin dilihat ibu dari anaknya? Aha, ya! Mengurutkan bilangan dari yang terkecil ke terbesar. Selama ini seringnya ditulis di buku soal seperti ini: 985, …, 987, …, …, 989, dst. Bosan, sangat membosankan. Anak pun cenderung tak menyukainya. Permainan ini juga sekaligus melihat kemampuan anak dalam membilang dan membaca bilangan. Ingat! Bahwa 985 dibacanya sembilan ratus delapan puluh lima, bukan sembilan delapan lima. Nah, meski begitu permainan ini juga bisa lho jika bilangannya diganti dengan bilangan loncat, bilangan pecahan, bahkan bilangan bulat sekalipun.

       Ada hebatnya lagi permainan ini lho! Yang jelas, ibu dan anak jadi semakin erat jalinannya. Anak semakin percaya bahwa ibunya benar-benar teman yang enak diajak bermain bersamanya.


         Ok, selamat bermain!

Minggu, 08 Februari 2015

Faktor

Faktor bilangan 8 dan faktor bilangan 9


           “Ayah, apa yang menyebabkan orang bisa buta?” Malik tiba-tiba datang terengah-engah mengganggu ayahnya yang sedang membaca koran di teras. Sedang Malik sendiri baru saja pulang dari bermain bersama temannya.
            “Kenapa tiba-tiba tanya hal itu?’
            “Tadi waktu bermain bersama Fadhil, Fadhil cerita tentang orang buta yang baik yang dijumpainya saat pergi ke supermarket minggu kemarin.”
            “Memang baiknya orang buta itu apa kok Fadhil sampai bilang begitu?”
            “Orang buta itu kan lagi berjalan, ditabrak pengendara sepeda motor. Nggak sampai luka parah sih, eh, tapi pengendara motornya malah marah-marah karena orang buta tersebut nggak lihat-lihat. Kan wajar ayah, orang buta nggak lihat. Tapi, orang buta itu malah berbalik minta maaf dengan bertutur kata yang sopan. Nah, Fadhil iba dengan orang buta tadi. Katanya pingin menyembuhkan mata orang buta tadi andai dia bisa.”
            “O begitu ceritanya, subhanallah ya orang buta tadi?”
            “Iya, tapi apa jawabannya ayah, tentang apa penyebab buta?”
            “Ya macam-macam. Bisa sudah takdir Allah semenjak dia lahir. Ada yang karena kecelakaan hingga syaraf matanya rusak dan menyebabkan kebutaan. Itu sih yang ayah tahu.”
            “Segala sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya ya ayah?”
            “Begitulah! Nah, sekarang ayah tanya biar kamu lebih mendapatkan gambarannya yang lebih gamblang.”
            “Apa ayah? Nggak sulit, kan?”
            “Berapakah faktor dari 8?”
            “1, 2, 4, dan 8. Kok jadi pelajaran matematika Ayah?”
            “Sabar, ntar kamu akan mengerti sendiri apa kaitannya. Terus, mengapa bilangan-bilangan itu disebut faktor dari 8?”
            “Ya karena ketika bilangan itu dikalikan akan menghasilkan bilangan 8. Misalkan 1 x 8, 2 x 4, 4 x 2, dan 8 x 1.”
            “Kalau faktor dari 10?”
            “Ah Ayah, mau menguji kemampuan Malik ya? Faktor 10 itu 1, 2, 5, dan 10. Betul, bukan?”
            “Sipplah! Nah, kira-kira apa yang menyebabkan orang bisa masuk surga, Nak? Maksudnya kalau mau dicari faktornya, apa coba?”
            “Banyak, bisa karena amal kebaikan yang dia lakukan, bisa karena rahmat Allah.”
            “Lalu, orang yang buta tadi bisa masuk surga tidak karena sifat pemaafnya terhadap orang yang menabraknya?”
            “Ya bisalah. Kan pemaaf adalah amal baik.”
            “Terus, dengan menjadi orang buta, ada tidak peluang orang tersebut untuk lebih menjadikannya penghuni surga?”
            Malik tampak berpikir keras. Dia nampak memutar otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan ayahnya. Ayahnya pun menunggu dengan sabar dan tenang sambil meneruskan membaca koran. Sesekali dilirik anaknya, jari-jari tangannya masih memukul-mukul ringan meja di samping ayahnya. Tampak kosong, belum ada tanda-tanda dia berhasil mendapatkan jawaban.
            Sang ayah segara meletakkan kembali korannya. Malik cengar-cengir berkata bahwa dia menyerah. Lalu ayahnya bercerita tentang seorang anak yang diajak ayahnya jalan-jalan, dan selama dalam perjalanan mereka melihat seorang perempuan bertangan satu. Tangan sebelahnya lagi sudah tidak ada alias buntung. Sang ayah bertanya tentang siapakah yang lebih beruntung antara perempuan tersebut dengan diri anaknya. Sang anak menjawab bahwa dia sendiri yang lebih beruntung karena dengan punya tangan lengkap dia bisa melakukan banyak hal dengan sempurna dan lebih cepat. Sedangkan perempuan yang dilihatnya tidak demikian. Sang ayah mengiyakan, lalu beliau bertanya tentang peluang perempuan tersebut untuk berbuat maksiat dengan tangannya. Sang anak menjawab bahwa perempuan tersebut akan merasa senang karena minimal satu tangannya tidak akan pernah berbuat maksiat. Otomatis satu tangannya yang tidak ada tidak ada dimintai pertanggungjawaban. Sang ayah menegaskan tentang siapa yang sebenarnya lebih beruntung.
            “Oh, aku tahu ayah. Berarti orang yang buta tadi bisa menjadi penghuni surga lagi karena matanya diselamatkan dari melihat yang tidak diperbolehkan ayah. Betul, bukan?”
            “Luar biasa anak ayah,”sanjung ayah Malik sambil mengelus rambut anaknya yang mulai kemerah-merahan.
           
