Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2015

MOMOGI

Garnier Duo Clean
Kamis sore yang melelahkan. Nyetir motor ngebut di atas jalanan yang becek. Belum lagi sampai di perempatan lampu merah menyala cukup lama. Wuih, nggak tahan bau asap motor dan asap mobil dimana-mana. Apalagi saya risih jika pakai helm harus diturunkan penutup wajahnya. 

Pulangnya, tak jauh beda. Bahkan saya kehujanan. Iseng mampir penjual tempe penyet untuk pakai jas hujan. Malu dong nggak beli. Akhirnya saya meminta abang penjualnya untuk membuatkan saya 1 porsi penyetan untuk dibawa pulang. Kembali bau asap dari kompor menyapu wajah ini. Hujan masih deras, dan wajah ini tertampar air hujan berkali-kali.

Merasa sudah sangat lelah sampai di rumah, dan ingat kalau sore hari tadi sudah mandi, maka tak ada mandi kedua. Saya cuci kaki dan langsung menuju kamar. Tepar, tidur melingkar. Tak ingat yang lainnya. Namun, semakin malam semakin gerah. Maklum, saya tak tahan kalau harus menyalakan kipas angin atau AC.

Tengah malam terjaga. O, o, ada yang tak enak rasanya. Wajah rasanya kusam. Saya sentuh terasa licin. Lalu saya mencari Garnier Duo Clean yang sudah saya beli sebelumnya dan memakainya. Wow, segarnya! Lembabnya juga terasa. Adem! Trus, harum apelnya itu lho! Sampai saya menulis setengah jam juga tak hilang-hilang. Kesat dan ringan! Ehm, jadi ingin memakai lagi dan lagi.




Selasa, 14 Oktober 2014

Banjirnya Kecil, Hikmahnya Besar

               
Ketika air hujan membanjiri rumah, Qowiyy sebesar ini
              Kehadiran Qowiyy dalam rumah tangga saya memang memberi kebahagiaan. Namun, dibalik semua itu ada kesedihan yang mendalam juga saya rasakan. Ketika Qowiyy berusia 3 bulan terpaksa harus berpisah dengan ayahnya. Ayahnya ke Depok menjalani pekerjaan baru sebagai PNS. Mau nyusul, tapi harus nunggu cukup uang sakunya ke sana. Suami belum digaji. Banting tulang dengan mengisi training sana sisi, syukurlah saya dan Qowiyy akhirnya bisa sampai di Depok.

                Selama 3 bulan Qowiyy tak mendengarkan dongeng dan kidung dari ayahnya. Sebenarnya inilah yang membuat saya sedih. Dan tambah sedih lagi,ketika sampai di Depok, terdengar kabar bahwa suami harus prajab selama 2 minggu. Kondisi kontrakan itu sangat tidak menyenangkan. Setiap hari aku tutup jendela dan tirainya karena di depan kontrakan sering ada anak muda mabuk-mabukan. Dan tiap hari pula aku setel murottal kenceng-kenceng. Belum lagi sebelah kontrakan tepat suka banget nyetel musik keras-keras. Saingan deh!

                Dua minggu itu berjalan sangat lambat dan lama. Dan yang pasti repot sendiri, meski tak serepot sekarang. Bermain sendiri bersama Qowiyy di rumah. Bete karena tak ada kegiatan luar yang bisa membuat waktu berjalan cepat. Selain itu juga ngeri. Belakang kontrakan banyak pohon bambu dan sungai Ciliwung. Saat itu musim penghujan. Kalau angin kencang mengerikan. Berdua sama Qowiyy di kamar dari jelang ashar sampai subuh tiba. Kalau saya mau mandi, Qowiyy yang sudah bisa guling-guling itu dipagari dua bantal.

                Hingga hujan deras itu menyapa malam-malam. Aliran sungai Ciliwung terdengar deras. Saya memeluk Qowiyy biar hangat. Malam terakhir menanti ayahnya pulang keesokan harinya. Tak sabar rasanya malam berlalu dan kami bersama mendidik dan mengasuh Qowiyy. Namun, malam itu benar-benar menguras tenaga saya. Untung, saya membuka pintu kamar dan hendak ke kamar mandi. Air sudah mengalir ke dalam rumah dari pintu belakang. Saya buru-buru mengamankan barang-barang di kamar. Khawatir banjir. Maklum belum punya almari. Semua baju ada di kardus dan semuanya ditaruh di lantai. Saya angkat kardus-kardus itu ke kasur cepat-cepat. Keringat mulai berkucuran. Air semakin mendekati kamar. Qowiyy terbangun dan menangis. Tapi isi rumah juga harus diselamatkan.

                Saya hampir putus asa. Air sudah masuk ke kamar dan ruang tamu. Saya tak tahu bagaimana menghentikan laju air dan banyaknya. Untunglah saya ingat sesuatu. Ya! Lubang air di teras belakang. Saya lupa telah menutupnya dengan ember berisi air karena sorenya keluar tikus besar dari lubang itu dan berkeliaran di dalam rumah. Hi! Ngeri dan menjijikkan.

