Tampilkan postingan dengan label dimuat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dimuat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Islam dan Pemuda, bukan Islam dan Remaja


Ini adalah tulisan saya yang dimuat di Majalah Al Falah Surabaya, Januari 2015
Belum ada foto bukti dimuatnya nih! Tapi tulisan aslinya seperti ini. Moga bermanfaat.

            Dia adalah seorang panglima muda Islam yang gagah berani, kuat, matang, dan berkepribadian mulia. Rasulullah tak salah memilihnya untuk menjadi panglima perang meski saat itu ada sahabat senior sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Putra Zaid bin Haritshah dan Ummu Aiman ini memikat hati Rasulullah untuk memimpin pasukan perang. Padahal usianya ketika itu masihlah 16 tahun. Siapakah dia? Ya, Usamah bin Zaid.

            Usia 16 tahun merupakan usia remaja. Tepatnya remaja pertengahan. Begitu menurut pandangan beberapa ahli di dunia ini. Pada usia ini, atau remaja pada umumnya (13-21 tahun) identik dengan manusia yang penuh masalah. Kondisi emosi yang labil karena peralihan dari anak-anak menuju orang dewasa. Kadang sok berani, namun dalam hati juga masih merasa takut. Kecenderungan untuk ikut-ikutan pun tinggi, seolah remaja adalah pribadi yang plin plan, bodoh, dan tak punya pendirian. Keguncangan sering terjadi dalam jiwa remaja. Pokoknya bermasalah! Sering menimbulkan kegelisahan orang tua.  Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan bahwa usia remaja memang usia penuh masalah. Banyak perubahan terjadi dan butuh penyesuaian. Dan adakalanya, remaja beradaptasi dengan cara yang ekstrim.

            Banyak definisi remaja (adolensence) yang diungkap para ahli. Secara umum memang menyatakan masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Belum matang karena peralihan dan masih dalam proses menuju kematangan dalam segala aspek. Dalam bahasa arab, istilah remaja dikenal dengan sebutan Al Murohaqoh, yang memiliki makna dungu,jahat, dzalim, dan senang melakukan kesalahan. Intinya, remaja adalah pribadi yang bermasalah, senada dengan ciri yang sudah tertulis sebelumnya.

            Lantas, apakah seperti ini generasi remaja Islam? Bagaimana dengan Usamah bin Zaid tadi? Tampakkah kedunguan dan kejahatan, atau masalah lain yang tak beres dalam dirinya? Tidak! Dan sejarah Islam sudah banyak menelurkan generasi yang matang di usia remaja ini. Karena itulah, istilah remaja tidak layak ada dalam kamus Islam. Rasulullah sendiri tak pernah menggunakan istilah ini. Yang ada adalah “pemuda”. Pemuda (syabab) memiliki arti yang beda. Kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Dari definisi ini menunjukkan bahwa pemuda itu lambang optimisme, kemenangan, positif. Bukan kebalikannya, sebuah penyakit dan masalah.

            Allah berfirman,”Dialah Allah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS ar Ruum:54)

            Dari ayat di atas tampak ada fase lemah lalu kuat dan berakhir lemah kembali. Kata “lemah” yang pertama memang menunjukkan masa anak-anak, sedangkan kata “lemah” yang kedua menunjukkan masa tua. Hanya ada satu masa di antaranya, yaitu masa kuat. Dan inilah masa muda, masa pemuda (syabab), masa penuh kekuatan.

            Apa yang ada di pikiran, itulah yang akan jadi lisan yang terucap. Lisan inilah yang akan membentuk kebiasaan hingga berujung kepada karakter yang terbentuk. Apa yang terjadi jika dalam benak orang tua bahwa ketika anaknya berusia 13-21 tahun adalah remaja? Orang tua senantiasa berpikir penuh ketakutan karena anaknya pasti bermasalah. Orang tua akan dibuat bingung meski bagaimana memperlakukan anaknya dalam usia ini. Berbeda jika mindset awal bahwa anaknya usia tersebut adalah seorang pemuda (syabab). Keyakinan orang tua bertambah karena generasi hebat dan tangguh muncul di tengah-tengah kehidupan mereka.Apalagi jika sang anaknya sendiri berpikiran bahwa dirinya adalah pemuda. Peradaban akan terjadi.

            Mulai sekarang, gunakan istilah “pemuda”! Islam jaya karena peran pemuda. Islam tampak tinggi di dunia juga karena semangat dan kemauan keras pemuda. Mari kita tilik beberapanya. Ada Zaid bin Tsabit sang pakar faraidh (ahli ilmu waris) yang ketika Nabi Muhammad wafat usianya tidak lebih dari 23 tahun. Tercatat dalam sejarah pula bagaimana Rafi’bin Khudaij, seorang ahli panah dan Samurah bin Jundub (ahli gulat) akhirnya pun berhasil menaklukkan hati Rasulullah untuk bisa ikut perang Uhud padahal usia keduanya belum mencapai 15 tahun. Atau Umair bin Abi Waqqas, saudara Sa’ad bin Abi Waqqash yang secara sembunyi-sembunyi ikut perang Badar karena tak ingin Rasulullah menolaknya hanya karena beliau menganggap dirinya masih kecil.


