Tampilkan postingan dengan label Jalan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2016

Secar Bukan Kesasar

                

              Semua penuh pertimbangan. Ya akal, ya kepasrahan total. Tentang akal. Manusia memang dikarunia akal untuk berpikir, berdaya, dan terus belajar. Kelahiran anak pertama dan anak kedua yang tidak mengalami persalinan normal membuat saya terus belajar, apakah yang kehamilan yang ketiga bisa lahir normal? Ya, bisa. Saya berselancar menyelami google banyak kasus ibu berhasil vba2c. Tentu dengan keadaan kehamilan yang memang sehat dan baik-baik saja. Bahkan saya berhasil chatting dengan seorang ibu yang berhasil vba3c. Ehm, sudah 3 kali secar dan anak keempatnya berhasil lahir normal. Perjuangan yang luar biasa. Pemberdayaan yang tiada henti. Keyakinan sukses yang perlu diacungi jempol. Saya tak ingin ketinggalan. Saya pun berusaha memberdayakan diri. Saya berusaha yoga prenatal minimal 3 kali seminggu, menerapkan pola makan sehat, berusaha tidak stress meski anak dua dan banyak urusan lainnya. Alhamdulillah, kehamilan ketiga jauh lebih sehat, badan ringan, dan lebih produkti dibanding kehamilan sebelumnya. Kecuali nulis sih, mulai Maret sampai melahirkan memang belum maksimal.

                Yoga. Olahraga ini memang membuat tidur saya lebih nyenyak. Terlebih pikiran saya lebih positif. Cukup banyak mengurangi rasa stress saya. Latihan napas dalam yoga sangat membantu bahkan dalam kondisi dua anak saya tidak bisa kompromi. Napas, napas, napas. Inilah yang dibutuhkan ketika persalinan normal. Mendengar cerita banyak ibu sukses melahirkan normal dengan lancar dan mudah hanya dengan napas ini, meski sebelumnya secar membuat saya kagum dan berusaha tidak meninggalkan yoga ini. Bahkan ketika usia kehamilan 37 minggu, selain yoga saya juga olahraga dengan bola pilates. Kepala bayi jadi lebih turun, turun, dan turun.

                Pola makan sehat. Ehm, selama saya hamil, berat badan saya hanya nambah 8 kg saja lho. Sejak usia kehamilan 35 minggu berat badan nggak naik-naik, tapi berat badan bayi nambah. Bahkan, anak yang ketiga ini lahir berat badannya lebih besar dibanding kakak-kakaknya. Saya menerapkan food combining. Hasilnya, badan memang enteng karena saya tak sembelit lagi. Hamil mau kemana aja jadi nggak terasa berat. Sampai usia 35 minggu saya masih sepeda motoran ke mana aja lho, bawa anak 2 lagi.

                Asyik deh menjalani kehamilan anak ketiga ini. Namun, ketika jelang HPL keadaannya lain. Keponakan yang sejak usia kehamilan saya 38 minggu di rumah, dengan tujuan jika saya mules sewaktu-waktu mau lahiran, dia bisa menemani Qowiyy dan Nasywah, mendadak harus pulang. Suami mulai bingung. “Ya udah, biarin aja pulang, nggak usah disuruh balik ke sini lagi! Takutnya ntar masih ada keperluan lagi terkait sekolahnya. Anak-anak gampang lah, ntar dipikirkan!” kata saya.

                Dan tak menyangka di usia kehamilan 39 minggu, bangun tidur malam saya merasakan sesuatu. Celana dalam kok basah? Saya ke kamar mandi. Ternyata keluar flek lendir berwarna merah muda. Kata teman dan bidan, itu tanda akan melahirkan. Ditunggu saja sampai kontraksi muncul dan amati. Namun selama sepekan saya hanya merasakan kontraksi-kontraksi palsu saja. Selama sepekan itu pula setiap hari saya selalu memakai “pampers”. Saya mengeluarkan cairan terus, namun bukan air ketuban. Kadang lengket bening, kadang merah muda lendirnya. Saya tidak tahu apakah itu. Dan kontraksi palsu itu selama 3 hari jelang lahiran saya rasakan semakin hebat dan sakit. Meski timbul lalu menghilang, namun ketika muncul sakitnya luar biasa. Biasanya ketika perut kenceng, saya pakai yoga enakan rasanya. Ini tidak. Badan rasanya sakit semua. Dipakai tidur miring sakit, telentang juga sakit. Apalagi di bagian pinggang. Dan selama 3 hari itu saya tidak bisa tidur. Badan agak enakan jika dipakai jalan kaki. Tapi malam hari, tak mungkin bukan saya jalan kaki terus? Sesekali saya tidur dengan posisi nungging sambil mengelus-elus pinggang. Tapi ya tidak bisa bertahan lama. Mana enak tidur nungging, lama-lama pegel juga. Alhasil selama 3 hari itu saya nge-drop. Kurang tidur. Terutama malam hari.

                Lalu, berbincanglah saya dengan suami malam itu.
                “Jadinya gimana?” tanya suami.
                “Ya nunggu,” jawab saya tenang.
            “Yang jaga anak-anak siapa? Nggak mungkin kan ketuk-ketuk pintu tetangga? Apalagi jika mulesnya malam? Sebisa mungkin janganlah repotkan orang lain!” kata suami lagi.

               Saya terdiam. Iya, ya. Saya pun juga sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain. Kalau mulesnya pagi, anak-anak memang bisa dititip di daycare. Tapi kalau penuh, ya, nggak bisa juga. Apalagi anak-anak saya bukan tipe yang cepat akrab dengan orang lain. Kami pun tak ingin merepotkan orang tua di kampung untuk datang. Ibu saya sejak keluar dari rumah sakit karena terserang vertigo saya larang untuk bepergian sendiri. Apalagi pekerjaan ibu sebagai guru juga tidak bisa ditinggal. Bapak jadi ojek ibu setiap hari. Adik saya juga lagi hamil tua. Ibu mertua sudah sering sakit-sakitan juga. Kakak ipar tangannya masih sakit habis kecelakaan. Ya,otomatis memang tidak ada yang menjaga anak-anak.

                “Terus, ayah tuh nggak bisa nunggu begini. Bukan tidak setuju lahiran normal, tapi ayah tak bisa terus berkompromi dengan pekerjaan! Ayah tak bisa siaga terus jika sewaktu-waktu lahiran!”sahut suami lagi.

                Aha! Saya kembali diam, bahkan lebih menutup mulut dengan rapat. Saya baru sadar dan ingat kalau suami sejak sebelum puasa sudah menjadi tim khusus langsung di bawah Dirjen. Suami sering rapat, lembur, dan dinas luar kota. Tiap minggu hampir nggak pernah kosong. Sabtu atau ahad saja juga adakalanya lembur di kantor. Bahkan pas ramadhan orang kebanyakan pulang lebih awal, suami sering pulang malam. Nah, sejak usia kehamilan saya 38 an minggu, suami tidak dinas ke luar kota. Ijin dengan atasannya. Namun, ya tidak bisa lama-lama. Apalagi jika memang tak ada orang lagi yang bisa menggantikan pekerjaannya.

                Ya Allah. Rasanya tak karuan dada saya. Saya juga nggak rela kalau sampai suami saya ditegur atasan karena tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Bagaimanapun suami bekerja juga niat karena ibadah kepada Allah. Bagaimanapun suami juga harus bisa tawazun. Ya keluarga, ya bekerja. Kalau suami lagi dinas luar kota lalu tiba-tiba saya mules mau lahiran, bagaimana?

                Semalaman saya tidak bisa tidur. Pagi hari ketika suami tidak di rumah, saya berusaha konsultasi dengan 2 orang teman saya yang saya anggap bisa membantu masalah saya. “Gentle birth itu tak harus dipaksakan untuk normal. Dan sebisa mungkin proses persalinan itu tidak membuat kekhawatiran. Ingat dulu pas melahirkan anak kedua, Mbak! Jika operasi lebih menenangkan banyak pihak, itu juga gentle birth.”

Teman kedua saya berkomentar lain, namun lebih menusuk ke hati saya. “Mbak sudah berusaha maksimal, tapi kalau dah jelang melahirkan begini, saya lebih memilih untuk taat pada suami, Mbak. Kondisinya sepertinya tidak memungkinkan untuk persalinan normal. Mungkin, tapi mudharatnya jauh lebih besar. Lagi pula, besar pahalanya soal ketaatan istri kepada suami.”

Saya tak bisa menahan tangis. Ya, saya menangis tak henti-henti. Saya lihat Qowiyy dan Nasywah, iya ya bersama siapa mereka jika tiba-tiba saya harus ke dokter/bidan? Lalu saya berkaca pada diri sendiri. Iya ya siapa yang bisa mengantar dan menunggui saya ketika harus ke dokter/bidan kala kontraksi rutin sudah terjadi sedang suami dinas luar kota? Mungkin saya bisa pergi sendiri naik taksi, anak-anak?