                Seketika saya menuju teras belakang yang gelap. Saya angkat embernya. Qowiyy meronta-ronta saya biarkan saja. Saya pun langsung membersihkan air yang sudah terlanjur masuk ke dalam rumah. Memeras kain pel sampai berkali sambil terus menghibur Qowiyy yang masih menangis. Ada sekitar 1 jam lebih saya membersihkan rumah. Benar-benar tak bisa meninggalkan si kecil khawatir kotornya rumah malah jadi biang penyakit. Keringat menetes di mana-mana. Baju sudah ikut basah. Air mata pun takkuasa dibendung. Saya menangis. Berharap suami bisa pulang malam itu juga.

                Pukul 22.00 rumah sudah bersih. Saya lihat Qowiyy dia rupanya tertidur sendiri. Dia lelah menangis. Saya pandangi wajahnya tambah membuat saya tak bisa memejamkan mata walaupun sebenarnya saya juga sangat lelah. Saya merenungi kejadian yang baru saja terjadi. Betapa semuanya indah. Menjadi ibu 2 minggu tanpa suami mendidik dan mengasuh anak memang melelahkan. Namun, bahagianya lebih besar. Berjuang yang terbaik untuk anak ketika sendirian makin menyadarkan diri betapa beruntungnya bisa menjadi ibu. Sekaligus mengajarkan kepada anak begitulah hidup sesungguhnya. Ya, bersyukur dengan keadaan yang ada. Untung ya bukan banjir betulan yang besar! 

Selasa, 23 September 2014

Segelas Teh, Tanda Tangan, Mulut Fasih, dan Kebanjiran

                
SMA Negeri 1 Kediri tampak dari depan
        Guru seperti ini yang senantiasa dinanti oleh siswa-siswanya. Faktanya, setiap hari raya Idul Fitri banyak sekali alumni SMA Negeri 1 Kediri tempatku belajar dulu senantiasa berkunjung ke rumah beliau. Guru yang hebat. Guru yang menggunakan hati dalam setiap aktivitasnya. Tidak hanya mengajar, namun memang seperti orang tua kedua. Ingat bangetlah ketika itu pelajaran Kimia, aku tak berkonsentrasi menyimak pelajarannya. Beliau rupanya memperhatikanku sejak mula pelajaran dimulai. Lantas, beliau mendekati. Dengan terpaksa aku pun mengaku bahwa perutku sakit sekali. Wajahku tampak pucat menahan sakit. Diajaknya aku ke kantin sekolah, tempat yang paling jarang aku datangi karena aku tak pernah bawa uang saku. Siswa yang lain sudah diberi tugas. Dibelikannya segelas teh pahit hangat dan memintaku untuk meminumnya.

“Minum, Nak! Biar legaan perutnya.”

Setelah itu kami kembali ke kelas. Aku berkeringat, namun letak meja kursiku dekat pintu kelas dan jendela membuat keringat menguap. Sedikit lega. Perutku tak sakit lagi. Sungguh, sampai sekarang aku juga tak mengerti apa khasiat segelas teh hangat dengan sakit perutku saat itu. Tapi kenangan ini begitu membekas di hatiku. Bu Endang mau membantuku menghilangkan sakitku.

Selain beliau masih ada 2 guru terbaik di SMA Negeri 1 Kediri. Bu Titik, guru fisika, orang yang sangat humoris. Fisika jadi tidak sulit. Beliau tak pernah mengadakan ulangan, namun di setiap akhir pembelajarannya, beliau selalu memberikan 3-5 soal tentang materi itu. Setiap soal dikerjakan cepat-cepatan untuk diperiksa oleh beliau. Yang berhasil pertama kali dan benar akan mendapatkan tanda tangannya. Selama sepekan yang berhasil mendapatkan tanda tangan terbanyak akan mendapatkan hadiah. Apa?

“Wuih, jempol kamu. Luar biasa!”

Hanya itu. Tapi sungguh lebih terasa semangatnya di hati, meski aku hanya merasakan sekali. Maklum, ada yang lebih jago di kelas kalau soal Fisika.

Satu lagi, beliau seorang guru agama. Laki-laki yang lucu karena mulut beliau itu fasih kalau ngomong. Karenanya pula masjid sekolah juga ramai dikunjungi siswa. Banyak cerita kehidupan yang beliau ketengahkan manakala mengajar. Tak perlu bawa buku atau ngobrolin dalil. Keren deh pokoknya!

Guru memang faktor utama keberhasilan pendidikan di sekolah. 60% kesuksesan sekolah berada pada pundak guru. Bukan melulu soal pandai mengajar, namun juga bisa membangun kedekatan dengan siswanya. Guru yang kreatif dan peduli pendidikan juga akan menanamkan karakter kerja keras dan pantang menyerah pada siswanya. Peristiwa banjir itu tak mudah kulupakan. Biasa, kalau hujan turun lebat dan terus-terusan, SMA Negeri 1 Kediri selalu banjir. Lapangan belakang yang biasa dipakai olahraga dan upacara dulunya adalah rawa. Masih banyak lahannya yang belum terjamah dan diapa-apakan. Kalau banjir airnya meluap sampai ke kelas-kelas dan sekolah bagian depan. Namun, sekolah tak meliburkan lho! Guru-gurunya bersama perangkat yang lain memasang papan kayu panjang dari pintu gerbang menuju kelas-kelas. Karena kelas kotor, bahkan ada ikan yang nyasar, guru dan siswa sama-sama membersihkan. Pelajaran tidak disampaikan secara formal seperti biasanya. Dari peristiwa kebanjiran, paling tidak aku dan teman lainnya paham, yang kotor harus dibersihkan, bersama-sama lebih enak daripada sendirian, untuk mendapatkan sesuatu harus segera dimulai. Tidak boleh ditunda. Tak mungkin bukan aku dan teman-teman menunggu kelas bersih sendiri untuk bisa belajar nyaman? Pelajaran yang sangat berharga. Aku tak salah pilih ketika dulu masuk ke SMA ini selain karena ada beasiswa unggulan saat itu.