            Cukup satu kata “pemuda”. Bukan remaja.  

Senin, 02 Februari 2015

Karakter Positif Anakku Mulai Tampak Wujudnya

Dimuat di Nakita Januari 2015

Membangun karakter positif pada anak dibutuhkan pembiasaan (Indari Mastuti)

            Jangan dikira kalau anak usia balita tidak mengerti tentang “mimpi”. Memang, ketika orang tua bertanya,”Nak, apakah mimpi yang ingin kau capai?” anak belum tentu mengerti apa maksudnya. Dengan penggunaan bahasa yang tepat sesuai dengan kemampuan anak, istilah “mimpi” akan mudah dipahaminya.
            Anak usia 2 tahun biasanya memiliki kemampuan berbicara dan perbendaharaan kata yang cukup banyak. Berbicara 2 kata atau lebih sekaligus juga sudah dikuasainya. Bahkan, kecenderungan anak usia ini senang dan selalu bertanya “apa” tentang kata baru yang didengarnya. Dengan kemampuan berbicara dan menangkap bahasa ini pun, anak dengan mudah memahami 1-2 perintah sekaligus untuk bisa dilakukannya.
            Sudah menjadi hal yang wajar bahwa orang tua ingin anaknya nanti tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter positif. Membangunnya ini tidak serta merta langsung jadi. Ada proses yang harus dilakukan orang tua dan anak sendiri dengan penuh kesabaran, Menurut Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, minimal ada 3 hal yang harus dicermati dan dilakukan sungguh-sungguh untuk membentuk karakter positif anak ini, yaitu konsisten, berkelanjutan, dan konsekuen. Proses ini membutuhkan waktu. Karakter positif tidak tumbuh alami dalam diri anak.
            Awalnya, saya bingung bagaimana bisa mengontrol proses pembiasaan ini. Apakah seperti saya yang tiap bulan selalu mengeprint target jadwal sebulan lalu diisikan? Ah, rasanya akan tidak menghemat kertas. Belum lagi kalau lupa mengeprint karena printer rusak/tintanya habis. Dicatat di buku? Anak tak bisa melihat langsung dengan mudah setiap saat. Untunglah, akhirnya saya menemukan papan target ajaib bernama metrik. Saya tuliskan target hariannya di kolom yang disediakan dan saya catat hasilnya setiap hari. Jika terpenuhi targetnya, maka tak ada utang. Jika tidak terpenuhi, maka target esok harinya ditambah. Namun jika berlebih targetnya, keesokan harinya tetap dengan target yang sama.
            Sulung saya. Qowiyy (5 tahun) yang pertama kali menggunakan metrik di keluarga saya. Qowiyy anak yang enggan berbicara dengan orang lain jika belum kenal sebelumnya. Dia cenderung diam dan mengamati. Ketika ditanya orang juga cenderung enggan menjawab. Saya mencoba menantang dia agar dalam sehari berani berbicara dengan orang lain di setiap kesempatan. Awalnya susah. Qowiyy belum keluar dari zona nyamannya. Bahkan sering tak tercapai target harian itu. Namun, lambat laun, dengan terus saya dampingi setiap kali mau berbicara dengan orang lain, Qowiyy tampak kepercayaan dirinya meski belum seignifikan. Paling tidak jika ketemu kakek neneknya dan saudara lain yang jauh di luar kota, Qowiyy sudah menunjukkan rasa percaya diri yang berarti.
