Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2015

Akankah Rapor Ramadhan Kali Ini Merah?



            Ehm, sebentar lagi tahun ajaran baru akan datang. Anak-anak yang sekolah sebelumnya pun deg-deg-an bagaimana hasil rapornya. Akankah tuntas untuk seluruh mata pelajarannya? Jika ada yang faktanya belum tuntas pun, orang tua dan guru berupaya semaksimal mungkin agar ke depannya si anak ada peningkatan.

           Ramadhan juga datang setiap tahun. Setiap muslim yang beriman merasakan kehadirannya. Rapornya pun ada dan berbeda-beda hasilnya. Tentunya, tak ada yang berharap ada nilai merah di sana. Berlomba-lomba dalam kebaikan menjadi ujung tombak bagaimana meraih kemuliaan Ramadhan.

            Para salafusshalih bahkan sangat bergembira dengan datangnya Ramadhan. Mereka menyingsingkan lengan agar Ramadhan bisa dijalani dengan maksimal. Rasulullah, selama Ramadhan menutup buku-buku lalu mengambil mushaf dan membacanya di masjid. Di sela-selanya, Nabi berwudhu. Ramadhan adalah bulan Al Quran. Imam Ahmad demikian halnya. Beliau tinggalkan sementara urusan fatwa, lalu duduk berdzikir melantunkan kalam Allah.

            Ramadhan itu sakral. Namun, kerinduan akan kesakralan itu memang membutuhkan energi yang membumbung tinggi. Diperlukan tingkat pemahaman yang memadai agar Ramadhan pergi menyisakan gelar taqwa hakiki. Namun, begitulah manusia. Kadang tidak mengerti. Kendala manajemen waktu yang belum terlatih sehingga masih menyibukkan manusia pada hal-hal yang semestinya tak menjadi prioritas. Masih ada peluang manusia menghibur diri justru bukan dengan mendekatkan diri pada sang Illahi. Astaghfirullah. Menuliskan hal ini sungguh sebagai cambuk bagi diri. Mari kita perbaiki!

            Ada banyak teladan yang bisa kita ambil agar rapor Ramadhan kali ini tidak merah. Ibnu Syarahil contohnya. Kesenangannya bersujud, bersimpuh tunduk takut pada-Nya menyebabkan keningnya termakan tanah. Abdullah bin Zubair, saking nikmatnya menegakkan sholat di Ka’bah sampai-sampai tak terasa sudah dihujani batu-batu oleh orang kafir. Ustman bin Affan selalu khatam setiap harinya dan Umar bin Khattab yang selalu meneteskan air mata dalam sholatnya hingga ada bekas hitam di pipinya. Ibadah mereka benar-benar sakral. Benar-benar karena merindukan Ramadhan didorong kecintaan mereka kepada Allah.

            Lantas, akankah rapor Ramadhan kali ini merah? Saya, Anda, dan semua muslim berharap tidaklah demikian. Jangan sampai ada yang menodai Ramadhan kali ini. Yah, tentu semuanya harus kembali kepada tekad diri. Noda yang akan meninggalkan noktah merah pada rapor di bulan madrasah ini harus kita cuci.

           Pertama, sebisa mungkin jika bukan karena udzur yang diperbolehkan syariat, hindari perbuatan yang malah merendahkan kehormatan kita. Hanya karena haus yang mendera, kita rela membatalkan puasa. Lihat saja, bahkan ada warung nasi juga tetap buka meski dengan malu-malu melayani manusia yang menaruhkan kehormatan diri.

            Kedua, noda yang harus kita cuci adalah lalai dengan keutamaan Ramadhan. Bukankah Allah sudah menyediakan surga Ar Rayyan untuk hamba-Nya yang sungguh-sungguh berpuasa? Bukankah Al Quran juga akan memberikan syafaatnya kelak di akhirat jika momentum Ramadhan diisi dengan memperbanyak interaksi dengannya? Bukankah amalan sunah pahalanya seperti amalan yang wajib, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sampai 700 kali lipat? Sungguh, sebenarnya kita sangat membutuhkan Ramadhan untuk menambal keburukan dan menambah kebaikan.

         Ketiga, hawa nafsu. Ah, noda ini memang ada di mana-mana, tak terkecuali pada bulan penuh ampunan ini. Ada karena memang sengaja tidak dibersihkan. Hal-hal sepele malah bisa menyebabkan rapor Ramadhan menjadi merah. Berbuka berlebihan seolah balas dendam. Parahnya lagi, di akhir Ramadhan malah banyak yang kendur iman. Pusat perbelanjaan lebih ramai dikunjungi daripada menyepi berkhalwat dengan Allah. Iming-iming Idul Fitri dengan makna yang keliru lebih mendominasi daripada takut ditinggal pergi Ramadhan, madrasah sejati.

            Terakhir, faktanya kita juga masih menodai Ramadhan dengan perbuatan buruk kita. Lisan berkata kotor, menggunjing, dan berkata yang tiada gunanya. Demikian juga anggota tubuh lainnya. Astaghfirullah!


         Akankah rapor Ramadhan kali ini merah? Semua tergantung kesungguhan dan azzam kita. Ingin Ramadhan memberi bekas peningkatan iman ataukah Ramadhan berlalu tanpa pasokan ruhani. 