            Wahai para orang tua, apa yang didiskusikan Malik dan ayahnya sungguh suatu hal yang membawa kebaikan. Mengapa? Secara tak langsung, meski ayah Malik menanyakan tentang faktor sebuah bilangan, namun beliau cerdas sekali mengajak anaknya mengambil hikmah dari makna faktor tersebut. Bahwa segala sesuatu terjadi karena ada faktor penyebabnya. Dan semuanya kembali kepada kehendak Allah.

            Anak jadi memahami ada peran Allah dibalik semua peristiwa. Dan setiap kejadian yang menimpa manusia tidak akan melebihi kemampuan manusia itu sendiri, bahwa ada pelajaran berharga yang bisa dipetik jika manusia mampu memaknai. Pun, dari dialog di atas, dari bab faktor sebuah bilangan, anak akan mengerti bahwa sesuatu bisa menyebabkan sesuatu. Ada hukum sebab akibat disana. Lebih jauh, ayah Malik begitu pintar mengajak anaknya berpikir tentang demikianlah sifat Allah. Allah Maha Memberi Pembalasan. Setiap amal kebaikan diganjar dengan kebaikan, demikian pula sebaliknya. Anak tak hanya pintar menjawab bahwa 1 x 8 akan menyebabkan hasil 8, namun anak punya pikiran yang mendalam bahwa amal baik bisa membawa manusia ke dalam surga. Sehingga manusia tidak dinilai dari bentuk fisiknya, namun lebih kepada amal yang dilakukannya.

Rabu, 14 Januari 2015

Pesawat Terbang dan Allah


Biar kurakit pesawatku 
rentangkan pelan dua sayapnya 
Nyalakan sumbunya sampai terpercik api menari 
Lepaskan pengaitnya relakan pergi ke arah bulan
Tak perlu kau rindu menyinggungnya 
Perlahan lupakan kepergiannya 
Tunggulah kerling lampunya disaat bulan purnama tiba 
Pertanda dia telah bertemu dengan peri kecilnya di bulan
Reff:
Pesawatku terbang ke bulan
Pesawatku terbang ke bulan