            Orang tua Nasywah (2 tahun 4 bulan) sejak bulan November 2014 kemarin memberlakukan target harian “merapikan mainan setelah selesai bermain” kepada anaknya. Pasalnya, Nasywah cukup sulit diminta untuk merapikan mainan jika sudah usai bermain. Ada saja alasannya, entah lapar, capek, ngantuk, dsb. Bahkan diajak merapikan bersama-sama pun Nasywah malah tidak ikut membantu. Untuk memulai membentuk karakter ini, ada pembicaraan awal antara ibunda Nasywah dengan anaknya.
            “Kau tahu, Nak, apa itu tanggung jawab?”
            Nasywah tentu saja menggeleng tidak tahu, bahkan dia lanjut bertanya apa itu tanggung jawab. Ibundanya pun memberikan keteladanan langsung tentang tanggung jawab ini dengan mengajak Nasywah merapikan mainan. Ogah-ogahan? Ya.
            “Nasywah, gimana sih senyum itu? Nasywah suka ayah dan bunda tersenyum?” Nasywah  mempraktikkannya dan menjawab,”Iya, aku tak mau lihat ayah bunda sedih.”. Dari jawaban ini, tampak bahwa Nasywah bermimpi, berkeinginan melihat orang tuanya tersenyum untuknya. Lalu, ibundanya berkata bahwa senyum itu akan didapatkannya jika dalam sehari berhasil merapikan mainannya sebanyak 2 kali. Dilengkapi dengan stiker bergambar emoticon “senyum” ibundanya berharap kesenangan Nasywah merapikan mainan bisa terwujud. Setiap hari, stiker ini ditempel di papan target harian Nasywah yang dipasang di kamarnya. Kegiatan menempel stiker ini pun menyenangkan baginya selain mengasah motorik halus anak.
            Bulan November berlalu. Ibundanya mendapati Nasywah cukup kooperatif. Sempat bolong 3 hari Nasywah tidak mau bertanggung jawab merapikan mainannya, namun selebihnya ada hal yang mengesankan terlontar dari Nasywah. “Biar Nasywah aja yang merapikan. Kamu jangan merapikan!” Bermula dari mainan favoritnya, kini di bulan Desember, Nasywah mau merapikan mainan apa saja.
            Ashalina, anak dengan usia yang tidak terpaut jauh dari Nasywah, tapi lebih tua, demikian halnya. Anak yang dititip di sebuah daycare ini berasal dari keluarga yang mapan. Namun, bagaimanapun dititip bukan berarti anak dimanja, bukan? Karakter tanggung jawab untuk hal sesederhana sekalipun tetap harus dilatihkan. Karena anak-anak di daycare cukup banyak tentunya Asha memiliki kecenderungan ingin bermain dengan teman-temannya. Makan pun akan sulit duduk tenang. Apalagi jika makan sudah selesai, inginnya kabur saja segera bergabung dengan temannya. Lupa dengan piring yang dipakainya makan. Apalagi ada pengasuh daycare dan pegawai kebersihan daycare. Anak bisa memanfaatkan mereka untuk mengangkat piring dan meletakkannya di tempat cucian piring.
            Pengasuh Asha tidak ingin hal itu terus terjadi. Dengan target harian bahwa sehari 2 kali Asha mau membawa dan menaruh piring bekas makannya di tempat semestinya, pengasuh berharap Asha lebih bertanggung jawab. Hasilnya, sesekali saja Asha lalai. Sampai bulan Desember ini didapati Asha sudah makin terbiasa melakukannya. Jika lupa dan buru-buru ingin main, pengasuhnya hanya berkata,”Ini piring makan siapa ya?” Tak lupa sang pengasuh memberikan penguatan selesai Asha melakukannya.