Senin, 30 Maret 2015

Agar Sama Panjang



            “Sedotannya lagi diapakan Nak?”
            “Buat mainan aja kok Pak, disambung-sambung,”jawab Farzan.
            “Kalau disambung bisa panjang dong?”
            “Memang begitu.”
            “Bisa minta sedotannya 4 buah, sayang?”
            “Ini,”jawab Farzan.
       Lalu bapaknya meminta tolong Farzan untuk menyambung 2 sedotan yang lain. Bapak Farzan memberdirikan 1 sedotan dan 2 sedotan yang sudah disambung anaknya di lantai.
            “Mana yang lebih panjang?”tanya sang bapak.
            “Yang disambung Pak!”jawab Farzan.
            “Mengapa lebih panjang?”
            “Terlihat lebih tinggi ketika berdiri.”
            “Bagaimana agar sama panjang?”
            “Yang lebih panjang tadi diambil saja sedotannya 1, pasti akan sama,”jawab Farzan sambil melepas sambungan sedotan sehingga sisa 1 sedotan.
            “Wah, benar sekali, tapi rasanya ada yang janggal tidak?”
            “Nggak ada tuh Pak.”
            “Coba bapak tanya, kalau misalkan 2 sedotan yang tadi kamu sambung itu adalah sebuah tanaman dengan panjang segitu, lalu tiba-tiba kamu potong tanamannya agar dia panjangnya jadi sama dengan tanaman serupa di sebelahnya yang masih baru saja tumbuh, kira-kira apa yang terjadi?”
            “Bisa-bisa mati ayah.”
            “Tanaman yang di sebelahnya?”
            “Tetap hidup karena tidak dipotong.”
            “Karena tidak dipotong, kira-kira bisa tidak suatu saat panjangnya menyamai tanaman yang tadi mau dipotong tapi nggak jadi?”
            “Bisa saja, apalagi dikasih pupuk lebih banyak, disiram tiap hari.”
            “Berarti bagaimana tadi mestinya agar sedotannya jadi sama panjang?”
        “Mendingan sedotan yang cuma satu ditambah lagi 1 dengan cara disambung, sama kayak sebelahnya.”
            “Betul. 2 sedotan yang sudah disambung sebelumnya adakah merasa dirugikan?”
            “Nggak lah, kan nggak diapa-apain."

            Intisari dialog sederhana di atas adalah bagaimana ketika seseorang ingin berubah, maka dialah sendiri yang harus berusaha mengubahnya, tanpa merugikan orang lain. Dan ini tidaklah mudah. Buktinya, masih ada saja karena ingin menjadi kaya, seseorang nekat menjadi pencuri, seseorang berani untuk korupsi. Yang demikian ini tentu saja merugikan orang lain. Seharusnya dia bisa bersikap seperti Abdurrahman bin Auf yang ketika hijrah ke Madinah dalam keadaan tidak punya apa-apa, ketika ditawari harta saudara kaum Anshar, dia tidak mau menerima melainkan Abdurrahman bin Auf ingin ditunjukkan dimana pasar. Di sanalah dia akhirnya berdagang. Usaha berdagangnya membuahkan hasil sehingga dia menjadi orang yang kaya raya. Saking kayanya Abdurrahman bin Auf bingung kemana dia harus infakkan hartanya. Hingga suatu ketika aka nada berita bahwa pasukan muslim akan menghadapi Perang Tabuk. Maka Abdurrahman bin Auf bersegera menemui Rasulullah dengan membawa 200 uqiyah emas. 


            Pesannya singkat saja. Jika ingin berubah, berubah saja. Jika tak mau pun tak usah merugikan orang lain, karena apa yang dilakukannya juga berlaku untuk dirinya sendiri. Allah Maha Menyaksikan apa yang manusia niatkan tentang sebuah perubahan. Dia akan menolong hamba-Nya manakala dia berusaha sendiri mengubah hidupnya. Lagi-lagi anak harus mampu memaknai hal ini. Bahwa jika dia ingin menjadi juara di kelasnya dia pun harus berusaha sendiri tanpa merugikan orang lain. Filosofi sedotan bisa mengajarkannya. Anak tak sekedar memahami konsep panjang, namun lebih dari itu.

Telur Mirip Bola



            “Ma, enaknya pagi-pagi begini ngapain ya? Mumpung masih libur sekolah nih!”tiba-tiba Lutfiah menyeletuk mamanya yang ada di dapur.
            “Lha mau ngapain sayang? Gimana kalau bantu mama masak sekarang. Biar cepat selesai juga, biar cepat sarapan,” Bu Ridho menawarkan.
            “Ehm, boleh-boleh.”
            “Oke, sekarang tolong bantu mama ambil telur di kulkas sebanyak 4 ya!”
         Lutfiyah langsung melangkahkan kaki. Diambilnya telur sebanyak 4 lalu diberikannya kepada mamanya.
            “Ok, terima kasih sayang! Nah, sebelum kita masak telurnya, mama mau tanya dulu sama adik Lutfiah.”
            “Katanya mau masak, kok pakai pertanyaan segala, Ma.”
            “Nggak apa-apa, biar masaknya nggak bisu, nggak sepi.”
            “Oh. Ok, Lutfiyah siap!”
          “Dari 4 telur yang kamu ambil tadi, mana yang mirip bola?”tanya Bu Ridho.
            “Yang mana ya? Sepertinya nggak ada. Kan bola itu bulat penuh, Ma.”
            “Coba dilihat lagi dengan lebih teliti!”
          Lutfiyah memandangi kembali 4 telur yang diambilnya tadi. Diamati satu per satu, tapi bentuknya tidak ada yang seperti yang ditanyakan mamanya. Bola itu kelereng, bola itu bola tenis, bola pingpong. Telur bukan bola. Demikian yang dipikirkan Lutfiyah.
            “Nggak ada yang bentuknya seperti bola, Ma!” 
           “Benar? Coba simak kembali pertanyaan mama tadi! Manakah dari 4 telur tadi yang bentuknya mirip bola?”
            Lutfiyah diam sejenak. Dicernanya kembali pertanyaan ulangan dari mamanya. 
            “Mirip bola? Oh ya, yang ini Ma. Yang agak kecilan ini!”
            “Pinternya anak mama. Emang yang lain kenapa nggak mirip bola?”
            “Yang lain lebih panjangan. Nggak bulat-bulat amat.”
            “Kok bisa tahu?”
            “Kan mama yang suruh Luthfiyah teliti lagi!”
           “Kira-kira kalau mama berkata bahwa kemarin Luthfiyah marah karena nggak dibelikan mainan sama papa, gimana?”
            “Ya marah! Kan bukan karena itu!”
            “Kenapa marah?”
            “Ya bukan karena itu!”

            Telur mirip bola. Namanya saja mirip, bukan seperti. Tapi, karena justru namanya mirip, maka butuh kejelian apakah telur tersebut benar-benar mirip bola. Butuh kejelasan melihat. Teliti. Bahkan, butuh kejelasan mendengar, jika memang kabar yang didengar masih samar-samar. Tak perlu berprasangka buruk karena itu berbahaya. 