Bismillah. Akhirnya saya pun memutuskan untuk melakukan persalinan secar. Saya chat dengan dokter. Alhamdulillah cepat nyambung. Saya kabarkan kepada suami saya soal keputusan saya. “Bener?” tanyanya. Saya mengangguk. Suami tak tanya alasannya. Tapi itu jauh menentramkan hati saya. Setelah diskusi dengan teman, saja jadi lega. Makanya berani mengambil keputusan ini.

Persalinan secar pun terjadi. Bayi perempuan mungil pun hadir di dunia ini. Ditemani suami sendiri di rumah sakit. Pulang dari rumah sakit juga sudah harus repot dengan pekerjaan rumah tangga. Suami harus kerja lagi esoknya. Ya dibantu suami sih kalau pagi dan malam hari. Namun, hanya 5 hari. Selepasnya suami sudah lembur dan dinas luar kota lagi. Sampai saat ini. Tiap pekan paling tidak 3-4 hari. Namun Alhamdulillah, dengan banyak bergerak, saya justru cepat pulih dan beraktivitas lagi.


Secar bukan kesasar. Paling tidak ini yang saya rasakan. Saya tak tahu apakah keputusan saya benar, namun saya tenang dan hati rasanya tentram ketika memutuskan. 

Selasa, 24 Maret 2015

Merawat Kipas Angin Agar Awet


Ini pengalaman saya ya.. maaf jika berbeda dengan pengalaman Anda..

                Jengkel terasa bila saatnya gerah tiba-tiba kipas angin tak mau nyala. Awalnya lancar dan tak ada halangan. Lama-lama ketika dinyalakan, lama tak mau berputar baling-balingnya, lantas berputar dengan sendirinya. Selanjutnya, sama sekali meski sudah dinyalakan kipas angin tak menyala. Kipas-kipas pakai kertas deh!

                Menyalakan kipas angin memang tidak tiap hari. Namun, ada kalanya kebutuhan terhadap kipas angin tak bisa dihindari. Menjaga dan merawatnya tentu saja harus dilakukan. Terutama membersihkan kotoran yang menempel di baling-balingnya. Dibukalah penutup kipas angin yang seperti ruji-ruji itu lalu dilap bersih baling-balingnya. Lalu, dipasang lagi. Eh,pas dinyalakan kasusnya selalu seperti cerita tadi. Nyala lancar,lalu sempat ngadat, dan lama-lama tak bisa berputar sama sekali. Beberapa kali setiap beli kipas angin selalu begitu.

                Sadar menghabiskan uang, akhirnya mencoba merawat kipas angin dengan cara yang lain. Kali ini ketika memasang kipas angin waktu pertama kali beli, disengaja tidak menutup bagian depan kipas angin dengan bingkainya yang seperti ruji-ruji itu. Ketika kotor baling-balingnya bisa dengan mudah mengelapnya dengan tisu. Dan tak perlu repot memasangnya lagi.

                Hasilnya? Ternyata kipas angin malah awet, meski baling-baling dibersihkan berkali-kali. Entah apa penyebabnya, tapi ketika gerah dan panas melanda tak ada kekhawatiran macet di tengah jalan. Memang, akan cepat kotor baling-balingnya karena tak ada filter dari bingkainya itu, namun membersihkannya juga hanya sebentar saja.

                Di saat tertentu keberadaan kipas angin memang dibutuhkan. Memastikan baling-balingnya lancar berputar memang harus dilakukan. Membuatnya lebih awet dengan cara merawat yang jitu akan membuat isi dompet tetap aman.


Minggu, 04 Januari 2015

Kepedulian yang Kurang dalam Angkutan Bis

Di bis tidak ada seperti ini..

                Pernah naik KRL alias kereta api listrik? Saya pernah. Meski tak sering-sering amat. Beberapa kali naik bersama suami dan dua anak balita sering kali ketika kami tak mendapati tempat duduk, 2 orang penumpang lantas merelakan kursi duduknya untuk kami. Apa yang mereka lakukan sesuai dengan apa yang sudah dianjurkan oleh pihak KRL untuk memprioritaskan orang tua, ibu hamil, orang cacat, dan orang tua yang membawa anak balita. Kalau penumpang tak peduli dengan anjuran itu, biasa petugas KRL mengingatkan. Pengalaman selama ini begitu. Tapi sedikit atau banyak, ada kali yang tetap cuek.

                Sama ketika pulang kampung kemarin, ketika perjalanan dari Lamongan ke Surabaya naik bis. Saya menggendong Nasywah yang berusia 2 tahunan, sedang suami menggandeng Qowiyy usia hampir 5 tahun. Ternyata, kami berdiri semua. Qowiyy berdiri sambil memegangi celana ayahnya. Agak risih dia. Hampir setengah jam dia berdiri. Ada keluh kesah dilontarkannya. Kakinya mulai pegal. Keringatnya mulai bercucuran. Sesekali dia hampir jatuh karena bis bergoncang karena jalan rusak, dsb. Qowiyy meminta gendong ayahnya. Suami pun menggendong. Tapi karena kernet bis jalan dari depan ke belakang cukup mengganggu posisi suami menggendong Qowiyy, akhirnya sulung saya ini berdiri lagi. Ada kantuk di matanya. Dia tahan-tahan. Maklum kalaupun menunggu bis berikutnya bisa menunggu 1 jam an lagi dengan kondisi yang sama. Maka, kami nekat saat itu untuk naik.

                Suami berkata setengah berbisik,”Jangan berharap kayak di KRL. Di bis nggak ada aturan kalau orang tua bawa anak balita diprioritaskan tempat duduknya!” Saya mengangguk dan tersenyum. Lalu, saya melihat penumpang di sekeliling saya. Banyak laki-laki yang kekar dan beberapa perempuan yang tampak muda. Dan semuanya hanya melihat kami. Padahal di perjalanan selanjutnya, meski kami naik bis patas, saya melihat seorang penumpang merelakan tempat duduknya untuk ibu tua yang salah masuk bis. Inginnya bis biasa, namun keliru naik bis patas padahal sudah penuh. Pemandangan yang berbeda ketika di bis sebelumnya. Tak ada penumpang yang peduli. Ya, minimal untuk anak sulung saya tadi. Sudahlah! Untung hanya setengah jam, setelah itu setengah jam berikutnya, alhamdulillah kami mendapat tempat duduk karena ada penumpang yang turun. He, Qowiyy langsung tertidur pulas.


                Mungkin memang salah kami mengapa tak memilih alternatif kendaraan lain  dengan jurusan lain. Ada sih, tapi memang jadi lebih memakan waktu. Ada juga lewat jalur lain, tapi kondisinya malah kemungkinan besar kami tidak mendapat tempat duduk di bis lebih lama lagi. Paling tidak jadi bisa introspeksi bahwa kami ke depannya hendaknya bisa menjadi penumpang yang peduli jika ada penumpang lain mengalami kejadian seperti yang kami alami. Kepedulian memang harus diasah, bukan? 

Selasa, 30 Desember 2014

MPASI Homemade Itu Menghemat Biaya Hidup


                Pengalaman berMPASI ria dengan membuat sendiri di rumah untuk kedua anak saya, memang pada akhirnya menuai manfaat yang banyak saya rasakan. Padahal dulu ketika mempraktikkannya untuk anak pertama sempat putus asa. Qowiyy tak begitu suka, apalagi itu tanpa gula dan garam. Maksimal 8 suap sendok teh saja bisa masuk mulutnya. Itupun harus sambil bernyanyi, bermain pesawat-pesawatan, dsb. Perlu waktu lama deh biar termakan olehnya. Sering tidak habisnya.  Tapi saya tetap sabar. Hingga suatu kejutan terjadi menggembirakan saya. Usia 11 bulan Qowiyy mulai lahap makan. Bahkan sampai sekarang. Sayur dan buah tetap doyan. Waktu sakit dan rawat inap pun tetap doyan makan. Alhasil, cepat sembuhnya. Dokternya geleng-geleng kepala.

                Lain Qowiyy, lain pula adiknya, Nasywah. Ketika MPASI tak ada menunjukkan masalah yang berarti.Usia 6-7 bulan makan puree buah sangat lahap. Lalu lanjut nasi tim saring dan nasi tim biasa juga sangat lahap meski tanpa gula dan garam. Seneng deh pokoknya. Makin semangat MPASI homemade. Namun, ketika usia setahun sampai 18 bulan, makan mulai susah. Masuk sih ke mulutnya, tapi tak sebanyak ketika MPASI. Untungnya, karena sudah terbiasa buah sebelumnya, ketika makan susah, buah masih mau banyak. Hati saya masih tenang. Baru deh, setelah usia 18 bulan, Nasywah doyan makan lagi. Bahkan sekarang di usianya 2 tahun 5 bulan, makan sayurnya juga lebih banyak porsinya. Suka dicemili ketika makan barengan nasi.