            Inilah konsisten itu. Inilah berkelanjutan itu. Tak cukup sekali saja atau sehari saja. Harus terus menerus, berkelanjutan setiap hari. Rutinitas akan membiasakan karakter positif pada diri anak. Orang tua harus telaten dan konsekuen dengan apa yang dilakukan bersama anaknya. Ketika anak berbuat sesuai harapan, ada penguatan yang diberikan orang tua untuk anaknya. Jika ternyata belum berhasil mengajak anak mencapai targetnya, orang tua dituntut kreatif berbahasa dan mempersuasif anak. Memasang papan target harian sebagai salah satu caranya.

Topi Merah Kesayangan


Alhamdulillah dimuat!
Ini tulisan aslinya ya. Yang ada di majalah Ummi-Permata edisi Februari 2015 sudah direvisi sama sananya. Beberapa saja. Tapi tak mengurangi isinya.
Selamat membaca!



            Semua geleng-geleng kepala melihat tingkah Dindo. Ke sekolah pakai topi. Bermain di lapangan dekat rumah juga pakai topi. Ke toko buku juga memakai topi. Bahkan pergi ke masjid pun memakai topi. Warnanya yang merah meski sudah agak luntur sedikit tak menyurutkan rasa sayangnya kepada topi itu.
            “Nak, bunda cucikan ya topi merah kesayanganmu itu?” Bu Riska menawarkan diri. Ibu Dindo ini merasa risih karena topi idola Dindo itu tak pernah dicuci sejak membelinya 1 bulan yang lalu.
            “Nggak usah, Bunda! Kalau mau dicuci, ntar biar Dindo yang lakuin sendiri.”
            Dindo meskipun baru kelas 5 SD memang sudah bisa mencuci, terutama kaos dan celana dalamnya. Kalau mencuci topi, pasti bisa. Namun, sudah berkali-kali bundanya mengingatkan, rupanya Dindo merasa sayang kalau topinya dicuci. Takut jika ada yang rusak nantinya. Saking khawatirnya diambil bundanya masuk bak cucian, Dindo pun memakainya sepanjang hari. Ketika mandi pun dibawanya serta ke kamar mandi.
            “Dindo,emang nggak bau topimu itu?” Bu Riska bertanya lagi.
            Dindo nyengir. Dengan centil dan sok percaya diri dia menjawab kalau topinya baik-baik saja. Daripada ngobrol sama bundanya panjang lebar yang ujung-ujungnya topi mau dicuci, Dindo segera pamit main di lapangan. Sudah banyak teman menunggunya di sana bermain sepak bola.
            Sore itu adalah kesempatan pertama Dindo bermain sepak bola lagi sejak memiliki topi merah itu. Musim hujan membuatnya tak bisa bermain sepak bola di sore hari. Hari itu cuaca tampak cerah. Begitu girang hati Dindo dan teman-temannya karena bisa bermain sepak bola lagi. Seperti biasa, Dindo memakai topi merah kesayangannya.
            Sudah berkumpul semua teman-temannya. Dibagi dua kelompok agar bisa bertanding bermain sepak bola. Dindo siap bermain memenangkan pertandingan sepak bola sore itu. Ada Firzi di regunya. Teman yang sangat cerewet tapi banyak disenangi anak-anak. Idenya suka di luar pikiran anak pada umumnya. Namun benar dan sangat berguna.
            Pertandingan sepak bola pun dimulai. Bunyi peluit wasit sudah terdengar kencang. Para pemain siap menjebol gawang lawan. Tak terkecuali Dindo. Kakinya semangat menendang bola. Diarahkan ke temannya. Tak jarang dia pun menerima umpan dari temannya. Semua berjalan lancar. Meski demikian gol belum juga tercipta.
            “Dindo, sundul bola ini!” teriak Firzi.
            Dindo segera sigap menyundul. Namun, sundulannya tak sempurna. Meleset. Bahkan berhasil diambil alih lawan penguasaan bolanya. Firzi sedikit kecewa. Masalahnya bukan sekali saja Dindo gagal menyundul bola dengan benar. Berkali-kali. Sampai babak pertama berhasil, regunya Dindo tak berhasil mencetak gol. Bahkan sudah ketinggalan 0-1 dibanding lawannya.
            “Dindo, tadi kenapa dengan sundulanmu?” tanya Firzi.
            Dindo mengangkat kedua pundaknya pertanda tak tahu. Firzi tambah berpikir keras apa yang menyebabkan sundulan Dindo meleset terus. Padahal sebelumnya Dindo jago soal sundulan bola. Dindo hanya terdiam. Dia masih setia memakai topinya. Babak kedua segera dimulai lagi. Waktu istirahat sudah hampir habis. Tiba-tiba Firzi menyeletuk.
            “Wah, kayaknya kamu harus lepas topimu itu Dindo!”
            Dindo terperanjat kaget. Mana mungkin dia melepas topinya. Sore itu dia tidak membawa tas untuk menyimpan topinya. Temannya pun demikian halnya. Biasanya juga begitu. Kalau mau menang, topi kesayangannya harus terpaksa dilepas sejenak selama pertandingan babak kedua dimulai. 20 menit saja. Dindo masih ragu. Mau ditaruh mana topinya?
            “Topinya cantolin di ranting pohon itu saja. Aman kok. Nggak usah takut hilang!” sahut Firzi lagi setengah mendesak Dindo.
            Bagaimanapun sepak bola adalah kesenangan Dindo juga. Tak pernah kalah sebelumnya. Apakah sore ini harus kalah gara-gara topinya? Dindo akhirnya menuruti nasihat Firzi. Dan babak kedua pun berlangsung dengan seru. Sundulan Dindo tak meleset lagi. Bisa diterima temannya dengan baik dan akhirnya berhasil menjebol gawang lawan. Sedikit mulai gentar lawannya. Pertandingan semakin ramai dan Dindo seolah lupa dengan topinya. Regu Dindo pun akhirnya unggul dengan skor 1-2.
            “Hore! Kita menang!” teriak Firzi mendekap Dindo.
            Dindo tampak gembira juga. Namun, buru-buru dilepaskannya dekapan Dindo. Dia segera bergegas menuju pohon dimana topinya ditaruh di rantingnya. Topi itu tidak ada di tempatnya. Dindo memarahi Firzi. Sore jelang magrib itu berubah warna raut wajah Dindo. Dicarinya topi merah kesayangannya itu di sekitar lapangan. Tak ditemukannya juga. Sambil cemberut dan menggerutu karena tak menemukan topinya, Dindo berjalan kesal menuju rumah.
            “Kok kesal begitu wajahnya? Lho topinya mana?” tanya Bu Riska.
            Dindo tak menjawab. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan bajunya. Dan di sana dia temukan topinya sudah terendam air sabun, siap untuk dicuci.