         Buku Seven Habits for Teens karangan Sean Covey juga menceritakan bahayanya berprasangka buruk. Ada seseorang bernama A sedang menunggu kedatangan pesawatnya di ruang tunggu keberangkatan bandara. Karena bosan, ia ingin sekali memakan makanan ringan yang ia beli sebelumnya. Makanan ringan itu belum dimakan, tiba-tiba seseorang bernama B mengambilnya dari tempat duduk di sampingnya dan tanpa minta izin langsung membuka dan memakannya. A langsung kaget.
A segera merebut kembali makanan ringan tersebut dari tangan B, kemudian memakannya dengan penuh emosi. Karena jengkel, B pun mencomot makanan yang telah direbut sama A lagi. A merebutnya lagi lalu segera menghabiskannya.
Begitu akhirnya pesawat tiba. Dan A sudah duduk di dalamnya, alangkah terkejutnya ia ketika membuka tas, rupanya makanan yang ia beli masih berada di dalam tasnya. Berarti, makanan ringan yang tadi ia makan adalah milik B. 

            Seram, bukan? Alias ngeri! Bisa juga memalukan! Maka, itulah yang sedang ditumbuhkan dalam diri Luthfiyah oleh mamanya. Sikap berprasangka, hindari prasangka buruk. KH Abdullah Gymnastiar berkata bahwa su `udzon atau berburuk sangka dapat membuat hati kita menjadi busuk karena apapun yang kita sangka akan mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita bersikap, dan cara kita mengambil keputusan. Berbahagialah bagi orang-orang yang bisa berkhusnudzon atau berbaik sangka.

            

            

Sabtu, 14 Maret 2015

Ibu, Peluklah Kembali Anakmu!



            Ini tentang cinta. Dan tak ada yang bisa memberikan cinta kepada seorang anak, melainkan ibunya sendiri. Seorang pengasuh bisa memberikan perhatian kepada seorang anak manakala ditinggal ibunya bekerja. Namun, pengasuh tak bisa memberikan cinta. Sekelas Halimatus Sa’diah sekalipun, ketika Muhammad kecil disusui dan diasuhnya, tetap saja Halimatus tak sanggup memberikan cinta. Ketika peristiwa pembelahan dada atau ketika Muhammad akan diculik orang dari Habasyah, Halimatus mengambil keputusan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya. Aminah memeluk dan menggendongnya. Tak ada ketakutan sedikit pun atas peristiwa yang dialami anaknya. Aminah tenang, maka Muhammad pun tenang.

            Ini tentang siapakah madrasah anak pertama dan utama? Ibu, jawabannya. Memeluk adalah bagian pengejawantahan kasih sayang serta cinta, dan karenanya anak akan dekat dengan ibunya. Kalau sudah dekat, ibu berkata apa saja akan mudah anak menerimanya. Ketika pertama kali ibu yang mengajarkan kebaikan, anak akan mengingatkan dalam pikiran bawah sadarnya. Apalagi jika berulang-ulang terekam. Apa jadinya jika pertama kali dekat dengan anak adalah keburukan yang datang di luar ibunya? Oh, mohon jangan salahkan anak! Ibu, peluklah kembali anakmu!

            Tapi bagaimana? Terkadang ibu terpaksa harus bekerja. Berangkat pagi pulang malam, sampai rumah lelah melanda. Masalahnya bukan karena itu. Namun, seberapa mau ibu kembali memeluk anaknya. Memeluk itu mudah, namun memulainya kembali yang susah. Apalagi jika anak sudah tak balita lagi. Sudah saatnya menyudahi. Meluangkan waktu sesaat sebelum dan sesudah pulang kerja untuk memeluk anak adalah terapi hubungan yang luar biasa. Tahanlah kantuk, bercengkramalah sebentar dengan anak. Anak akan memahami kelelahan ibunya. Bahwa bekerjanya ibu bukan adalah untuk kebaikannya. Dua jam sehari sungguh akan memberi rasa dan warna.

            Ini soal peradaban. Dan pepatah berkata bahwa ibu adalah tiang negara, patut direnungkan kembali dalam dada. Asma binti Abu Bakar, sang ibu yang begitu luar biasa menggembleng anaknya hingga berani syahid membela Islam adalah contohnya. Peradaban ada karena peran seorang ibu di dalamnya. Serangkaian motivasi dan pembelajaran berharga dari ibu akan mudah diserap anak manakala ibu bersamanya. Memeluk, mencium, dan ungkapan kasih sayang lain hingga mampu mensibghah kebenaran dan kebaikan dalam jiwa, pikiran, dan tingkah laku anaknya.

            Bukankah tujuh tahun pertama adalah pondasi yang seharusnya kuat untuk anak bertumbuh dan berkembang setelahnya? Golden age akan mencapai puncaknya manakala anak benar-benar merasakan kelembutan dan sentuhan kasih sayang ibunya. Tak ada hukuman fisik ataupun hukuman verbal. Tujuh tahun berikutnya, pelukan itu tetaplah dibutuhkan. Ibu sedang cerewet-cerewetnya mendampingi anak mengenal dan mempraktikkan kebaikan hingga usia ini pun mencapai masa emasnya. Memeluk bisa menjadi baterai baru bagi anak. Dan tujuh tahun berikutnya lagi anak sudah siap dan matang menjalani hidupnya. Mana yang benar dan mana yang salah, anak sudah punya landasannya.

            Tabungan pelukan tetaplah harus diberikan oleh seorang ibu. Banyak godaan dan masalah yang membelit anak. Rona kehidupan bersliweran tiada henti di hadapannya. Ada yang menakjubkan namun mengandung dosa. Ada pula yang kelihatannya tak sedap dinikmati, namun sebenarnya jalan surga. Anak bimbang. Ada kebingungan. Peluklah, karena pelukan itu menentramkannya, menyejukkannya. Ibu akan mudah menjelaskan mengapa itu demikian.


            Memeluk bukan persoalan sempat atau tidak sempat. Memeluk adalah bagian yang tak boleh terlupakan dari seorang ibu kepada anak. Memeluk adalah bagian pengungkapan bagaimana peradaban itu sanggup tercipta. Ibu, peluklah kembali anakmu!