                Yang pasti, dampak MPASI homemade adalah anak jadi suka makan di rumah. Saya amati kedua anak saya tidak begitu suka makan beli di warung. Kalaupun mau hanya beberapa menu dan sering tak habis. Masak sayur bening begitu saja sama tempe goreng, anak-anak saya sudah doyan makan. Tak pernah repot masak. Asyik, bukan?

                Dan yang pasti, dimana-mana masak sendiri di rumah itu lebih hemat biaya. Lha menunya sayur bening. Hemat, bukan? Apalagi anak-anak sekarang tidak minum susu lagi di rumah. Sesekali saja kalau lagi bepergian jauh. Wow, minum air putihnya jauh lebih hebat lagi. Makan sayur dan buahnya tambah menggila pula. Pepaya bisa habis separuh berdua sama anak saya. Pisang sekali makan masing-masing ambil 2.  Jeruk sekali makan bisa 4 berdua. Oh ya, anak saya juga sangat jarang minta untuk jajan di luar. Apalagi sampai merengek, kecuali jika memang di rumah tidak ada apa-apa untuk dimakan.

                Apakah saya tidak pernah membelikan jajan di luar? Pernah, dong! Tapi tetap terbatas. Paling juga biskuit seringnya. Itupun sebulan paling habis tak sampai 50 ribu sama kue yang lain. Belikan roti tawar juga paling sebulan sekali. Beli es krim paling juga 3 bulan sekali. Kue cubit juga sebulan sekali rata-rata. Seringnya saya buatin ubi rebus, jagung rebus, singkong goreng, dan beli makanan tradisional (sawut, gemblong, gethuk, dsb).. Anak-anak malah lebih doyan. Hemat, bukan?

                Tak ada ruginya deh orang tua bergerilya praktik MPASI. Saya sampai sekarang juga masak hampir tak pernah pakai gula. Dampak kebiasaan MPASI dulu. Kalau garam pakai secukupnya saja. Tambah hemat lagi, kan? Jangan ragu deh untuk MPASI homemade. Yuk..



Minggu, 23 November 2014

Tetap Menulis Meski Anak Sakit Campak

Buku keduaku

                Rasanya sujud syukur mendengar kabar buku keduaku terbit. Saat itu Juni 2014 saya menerima bukti terbitnya. Bukunya sih sudah terbit sejak Mei 2014. Sangat berterima kasih kepada Allah karena kemudahan diberikan-Nya kepadaku dalam menyelesaikan naskahnya 10 November 2013-9 Januari 2014.

                Yah, ingat betul. Saat itu kedua anakku terserang campak bergantian namun dalam jeda waktu yang tidak lama. Qowiyy kena campak duluan. Awalnya demam dan keluar bintik-bintik merah. Eh, juga ada batuknya lho! Langsung deh ke dokter. Kata dokter itu campak Jerman yang dalam waktu 3 hari juga akan sembuh. Batinku, paling nggak hanya 3 hari saja mungkin menulis naskah buku keduaku agak tertanggu, tak sesuai target. Tapi aku tetap menulis meski sedikit. Apalagi ketika harus menginap di rumah teman karena tak ingin adiknya Qowiyy ketularan, malam malah tak bisa menulis. Pagi harinya, demi melindungi Nasywah dan saya bisa mengejar ketertinggalan menulis, anak keduaku terpaksa dititip di RumahPelangi Daycare. Namun, sama saja. Menulis hari itu sambil merawat Qowiyy yang akhirnya ingusan juga tak sesuai dengan yang kuharapkan. Tak apalah, yang penting masih bisa menulis. Untung, kalau malam Qowiyy mau bersama ayahnya. Malam selanjutnya, aku sungkan menginap di rumah teman lagi. Nasywah dan aku tidur di ruang tamu. Qowiyy dan ayahnya di kamar tidur. Maklum, saat itu masih tinggal di kontrakan kecil. Pasrah.

                Qowiyy sudah membaik setelah 10 hari sakit campak. Selama 10 hari itu tak ada tanda-tanda adiknya ketularan. Ealah, ternyata aku salah. Di hari berikutnya gantian Nasywah yang kena campak. Malah lebih parah. Saat itu Nasywah masih berusia 16 bulan. Masih menyusui. Campak datang menyerang, lengketnya bukan kepalang. Tak mau lepas ASI sama sekali. Bahkan tak mau sama ayahnya juga. Kalau kutinggal sebentar nangisnya luar biasa. Alhasil, menulis jadi tersendat. Saat itu juga barengan menulis buku antalagi. Sampai-sampai saya hampir nyerah karena revisi terus. Sedang naskah buku keduaku ada permintaan tambahan banyaknya halaman dari penerbit dari 120 halaman menjadi 170 halaman. Menengok yang sudah kukerjakan baru 70 halaman. Nasywah campak juga 10 hari.

                Bagaimanapun target harus tetap diusahakan tercapai tepat waktu. Dari sisa hari sebanyak 20 hari aku harus menyelesaikan 100 halaman lagi. Berarti sehari menulis 5 halaman. Bukan hal yang mudah di tengah anak sedang sakit. Sambil duduk menyusui mengetik dengan satu jari. Sambil tiduran dan menyusui, juga mengetik dengan satu hari. Capek? Sangat! Malam hampir begadang. Untungnya suami rela menggantikan peran memasak tiap pagi karena si kecil juga masih nempel saja.


                Syukurlah, naskah buku keduaku berhasil selesai juga. Dan buku ini hadir untuk meramaikan khasanah perbukuan Indonesia. Bisa didapatkan online atau di toko buku Gramedia..

Jumat, 21 November 2014

Agar Tak Meradang Disengat Kelabang


                Sepekan lebih yang lalu jari tangan kiri saya disengat kelabang ketika tidur malam. Nggak tahu dari mana datangnya, yang terasa langsung adalah sengatannya. Dan, nyeri langsung merambah ke seluruh tangan kiri, mulai dari pundak sampai jari-jari. Sontak, saya kaget dan memanggil suami untuk mengusirnya. Untung bukan anak-anak yang disengat. Nggak kebayang jika sengatan itu menyerang mereka.

                Langsung deh suami mencari informasi tentang pertolongan pertama jika disengat kelabang. Saya beranjak berdiri menuju freezer almari es. Saya sentuhkan jari di langit-langit freezer. Dingin! Dan dingin ini memang berfungsi untuk meredakan nyeri dan mencegah peradangan. Agar bekas sengatan kelabang tidak membengkak besar.

                Saya lihat jari yang tersengat memang langsung berwarna merah. Bengkak tidak seberapa. Bekas sengatan juga tak tampak besar. Namun nyerinya membuat saya memejamkan mata. Apalagi ketika jari disentuhkan di langit-langit freezer, berusaha keras saya menahannya. Ya, itu efek pertamanya. Namun, lama-lama membuka almari es tak ada baiknya. Lelah berdiri, almari es juga akan cepat rusak. Suami pun membuat es batu berharap besok pagi bisa dipakai mengompres jari saya.

            Saya kembali ke kamar. Saya minta suami pijitin dan olesi minyak di jari-jari sekitar jari yang tersengat kelabang. Bukan jari yang tersengat kelabang, ya. Biar tak kaku saja dan mengurangi nyeri. Tapi tetap saja mata tak bisa merem. Nyerinya tak bisa diajak kompromi. Sesekali kembali ke almari es melakukan hal seperti sebelumnya. Merebahkan tubuh lagi, tak bisa terpejam lagi.

                Pagi harinya, barulah mengompres dengan es batu yang dibuat dini hari. Sambil tiduran di kasur sambil mengompres. Dengan posisi yang pas mata mencoba untuk istirahat beberapa menit. Syukurlah sampai siang nyeri berkurang, meski jari masih merah dan bengkak sedikit. Jari yang tersengat kelabang juga masih kaku. Terus saja digerak-gerakkan sebisanya agar lentur kembali.

                Paling tidak siang itu saya bisa beraktivitas meski nyetir motor tidak bisa. Nyeri masih terasa di seluruh tangan meski berkurang. Karena sudah merasa bisa tidur, saya tidak mengompresnya lagi. Saya biarkan saja. Syukurlah, nyeri disengat kelabang berkurang banyak dalam 2 hari. Hanya masih di jarinya saja yang sampai sekarang kalau ditekan kulitnya masih sakit. Penampakannya masih merah juga.