            “Kak, kebersihan pangkal kesehatan, bukan? Ntar rambut Kakak bau dan penuh kuman lho!” sahut Tiara, adik Dindo ketika kakaknya keluar kamar mandi. 

Minggu, 28 Desember 2014

Majulah, Tan!

           
Radar Bojonegoro, 21 Desember 2014
           Tanti tampak murung. Setiap hari begitu. Di sekolah juga tak ada raut muka bahagia. Di rumah, dia memilih untuk menyendiri di kamar. Ayah dan ibunya sangat khawatir.
            “Sayang, adakah yang membuatmu sedih?” tanya Bu Gina.
            Tanti memilih diam. Sepiring nasi di depannya belum dimakannya juga. Dia tak ingin membuat ibunya juga ikut sedih. Ketika ditanya ibunya sekali lagi, Tanti juga menggelengkan kepala. Lantas dia menuju kamar kembali. Terdengar sesenggukan dari kamarnya. Bu Gina tampak cemas.
            Malam harinya, selesai mengerjakan tugas sekolahnya, Tanti juga langsung ke kamar. Padahal biasanya dia ngobrol dulu bersama ayah dan ibunya. Tak seperti biasanya. Sudah 3 hari ini semenjak dia pindah ke sekolah yang baru.
            Bu Gina mengintip dari balik jendela kamar Tanti. Anaknya semata wayang sudah tertidur. Bu Gina masuk dan tak sengaja membaca buku harian Tanti yang masih terbuka. Ibu yang lembut dan penuh kasih sayang itu pun menangis.
            “Tan, hari ini mau ke sekolah kah?”
            “Iya, Bu!” jawab Tanti kurang bersemangat.
            Tanti pun menyiapkan diri ke sekolah. Dia anak yang rajin dan cerdas. Setiap hari tak pernah terlambat ke sekolah. Semua guru menyayanginya. Namun tidak dengan teman-temannya. Tak ada yang mau berteman dengannya.
            “Tan, nanti kamu mewakili sekolah ya ikut lomba pidato,” pinta wali kelasnya.
            “Saya, Bu?” tanya Tanti ragu.
            Wali kelasnya mengangguk. Nama Tanti juga diumumkan di papan madding sekolah. Teman-temannya di kelas mencibirnya. Tanti yang bibirnya sumbing takkan mampu memikat dewan juri. Dia pun takkan bisa berbicara dengan lancar karena tak percaya diri dengan bibir sumbingnya.
            Olokan itu membuat Tanti menangis. Padahal di sekolah lamanya dia tak pernah diperlakukan begitu. Padahal berbagai perlombaan pidato juga sudah beberapa kali dimenangkannya. Tapi, Tanti kali ini merasa kecil hati.
            “Jangan saya ya, Bu!” jawab Tanti sepulang sekolah kepada wali kelasnya.
            “Kenapa, Tan? Kamu sangat mumpuni di bidang ini. Meski baru masuk 4 hari ini, saya tahu kamu bisa, Tan!”
            Tanti tak kuat bicara. Air matanya meleleh dan dia buru-buru pamit pulang. Sesampainya di rumah, Bu Gina menyambutnya dengan hangat. Dipeluk erat Tanti dan dielus-elus punggungnya sampai Tanti tenang.
            “Tan, ada apakah?”
            Tanti belum menyahut. Lima menit dia juga masih diam. Lantas, ibunya membuka pertanyaan.
            “Kau gelisah dengan bibir sumbingmu, Nak?”
            Tanti terkejut. Bu Gina segera memeluk kembali Tanti. Pelan-pelan anaknya mengangguk. Menceritakan semuanya yang sudah terjadi selama ini di sekolah. Termasuk penunjukkannya mewakili sekolah untuk lomba pidato.
            “Nak, bukankah ini kesempatan baik?”
            “Iya, Bu. Tapi, teman-teman Tanti?”
            “Apakah nanti teman-temanmu akan menjadi jurinya?”
            “Nggak sih.”
            Bu Gina terus menyemangati Tanti. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Tanti bisa tampil dengan baik. Apalagi ini temanya pas sekali. Memaknai Tahun Baru. Peluang bagi Tanti untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
            “Gimana, Tan?” tanya wali kelasnya.
            Tanti menoleh ke ibunya yang sengaja hari itu mengantarnya ke sekolah. Pendaftaran lomba tingga hari itu. Tanti masih tampak ragu. Dia diam. Namun, nasihat ibunya masih terngiang. Tanti memandang kembali ibunya.
            “Majulah, Tan!” sahut Bu Gina.
            “Baiklah, Bu!” sahut Tanti pelan.