Aku cukup lama tak pernah dengar kabar SMA Negeri 1 Kediri seperti apa. Terakhir bulan Juni 2014 kemarin dengar seseorang berkata seperti ini.

“SMA 1 sekarang bagus lho! Paling bagus malahan!”

SMA Negeri 1 Kediri sekarang sudah free wi-fi

Wow! Kira-kira bagusnya karena apa ya? Aku sendiri juga tidak melanjutkan obrolan itu lebih dalam. Namun, sebagai orang yang pernah bersekolah dan nanti juga akan menyekolahkan anak, aku punyalah sekolah impian yang kuidam-idamkan. Kayak gini nih..

Memang sih, garda utama tetap pada guru. Bahkan sampai tutur kata guru juga harus diperhatikan. Bukankah dari ucapan akan turun ke pikiran? Ucapan juga menentukan masa depan. Bahaya banget kalau guru suka ceplas-ceplos ngomong yang tak karuan. Kualitas mengajar dengan memperhatikan gaya belajar anak serta kompetensi keilmuwannya juga tak lagi diragukan.

Sekolah impian versi aku juga sebaiknya ada perpustakaan yang lengkap. Koleksi bukunya memungkinkan guru, siswa, dan elemen sekolah lainnya selalu bisa dengan cepat membaca dan membuat ringkasannya. Sekolah memang mengadakan program guru  dan siswa wajib baca buku. Kebayang kan apa jadinya jika semua elemen sekolah gila buku? Akan ada peradaban besar terjadi!

Tak ketinggalan, aku tuh ingin banget ada sekolah yang ketika mendirikannya juga melalui proses amdal. Tak harus yang muluk-muluk, minimal tentang pengelolaan sampah di sekolah bisa tertangani dengan baik juga. Atau tetap menyediakan saluran air yang lancar sehingga tak ada bau menyengat dari kamar mandi atau tempat lainnya. Kebersihan tak boleh disepelekan mau sekolah yang bentuknya ruang kelas, saung di pelataran, atau berbasis alam sekalipun.

Terakhir, apa ya? Oh ya, meski butuh proses yang sangat panjang, karakter positif siswa harus bisa terbentuk juga di sekolah. Kerjasama yang baik dengan orang tua akan memudahkan proses ini. Zaman semakin menggila sekarang, butuh perisai yang kuat untuk bisa menghadapinya. Guru tak cukup mengajar dalam taraf kognitif saja, namun memasukkan nilai moral dalam setiap ucapan dan tindakannya. Terintegralisasi. Nilai suatu bangsa ada pada nilai moral dan akhlak warganya. Sekolah turut andil dalam membangun nilai bangsa.

Dimana bisa mengetahui semua kriteria itu? Sekolah yang bagus mestinya punya Quality Assurance (QA). Terpajang di setiap pojok sekolah sebagai landasang berpijak semua elemen sekolah. Lihat  QA semangat muncul untuk mencapai apa yang tertera di dalamnya. Sekolah bagus harus mampu memberi jaminan kepada orang tua. Kalau milih sekolah, aku pasti lihat yang ini dulu.


                Segelas teh, tanda tangan, mulut fasih, dan kebanjiran telah mengajariku. Apa arti sekolah, apa makna kehidupan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away Sekolah Impian





Senin, 21 Oktober 2013

Kecil-kecil Sudah Jadi Pemimpin, Apalagi Nanti

Inilah Qowiyy ... sang pemimpin sekarang dan nanti

Pemimpin itu visioner. Paling tidak ini yang saya pahami dari seorang kepala sekolah yang pernah saya kenal. Beliau berkata,”Tahun pertama kepemimpinan saya harus ada siswa yang lulus dengan nilai matematika 10.” Abdullah Gymnastiar menegaskan pula bahwa visioner itu memiliki strategi yang tepat, dapat membaca potensi dan menyinergikannya serta mampu memotivasi. Bagaimana agar anak saya, Qowiyy dipanggilnya bisa berjiwa demikian? Ini dia yang selama ini saya lakukan.
“Mas, habis mandi sore ngapain?”
“Baca Quranlah, terus baca buku.”
“Kenapa suka baca Quran dan baca buku?”
“Kan Qowiyy bisa. Qowiyy suka baca buku.”
“Biar bisa apa lakukan itu?”
“Masuk surga lah! Biar dapat bintang dari bunda juga.”
O, o. Qowiyy visioner. Dia tahu kesukaannya dan dia tahu mengapa dia melakukan hal itu. Selamat, Nak!