              Ehm, kelabangnya sih kemarin nggak besar-besar amat. Menurut referensi yang saya baca, semakin besar kelabang, ketika menyengat maka semakin banyak racun yang keluar. Nyerinya semakin dahsyat lagi. Hi, jadi ngeri. Perlu waspada musim hujan begini. Kelabang suka keluar dan jalan-jalan. Suka di tempat lembab, di lipatan kain, dsb. Perlu cek kasur tiap hari. Saya masih untung yang disengat jari tangan, bukan telinga atau hidung. Nggak kebayang jika yang disengat anggota tubuh vital.

           Cukup kompres air dingin/es batu saja sudah cukup kok meredakan nyeri dan mencegah peradangan. Kecuali bagi yang alergi sengatan, kata teman yang dokter memang harus konsumsi obat anti nyeri. Apalagi jika nyerinya sampai tak bisa menahan merasakannya.


                Yuk, cek seisi rumah kita setiap hari! Musim hujan sudah mewarnai, pastikan lubang-lubang di rumah sehingga kehadiran kelabang bisa diantisipasi!

Rabu, 05 November 2014

Agar Pengasuh Daycare Awet


                Membangun bisnis daycare itu mudah. Disiapkan kurikulumnya yang pas, modal yang cukup, tempat yang memadai, dan adanya mainan edukatif yang menunjang. Tak lupa, ketersediaan pengasuh juga perlu dipertimbangkan. Mereka adalah jantung daycare. Mereka urat nadi keberlangsungan daycare.

               Kurikulum, modal, tempat, dan failitas mainan atau yang lainnya memang mudah untuk didapatkan. Namun, keberadaan pengasuh yang pas di hati untuk dipekerjakan belum tentu. Pasalnya, sekarang baby sitter atau orang yang sudah punya pengalaman mengasuh anak juga suka sok jual mahal. Padahal kerja juga belum tentu bagus.

                Memang pengalaman bekerja atau latar belakang pendidikan itu penting, bahkan untuk posisi pengasuh sekalipun. Tetapi, yang paling bisa membuat posisi ini tidak berganti-ganti orang adalah potensi pengasuh sendiri yang memang suka dunia anak. Ini harus menjadi syarat pertama ketika akan merekrut pengasuh untuk daycare. Suka di sini termasuk sabar dan sayang. Bisa terlihat dari cara berkomunikasi yang lembut kepada anak. Tidak suka membentak dan lebih banyak memberikan senyum. Hampir 3 tahun berdiri, Rumah Pelangi Daycare yang saya kelola mempunyai seorang pengasuh yang bertahan hingga saat ini sejak dia bekerja pertama kali daycare beroperasi. Memang ada pengasuh lain yang akhirnya mengundurkan diri. Bukan karena tak betah di daycare, namun karena hal lain yang akhirnya harus berhenti bekerja seperti melahirkan dan menikah. Bahkan ada dari mereka sampai berkata,"Kalau anak saya sudah besar dan saya pingin kerja lagi di daycare, boleh, Bu?" Mengapa? Karena kecintaan mereka kepada anak-anak.

                Agar pengasuh awet bekerja di daycare juga perlu ramuan manjur. Semua bisa dilihat ketika interview semenjak awal melamar kerja dan kualitas ibadahnya. Apakah niatnya bekerja? Bagaimana kondisi sholat wajibnya? Minimal itu. Ketika niat bekerja yang terucap adalah uang, maka itu tanda-tanda pengasuh tidak akan awet. Jika niatnya mencari pengalaman dan belajar lebih baik yang paling dominan, itu tanda calon pengasuh yang akan awet. Sah-sah saja sih karena uang. Manusiawi. Namun, pengasuh daycare yang mau belajar dan menjadikan pengalaman sebagai bahan perenungan untuk bekerja lebih baik, itu jauh lebih disukai. Menjaga, mengasuh, dan mendidik anak selama di daycare juga pada dasarnya akan menuntut pengasuh seperti orang tua anak-anak. Dan menjadi orang tua senantiasa butuh belajar,belajar, dan belajar.

                Ketika sudah menemukan pengasuh seperti ini, tugas daycare adalah tidak menyia-nyiakan. Bekali mereka dengan training, magang, seminar, dsb agar mereka berkembang lebih positif. Memberikan wawasan keilmuwan dan ketrampilan hingga makin mahir mendidik anak-anak. Berikan kesempatan mereka untuk berkarya seperti mencipta lagu sendiri, mengusulkan ide kegiatan untuk anak-anak. Apa tujuannya? Agar pengasuh open mind, bisa aktualisasi, dan terasah kreativitasnya.

                Dan yang perlu diingat, pengasuh itu bukan bawahan. Maksudnya adalah tetaplah menjaga komunikasi yang baik antara pemilik daycare dengan pengasuh. Saya, sering kali bercanda dengan pengasuh. Bertukar pikiran, ngobrol berbagai masalah, bahkan bercerita. Hampir tak ada sekat. Menganggap pengasuh sebagai teman justru membuat hubungan menjadi baik. Ketika saya memberlakukan aturan apa saja, pengasuh relatif tak banyak protes. Meski demikian, kata ajaib “terima kasih” wajib dilontarkan pemilik daycare atas dedikasi pengasuh selama ini.


                Kunci utama daycare ada pada pengasuh. Rawat mereka agar awet berada di daycare Anda! 

Minggu, 02 November 2014

Diuntungkan Pola Tidur Anak


                Aktivitas yang cukup banyak memang menyita waktu dan tenaga. Lelah? Pastilah. Namun, semuanya butuh siasat agar tidak kewalahan atau keteteran. Mengurus daycare, menulis, homeschooling anak-anak, mengelola toko online, dan menjalani aktivitas lainnya acap kali memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Setiap hari terasa waktu berjalan sangat cepat sedang pekerjaan tiada habisnya. Eh, tahu-tahu sudah sore saja! Aduh, yang ini belum kesentuh nih! Maklum, tak ada ART juga di rumah. Setrikaan menumpuk pernah menjadi pemandangannya.

                Syukurlah, paling tidak, saya tidak merasa ngos-ngosan setiap hari. Pasalnya, selain dukungan suami, aktivitas saya sehari-hari berjalan cukup lancar karena kebiasaan baik anak-anak. Apakah itu?

                Ini terkait pola tidur mereka. Kebiasaan mereka tidur pasca isya langsung, ya paling malam pukul 20.00, dan saya pun tertidur mengikuti mereka sungguh nikmat rasanya. Seharian bermain bersama anak-anak dan melakukan hal lainnya, wajar sebelum isya mata saya sudah mengantuk. Kebiasaan anak-anak tidur selepas isya membantu saya bisa cepat istirahat pula. Bangun-bangun, biasanya saya tengah malam. Saya menulis. Dapat 3 artikel atau setara 3-6 halaman rasanya sudah senang. Kira-kira sudah berkutat dengan laptop 3 jam, menulis saya sudahi.

                Anak-anak terbiasa bangun pukul 3.30 atau paling lambat pukul 4.00, sebelum subuh. Selepas subuh, saya dan suami memasak bersama. Anak-anak kadang ikut membantu potong sayur, tempe, atau menghaluskan bumbu. Atau mereka main sendiri. Alhasil sebelum pukul 5.30 sarapan sudah siap disantap. Anak-anak biasa menyerbu langsung. Atau terkadang mereka jalan-jalan keliling perumahan dulu sekitar 15-30 menit lalu pulang, sarapan. Mandi, setelahnya. Suami yang memandikan anak-anak. Saya beres-beres rumah. Biasanya sebelum pukul 7.00 sudah rapi semuanya. Suami tenang berangkat kerja. Saya melanjutkan aktivitas kembali.

                Waktunya homeschooling anak-anak pukul 8.00. Sebelumnya biasanya saya sempatkan untuk menuntaskan target “ODOJ”. Sampai pukul 11.00 kegiatan homeschooling berjalan. Membuat macam-macam prakarya, melatih kreativitas anak. Lalu makan siang, terus bobok deh anak-anak. Ketika anak-anak tidur siang, saya biasanya mengontrol kondisi daycare, membaca buku, menyiapkan peraga homeschooling lagi, menulis, atau jualan online. Lumayan lho! Anak-anak tidur siang bisa 2-3 jam lamanya. Kalau nulis biasanya bisa dapat 2-3 artikel.

                Anak-anak bangun saatnya bermain kembali bersama mereka. Ya, bebas saja sampai waktunya mereka mandi sore. Sering juga anak-anak membantu saya packing pesanan mainan yang dibeli online di toko saya. Lepas mandi sore, anak-anak paling suka main ke tetangga atau baca buku. Jelang magrib mulai deh mereka mengaji. Tak ketinggalan, anak-anak paling suka mendengarkan dongeng buatan ayahnya atau kisah nabi Muhammad menjelang tidur mereka. Kalau suami pulang, saya bebas. Anak-anak tak ingat saya. Saya jualan online lagi atau baca-baca buku.