            Dan benar, Tanti menjuarai lomba pidato itu. Juri tak melihat bibir sumbingnya. Melainkan puas dengan caranya berpidato.

Rabu, 10 Desember 2014

Kembali Berteman

radar bojonegoro 23 nopember 2014

            Sudah 2 hari Rido dan Deni tidak saling menyapa. Masalahnya sepele sekali. Deni lupa tidak mampir ke rumah Rido ketika berangkat sekolah. Rido marah besar dan tak lagi mau berteman. Biasanya, dua bocah ini memang berjalan kaki bersama-sama ke sekolah. Demikian juga ketika pulangnya.

           Di kelas keduanya saling diam. Deni berusaha mendahului untuk menegur hari ini. Rido tak menyahut, malah memalingkan muka. Ketika ada tugas kelompok, biasanya mereka selalu bersama. Kali ini Rido memilih teman lainnya. Deni sedih karena Rido tak peduli padanya.

            “Deni, Rido mana? Biasanya dia sering belajar ke sini kalau sore ngerjain tugas sama kamu,” tanya ibu Deni. Bu Fifi namaya.
            “Rido marah, Bu, sama Deni. Gara-gara beberapa hari yang lalu Deni tak bisa mampir ke rumahnya berangkat sekolah sama-sama.”
            “Emang kenapa kamu tak mampir, Nak.”
            “Ketika itu di tengah jalan sebelum ke rumah Rido, Deni harus menolong seorang nenek buta yang mau ke tukang sayur. Daripada nyasar Deni tolong. Jalannya kan nggak nglewati rumah Rido.”
            Bu Fifi tersenyum kagum. Perempuan berkacamata itu mengingatkan agar besok tetap menyapa Rido lagi. Deni mengangguk.
            “Aduh!” tiba-tiba Rido berteriak keras sekali. Lalu tangisnya pecah membubarkan pekerjaan teman-temannya yang lain di ruang komputer sekolah.

            Kelas riuh dan ramai. Anak-anak ketakutan melihat yang dialami Rido. Pak guru datang dan melihat kejadiannya. Rido kesetrum. Ketika guru menjelaskan di depan, Rido asyik membaca komik sendiri. Tak sengaja kakinya menyentuh colokan listrik di tembok. Rido kesakitan. Karena kaget dan tak sanggup menahan, tubuh Rido jatuh ke lantai. Tangannya terbentur meja dan memar.

            “Adakah yang mau membantu bapak ambilkan obat salep di UKS untuk memarnya Rido.”
            “Saya mau, Pak! Salep saja?” sahut Deni.
            “Sekalian obat merahnya juga ya. Sepertinya ada yang tergores sedikit tangannya. Ada darahnya.”

            Deni segera menuju UKS. Dibantu petugas UKS, Deni bisa membawa salep dan obat merah buat Rido yang kesetrum baru saja. Deni pun membantu gurunya mengoles salep ke tangan Rido. Tampak serius Deni membantunya. Kaki yang kesetrum sudah diobati Pak guru.

            “Biar saya bantu, Pak, memapah Rido duduk lagi di kursinya,” Deni menawarkan bantuan lagi. Teman-teman yang lain duduk ke tempatnya semula dan mengerjakan tugas pelajaran komputernya. Setelah Rido duduk nyaman, Deni pun duduk di kursinya sendiri.

            Keesokan harinya Rido tak masuk sekolah. Deni tampak sedih. Ketika mampir di rumah Rido, orang tuanya berkata kalau Rido masih sakit kakinya. Sepulang sekolah, Deni mampir lagi. Kali ini Deni menjenguk Rido. Dibawakannya es krim kesukaan Rido yang dia beli dari uang sakunya.

            “Ini buatmu, Rido. Moga kau senang es krimnya.”
            Rido tersenyum bahagia. Tak menyangka Deni begitu baik kepadanya. Deni tak marah meskipun beberapa hari diabaikannya. Rido malu.
            “Aku pulang dulu, ya, Rido! Ntar kalau sudah sembuh kita main sama-sama lagi. Berangkat dan pulang sekolah lagi.”
            “Kamu masih mau ke sekolah bareng aku?” tanya Rido.

            Deni mengacungkan jempolnya. Keduanya tersenyum dan saling berjabatan tangan. Siang itu Rido juga tahu alasan beberapa hari yang lalu Deni tak mampir ke rumahnya. Rido mengerti. Deni bahagia karena teman baiknya sudah mau berteman dengannya lagi.


            Kesetrum membuat Rido sadar. Dia bisa kembali berteman dengan Deni yang telah menolongnya. 

Minggu, 02 November 2014

Menyiapkan Generasi Muslim yang Kuat


            Menilik judul tulisan ini, ada pertanyaan besar di lubuk hati,”Seperti apakah generasi muslim yang kuat? Sudahkah Islam memilikinya?” Memiliki, ya, Islam memilikinya. Tapi itu dulu. Sekarang, potret generasi Islam kian hari ada saja yang kian mengenaskan. Masih segelintir yang mengindikasikan bahwa mereka adalah generasi kuat.