            Masih mengenal syair lagu ini, bukan? Lagu yang dibawakan oleh penyanyi kawakan “Memes” ini kali ini menginspirasi untuk dibedah maknanya terkait keseimbangan hidup, konsep simetris dalam matematika, dan bagaimana seharusnya manusia menyikapi kehidupan ini. Tak terkecuali anak-anak.
            “Irsyad, gimana kabarnya sayang hari ini?”tanya Bu Fatimah kepada anaknya yang sedang asyik bermain melipat-lipat kertas koran bekas di ruang keluarga.
            “Eh, bunda. Baik bunda. Nih sedang iseng membuat origami sambil dengerin musik !”
            “Emang mau bikin apa?”
            “Apa aja, tapi tertantang banget pingin buat pesawat terbang.”
            “Boleh tuh, tapi bisa dong sambil bunda ajak ngobrol? Tentang pesawat terbang juga.”
            “Wah, dengan senang hati!”jawab Irsyad mantap sambil menganggukkan kepala.
            “Apa yang Irsyad ketahui tentang pesawat terbang?”
          “Yah Bunda, begitu aja ditanyain, kayak nggak pernah naik aja! Yang jelas pesawat terbang itu besar, muat penumpang banyak, ada pilot yang mengendalikannya. ”
            “Cara membuatnya gimana?”
            “Ya ada ilmunya sendiri, Bunda. Itu yang aku belum tahu banyak.”
            “Bener nggak ada yang tahu sedikitpun?”
           “Apa ya? Ehm, ya dibuat gimana caranya pesawatnya bisa terbang dengan aman. Ada sayapnya, biar bisa terbang kayak burung gitu.”
            “Wah, pintar anak bunda. Terkait sayap pesawat, memang gimana ya bentuknya?”
            “Panjang, ada 2 di samping kanan dan samping kiri.”
            “Panjang sayapnya gimana antara yang di samping kanan dan samping kiri?”
            “Sama. Diapit badan pesawat.”
            “Kalau panjangnya nggak sama bagaimana?Atau mungkin sayapnya cuma satu, apa yang terjadi?”
            “Ya nggak bisa terbang. Bisa, tapi mungkin akan mudah jatuh kali.”
            “Mengapa?”
            “Karena nggak seimbang.”
            “Betul!”
            
            Filosofi pesawat terbang sangat tepat bisa mengundang anak berpikir bagaimana seharusnya dia menjaga dirinya. Bentuk simetris yang dimiliki pesawat terbang mampu membuat sebuah generalisasi bahwa meskipun seorang anak SD kelas 4 bisa  menangkap pesan “keseimbangan hidup”. Jika tak simetris akan berat sebelah layaknya ayunan yang porosnya tak tepat di tengah atau lengannya panjang sebelah.
            Simetris adalah keseimbangan.Simetris tak hanya teori dimana segala sesuatu yang simetris memiliki sumbu simetri, tak hanya bangun datar seperti halnya dipelajari anak-anak bersama gurunya.

            Simetri adalah tak pilih kasih. Begitulah Allah. Allah Yang Maha Adil. Dan betapa seharusnya anak bisa memaknainya. Dari sudut pandang lain, anak seharusnya juga mengerti bahwa ada dua sisi dengan porsi yang sama. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penerima Taubat, dan masih banyak lagi kemahaan Allah yang baik-baik. Namun, anak juga harus tetap dipahamkan bahwa Allah juga mempunyai kemahaan yang sebaliknya. Allah Maha Pedih Adzab-Nya, Allah Maha Merendahkan, dsb. Apa yang terjadi jika anak paham konsep ini? Tentu, anak akan lebih berhati-hati menjalani kehidupannya. Dia seimbangkan perasaan takut dan harap yang dia tambatkan kepada Allah semata. Tidak kurang tidak lebih. 

Selasa, 13 Januari 2015

Pernahkah Engkau Hidup 3.200 Hari?


            Banyaknya hari dalam setahun hampir dipastikan banyak orang yang tahu. Jika bukan tahun kabisat maka banyak hari dalam setahun 365 hari menurut kalender Masehi. Tapi, bagaimana konsep banyak hari bisa menjadikan anak lebih baik dalam memahami Allah dan dirinya sehingga tumbuh karakter positif dalam kehidupannya? Simak dialog berikut:

“Bunda, tadi Fitri baca buku jika usia rata-rata kelinci hidup itu hanya 5 tahun. Ehm, sebentar sekali Bunda!” tutur Fitri, anak kelas 3 SD ketika belajar malam hari untuk persiapan besoknya.
            “Fitri baca dibaca?”Bunda Nida yang berada di sampingnya bertanya.
            “Di perpustakaan sekolah.”
            “Memang jika hanya 5 tahun apa yang terjadi? Kok sepertinya Fitri kasihan sama si kelinci?”
          “Ya, jadinya si kelinci hanya sebentar sama anaknya. Nggak bisa memberikan kasih sayang yang lama. Anak kelinci perlu kasih sayang juga kan Bunda?”
            “Nah anakku, berarti enak hidup lama atau sebentar?”
            “Ya enak hidup lama dong. Kan sama kayak lagu “Selamat Ulang Tahun”! Semoga panjang umur.”
            “Panjangnya seberapa Fitri? Bisa tidak mengalahkan Allah?”
            “Ya nggak tahu. Allah bukannya kekal Bunda?”
            “Iya, maka gimana?“
            “Fitri akan mati juga kayak kelinci. Tapi nggak tahu matinya kapan?”
            “Nah, sekarang, Fitri sudah pernah belum mengalami hidup di dunia selama 3.200 hari?”
            “Aduh, ngitung dulu Bunda! Usia Fitri kan sekarang 9 tahun. Satu tahun ada 365 hari. Berarti 9 tahun sama dengan 9 x 365, sama dengan, tunggu Bunda!” Fitri mengambil pensil dan kertas untuk menghitung.
            “Berapa coba?”
            “Ah gampang Bunda, 3.285 hari. Jadi, Fitri sudah hidup selama itu ya?”
            “Itu lama atau sebentar?”
            “Lama juga Bunda! 3.200 hari kan banyak. Wong sehari saja sering terasa lama!”
           “Nah, sekarang jika adik Fitri yang usianya 5 tahun berarti telah hidup berapa hari sampai sekarang?”
            “Ya 5 x 365 = 1.825 hari.”
            “Itu lama atau sebentar?”
            “Sebentar.”
            “Kok tahu?”
            “Ya kan lebih sedikit dari 3.200 hari!”
            “Oh begitu! Sekarang Bunda punya sebuah cerita. Mau menyimaknya?”
            Fitri secara spontan menganggukkan kepala. Kalau mendengarkan cerita itu memang sudah menjadi kegiatan favoritnya. Kali ini Bundanya bercerita tentang seorang kakek berusia 10 tahun. Tentu, mendengar usia kakek yang hanya 10 tahun, Fitri terperangah. Sama seperti kisah seorang pemuda yang suatu hari mendapati kakek ini sedang belajar bersama anak-anak di bawah pohon rindang dengan seorang guru. Si pemuda penasaran dan menyangka bahwa si kakek adalah guru juga. Si kakek berkata bahwa sangkaan si pemuda tadi salah. Dia menjelaskan bahwa dia adalah murid yang sedang belajar, sama seperti anak-anak yang duduk di samping kanan kirinya. Si pemuda tambah penasaran karena tidak mungkin kakek belajar tentang pelajaran anak-anak. Dia pun bertanya tentang usia kakek. Si kakek menjawab bahwa usianya tepat 70 tahun namun si kakek merasa bahwa usianya benar-benar bermanfaat hanya 10 tahun. Yang 60 tahun tidak dihitung. Mengapa? Si kakek menjelaskan kembali bahwa sejak lahir sampai usia 20 tahun dia hanya gunakan untuk bermain dan bersantai ria. 20 tahun berikutnya yang semestinya digunakan untuk berjuang dan meniti karir malah dia gunakan untuk berfoya-foya menghabiskan harta orang tua. Sedangkan 20 tahun ketiga, tak pernah digunakan si kakek untuk mengumpulkan tabungan pensiun. Yang dilakukan si kakek malah bertamasya menghabiskan uang dengan tujuan yang tak jelas. Dan baru 10 tahun inilah si kakek memulai hidupnya dengan belajar sungguh-sungguh.

            “Gimana, Nak? Usia kakek lama atau sebentar?”
            “He he he, jadinya tergantung dong Bunda?”
            “Maksudnya tergantung?”
            “Si kakek sebenarnya sudah lama hidup, tapi merasa masih sebentar hidup.”
            “Kenapa?”
            “Karena usianya hanya untuk senang-senang saja.”
            
              Konsep usia apalagi terkait dengan manusia memang selalu menyimpan misteri bagi si pemilik usia itu sendiri. Dirinya tak pernah tahu bilangan usia berapa yang akan dinikmatinya di dunia ini. Tentu, dinikmati dengan cara yang positif.
            Allah Maha Kekal. Manusia akan fana. Semua orang tahu akan hal ini. Bahkan anak kelas 3 SD pun mengetahuinya karena di sekolah pun diajarkan. Satu tahun sama dengan 365 hari, anak pun mengetahuinya. Di matematika SD kelas 3 pun anak dipahamkan tentang konsep tersebut. Ketika diminta mengerjakan soal ulangan pun, anak sanggup melewatinya dengan hasil yang memuaskan. Tapi, apa hubungan keduanya? Inilah tugas orang tua untuk mendalamkan maknanya.