                Khusus ketika saya harus terpaksa ke daycare atau mengajar di pagi hari atau sore hari, maka kegiatan homeschooling anak diarahkan nimbrung ke kegiatan saya. Anak-anak tahu cara saya berkomunikasi dengan orang lain dan mereka berusaha praktik sebisa mereka.

                Setiap hari, begitulah ritme hidup saya. Bosan? Tidak juga. Justru kerutinan waktu seperti ini bisa membuat saya bisa memenuhi target-target yang sudah saya canangkan. Meski terkadang tidak 100% berhasil, namun menunjukkan hal yang positif.


                Pola tidur anak yang teratur membuat saya bersyukur. Saya makin bisa menata apa yang menjadi tanggung jawab saya. Pun mengatur jadwal kegiatan saya. Syukurlah, sejauh ini lancar-lancar saja. Paling tidak saya tak perlu membujuk anak untuk tidur malam cepat dan tidak kesulitan membangunkan mereka di pagi hari.

Minggu, 28 September 2014

Rumah Dekat Masjid


                Ini adalah cita-cita lama. Bahkan sebelum saya berkeluarga. Bertempat tinggal dekat masjid. Rasanya adem saja jika rumah yang saya tinggali dekat rumah Allah ini. Bagaimana tidak? Sholat bakal tepat waktu nih karena selalu mendengar adzan. Tak perlu jauh-jauh lagi kalau tarawih. Nggak seperti pas waktu kecil sampai SMP dulu, tarawih harus ke masjid beda gang. He, apa yang masuk ketika buka puasa langsung habis ketika berangkat ke masjid untuk tarawih. Kenangan masa lalu nih..

                Tapi, tentu saja, bukan hanya karena itu alasan saya ingin tinggal dekat masjid. Di zaman seperti ini, ketika anak-anak muda terlihat semakin banyak yang menjauhi masjid, sungguh saya miris. Tak berharap anak saya akan demikian halnya kelak. Apalagi ketika subuh, sedikit sekali yang datang ke masjid untuk sholat berjamaah di sana. Masjid dekat rumah saya saja kalau subuh, seringnya juga hanya satu baris saja shaffnya terisi. Itupun, hampir tidak pernah ada anak mudanya. Astaghfirullah. Beda banget ya sama di Palestina.

                Sungguh, rumah dekat masjid adalah sebagai wasilah bagaimana anak bisa dekat kembali dengan tempat mulia ini. Bukankah Rasulullah dulu juga sering mengajak cucunya Hasan dan Husein ke masjid? Bahkan ketika mimbarnya pun dibuat mainan cucunya, Rasulullah tidak marah. Ketika beliau sujud ditunggangi kedua cucunya pun, tak ada marah yang melayang ke cucu kesayangan beliau tersebut. Itu adalah cara Nabi mendekatkan cucunya kepada masjid.

                Saya dan suami pun tak ketinggalan. Ketika di Surabaya, kontrakan kami dekat masjid. Alhasil meski anak sulung kami masih bayi, suami juga tetap rajin ke masjid. Tinggal jalan kaki sedikit saja. Bahkan ketika sulung kami masih janin, saya sering berbicara,”Nak, ayah ke masjid, ntar kamu juga suka ke masjid ya.” Lalu, kami pun pindah ke Depok meski tidak bersamaan di awalnya. Saya menyusul belakangan karena harus menyelesaikan amanah di Surabaya. Otomatis, suami mencari kontrakan sendiri di Depok. Pokoknya dapat dulu aja. Ketika saya tiba di Depok, oh tidak, kontrakan kami jauh dari masjid. Suami juga jarang ke masjid. Belum lagi tetangga juga tak ada yang suka ke masjid. Kami hanya bertahan 3 pekan di sana. Tak kerasan melanda jiwa saya. Kami mencari kontrakan rumah baru.

            Alhamdulillah, dapat yang sesuai dengan keinginan hati. Selama 4 tahun saya dan keluarga kecil saya di kontrakan tersebut. Dekat banget sama masjid. Dan kebahagiaan itu semakin terasa di sini, di hati ini. Suatu ketika Qowiyy tiba-tiba melantunkan ayat suci Al Quran,”Wat tini waz zaitun”.

Saya lantas berkata,”Mas, kok bisa hafal?”  
“Iya, dari masjid,” jawab Qowiyy singkat.

Luar biasa, bukan efeknya. Ketika hari Jumat tiba, Qowiyy juga sering mengikuti bacaan murottal yang disetel masjid ketika jelang sholat Jumat. Diambil suku kata terakhirnya sama Qowiyy, namun itu begitu membahagiakan saya karena dia jadi dekat sama Al Quran. Belum lagi Qowiyy juga terbilang sering ke masjid meski itu subuh. Maklum, anak-anak saya bangunnya sering pukul 3.30-4.00. Berangkat sama ayahnya tanpa ada rasa kantuk. Maghrib dan isya tak ketinggalan pula. Qowiyy sering ikut ke masjid. Perlahan-lahan percaya dirinya tumbuh meski harus terus berproses.

Sungguh, rumah kontrakan yang sangat berkesan. Bagaimana dengan cita-cita saya mempunyai rumah sendiri? Tidak bisa tidak, rumah kami harus dekat masjid juga. Minimal musholla yang aktif kegiatan sholat berjamaahnya. Ketika itu tanpa berpikir panjang, saya dan suami pun membeli rumah perumahan di Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Konsep perumahan muslim yang diusung developer adalah daya tariknya saat itu. Dan benar, memang di perumahan tersebut nantinya akan dibangun musholla. Bukan masjid, karena depan perumahan sudah ada masjid. Saat membeli rumah itu belum ada Rumah Pelangi Daycare yang saya dirikan dan kelola sampai sekarang.

Ketika rumah sudah jadi dan siap huni, malah akhirnya rumah kami jual dengan pertimbangan daycare saya tadi. Kami tetap mengontrak di rumah kontrakan dekat masjid tadi sambil terus mencari rumah di Depok yang bisa kami beli.

Ketemu deh! Di sebuah perumahan yang sudah berumur 5 tahun sejak berdirinya. Dekat masjid banget, hanya berjarak 3 rumah saja. Senang sekali hati ini. Ya, mampunya beli rumah second. Tapi nggak masalah, yang penting dekat masjid. Saya dan suami langsung memprosesnya KPR nya karena kalau beli cash belum cukup duitnya. Harga rumah cepat sekali naiknya. Sayang, permohonan KPR kami ditolak. Kami terus mengumpulkan uang sambil mencari rumah yang cocok. Sempat beberapa kali berselisih dengan suami soal kriteria rumah dekat dengan masjid.

“Nggak harus dekat masjid kali. Ya susah nyarinya. Keburu harga rumah naik terus!”

Saya hanya diam kalau suami sudah bilang begitu. Saya tak patah semangat bahwa suatu ketika kami bisa mempunyai rumah dekat masjid. Prosesnya memang berliku. Pernah dapat rumah yang cocok dan dekat masjid, eh, ternyata yang punya rumah malah belum AJB perihal rumahnya. Kami tunggu sekitar 4 bulan si empunya rumah untuk urus AJB dan sertifikat, ternyata belum kelar juga. Lelah mencari? Iya, jujur saya lelah. Tapi rasanya tak ingin menyerah. Setiap hari saya tak mau kalah searching di internet mencari info rumah dijual dekat masjid. Ada, tapi mahal. Ada, tapi jauh dari mana-mana. Hingga akhirnya tertuju pada sebuah rumah.

“Mau ta yang ini?” suami menunjukkan gambar rumahnya dari HP.
“Iya aja deh! Dah capek, Ayah, muter-muter! Percaya aja deh sama ayah!”
“Nggak pingin survey dulu?”

Saya menggelengkan kepala. Benar-benar pasrah dan lelah sudah mencari berkali-kali tak ketemu yang tepat. Termasuk harga dan kondisi rumahnya. Ketika sedang renovasi, saya baru melihat rumah yang akhirnya kami beli. Tak ada yang mengganjal di hati saya. Pas, cocok. Apalagi dekat masjid juga. Inilah jawaban terindah dari Allah.


Betapa bahagia rumah saya dekat masjid. Qowiyy tak mengalami kesulitan berarti untuk mengajaknya sholat di masjid. Bahkan lantunan itu kembali saya dengar. Bukan ayat yang sama, tapi berbeda. “Alhakumuttakastur”. Qowiyy hafal karena imam masjid sering melantunkannya. Allahu Akbar. Subhanallah. Tak pernah merugi punya rumah dekat masjid.

Kamis, 25 September 2014

Hati-hati Jalan-jalan di Asemka

                Siapa sih yang tak kenal Asemka? Warga Jabodetabek mestinya sudah tak asing lagi dengan pasar pagi di daerah ini. Letaknya yang mudah dijangkau berbagai transportasi darat memudahkan orang untuk berbelanja atau sekedar cuci mata di sana. Jalan kaki dari stasiun Jakarta Kota juga tak membutuhkan waktu lama.