            Kuat berarti tidak lemah. Dan dengan kekuatan ini, kebaikan dan kebenaran bisa langgeng. Islam sebagai sumberkebenaran mengabadi di bumi. Lihat di Gaza Palestina saat ini. Generasi muslim kuat ada di sana. Betapa Islam tetap hidup di bumi penuh darah syuhada itu. Mengapa? Karena muslim di sana tidak lemah. Bagaimana di negeri kita?

            Anak-anak dewasa sebelum umurnya sudah menjadi berita sehari-hari. Bahkan, tatkala Ramadhan kemarin masih banyak yang lebih menyenangi tempat perbelanjaan dibandingkan masjid. Ketika lebaran menyapa, sajadah pun sudah digulung. Al Quran kembali tertutup. Hanya sedikit yang bertahan.

        Lantas, bagaimana menyiapkan generasi muslim yang kuat? Kuat berarti bukan penakut. Tak selayaknya generasi muslim bagai An Numairi. Sosok penakut dan saking takutnya ada anjing yang menyelinap masuk rumahnya pun hebohnya luar biasa. Dia berteriak memanggil orang sekampung, padahal anjing tak berbuat apa-apa di rumahnya. Kemana-mana ada pedang kayu sebagai senjatanya. Bisa berbuat apa dengan pedang kayu? Rasa takut ini rupanya masih bertengger pula dalam hati muslim saat ini. Betapa takut mati, takut kehilangan harta, bahkan takut menjalani masalah hidup, masih mendominasi. Hanya segelintir orang yang mampu menepis rasa ini.

            Generasi muslim kuat berarti harus berani. Sudah selayaknya kita berani berkata,”Ya, saksikan, kami adalah mukmin!” Beriman dengan tingkat tinggi, karena dengan dengan modal inilah kebaikan dan kebenaran Islam bisa tampak nyata. Lihat, betapa sekarang generasi muslim enggan untuk berani. Bahkan untuk sekedar menutup auratnya pun masih sering berkata bahwa mereka belum mendapatkan hidayah. Kasus artis lepas hijab pun menjadi hal yang biasa terjadi. Keberanian itu tersembunyi. Hanya segelintir orang memiliki rasa ini.

            Menjadi muslim, sungguh, tak cukup hanya baik. Namun juga harus kuat. Muslim yang kuat lebih dicintai Allah dibandingkan muslim yang lemah. Contohnya soal menuntut ilmu. Muslim yang bersekolah banyak, dan itu baik. Namun, seberapa sabar dan teguh mereka menekuni ilmu yang didapatnya hingga benar-benar mumpuni? Belajar tekun hanya menjelang ujian. Jika menuai kegagalan frustasi tingkat tinggi bahkan sampai membunuh diri. Muslim yang bekerja banyak dan itu baik. Namun, seberapa kuat mereka bertahan menggeluti pekerjaannya hingga benar-benar professional? Jika mendapati ketidakcocokan mengundurkan diri. Berganti pekerjaan lagi. Alhasil, generasi muslim hanyalah generasi yang setengah-setengah. Tidak totalitas. Generasi muslim merupakan generasi yang gamang. Alih-alih menjadi penggagas temuan baru, yang ada masih pengekor dan hanya bagai buih di lautan.

            Kuat adalah perisai. Bagaimana Islam akan sempurna dipandang sana sini. Namun, merasa sok kuat juga bukan solusi. Sudah merasa ilmunya dan pengikutnya banyak, lantas berhenti lebih memperkuat diri. Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, mentang-mentang sudah memiliki banyak ilmu dan jamaah yang banyak, lupa untuk belajar lagi. Selama beberapa kali, Abu Hanifah tak menjumpainya di majelis ilmu. Abu Yusuf merasa sudah mampu menjadi ulama besar. Maka, sebuah kejadian akhirnya menggugah kesadarannya bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar. Bahkan untuk menjawab pertanyaan seorang jamaahnya yang diutus oleh Abu Hanifah, Abu Yusuf tak berkutik. Abu Yusuf kembali menimba ilmu dari sang guru.


            Kuat butuh konsistensi. Untuk menjadi generasi kuat perlu keistiqomahan. Tidak berhenti di satu titik, namun terus melaju mengejar keunggulan dan keutamaan. Sabar dan tekun adalah kunci. Menyiapkan generasi muslim kuat, selain iman, ada kesungguhan untuk bertahan, mempelajari, memperkuat pondasi, dan terus bertumbuh. Tak ada kata “sudah, cukup sampai di sini”. Bukankah muslim yang baik bagai tanaman yang akarnya menghunjam kuat ke tanah dan terus bertumbuh menjulang tinggi?