Kamis, 12 Maret 2015

Islam dan Pemuda, bukan Islam dan Remaja


Ini adalah tulisan saya yang dimuat di Majalah Al Falah Surabaya, Januari 2015
Belum ada foto bukti dimuatnya nih! Tapi tulisan aslinya seperti ini. Moga bermanfaat.

            Dia adalah seorang panglima muda Islam yang gagah berani, kuat, matang, dan berkepribadian mulia. Rasulullah tak salah memilihnya untuk menjadi panglima perang meski saat itu ada sahabat senior sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Putra Zaid bin Haritshah dan Ummu Aiman ini memikat hati Rasulullah untuk memimpin pasukan perang. Padahal usianya ketika itu masihlah 16 tahun. Siapakah dia? Ya, Usamah bin Zaid.

            Usia 16 tahun merupakan usia remaja. Tepatnya remaja pertengahan. Begitu menurut pandangan beberapa ahli di dunia ini. Pada usia ini, atau remaja pada umumnya (13-21 tahun) identik dengan manusia yang penuh masalah. Kondisi emosi yang labil karena peralihan dari anak-anak menuju orang dewasa. Kadang sok berani, namun dalam hati juga masih merasa takut. Kecenderungan untuk ikut-ikutan pun tinggi, seolah remaja adalah pribadi yang plin plan, bodoh, dan tak punya pendirian. Keguncangan sering terjadi dalam jiwa remaja. Pokoknya bermasalah! Sering menimbulkan kegelisahan orang tua.  Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan bahwa usia remaja memang usia penuh masalah. Banyak perubahan terjadi dan butuh penyesuaian. Dan adakalanya, remaja beradaptasi dengan cara yang ekstrim.

            Banyak definisi remaja (adolensence) yang diungkap para ahli. Secara umum memang menyatakan masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Belum matang karena peralihan dan masih dalam proses menuju kematangan dalam segala aspek. Dalam bahasa arab, istilah remaja dikenal dengan sebutan Al Murohaqoh, yang memiliki makna dungu,jahat, dzalim, dan senang melakukan kesalahan. Intinya, remaja adalah pribadi yang bermasalah, senada dengan ciri yang sudah tertulis sebelumnya.

            Lantas, apakah seperti ini generasi remaja Islam? Bagaimana dengan Usamah bin Zaid tadi? Tampakkah kedunguan dan kejahatan, atau masalah lain yang tak beres dalam dirinya? Tidak! Dan sejarah Islam sudah banyak menelurkan generasi yang matang di usia remaja ini. Karena itulah, istilah remaja tidak layak ada dalam kamus Islam. Rasulullah sendiri tak pernah menggunakan istilah ini. Yang ada adalah “pemuda”. Pemuda (syabab) memiliki arti yang beda. Kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Dari definisi ini menunjukkan bahwa pemuda itu lambang optimisme, kemenangan, positif. Bukan kebalikannya, sebuah penyakit dan masalah.

            Allah berfirman,”Dialah Allah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS ar Ruum:54)

            Dari ayat di atas tampak ada fase lemah lalu kuat dan berakhir lemah kembali. Kata “lemah” yang pertama memang menunjukkan masa anak-anak, sedangkan kata “lemah” yang kedua menunjukkan masa tua. Hanya ada satu masa di antaranya, yaitu masa kuat. Dan inilah masa muda, masa pemuda (syabab), masa penuh kekuatan.

            Apa yang ada di pikiran, itulah yang akan jadi lisan yang terucap. Lisan inilah yang akan membentuk kebiasaan hingga berujung kepada karakter yang terbentuk. Apa yang terjadi jika dalam benak orang tua bahwa ketika anaknya berusia 13-21 tahun adalah remaja? Orang tua senantiasa berpikir penuh ketakutan karena anaknya pasti bermasalah. Orang tua akan dibuat bingung meski bagaimana memperlakukan anaknya dalam usia ini. Berbeda jika mindset awal bahwa anaknya usia tersebut adalah seorang pemuda (syabab). Keyakinan orang tua bertambah karena generasi hebat dan tangguh muncul di tengah-tengah kehidupan mereka.Apalagi jika sang anaknya sendiri berpikiran bahwa dirinya adalah pemuda. Peradaban akan terjadi.

            Mulai sekarang, gunakan istilah “pemuda”! Islam jaya karena peran pemuda. Islam tampak tinggi di dunia juga karena semangat dan kemauan keras pemuda. Mari kita tilik beberapanya. Ada Zaid bin Tsabit sang pakar faraidh (ahli ilmu waris) yang ketika Nabi Muhammad wafat usianya tidak lebih dari 23 tahun. Tercatat dalam sejarah pula bagaimana Rafi’bin Khudaij, seorang ahli panah dan Samurah bin Jundub (ahli gulat) akhirnya pun berhasil menaklukkan hati Rasulullah untuk bisa ikut perang Uhud padahal usia keduanya belum mencapai 15 tahun. Atau Umair bin Abi Waqqas, saudara Sa’ad bin Abi Waqqash yang secara sembunyi-sembunyi ikut perang Badar karena tak ingin Rasulullah menolaknya hanya karena beliau menganggap dirinya masih kecil.


            Cukup satu kata “pemuda”. Bukan remaja.  

Senin, 12 Januari 2015

Sekali Waktu, Berhentilah Bekerja!


            “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

            Ehm, tak ada yang salah dengan firman Allah di atas. Tugas kekhalifahan manusia di bumi memang mau tidak mau menuntut manusia bekerja dan bergerak aktif. Sehingga kata “sibuk” melekat pada jati diri manusia. Bahkan sangat sibuk. Ada yang untuk urusan dunia, ada pula yang untuk urusan akhirat, ada pula untuk urusan keduanya. Manusia tidak diam saja seperti patung. Bergerak adalah tanda kehidupan. Diam simbol kematian.