Lalu, pemimpin itu kreatif dan inovatif. Kehidupan dunia yang semakin menggila dan global menuntut seorang pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah secara kreatif dan cara yang tak terduga. Tidak stagnan, senantiasa berpikir dan berpikir. Sesungguhnya, secara fitrah, anak itu kreatif dan inovatif. Sejak kecil dia sudah layak disebut pemimpin. Tugas orang tua hanya mengarahkan dan membimbingnya. Tips saya sederhana, biarkan anak bereskplorasi dengan bebas. Ketika mewarnai sebuah bunga dengan mahkota yang banyak saya membiarkan Qowiyy memilih warnanya dengan bebas. Alhasil terciptalah bunga sapta warna. Saya acungi jempol dan Qowiyy tersenyum bahagia.

Ehm, apalagi ya? Oh ya, pemimpin itu mudah beradaptasi. Maksudnya tidak hanya bisa bergaul saja lho, namun bisa menempatkan diri. Jika salah mau diluruskan, jika benar haknya untuk diikuti. Sebuah percakapan Qowiyy dengan adiknya berikut ini membuat saya bangga.
“Adik, nggak boleh mandi sama-sama. Harus antri Adik! Mas Qowiyy dulu. Malu!”
“Kenapa Mas?” tanya saya.
“Kan bunda mandinya juga sendiri. Kan adik perempuan, nggak baik mandi sama-sama.”
He,he. Benar juga. Namun, suatu hari ketika saya memandikan adiknya yang masih setahun usianya, Qowiyy tiba-tiba ikutan masuk di kamar mandi. “Mas Qowiyy!” sapa saya dengan nada melenggang. “Harus antri ya Bunda?” Keren, bukan?

Selanjutnya, pemimpin itu memiliki kecerdasan intrapersonal yang tinggi. “Mintalah fatwa pada dirimu sendiri”. Kata bijak dari sang nabi ini yang selalu menginspirasi. Dan ini pula yang saya stimulus terus terhadap Qowiyy. Saya suguhkan kisah menarik ini, pengalaman saya menumbuhkan kecerdasan ini.
“Bunda, ntar kalau ikut bunda ngajar ibu-ibu Mas Qowiyy boleh nggak mainan gelas?”
“Ehm, gimana lho?” saya balik bertanya.
“Nggak boleh ya, ntar bisa-bisa gelasnya pecah. Ntar lantainya kotor karena kena air yang tumpah.”
Saya tersenyum dan berkata,”Hebat Nak!”
“Boleh nggak Mas Qowiyy main puzzle?”
“Ehm, gimana lho?”
“Boleh lah, kan biar pinter. Ntar mainnya sama-sama adik ya.”
Qowiyy bisa memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain karena dia terbiasa meminta fatwa pada dirinya sendiri.

Tentu, usaha saya agar ciri-ciri pemimpin yang sudah ada pada diri Qowiyy terus berlanjut sampai nanti harus senantiasa saya pupuk. Pemberian kasih sayang yang tepat, dukungan doa yang tiada henti, serta seperangkat nutrisi yang mampu menjaga fisik dan akalnya senantiasa dalam kondisi ready. Lucu jika pemimpin gampang sakit-sakitan. Aneh jika seorang pemimpin juga berotak “dodol”. Pemberian makanan yang sehat selalu menjadi perhatian saya. Sayur dan buah harus senantiasa menjadi menu hariannya. Bagaimana dengan asupan akal? Memasukkannya di sekolah yang bagus serta merangsang otaknya dengan permainan edukatif di rumah juga tak luput dari keseharian saya mendampingi Qowiyy, bocah 3 tahun 8 bulan ini, menjalani hari-hari.

Kini, Qowiyy sudah bisa menjadi seorang pemimpin, apalagi nanti. Optimis itu sebuah kemestian. 

Sabtu, 14 September 2013

Dapat THR Bawang Merah

Aku sudah siap-siap pulang kampung jelang lebaran 2011 meski tinggal beberapa hari. Aku bersihkan kulkas dan sebisa mungkin tidak ada bumbu dapur apa pun yang tersisa hingga akhirnya busuk selama aku tinggal pulang kampung.
Tapi, tiba-tiba sore itu suami pulang membawa sesuatu sekantong plastik besar. Sambil senyum-senyum suami berkata,”Jangan kaget ya, ini THR ayah dari kantor!”
Bayanganku langsung tertuju pada sebotol sirup, minyak goreng 1 liter, sekaleng biskuit merk terkenal, dan bla-bla-bla. Asyik, lumayan untuk persediaan. Dan ternyata setelah saya buka, kaget yang saya rasakan.
“Kok?”
“Iya, itu hasil panen bawang merah dari daerah Brebes. Harga lagi turun, trus dibeli sama Pak Menteri,” jelas suami.
“Kok dikasihkan ke ayah?”
“Iya, katanya ini THR nya untuk lebaran.”
THR? Aku geleng-geleng kepala. Kalau diberi bawang merah begini banyaknya, kapan habisnya? Apalagi ini mau pulang kampung, bakal busuk ketika balik lagi ke Depok.
Aku tatap kembali bawang merah itu. Masih ada daun dan tangkainya ditambah tanah coklat yang menempel di sekujur tubuh bawang merah. Kotor.
“Kasihkan saja ke tetangga, cukup itu untuk 6 keluarga,” imbau suami.
“Iya ini mau dikasihkan, tapi kok yo kotor gini. Bersihinnya itu lho yang males!”
Tapi, bagaimana lagi. Nasib bawang merah harus segera diselamatkan. Baiklah! Aku pun akhirnya membersihkan bawang merah yang banyak itu lalu kubagi ke 6 tetangga.
THR saat itu tak bisa kunikmati secara fisik, tapi kunikmati secara psikis. Tetangga-tetangga senang sekali menerima bawang merah dari THR suamiku.