                Sampai di Asemka, wow, banyak sekali penjual asesoris, mainan anak, dan alat tulis sekolah. Sampai bingung milih karena saking beragamnya. Harganya pun murah-murah, mau nawar juga jadi sungkan. Bahkan mainan yang selama ini saya cari untuk menambah jenis mainan di toko online saya malah ada di sana. Sayang, mau beli tak bawa uang banyak. He, niatnya iseng saja datang ke sana, mengisi hari libur bersama suami dan anak-anak. Alhasil, diborong sama orang deh!

                Tak apalah. Yang penting belikan hadiah anak sulung karena rajin mengaji tiap hari sudah keturutan. Hanya mobil-mobilan. Tapi adiknya kan pun akan iri tak ketulungan. Dibelikanlah magic board buat coret-coret. Dua mainan hanya 25 ribu. Tapi kok ya, setelah dipikir-pikir, rugi banget jauh-jauh dari Depok hanya beli itu. Mampirlah ke pedagang stiker. Selusinnya 16 ribu. Lumayan bisa untuk media reward dan punishment si kecil atas perilakunya sehari-hari. Karena belum terlalu siang dan mata saya melirik ada mainan bagus, beli juga deh 1. Namanya “Letter Blocks”. Kalau jualan online ini, kira-kira prospeknya gimana ya? Sepertinya bagus!



                Pokoknya senang jalan-jalan di pasar pagi  Asemka. Berbagai jenis mainan ada. Mulai dari yang terbuat dari plastik, kayu, besi ringan ada. Tinggal pilih. Namun, tetap hati-hati ya jika berbelanja di sana, apalagi jika bawa anak kecil. Jalanan Asemka padat dengan kendaraan, baik kecil atau besar. Banyak truk dan mobil box berisi barang.Belum lagi sepeda motor dan mobil. Macet deh! Polusinya itu lho! Wajib bawa masker biar relatif aman.



                Selain itu, berhati-hati jika mampir warung makan di Asemka. Rata-rata ya plontosan begitu saja. Khawatir dah kena asap, debu, dsb. Harus lebih selektif. Memang ramai sih, tapi kalau bawa anak kecil untuk makan di sana mending tidak usah.



                Asemka disemuti orang dan kendaraan jika weekend tiba. Pejalan kaki di sana hendaknya berjalan benar-benar di pinggir, meski sedikit area yang bisa dipakai jalan kaki dengan aman. Awas knalpot kendaraan mengenai kulit kaki kita. Yang membawa anak kecil lebih baik digendong saja.


                Asemka memang berjuta warna dan rasa. Meski harga murah menjadi target utamanya, namun keselamatan diri tetap perlu dijaga. Cocoknya sih pemerintah menata rapi kawasan ini dengan mengumpulkan pedagang dalam satu area yang bukan memanfaatkan jalan untuk berjualan. Penjual senang, pembeli juga tenang.

Senin, 20 Mei 2013

Geser Sedikit, Ya!


Hati rasanya sedikit jengkel ketika naik sebuah angkotan kota (angkot), ada 2 penumpang duduk saling berhadapan sama-sama sedang asyik memencet tombol-tombol HP mereka. Sampai-sampai mereka tak sadar bahwa saya yang sedang menggendong bayi dan menggandeng seorang balita sudah naik dan mau masuk ke dalam angkot tak bisa lewat. Keduanya duduk membungkuk dekat pintu angkot hingga bagian tengah angkot yang biasa dipakai jalan untuk penumpang masuk sedikit tertutup.
“Permisi, tolong geser ya!” saya menyapa dan baru lah mereka menegakkan tubuhnya.

Atau pernah juga saya naik angkot beserta dua anak saya, mau duduk di bangku angkot yang mestinya muat 4 orang jadi hanya cukup 3 penumpang. Bukan karena penumpangnya gemuk-gemuk, tapi karena ada penumpang yang duduknya miring ke samping sambil bersandar di bagian pojok angkot. Kalau sopirnya sendiri yang tak teriak-teriak, si penumpang itu tetap saja akan begitu.
Peduli antar penumpang sepertinya memang harus digalakkan. Masih sering dijumpai penumpang duduk dengan nyaman hingga menghabiskan tempat, namun di dekatnya ada lansia, ibu hamil, atau orang yang membawa anak kecil terpaksa berdiri. Padahal jika mau geser sedikit tubuhnya, lumayan masih ada satu kursi lagi untuk ditempati. Yang kejam lagi jika sudah tahu kondisinya demikian, sang penumpang malah berangkat tidur sambil menutupi kepalanya dengan koran. Sedang di depannya, seorang ibu hamil berdiri kepayahan.
Masih mending kalau di angkot, sang sopir masih menegur. Di kereta api semacam KRL pemandangan seperti itu masih sering nampak di depan mata. Petugas yang mengecek karcis juga tak berani mengingatkan. Kepedulian antar penumpang masih kurang, sehingga kalimat “Geser Sedikit, Ya!” sepertinya jadi lumrah dilontarkan.

Selasa, 07 Mei 2013

Oke, tapi ....


“Ayo Mbak Henny duduk di sana sebentar, mau dirias sebentar,” ajak seorang perempuan yang mengurusi acara syuting saya ketika akan menjadi narasumber berbicara tentang daycare.
“Oke,tapi saya bedakan saja ya, biar teman saya yang membedaki,” jawab saya tetap sambil tersenyum ketika tahu bahwa yang merias adalah laki-laki. Teman saya pun membedaki asal tak terlihat kumus-kumus. Tak tebal-tebal amat.
“Ada berkahnya ya Bu Hen mengajak saya,” kata teman saya.
“Baiklah, dikasih lipstik sedikit ya, Mbak,” sapa laki-laki yang mestinya merias diri saya.
“Oke, tapi pakai bedak saja seperti sudah bisa bagus kok!” jawab saya tetap sambil tersenyum.
Dan narasumber lain di sebelah saya pun mengacungi jempol. Saya pun berterima kasih kepada beliaunya.
“Oh ya Mbak, meski ini usaha yang dikelola bersama-sama, tapi ntar mbak menjawabnya tetap harus terkesan bahwa Mbak Henny yang mengelolanya sendiri ya!” pinta perempuan awal yang meminta saya duduk untuk dirias.
“Oke, tapi saya akan gunakan bahasa lain yang tetap mengabarkan bahwa saya mengelola daycare ini karena kerja sama yang kuat dengan pihak terkait. Santai aja Mbak, tetap bisa kok!” jawab saya santai.
Dan proses syuting segera berjalan. Setelah profil saya dan daycare ditampilkan, saya pun dipanggil memasuki panggung talk show. Ada Mbak Ivi Batuta yang menyalami saya kemudian, lalu tanya jawab dengannya juga dengan audience berlangsung seru.
Saya merasa puas. Bukan karena syutingnya, tapi karena perbincangan sebelum syuting tadi. Betapa di lokasi syuting harus bisa beradaptasi tanpa menghilangkan jati diri. Seorang perempuan muslim (muslimah) memang dilarang untuk berhias secara berlebihan. Seorang muslimah juga dilarang bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan merupakan muhrimnya. Maka, sebisa mungkin saya minta dibedaki teman saya yang perempuan. Tapi, yang tak kalah penting adalah cara mengkomunikasikan. Saya tetap tersenyum kepada laki-laki yang bertugas merias dan ketika naik panggung pun saat bertemu dengan nara sumber laki-laki lain saya pun berusaha tetap tersenyum ramah meski saya menolak bersalaman. Syukurlah, orangnya pun paham, malah kami bersama Ivi Batuta bisa terlibat dalam perbincangan yang renyah.
Oke, tapi… Ini jurus jitu saya manakala keadaan tak mendukung jati diri saya sebagai muslimah. Tatkala lingkungan berbeda dengan yang saya harapkan, namun saya tetap bisa berbaur dengan mereka.

Senin, 11 Maret 2013

Lygia Pecanduhujan:Inspirasi Para Perempuan


Menginspirasi. Inilah kata yang tepat untuk melukiskan penulis asal Bandung ini. Perempuan penuh senyum kelahiran 1977 yang selalu menunjukkan dedikasinya sebagai ibu bagi ketiga anaknya meski gelar single parents telah disandangnya. Pernah berprofesi sebagai jurnalis tahun 2009 dan kini menggawangi Markom IIDN serta PR Manager Indscript. Kesenangannya pada menulis bisa dilihat dari beberapa buku yang sudah ditelurkannya, salah satunya berjudul Storycake for Ramadhan. Sifatnya yang pelupa, operasi gigi yang pernah dialaminya pun tak luput dituliskannya dalam status di facebook-nya. Lagi, tulisannya selalu mengalirkan inspirasi. Kepiawaiannya menulis dan berkomunikasi membuat perempuan pecinta “Cengek Domba” ini pun tak pernah sepi diundang menjadi seorang public speaker.
Teh Lygia Pecanduhujan, begitu dia akrab dipanggil, juga berhati lembut. Aktivitas sosialnya menyalurkan zakat/infak kepada kaum papa, membuktikan bahwa perempuan ini senantiasa ingat untuk tetap berbagi. Apa saja, membagikan ilmu ketika kelas Writerpreneur IIDN diadakan, termasuk di dalamnya mengajari ibu-ibu untuk nge-blog

Teh Gia tetap aktif meski membawa anak

Duh senyumnya, benar-benar!