            Namun, di sisi lain Rasulullah bersabda,”Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga ia tidak dapat melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 macam penyakit padanya: kebingungan yang tiada putus-putusnya, kesibukan yang yang tidak pernah jelas akhirnya, kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi, dan khayalan yang tidak berujung wujudnya.”(HR Muslim)

 Kontradiksi, bukan, dengan yang difirmankan Allah tadi?
            Tidak! Sama sekali tidak! Justru ini akan saling melengkapi. Bekerja, bergerak adalah ciri mendasar manusia yang hidup. Ya bergerak memenuhi kebutuhan hidup, menyeru orang pada kebaikan, menuntut ilmu, dsb. Tidak bisa tidak, manusia akan bergerak. Namun, manusia tetap punya keterbatasan. Ada lelah yang mendera, lahir dan batin. Apa yang terjadi jika manusia bekerja tiada henti? Fisiknya lama-lama lemah, bahkan menderita sakit karenanya. Untuk urusan ini, yakin, manusia sudah bisa tahu diri. Ketika mendapati tubuhnya kurang sehat, izin tidak bekerja pun akan dilakukan. Manusia akan beristirahat.

            Bagaimana jika manusia lelah batin? Terkadang, hal ini malah manusia sering melupakannya, apalagi jika kondisi fisik senantiasa kuat. Bekerja sepanjang hari seolah tak dirasa. Sampai-sampai pulang larut malam adalah hal yang biasa. Tidur berkualitas akan menyegarkan tubuh kembali. Manusia lupa bahwa batinnya, ruhnya, jiwanya juga sedang lelah. Ingin rasanya batin berteriak menyampaikan keinginannya. Ya, aku ingin mendekat kepada-Nya. Dan kealphaan ini juga bisa melanda siapapun termasuk aktivis dakwah sekalipun. Bergerak ke sana kemari, menulis ini dan itu, mengajar sana dan sini hingga tak tersisa waktu baginya untuk menghadap-Nya. Sekedar munajat malam hari pun sering terlewat begitu saja. Sibuk bergerak, namun isi jiwanya kosong. Apakah ada dampaknya? Ada, sering kali dia bergerak namun tak memberi bekas.

            Maka, sekali waktu, berhentilah bekerja! Bukan untuk tidur menghabiskan malam, namun untuk mengingat kembali siapa diri dan siapa Dia. Bukan untuk memejamkan mata begitu saja, namun bagaimana dzikir mengingat-Nya bisa menjadi pengantar terpejamnya mata.


            Bukankah Allah akan membuat lupa manusia akan hal yang membawa manfaat untuknya manakala manusia melalaikan dzikir mengingat-Nya? Mengingat hak Allah dalam setiap aktivitas kesibukan adalah cara aman jiwa kembali mendapatkan siraman sejuknya. 

Kamis, 04 Desember 2014

Kenalkan Allah di Setiap Kegiatan Anak


                Anak Anda yang masih balita sudah mengenal Allah? Sudah hafal asmaul husna? Ehm, di sekolahnya diajarkan dan dihafalkan ya? Wajar dong kalau hafal? Apalagi jika orang tua juga mengulanginya atau sengaja mengenalkan asmaul husna ini di rumah.

                Saya pun demikian halnya. Di setiap kegiatan anak berusaha mengenalkan Allah kepada mereka. Ketika makan, misalnya. Adakalanya anak nyeletuk,”Ih, nggak mau tahu ah!” Ketika itu saya mengingatkan,”Siapa ya yang memberikan tahu?” Anak saya langsung diam. Mengapa? Karena sebelumnya setiap makan saya selalu berkata,”Lauk ini Allah yang kasih. Allah Ya Wahab. Bersyukur masih dikasih lauk seperti nama Allah, Ya Syukur!”

               Ya, nggak serta merta langsung paham sih, tapi dengan selalu menyertakan Allah di setiap kejadian yang dialami anak, lambat laun anak lebih mengenal Allah. Ya, nggak mesti juga sih anak langsung diam. Adakalanya protes juga jika tak cocok lauknya, namun dengan menunjukkan bukti bahwa di tempat lain ada yang tidak bisa makan, anak akan tumbuh empatinya. Meski tak sesempurna yang kita harapkan. Tapi, mengenalkan Allah tak bisa lantas berhenti.

                Lewat permainan juga bisa lho! Ketika itu, saya menyiapkan mainan orang-orangan dari kertas dengan tinggi yang berbeda-beda. Anak saya menyusunnya dengan memasukkan benang ke lubang di tangan tiap orang-orangan tersebut. Qowiyy berhasil menyusun orang-orangan tersebut dari yang paling pendek ke yang paling tinggi.

                “Yang paling pendek yang mana, Mas?” tanya saya.
                Qowiyy pun menunjukkan dengan tepat. Demikian juga untuk orang-orangan yang paling tinggi. Qowiyy tahu dan mengerti.
                “Adakah yang lebih tinggi dari orang-orangan yang paling tinggi itu, Mas?”
                “Tinggian adik!”
                “Yang lebih tinggi dari adik?”
                “Qowiyy deh!”
                “Kalau Qowiyy sama ayah tinggian siapa?”
                “Ayah lah!”
                “Yang lebih tinggi dari ayah?”
                “Pohon!”
                “Yang lebih tinggi dari pohon?”
                “Awan yang ada di langit, Bunda!”
                “Terus, yang lebih tinggi dari awan?”
                Qowiyy terdiam seolah berpikir. Lalu, tiba-tiba dia menjawab,”Allah yang paling tinggi!”

                Saya kaget sekaligus kagum. Begitukah yang dipikirkan Qowiyy? Padahal selama ini tak pernah tahu kalau Allah Maha Tinggi. Saya hanya menjelaskan setiap saat bahwa awan, langit, bumi, pohon, manusia, dsb adalah Allah yang menciptakannya. Tak tahu saya bagaimana logika sulung saya bisa sampai ke sana.


                Intinya, libatkan senantiasa Allah dalam kegiatan anak. Jiwanya akan mengenali dan senantiasa mengingatnya. Bukankah iman kepada-Nya adalah bekal segala-galanya?

Rabu, 12 November 2014

Inti Tafsir QS An-naba


                Membaca tafsir memang perlu penghayatan agar bisa merasuk dalam hati dan membekas tajam. Sehingga karenanya, hidup jadi lebih berhati-hati dan senantiasa lurus niat karena-Nya. Kalau tuliskan semua tafsirnya pasti akan panjang, jadi saya ringkaskan saja ya. Mau lengkap, baca deh tafsirnya Ibnu Katsir. Cukup mudah dicerna!