"Mana matanya Dik?" Hiks, asyiknya membuat mata, hidung, dan mulut dari bawang merah untuk mngenalkan anggota tubuh ke anak.

Tulisan ini diikutkan dalam "Give Away Aku dan Pohon".

Sekilas tentang bawang merah:
Bawang merah, atau nama ilmiahnya Allium Cepa, memang selalu hadir di keseharian hidup manusi di dunia. Memasak tanpa bawang merah rasanya kurang lengkap dan hambar. Bisa diuleg, diiris ketika digunakan untuk menambah aroma masakan. Terkadang juga sering kita jumpai bawang merah dalam keadaan diiris halus dan digoreng. Bawang merah goreng. Dicemplungkan ke sayur sop, enak rasanya.
Yang biasa digunakan sebagai bumbu masak biasanya bagian umbinya, namun beberapa kuliner bisa juga menggunakan daun dan tangkai bunganya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bawang_merah)

Sabtu, 24 Agustus 2013

Sama Saja Kok, Oyong Itu Ya Gambas!

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Masih ingat kan makna peribahasa ini? Wah, malu sendiri jika saya mengingat peristiwa ini.
“Bu, beli gambas dong!” pinta saya kepada tukang sayur di minggu kedua kepindahan saya dari Kediri ke Depok.
“Gambas itu apa teh?” ibu tukang sayur kebingungan.
“Itu lho Bu, yang biasa disayur bening. Panjang, kulitnya warnanya hijau dan tebal. Ada bijinya.”
“Aduh yang mana ya? Teteh bukan dari Depok asli ya?”
Ketahuan deh! Padahal sudah diingatkan suami berkali-kali kalau ngobrol sama orang Depok pakai bahasa Indonesia saja. Tapi jujur, saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya “gambas” yang ingin saya beli.
Saya tersenyum. Mata saya juga melihat satu per satu sayur yang dijual si ibu tukang sayur.
“Itu lho Bu gambas!” saya setengah berteriak menunjuk gambas.
“Oalah, itu namanya oyong. Bukan gambas.”
Saya tersenyum lagi. Setelah mendapatkan gambas saya berlalu pergi. Malu setengah mati karena saya nggak ngerti kalau di Depok gambas disebut oyong. Peristiwa itu cukup sekali terjadi. Selanjutnya, ketika saya belanja lagi, saya sudah bisa meminta kepada ibu tukang sayur,”Bu, tolong oyongnya dong!” Tak ketahuan lagi kalau saya bukan orang Depok asli. Kok bisa? Lha wong saya belanjanya di ibu tukang sayur yang lain lagi. Hiks, malu belanja lagidi ibu tukang sayur yang sebelumnya.
Dan, gara-gara ajang Give Away ini, saya jadi tahu ketika mencari tahu apa itu oyong, search di Wikipedia Indonesia, malah yang keluar judulnya adalah Gambas. He, he, he. Oalah! Masih berlakukah peribahasa tadi?

"Ini oyong Nak. Bisa juga disebut gambas."
Tulisan ini diikutkan dalam "Give Away Aku dan Pohon"

Sekilas tentang oyong:
Oyong atau gambas merupakan tanaman yang biasa dipanen buahnya ketika masih muda. Biasanya memang diolah menjadi sayur. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gambas)
Oyong atau gambas, nama ilmiahnya adalah Luffa acutangula, juga bisa digunakan sebagai antidiabetes. Jadi bagi Anda penderita diabetes, konsumsi oyong atau gambas aman bagi Anda.