*Tulisan ini dimuat di Majalah Bina Qolam Surabaya

Senin, 01 Juli 2013

Bidan Ramah, Ibu Hamil Betah (Tulisanku Masuk Jawa Pos, Gagasan, 24 Juni 2013)


“Ayo sini timbang badan terus rebahan. Duh, sayang posisi kamu sudah bagus banget nih, Ngejan sebentar brojol. Bantu bunda kontraksi ya. Yuk kita pijat sebentar biar tenang,” seorang bidan cantik, ramah mengajak ngobrol janin saya. Saya yang mendengarnya saja terharu. Bahkan sampai menitikkan air mata. Apalagi ketika pijat endorphin, kata-kata positif dari Bu bidan malah menderaskan air mata. Tak cukup sekali, bulan depannya, ketika usia kehamilan sudah hampir 38 minggu saya pun periksa ke bu bidan tersebut. Meski ada kabar buruk tentang kehamilanku, tapi apa yang dilakukan bu bidan bisa menenangkanku kembali. Resep-resep yang dituturkannya tanpa menunggu lama saya lakukan.
Bu bidan ini juga sangat menjaga komunikasi dengan pasien yang datang ke rumahnya. “Ini mbak saya kasih kartu nama saya. Jika ada apa-apa, mau tanya apa saja boleh SMS saya.” Ternyata, menjelang detik-detik HPL (Hari Prediksi Lahir), Bu Bidan dengan senang hati melayani SMS saya, bahkan mencarikan referensi dokter yang enak untuk dimintai pendapat dan tempat melahirkan yang nyaman. Bayangkan saja, meski saya tidak ada rencana melahirkan di bu bidan tersebut, namun perempuan mulia itu tak sakit hati. Bahkan kerjasama yang baik ditunjukkan ketika saya mengalami kegelisahan dikarenakan hasil USG di dua tempat berbeda. Menghibur dan menenangkan hati saya. Lewat SMS. Pernah juga saya konsultasi ke rumah beliau dan saya tidak dipungut biaya sama sekali.

Sungguh, Bu Bidan yang luar biasa. Ramah hingga ibu hamil betah, sebagai refleksi memperingati Hari Bidan Indonesia, 24 Juni.

(aslinya begini, yang di koran sudah diedit sama pihak Jawa Posnya)

Minggu, 16 Juni 2013

Digundul Saja, Bunda!


Anak sulungku ini diam-diam ternyata menyimpan energi kreatif yang luar biasa. Ya, memang kreatif tak harus atraktif. Keramas adalah hal yang paling tidak disukai Qowiyy, anakku ini. Jika diajak untuk keramas sore hari ketika mandi dia selalu menjawab,”Besok pagi saja!” Ketika pagi diingatkan kembali dia pun berujar,”Ntar sore aja!” Oalah, terus kapan keramasnya?
Apalagi sejak suatu Minggu Qowiyy diajak ayahnya potong rambut sampai hampir gundul plontos. Tambah susah keramasnya. Entahlah, anak laki-lakiku ini takut sekali untuk keramas. Padahal anaknya doyan main air, tapi kalau urusan keramas, aku dan suami harus ekstra keras merayunya dengan lembut agar rambutnya tak apek dan bau. Eh, ketika kepalanya gundul tak ada rambutnya, malah lebih susah.
Begini katanya. “Bunda, enak gundul Mas Qowiyynya!” katanya senang. “Emang kenapa kalau gundul?” tanyaku heran. “Enak, biar nggak usah keramas. Kan nggak ada rambutnya.” Aku tertawa terpingkal-pingkal. Tak menyangka anakku yang berusia 3 tahun ini menjawab seperti itu. Ada-ada saja. Tapi aku bangga. Anakku kreatif menyelesaikan masalahnya soal keramas.
Tapi, ini tetap masalah bagiku tentunya. Akhirnya, dia aku ajari senam ketika mau keramas. Ya, senamnya dengan kata-kata “diam, merem, menunduk” terus diikuti gerakan. Aku contohkan sih, Qowiyy mengikuti. Ketika sudah menunduk aku guyur rambutnya dengan air. Qowiyy jadi tahu bahwa dengan menunduk dan mata tertutup ditambah diam, air akan tetap mengucur ke bawah, tidak membuat matanya perih dan mulutnya minum air. Keramas kini tak menakutkan lagi meski terkadang masih enggan Qowiyy melakukannya.

Dia tetap saja berkata,”Bunda digundul saja kepalanya, biar nggak keramas lagi!” Qowiyy, Qowiyy lucu sekali sih …

(Ini tulisan aslinya, yang dimuat sudah dimuat sama redaksinya ...)