                Surat An-naba adalah surat awal juz 30, terdiri atas 40 ayat. Di tafsir Ibnu Katsir dibagi menjadi 4 bagian membahas tafsirnya. Bagian 1 meliputi 16 ayat pertama. Bercerita tentang apa? Mengenai apa itu hari kiamat. Ya, sebuah hari yang pasti datang dan tidak diketahui kapan terjadinya. Orang-orang musyrik juga menanyakannya. Mengenai hari kiamat ini, banyak orang memperselisihkannya. Ada yang percaya dan ada yang tidak. Bagi yang tidak mempercayainya, Allah memberikan ancaman yang sangat keras, bahwa hari itu pasti akan dilihatnya. Tentu saja, Allah juga menunjukkan kebesaran-Nya agar manusia tetap beriman kepada-Nya. Bumi sebagai hamparan, gunung sebagai pasak, manusia berpasang-pasangan, tidur sebagai istirahat, malam sebagai penutup, dan siang sebagai waktu untuk bekerja. Allah pun membangun tujuh langit dengan keluasannya disertai matahari yang terang benderang. Tak luput pula, Allah lah yang menurunkan hujan dari awan sehingga airnya tercurah sangat banyak. Air hujan inilah yang menjadika tumbuhan, bijian, dan kebun menjadi lebat.

                Bagian kedua tafsir surat ini meliputi 14 ayat selanjutnya. Hari kiamat sudah ditetapkan Allah kapan akan terjadi. Tidak bisa dimajukan dan dimundurkan. Ketika sangsangkala ditiup, manusia akan berkumpul sesuai dengan kelompoknya. Sebagian ada yang menafsirkan bahwa manusia akan datang berkelompok bersama Rasulnya. Setelah itu Allah membukakan pintu langit dimana biasanya malaikat turun. Orang-orang yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya telah disediakan baginya ruang pengintai di neraka sehingga menjadi tempat menetap abadi mereka. Ruang pengintai ini ada yang menafsirkan sebagai ruangan yang dijadikan tempat penyeberangan. Bahwa sebelum masuk surga manusia akan menyeberangi neraka terlebih dahulu. Orang yang ingkar Allah dan Rasul-Nya ini berada dalam nerakan berabad-abad lamanya alias masa yang tiada terputus. Tahukah bahwa neraka tidak ada kesejukan dan tak ada minuman, kecuali air mendidih dan nanah. Yang demikian ini memang merupakan balasan yang setimpal bagi mereka yang ingkar. Mereka tidak meyakini bahwa ada hari pembalasan setelah hidup mereka di dunia. Tak ada ketakutan dalam diri mereka terhadap hisab Allah. Terus saja mereka mendustakan ayat Allah dan mereka tak sadar kalau Allah mencatatnya. Hanya adzab yang akan ditambahkan Allah atas perbuatan mereka.

                Bagian ketiga tafsir surat ini meliputi 6 ayat. Bercerita tentang kebalikannya. Bahwa orang bertaqwa akan memperoleh kemenangan dalam keadaan suci. Mereka selamat dari neraka dan ada kebun serta buah anggur untuk mereka. Tak lupa Allah menyediakan bidadari yang gadis dan montok serta air yang jernih dan penuh. Di dalam surga, mereka balasan dan pemberian nikmat dari Allah secara memadai lagi banyak.

                Dan bagian terakhir tafsir surat Annaba mencakup 4 ayat. Isinya tentang apa? Tak lain tentang Allah yang menjadi pemilik bumi dan langit dan apa-apa yang ada di antaranya. Tak ada yang bisa berbicara dengan-Nya kecuali atas izin-Nya. Semua anak cucu Adam dan malaikat pada hari ini berdiri bershaf-shaf terkunci mulutnya. Kecuali yang mendapat izin-Nya, yaitu Rasul yang benar kata-katanya. Hari kiamat pasti terjadi. Siapa yang ingin bertemu Allah, maka dia akan berada dalam petunjuk-Nya. Sedangkan yang tidak, Allah sudah memperingatkannya bahwa ketika hari keputusan akan ditunjukkan semua amal yang mereka lakukan. Hingga akhirnya mereka pun meminta agar menjadi hewan saja yang ketika selesai pemberian keputusan dijadikan sebagai tanah kembali.


                Ehm, merinding baca tafsir aslinya. Moga senantiasa terjaga iman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sabtu, 08 November 2014

Kewajiban untuk Kaya


                Apakah kaya itu sebuah keharusan? Iya. Paling tidak ini jawaban saya setelah mendengar beberapa kasus, bahkan mengalaminya sendiri. Kaya adalah keputusan yang tidak bisa ditunda. Namun, tetap ada rambu-rambunya.

                Seorang ibu bercerita bahwa kamar tidurnya yang hanya ada 2 sudah tak bisa layak untuk dijadikan tempat tidur. Anaknya sudah beranjak dewasa dan menuntut agar bisa tidur di kamar sendiri. Tak ingin lagi bersama adiknya. Alhasil, ayah ibunya mengalah harus tidur di luar tanpa kasur empuk pula. Hal yang hampir senada dialami oleh pasangan suami istri beranak 3. Yang sulung sudah kelas 3 SD. Mereka tidur sekamar berlima. Privasi sudah tidak ada lagi, kecuali harus mencuri-mencuri kesempatan.

                Kisah ini lain lagi. Ketika lebaran tiba, seorang ibu yang sudah cukup baya berkata pada anak perempuannya. “Ntar kalau ibu sudah nggak kerja lagi, yang bisa kasih uang siapa ya? Bapak kan sudah nggak kerja juga?” Pertanyaan sang ibu mengagetkan diam anaknya. Ya betul! Siapa yang akan memenuhi kebutuhan bapak dan ibunya nanti? Dulu, ketika belum punya anak, sang anak cukup sering membantu keuangan orang tuanya. Namun,semenjak punya anak dan tidak bekerja lagi, sang anak sungkan jika harus meminta suaminya, meski sebenarnya tak ada penolakan dari suaminya. Tapi rasa enggan itu ada. Maka, sang anak pun berjualan. Sebagian hasilnya meski kecil digunakan untuk membantu orang tuanya.