Rabu, 14 Agustus 2013

SPK Pertama

“Ayah, bunda baru saja dapat SPK dari penerbit. Isinya tentang royalty yang akan bunda dapatkan jika setuju naskah buku bunda diterbitkan. Gimana nih?” sms Nuri kepada suaminya.
“Emang nominalnya berapa? Sistem royaltinya gimana?” balas Ridwan.
“2 juta rupiah. Beli putus lagi. Gimana? SPK harus segera dibalas.”
Ridwan ternyata keberatan jika naskah istrinya hanya dibayar segitu. Padahal dia tahu untuk mengerjakan naskah tersebut jalan yang ditempuh istrinya lumayan butuh tenaga. Malam-malam melembur untuk mengerjakannya.Menahan kantuk, meminta tolong tetangga untuk membantu membuatkan alat peraganya.
“Coba lobi pihak penerbitnya bisa tidak harganya dinaikkan!” balas Ridwan lagi.
Nuri pun mencobanya. Alhasil, malah dia kena semprot pihak redaksi penerbitnya. Yang katanya dia penulis amatiran, yang katanya dia belum tahu dunia kepenulisan. Ada kecewa dalam benaknya.
“Lihat nih, gara-gara ayah, bunda diolok-olok kayak begini. Padahal bunda kan nanyanya dah baik-baik.”
“Ya udah sekarang enaknya bagaimana? Coba tanya teman bunda yang sudah berkali-kali bukunya diterbitkan, mungkin ada solusi.”
Akhirnya Nuri menghubungi temannya yang penulis juga. Lewat SMS juga karena ada jarak yang memisahkan mereka. Temannya memberi saran agar SPK tersebut diterima saja.
“Sebagai langkah awal, Mbak. InsyaAllah ke depannya Mbak akan produktif. Seneng lho buku bisa terbit itu, karena nembus penerbit itu susah-susah gampang.”
“Iya sih Mbak. Dulu niat awalnya juga memang agar buku saya yang bisa terbit ini bisa bermanfaat. Bisa menginspirasi. Bukan untuk mengejar materi.”
SPK balasan sudah dilayangkan kembali oleh Nuri. Uang royalty juga sudah dia dapatkan dari penerbit. Syukur yang tak terhingga dia panjatkan kepada Allah sebesar-besarnya. Dia tak peduli berapa eksemplar bukunya sudah laku. Nuri hanya berharap bukunya bisa membawa kebaikan kepada orang lain.
“Mbak, saya Desi. Mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah, saya suka sekali dengan buku yang ditulis oleh Mbak Nuri. Sangat membantu skripsi saya. Bisa tanya-tanya lagi tentang isi buku itu Mbak?”
Air mata Nuri langsung pecah. Ya Allah, sebegitunya? Bahagia tumpah ruah mengisi rongga dadanya. Tak bisa berkata-kata. Minggu sore itu benar-benar dia merasakan syukur yang memuncak tiada tara. Dia layani SMS mahasiswa itu dengan senang hati. Ya Allah, benarkah? Seakan Nuri tak percaya. Apalagi di kesempatan lain dia pun pernah mendapatkan SMS yang serupa.
“Siang Mbak. Saya penggemar buku yang ditulis oleh mbak. Adakah versi lain untuk bisa diterapkan di bidang saya?”
Oh, syukur itu kembali menyeruak. Belum lagi teman Nuri yang ada di pulau lain juga minta dikirimi buku tersebut karena di daerahnya, di toko bukunya tak ditemukan buku tersebut.
“Ayah, bunda senang kok buku bunda bisa terbit. Biar bisa menyemangati bunda.”
Ridwan tersenyum. Motivasi yang tinggi pun diberikannya kepada istri tercinta agar ketertarikannya di dunia menulis bisa terus berlanjut dan membawa berkah.
***
Ridwan sedang di luar kota. Nuri selepas mengantar anak sulungnya ke sekolah dan menitipkan adiknya ke tetangga segera meluncur ke stasiun menuju Jakarta. Ada acara yang harus dia ikuti sampai dhuhur tiba. Di tengah-tengah acara Nuri juga nampak sibuk mengontrol anaknya yang diasuh tetangga dan si sulung apakah sudah dijemput atau belum. Pikirannya tak tenang, namun Nuri tetap berkonsentrasi dengan acara yang diikutinya. Lemper, kue sus, aneka kue lainnya tak menarik baginya untuk diincipi. Nuri tak sabar menunggu pengumuman lomba nulis yang diikuti.
“Pemenang kedua dari lomba ini adalah ….,” si MC sengaja membuat jantung lebih berdebar. Dia tidak melanjutkan perkataannya, malah mengatakan bahwa hadiahnya untuk pemenang kedua adalah sebuah gadget senilai 4 juta.
“Ya Allah, alhamdulillah, aku menang juara 2,” Nuri kaget setelah akhirnya namanya disebut. Dia pun langsung mengirim SMS suaminya yang ada di luar kota. Pulang dengan membawa rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan kata-kata.
“Aku akan terus menulis. Lagi dan lagi. Mau dapat uang atau tidak aku tak peduli. Hidup terasa lebih aku nikmati dengan menulis. Moga bermanfaat dan menjadikan pembacanya, termasuk aku yang menulisnya agar lebih baik lagi. Ya Allah, bantu hamba-Mu ini,” doa Nuri.
“Amin! Tapi jangan lupakan aku ya!” tiba-tiba Ridwan muncul di balik kamar. Nuri tersenyum renyah menatap suaminya tercinta.
“Emang kenapa?”
“Kalau sudah nulis susah dibendung.”
Tawa kecil keluar dari mulut Nuri. Ridwan juga nampak bercanda rupanya. Toh, sejak awal menikah Ridwan memang tak pernah melarang Nuri melakukan kesenangannya, asal tak sia-sia. Di dunia dan di akhirat tentunya.
“Semua gara-gara SPK pertama itu, Ayah. Bunda bersyukur banget. Dan ternyata Allah memberikan lebih setelahnya. Bunda jadi bergairah menulis lagi,” Nuri berkata ketika sedang berduaan dengan suaminya di kamar.
“Iya. Siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Tapi bunda harus menjadikan pengalaman sebagai media belajar.”
“Ok!”

Malam semakin gelap. Nuri dan Ridwan akhirnya juga terlelap. Nyamuk-nyamuk malam siap melebarkan sayap. 


Senin, 12 Agustus 2013

Kolak Blonceng? Aneh!

Semua karena kebiasaan. Orang yang terbiasa ngopi tiap pagi sambil baca koran akan terasa aneh jika suatu pagi tak melakukan itu. Bahkan ketika ternyata kopinya habis dibela-belain membelinya meski warung belum buka. Orang yang terbiasa nulis dengan cara kidal juga akan terasa janggal jika tiba-tiba dia disuruh untuk menulis dengan tangan kanan.