Buku karya Teh Gia

Buku karya Teh Gia dkk

Kerudung ungu semakin membuatnya cantik
 Tulisan ini diikutkan dalam kuis pekanan IIDN yang diketuai Mbak Nunu El-fasa. 

Sabtu, 23 Februari 2013

Tuhan Nomor Dua


Perjalanan kali ini menuju sebuah sekolah masuk hampir di pelosok. Melalui jalanan dengan tanah berkapur menyebabkan mata ini tak sedap memandang hamparan sawah di kanan kirinya. Berdebu dan beterbangan ketika satu kendaraan bermotor saja lewat. Jalanannya pun goyang-goyang hingga dudukku tak pernah nyaman. Tapi, itu pengalaman betapa hidup tak selalu datar.
Memasuki sekolah aku buru-buru masuk ke kelas tempat aku melakukan supervisi. Guru-guru yang lugu zaman dulu masih ada potretnya di sana. Anak-anaknya diam (ehm, emang diam manut atau diam takut belum bisa dideteksi), pembelajarannya full of teacher. Tapi, syukurlah masih ada seorang guru lagi yang sudah berani keluar dari zona nyamannya. Menyenangkan.
Tiga jam sudah berlalu hingga adzan dhuhur memanggil. Aku bersegera membasuh anggota tubuhku, menenteng mukena lengkap dengan sajadahnya.
”Shalatnya di mana Pak?” tanya temanku.
”Di mushala, tunggu sebentar Bu, masih dipakai anak-anak,” Kepala Sekolah berujar.
Memang, saat aku wudhu, nampak bahwa mushala dipadati anak-anak laki-laki. Shalat berjamaah dengan salah satu gurunya. Maka aku dan temanku pun menunggu di sepenggal waktu. Hingga tiba saatnya....
”Astagfirullahal adzim!” sahutku.
Temanku hanya geleng-geleng kepala. Mushala tak layak sama sekali disebut rumah Tuhan (Allah). Banyak putung rokok di dalamnya, berserakan. Tak hanya di pojok, bahkan di tempat imam memimpin shalat pun ada batang-batang bekas hisapannya. Berdebu, hitam jika disentuh jari saja. Duh! Bagaimana mau khusyuk shalat kalau begini jadinya? Bagaimana bisa suci dan bersih menghadap Tuhan (Allah) jika sekitarnya saja tidak bersih? Tuhan (Allah) seolah-olah nomor dua di sana. Bagaimana tidak? Guru-gurunya saja tampil necis. Rapi, menampilkan sosok anggun dan gantengnya di depan siswa-siswanya. Pun, kelasnya ditata rapi, dipajangi tulisan-tulisan menarik di antara tembok-temboknya. Bahkan ada satu tulisan di sana ”Kebersihan sebagian dari iman”. Besar! Tapi, mengapa mushala seperti itu? Sungguh, aku melihat Tuhan (Allah) dinomorduakan di sana. Miris. Mengurut dada. Tak semestinya ada di sebuah sekolah yang membanggakan kualitas agamanya.
Sungguh, PR yang masih ada ini adalah tanggung jawab umat semuanya. (Surabaya, 26 Juli 2008, catatan usang yang tak terlupakan)

Bersama Kita Tertawa


”Ketika dilahirkan engkau menangis dan orang di sekitarmu tertawa. Berbuatlah sesuatu dalam hidup supaya jika saatnya engkau meninggal, engkau tertawa dan orang di sekitarmu menangis” (Ali bin Abi Thalib)

Sabtu, 23 Agustus 2008 taujih singkat ini aku hadiahkan ke beberapa temanku. Kulayangkan dengan penuh kesadaran bahwa itu juga sebagai ketukan buatku. Tak hanya satu ketukan, namun beberapa ketukan hingga membekas menembus selaput hatiku. Menyeimbangkan rasa khauf dan roja’ku. Selang beberapa menit, HP reot punyaku menggemparkan karpet merah tempatku merenung. Begini isi SMS-nya,

”Aku pinginnya tertawa bersama Mbak. Gimana Mbak?”

Berkaca-kaca. Lalu tumpah. Tak kusangka, benar-benar di luar zona pikiranku. Jika direnungkan, memang sama sekali tak ada salahnya. Apalagi disorot dari teropong dakwah umat Islam saat ini. Segala aktivitasnya hakekatnya mempunyai tujuan yang sama, menyeru manusia ke jalan-Nya. Surga adalah tempat terakhir, imbalan yang senantiasa dinanti-nanti. Mereka tak ingin ke sana sendiri. Mati pun inginnya tertawa bersama. Tertawa bersama orang-orang di hamparan tanah hidupnya. Tertawa karena sama-sama telah membawa bekal bernilai surga.

Mungkin hal ini pula mengapa akhirnya orang berlomba-lomba dalam kebaikan di setiap lini kehidupan ini. Orang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran karena tak ingin saudaranya terlantar. Dengan hikmah dan bahasa hati, orang berkoalisi menyemai benih kemanfaatan, menjadikan yang kecil merasa besar (maksudnya besar semangat untuk beramal dan beribadah), dan mengencangkan ikat persaudaraan. Sungguh, jika diresapi begitu indahnya ukhuwah dan dakwah ini. Surga bukan lagi impian pribadi.

Maka, untuk apa lagi dakwah ini? Tertawa bersama saat mati, menggerakkan kipas kebahagiaan di surga nanti. Satu lagi, periksa kembali dengan teliti, niat kita sendiri tentang dakwah ini! (Surabaya, 24 Agustus 2008, masaku masih lajang)

Jumat, 18 Januari 2013

Nikmatnya Cesar (Tulisanku yang Menginspirasi dalam Group FB "Gentle Birth Untuk Semua")