             Maksudnya, keberadaan rumah cukup luas itu penting. Dan untuk memenuhinya butuh uang. Memuliakan orang tua itu penting. Dan faktanya juga memerlukan uang. Belum kebutuhan lainnya. Maka  wajar jika akhirnya kaya menjadi sebuah kewajiban. Lagi pula, tak ada orang ingin miskin. Sekuat tenaga, setiap orang ingin bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan normal dan berkecukupan.

                Kaya. Untuk kaya tetap ada rambu-rambunya. Kreativitas, motivasi, dan usaha adalah utama. Hasil biarkan apa adanya sambil terus dievaluasi. Sudah bekerja namun pas-pasan, berarti memang harus ada tambahan. Atau bagaimana mengembangkan pekerjaan hingga tetap fokus namun bisa menghasilkan lebih.

                Untuk kaya tetap ada rambu-rambunya. Yang pasti haruslah halal apa yang diusahakannya. Jangan lantas karena pikiran terpaku pada uang dan kaya, segala macam cara dilakukan, tanpa peduli halal haramnya. Apalagi kalau sampai melakukan tipu-tipu.Wah, harus dihindari sekali. Wilayah seperti ini mesti ekstra hati-hati.

                Untuk kaya tetap ada rambu-rambunya. Jika memang memaksa seorang perempuan apalagi seorang istri/ibu, pastikan mendapat izin suaminya. Bagaimanapun taat suami meski keadaan susah tetap lebih baik daripada berhasil mendapatkan penghasilan sendiri, namun nihil ridho suami. Selain itu, memastikan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak tetap terbaik tak bisa dilupakan begitu saja. Bukan soal seberapa materi dan fasilitas yang bisa diberikan, namun termasuk kasih sayang.

              Kaya., tetap ada petunjuknya. Bersyukur adalah kuncinya. Berapapun yang didapat asal bersyukur dan terus berinovasi dengan halal maka akan ada tambahan nikmat karenanya. Kaya hati ini akan menambah kaya-kaya lainnya.


                Kewajiban untuk kaya? Ya!

Minggu, 02 November 2014

Menyiapkan Generasi Muslim yang Kuat


            Menilik judul tulisan ini, ada pertanyaan besar di lubuk hati,”Seperti apakah generasi muslim yang kuat? Sudahkah Islam memilikinya?” Memiliki, ya, Islam memilikinya. Tapi itu dulu. Sekarang, potret generasi Islam kian hari ada saja yang kian mengenaskan. Masih segelintir yang mengindikasikan bahwa mereka adalah generasi kuat.

            Kuat berarti tidak lemah. Dan dengan kekuatan ini, kebaikan dan kebenaran bisa langgeng. Islam sebagai sumberkebenaran mengabadi di bumi. Lihat di Gaza Palestina saat ini. Generasi muslim kuat ada di sana. Betapa Islam tetap hidup di bumi penuh darah syuhada itu. Mengapa? Karena muslim di sana tidak lemah. Bagaimana di negeri kita?

            Anak-anak dewasa sebelum umurnya sudah menjadi berita sehari-hari. Bahkan, tatkala Ramadhan kemarin masih banyak yang lebih menyenangi tempat perbelanjaan dibandingkan masjid. Ketika lebaran menyapa, sajadah pun sudah digulung. Al Quran kembali tertutup. Hanya sedikit yang bertahan.

        Lantas, bagaimana menyiapkan generasi muslim yang kuat? Kuat berarti bukan penakut. Tak selayaknya generasi muslim bagai An Numairi. Sosok penakut dan saking takutnya ada anjing yang menyelinap masuk rumahnya pun hebohnya luar biasa. Dia berteriak memanggil orang sekampung, padahal anjing tak berbuat apa-apa di rumahnya. Kemana-mana ada pedang kayu sebagai senjatanya. Bisa berbuat apa dengan pedang kayu? Rasa takut ini rupanya masih bertengger pula dalam hati muslim saat ini. Betapa takut mati, takut kehilangan harta, bahkan takut menjalani masalah hidup, masih mendominasi. Hanya segelintir orang yang mampu menepis rasa ini.

            Generasi muslim kuat berarti harus berani. Sudah selayaknya kita berani berkata,”Ya, saksikan, kami adalah mukmin!” Beriman dengan tingkat tinggi, karena dengan dengan modal inilah kebaikan dan kebenaran Islam bisa tampak nyata. Lihat, betapa sekarang generasi muslim enggan untuk berani. Bahkan untuk sekedar menutup auratnya pun masih sering berkata bahwa mereka belum mendapatkan hidayah. Kasus artis lepas hijab pun menjadi hal yang biasa terjadi. Keberanian itu tersembunyi. Hanya segelintir orang memiliki rasa ini.

            Menjadi muslim, sungguh, tak cukup hanya baik. Namun juga harus kuat. Muslim yang kuat lebih dicintai Allah dibandingkan muslim yang lemah. Contohnya soal menuntut ilmu. Muslim yang bersekolah banyak, dan itu baik. Namun, seberapa sabar dan teguh mereka menekuni ilmu yang didapatnya hingga benar-benar mumpuni? Belajar tekun hanya menjelang ujian. Jika menuai kegagalan frustasi tingkat tinggi bahkan sampai membunuh diri. Muslim yang bekerja banyak dan itu baik. Namun, seberapa kuat mereka bertahan menggeluti pekerjaannya hingga benar-benar professional? Jika mendapati ketidakcocokan mengundurkan diri. Berganti pekerjaan lagi. Alhasil, generasi muslim hanyalah generasi yang setengah-setengah. Tidak totalitas. Generasi muslim merupakan generasi yang gamang. Alih-alih menjadi penggagas temuan baru, yang ada masih pengekor dan hanya bagai buih di lautan.