Ini tentang kisahku dengan si blonceng. Sejak kecil hingga aku menikah blonceng selalu saja aku santap dalam bentuk sayur.Dihidangkan bersama bayam. Ehm, segarnya. Jadi kangen nih sama blonceng. Namun, di Depok nggak ada yang jual blonceng. Mau nyari sampai ke pasar dan swalayan juga tidak saya temukan tanaman merambat ini.

Ah, bukan. Bukan ini masalahnya. Semenjak peristiwa itu saya tak ingin makan blonceng lagi. Meski ada kangen yang mendera untuk melahapnya.

“Nih, coba rasain!” suami saya menawari semangkuk minuman seperti kolak namun tanpa santan dan berisi sesuatu.
“Apa ini?” tanya saya sambil menunjuk isi mangkuk itu.
“Ini namanya kenthi.”
“Kok kayak blonceng sih?”
“Blonceng?” suami heran karena di daerahnya Lamongan blonceng biasa disebut dengan nama kenthi.
Saya pun mencobanya sedikit. Benar, itu blonceng. Manis sih, tapi karena dalam benak saya blonceng itu dibuat sayuran, saya tak ingin melanjutkan minum kolak blonceng itu. Aneh.
“Gimana? Enak kan?”
“Hi…blonceng kok dibuat minuman kolak kayak gini. Ini mah biasanya dibuat sayur sama bayam. Ayah saja ah yang nerusin habisin minuman ini!”
“Walah, kan dah dibuatin emak.”
“Ogah ah, aneh rasanya.”

Akhirnya, minuman kolak dengan isi irisan kenthi itu, eh blonceng itu dihabiskan suami saya. Sejak saat itu saya enggan makan blonceng meski dimasak sayur dengan bayam ketika pulang kampung ke Kediri. Peristiwa itu masih terngiang.

Blonceng oleh-oleh dari Lamongan

Mau disayur atau dibuat kolak ya? Ehm, dikasihkan ibu saja deh! 

Tulisan ini diikutkan dalam "Give Away Aku dan Pohon"


Sekilas tentang blonceng:
Blonceng atau lebih dikenal dengan nama Labu air memang selama ini sering diolah menjadi sayuran. Apalagi jika bloncengnya masih muda. Bentuknya ada yang seperti labu ukur di laboratorium, ada juga yang lonjong memanjang. (http://id.wikipedia.org/wiki/Labu_air)

Ada yang menyamakan blonceng dengan beligo/kundur. Keduanya memang berasal dari ordo dan family yang sama, namun genus keduanya berbeda. Blonceng dikenal dengan nama ilmiah Lagenaria siceraria, sedang beligo dikenal dengan nama ilmiah Benincasa hispida. (http://id.wikipedia.org/wiki/Beligo)

Senin, 01 Juli 2013

Giginya Bukan Tinggal Dua

“Giginya tinggal dua!” sang cucu selesai bernyanyi lagu burung kakak tua.
“Enak aja, kalau nyanyi jangan ngawur, Nduk!” sahut sang nenek.
“Kan emang begitu lagunya, Nek. Ibu yang ngajari gitu! Bu guru di TK juga begitu!”
“Coba sini Nduk, hitung gigi nenek sekarang, ada berapa coba!” tantang si nenek.

Sang cucu mendekat perlahan. Dia terpingkal-pingkal karena ternyata gigi neneknya malah tinggal satu saja.

Minggu, 16 Juni 2013

Tiga Puluh Tiga Ribu Rupiah, Lebih Murah!

Asap mengepul ke mana-mana. Banyak laki-laki di sekitarku. Yang perempuan juga banyak. Nada kecewa dan jengkel nampak di raut wajah dan omongan mereka. Satu jam lewat belum ada tanda-tanda dimulainya acara yang baru pertama kali ini aku mengikutinya.
“Ya Allah aku hanya ingin menjadi warga yang bertanggung jawab saja. Tapi kok ya lama amat nih. Mana perut lagi buncit, anak yang sulung dititipin ke tetangga lagi,” gerutuku ketika pusing kepala sudah mendera.
Andai! Andai Sabtu itu aku tak buru-buru. Ah, mengapa harus begitu? Lampu motor tak nyala memang kelupaan kok tak dinyalakan. Pantas saja, akhirnya Pak Polisi melambaikan tangannya memintaku minggir.
“Mbak,besok Jumat ditunggu kehadirannya ya jam 8 pagi.”
“Ehm, ngapain Pak?”
“Ambil SIM-nya!”
Aduh, diapakan ya kira-kira? Tak terbayang sama sekali. Kata suami disuruh datang saja. Paling hanya begitu saja. Tak perlu dikhawatirkan.
“Aduh, lama ama sih! Nggak tahu apa ni telat berangkat kerja!” orang di sebelahku berdiri mengomel-omel.
“Mbak, salahnya apa sampai ditilang?” tanya bapak di belakangku kepada perempuan di sebelahnya.
“Alah, cuma lampu motor nggak dinyalain Pak. Saya bayar di tempat nggak mau polisinya. Mintanya saya datang ke sini. Kena berapa ya Pak?” tanya perempuan berambut panjang itu. Kebetulan kasusnya sama denganku.
Semua orang di ruang 3 segera berdiri. Bahkan desak-desakan karena sempit. Jumlah pelanggar lalu lintas banyak. Asap rokok dan bau keringat semakin menambah pusing kepalaku. Ingin rasanya aku jadi orang pertama yang disidang agar aku cepat pulang. Pak Hakim dan krunya sudah siap ditempat dan memulai persidangan. 
“Henny Ika Puspitarini, Tosaren Kediri!” suara hakim lantang terdengar.
“Ada Pak!” aku menjawab dan segera maju ke depan. Tanda tangan, ambil SIM, dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Lalu aku pulang.
“Kena berapa, Bunda?” tanya Mbak Nur yang ngemong anakku.