Air mata saya pecah,manakala dokter cantik di depan saya berkata,”Kalau ICA sudah 6 begini, ya hanya cesar jalan keluarnya. Apalagi ibu sudah lewat HPL dan plasenta sudah pengapuran grade 3. Tidak ada kontraksi lagi.” Sungguh, saya tak bisa menahannya meski sudah saya coba. Suami hanya menepuk pundak untuk menambah energi kesabaran sayaa.
Kontraksi, khususnya kontraksi yang semakin kuat dan menjadi, itulah impian, harapan, dan sesuatu yang ingin sekali saya rasakan sejak kontraksi-kontraksi palsu sering datang. Apa yang harus saya lakukan? Hampir semua usaha saya jalani, mulai dari senam endhorphin, goyang inul, makan mangga, durian, nanas, jalan kaki, dan ah yang satu lagi ini sepertinya sudah biasa disarankan dokter atau bidan, maaf, hubungan suami istri.
Ketika itu saya mendatangi bidan untuk senam endhorphin sebanyak 2 kali sambil cek kandungan. Bidan berkata,”Subhanallah Mbak, posisi janinnya pas sekali. Ini mah ngejan sebentar juga langsung brojol.” Saya hanya tersenyum mengaminkan dan berharap itu menjadi sebuah kenyataan mengingat persalinan sebelumnya saya juga cesar dalam posisi janin sungsang dan ketuban pecah dini. Jadi ketika bidan berkata demikian betapa bersyukurnya saya.
“Yuk Mbak ke kamar sebelah, kita cek portionya.” Saya pun menurut saja. Bidan berkata,”Mbak tetap optimis ya, mulut rahimnya masih tebal, sepertinya tanggal 10 Agustus saya prediksikan belum bisa lahir, ya semoga dengan tetap berusaha semaksimal mungkin bisa menjadi tipis mulut rahimnya.”
Tanggal 10 Agustus 2012 adalah HPL janin saya. Sontak, mendengar penjelasan bidan sedikit sedih, tapi saya segera bertanya,”Apa yang harus saya lakukan lagi?” Bidan menyarankan seperti apa yang sudah saya jalankan selama ini. Ditambah satu lagi, yang akhirnya cara ini pun saya tempuh. Konsumsi vitamin B1. Pulang dari bidan langsung ngacir ke apotik. Pun saran-saran sebelumnya tetap saya lakukan semaksimal mungkin. Sebisa yang sama lakukan.
Vitamin B1. Vitamin dalam bentuk pil ini senantiasa saya makan sesuai anjuran. Alhamdulillah, perasaan tenang karena bisa menjalankan resep dari bidan.
Makan nanas, durian, dan mangga. Tiap hari 3 buah ini bergiliran mengisi perut saya. Dan luar biasa setelah makan buah-buah ini, perut rasanya kenceng dan sakit. Dan harapan itu tetap menyala bahwa kontraksi bisa semakin bertambah kuat. Namun, lagi-lagi, dia menghilang tanpa ijin. Kuelus-elus perutku sambil senantiasa berkata,”Nak, ayo bantu bunda! Engkau sudah pintar Nak karena posisimu sudah sangat baik. Sekarang, bantu bunda lagi ya agar bunda bisa kontraksi. Engkau bisa lahir secara alami sayang. Allah bersama kita.” Tentu dengan menangis. Maklum mungkin, karena saya seorang perempuan, seorang hamba Allah yang memang lemah adanya.
Selanjutnya, senam endhorphin. Luar biasa memang senam ini. Ketika melakukannya bersama bidan pun, bu bidannya saja berkata,”Tadi waktu senam ada kontraksi 2 kali lho Mbak.” Saya menjawab,”Iya, saya juga merasakan.” So pasti, bidan yang cantik dan meneduhkan serta ramah melayani saya pun menganjurkan agar saya melakukannya juga di rumah dibantu suami saya. Syukurlah, suami bersedia. Bahkan kala lelah mendera dan ngantuk menyerang, suami pun berusaha melakukannya ketika saya minta. Dan keajaiban selalu terjadi. Pasca senam selalu kontraksi. Namun, dia datang dan tak lama pergi. Tak ingin menyesal, dan seperti biasanya saya berkata kepada janin saya,”Nak, dengan pertolongan Allah, insyaAllah bisa. Kita terus berusaha ya.” Tentu, tangis itu pun senantiasa membasahi pipi sebagai wujud keseriusan saya meminta padaNya.
Goyang inul. Mendengarnya istilahnya saja juga tak ada keraguan saya melakukannya. Meski jujur, melakukannya harus nyuri-nyuri kesempatan ketika anak saya yang pertama, laki-laki masih berusia 2,5 tahun sedang asyik bermain sendiri. Dan teori yang akhirnya saya praktekkan ini memang ampuh. Tak lama setelah goyang, kontraksi memang terjadi. Tapi dia enggan untuk terus menguat. Dia melemah, lalu menghilang pergi. Dalam hati terus memohon agar Allah mengizinkan saya melahirkan alami.
Apa lagi ya? Oh ya, hubungan suami istri. Tentu dalam melakukannya harus karena landasan iman, cinta, dan tanpa keterpaksaan. Syarat yang ketiga ini yang benar-benar saya jaga. Saran dokter dan bidan ini sungguh luar biasa dalam menyebabkan terjadinya kontraksi. Saya merasakannya betul, namun, meski dokter atau bidan menganjurkan agar aktivitas ini jadi agenda rutin tiap hari, saya tak bisa melakukannya. Bukan karena tak mampu, tapi karena saya tak mau memaksa. Hari ini ok, tapi hari berikutnya belum tentu ok. Siapa yang tega membangunkan suami yang begitu lelah dan ijin untuk istirahat tidur untuk diajak begituan? Hati nurani saya tidak tega. Bagaimanapun dia, suami saya, telah bercucuran keringat menunaikan kewajibannya memberi nafkah keluarga. Rasanya tak adil jika saya mengganggu waktu istirahatnya. Alhasil, hari tersebut terlewati. Lagi, saya tak mau putus asa.
Jalan kaki dan ngepel rumah. Tiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk melakukan hal ini. Jagoanku yang masih batita pun alhamdulillah bisa berkompromi. Jalan PP lebih dari 2 km pun kuat, hanya untuk menemani saya agar bisa cepat kontraksi alami. Berjalan sambil menikmati hidangan alam dengan tetap berdendang bersama si janin di rahim. Kontraksi?Iya, sejenak lalu entah kemana lagi dia bersembunyi.
Hingga 9 Agustus 2012, CTG saya jalani pagi hari. Tak ada kontraksi terdeteksi. Saya terus saja bicara dengan janin bahwa saya dan dia harus bersabar. Sabar, sabar, dan sabar. Tiga puluh menit berlalu dan dokter berkata,”Sudah, pesan kamar saja untuk operasi besok. HPL nya besok kan?”
Saya masih saja tersenyum dan menyapa dokter,”Doakan saya ntar malam bisa kontraksi ya?” Dokter mengangguk. Saya lega meski mendengar hasil CTG tadi sedikit bersedih. Tapi hari itu kami tak pesan kamar. Bukan karena apa-apa, hanya karena masih ada harapan 1 malam lagi.
Malamnya, dengan lembut dan hati-hati suami berkata,”Bunda, jika besok ayah dinas ke luar kota bagaimana? Ayah nggak bisa menolak tugas ini karena ini tugas dari atasan.” Dengan dada sedikit sesak saya mengiyakan. Tak bisa menolak karena memang itulah pekerjaan suami saya. Apalagi apa yang dilakukan suami pun juga dalam rangka ibadah kepadaNya.
10 Agustus 2012. HPL datang. Tak ada kontraksi juga. Tapi saya merasa baik-baik saja. Saya tetap menjalani aktivitas hidup seperti biasanya. Bermain bersama anak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengisi pengajian, dsb. Hingga akhirnya saya mengirim pesan kepada seorang dokter spesialis kandungan lagi yang saya kenal lewat facebook. Saya konsultasi kepada beliau bahwa kemarin ICA saya 9 dan kondisi sekarang seperti ini. Dokter menyarankan untuk cek ketuban lagi di dokter yang lain dari yang biasa saya kunjungi untuk control kandungan. Saya pun ke dokter lain bersama suami pada 11 Agustus 2012. Dan hasilnya seperti yang saya tulis di awal tulisan ini. Saat itu sebenarnya akan CTG lagi agar dokter bisa memastikan sampai kapan janin saya bisa bertahan. Tapi kondisi anak saya yang pertama saat itu tak memungkinkan untuk bertahan di rumah sakit. Sudah kelamaan ngantri, keburu bosan dan rewel minta pulang. Maka kami pun pulang dengan kata-kata cesar masih terngiang. Sampai rumah magrib dan keputusan saya dan suami mau cek ketuban lagi di dokter saya sebelumnya tapi di tempat yang berbeda dengan yang ketika tanggal 9 Agustus 2012. Saya ngantri lama lagi, jam 23.00 baru dipanggil. Dokter saya tidak menyalahkan saya karena saya tak jadi pesan kamar sesuai sarannya beberapa hari yang lalu. USG dimulai dan hasilnya indeks ketuban masih 9. “Ya Allah, mana yang benar? Beri hamba petunjukMu,” batin saya. “Saya beri waktu sampai 13 Agustus ya Mbak. Jika nggak kontraksi lagi, maka harus operasi.” Saya lega. Ada waktu 3 hari saya harus berusaha semaksimal mungkin, ini pun disarankan oleh dokter yang saya kenal lewat facebook untuk terus berpikiran positif.
13 Agustus 2012 akhirnya datang. Setelah subuh saya langsung pergi ke rumah sakit dengan kepasrahan yang sudah total. Tak ada kontraksi saya rasakan. Digiring ke kamar operasi untuk dicesar. Menangis sebelum dan sesudahnya. Bukan karena membayangkan mahalnya biaya cesar, bukan pula membayangkan sakit yang lama pasca cesar. Saya menangis karena ternyata banyak hikmah berceceran yang akhirnya bisa saya pungut karena peristiwa ini. Allah lah yang memberi keputusan sepintar manusia belajar dan semaksimal manusia berikhtiar. Itu yang paling saya ingat dari perkataan suami saya yang sangat sederhana,”Ikhlas ya Bunda!” Dan saya mengangguk terharu sambil terus menyeka air mata.
Bayi perempuan mungilpun lahir di dunia. Tak langsung menangis,karena ternyata dia mengalami sesak karena kemasukan air ketuban. Lima hari pun dilaluinya di perinatologi dengan ASI diantar setiap harinya. Alhamdulillah masih bisa Inisiasi Menyusui Dini meski hanya sebentar. Hikmah berikutnya yang berhasil saya dapat adalah Allah lah yang Maha Mengetahui segalanya. USG dan dokter atau bidan hanya wasilah yang bisa memberikan informasi, motivasi, dan membantu proses persalinan kita, tapi Allah segalanya.
Meski 2 kali cesar saya begitu menikmati karena ada suami yang baik hati. Pun Allah yang selalu di hati. Pertanyaan saya,”Gentle Birth kah saya?”Wallahu a’lam.