            Kuat adalah perisai. Bagaimana Islam akan sempurna dipandang sana sini. Namun, merasa sok kuat juga bukan solusi. Sudah merasa ilmunya dan pengikutnya banyak, lantas berhenti lebih memperkuat diri. Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, mentang-mentang sudah memiliki banyak ilmu dan jamaah yang banyak, lupa untuk belajar lagi. Selama beberapa kali, Abu Hanifah tak menjumpainya di majelis ilmu. Abu Yusuf merasa sudah mampu menjadi ulama besar. Maka, sebuah kejadian akhirnya menggugah kesadarannya bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar. Bahkan untuk menjawab pertanyaan seorang jamaahnya yang diutus oleh Abu Hanifah, Abu Yusuf tak berkutik. Abu Yusuf kembali menimba ilmu dari sang guru.


            Kuat butuh konsistensi. Untuk menjadi generasi kuat perlu keistiqomahan. Tidak berhenti di satu titik, namun terus melaju mengejar keunggulan dan keutamaan. Sabar dan tekun adalah kunci. Menyiapkan generasi muslim kuat, selain iman, ada kesungguhan untuk bertahan, mempelajari, memperkuat pondasi, dan terus bertumbuh. Tak ada kata “sudah, cukup sampai di sini”. Bukankah muslim yang baik bagai tanaman yang akarnya menghunjam kuat ke tanah dan terus bertumbuh menjulang tinggi?

*Tulisan ini dimuat di Majalah Bina Qolam Surabaya

Minggu, 21 September 2014

Menangis dari Hati yang Hidup Akan Lebih Menghidupkan Hati


                Terhenyak ketika tiba-tiba memandang sebuah majalah yang menanyakan kapan terakhir kita menitikkan air mata. Kaget dan rasanya dadaku langsung bergemuruh. Aku tak ingat kapan terakhir aku bisa menitikkan air mata.

                Air mata yang benar-benar beda. Seperti yang dimiliki Umar bin Khatab hingga pipinya terdapat bekas hitam saking seringnya sahabat Nabi yang perkasa ini menangis. Atau seperti Sufyan Ats Tsauri yang ketika mengingat dosanya, tapi masih saja merasa takut Allah tak menerima taubatnya.

                Entah kenapa, beberapa hari yang lalu aku ditawari tiket untuk mengikuti sebuah seminar parenting. Sebenarnya aku sudah mengenal siapa pembicaranya. Wong kami sering ketemu, kok! Tapi, tak ada rasa berat hati aku membeli tiket itu dan kemarin aku mengikuti seminarnya. Dan benar, menit pertama aku sudah menitikkan air mata. Bahkan sampai akhir seminar, air mataku susah untuk dibendung. Aku merasa hatiku hidup saat itu.

                Mengenal Allah.  Ya, aku juga ingat ketika dulu ikut pelatihan ESQ Bang Ari Ginanjar, hatiku juga takjub dan hidup karenanya. Tiga hari wajah tak bisa gembira sedikitpun. Benar, bahwa mengingat Allah, hati menjadi tenang. Hidup dan ingin terus mendekat kepada-Nya.

                Mengenal Rasulullah. Ya, aku juga terpana dan menitikkan air mata ketika sebuah video kisah meninggalnya manusia mulia ini tak sengaja aku putar ketika mendarat di grup whatsapp. Bahkan selama dua bulan lebih aku masih terngiang-ngiang isi video itu. Tamparan yang luar biasa.

                Tapi, aku tak ingat kapan terakhir bisa menitikkan air mata karena murni hatiku hidup. Bukan karena pelatihan, seminar, atau video. Bagaimana aku bisa seperti sahabat Rasulullah? Apa rahasia mereka bisa hidup hatinya, lalu mudah menangis, dan dengan meneteskan air mata, hati mereka tambah hidup?
1.       Puasa
Bahkan dalam keadaan berperang pun berpuasa. Perang yang meletihkan, menggemparkan, membutuhkan daya juang yang sangat tinggi. Namun, para sahabat Rasulullah tetap melakukannya. Justru itulah senjata utamanya. Puasa karena mereka begitu mengenal Allah.

2.       Sholat malam
Sholat terbaik setelah sholat wajib adalah sholat malam. Muhammad Al Fatih, meski bukan sahabat Rasulullah, namun beliaulah yang selalu hadir dalam mimpi Rasulullah. Dia berhasil membawa pasukan muslim menaklukkan Konstantinopel. Pemimpin pasukan luar biasa karena terbiasa menunaikan sholat malam sejak dia baligh sampai usianya ketika itu. Tak pernah ditinggalkannya meski hanya semalam.

3.       Dekat Al Quran
Al Quran adalah ruh yang menggerakkan jiwa, pikiran, dan badan para sahabat untuk senantiasa menabur kebaikan dibalut dengan iman. Abdullah bin Amr Al Ash mampu mengkhatamkan Al Quran dalam sehari meski akhirnya dilarang sama Rasulullah. Abdullah bin Mas’ud rela dan berani membaca Al Quran di ka’bah meski tahu akan dilempari batu oleh kaum kafir Quraiys. Ibnu Abbas, saking dekatnya beliau dengan Al Quran menjadi tempat rujukan kala itu.

4.       Semangat Berukhuwah
Bagaimana Abu Dzar Al Ghifari merelakan perempuan Anshar yang ingin dipinangnya untuk menikah dengan sahabat yang menyampaikan pinangannya. Karena ternyata perempuan Anshar lebih memilih sahabat Rasul yang menemaninya itu. Atau dua orang sahabat Rasulullah yang sama-sama memiliki hutang dan ternyata keduanya saling membayarkan lunas hutangnya tanpa sepengetahuan keduanya. Sahabat A menyahurkan hutang sahabat B tanpa sepengetahuan sahabat B. Demikian juga sebaliknya.


                Hati para sahabat Rasulullah dan generasi sesudahnya hidup karena terus bersama cahaya Allah. Karena mengenal Allah dengan kadar yang sangat tinggi. Sedang aku? Tertatih-tatih menuju cahaya itu. Bisa menangis karenanya adalah sebuah anugrah yang tiada kira, meski kapan terakhir aku menitikkan air mata, aku pun sudah lupa. Bukan karena seringnya menangis, tapi saking jarangnya menangis. Menangis karena hati yang hidup itu.