“Lebih murah kok daripada bayar di tempat ketika tilang. Hanya 33 ribu,” jawabku sambil nyengir.

*293 kata

Minggu, 26 Mei 2013

Bicara Kereta Api, IIDN Dong!

Sekali-kali mengingat masa kecil yang bahagia, boleh dong! Ketika bisa menyanyikan lagu “Naik Kereta Api”. Yang syairnya lupa ini saya ingatkan kembali.

Naik kereta api, tut,tut, tut(hiks, sekarang mana ada kereta yang bunyinya begitu?)
Siapa hendak turut
Ke Bandung-Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo, kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

Sebentar-sebentar! Apa hubungannya lagu ini sama IIDN? Ini kan lagu kesayangan anak sulung saya. Sampai-sampai tetangga bosan mendengarnya. Kayak nggak bisa nyanyi yang lain saja!
***
“Ayo, Nak cepat tidur! Dah pukul 10.30. Kita kan ntar mau pergi pukul 14.00,” ajak saya kepada anak-anak. Bunda harus ngerjakan sesuatu nih!
“Biar nggak terlambat kayak kemarin ya?” tanya Qowiyy seolah mengingatkan saya akan kejadian beberapa bulan lalu tepatnya ketika Pelatihan Writerpreneur 1. Saya hanya bisa bilang,“Jumat hebat!” Kenapa? Pelatihan tersebut selalu berlangsung di hari Jumat, berbenturan dengan kegiatan rutinitas saya yang selesai jelang maghrib. Belum lagi jika dah sampai rumah, badan langsung tekor. Nidurin anak eh, ikut bablas juga karena kecapekan. Tahu-tahu bangun malam pukul 23.00 buka grup dah ada PR. Ngebut deh! Tancap gas motor kenceng-kenceng!
“Iya!” jawab saya, padahal saya ingin buru-buru menyiapkan sesuatu untuk ulang tahun IIDN yang ketiga kali ini yang jatuh juga tepat di hari Jumat. Tuh kan, Jumat lagi? Kenapa ya? Kan, sayanya harus tancep gas lagi kenceng-kenceng.
Toleh kanan kiri. Aman. Anak-anak sudah tidur. Semoga tak cepat bangun seperti hari kemarin karena hidung buntu dan mbeler karena habis kehujanan. Sang kakak biasa tidur 3 jam, sang adik 2 jam. Cukuplah untuk buat sesuatu yang spesial untuk HUT IIDN.
Saya ambil kertas lipat, mainan anak, isolasi, dan gunting. Sambil SMS an juga sih ngerjainnya, koordinasi untuk kegiatan pekan depan. HP bergetar dan ada telepon masuk. Tidak saya angkat karena suara saya bisa mengangetkan anak-anak. Kacau dong jadinya.
“Duh perutku keroncongan begini ya?” pikirku dalam hati. Maklum, beras lagi habis dan hari ini masak nasi hanya cukup untuk sarapan dan makan sore anak dan suami. Saya hanya kebagian sarapan saja, itupun bukan porsi seperti biasanya. Ambil sedikit saja, meski untuk ibu menyusui kayak saya pasti kurang karena lapar mudah mendera. Nggak papalah. Yang penting anak dan suami kenyang.
“Tapi, kalau aku bikin mie goreng, waktunya akan habis. Belum suara wajan dan sutil yang berpadu serta bau mie yang matang, pasti akan membangunkan anak-anakku,” pikirku lagi. Akhirnya perut tetap kosong. Tak ada makan siang. Padahal setiap hari pukul 11.00 saya sudah kenyang. Nasib, nasib!
Menggunting dan menempel hampir selesai. Kurang beberapa tempelan saja dan siap untuk dijepret. Maksudnya diambil gambar. Kamera kebetulan tidak ada di rumah, sedang dibawa pengasuh di daycare, maka ntar jepretnya pakai HP saja lah.
Saya masih merasakan perut tak berisi seperti tong yang melompong. Mau ambil kue yang kusediakan untuk anak yang sulung,  saya urungkan niatnya karena itu akan dibawa ketika pas acara siang nanti sampai sore.  Saya lihat sekeliling rumah mencari camilan. Aha! Ada macaroni goreng dalam plastik biasa dijual dengan harga 500 rupiah. Saya mengambil 1 bungkus saja meski ada dua.
“Kriuk, kriuk!”
“E e e, eaaaaaa,” suara anak sulung saya melengking seperti merintih.
“Waduh, kok pakai berisik segala sih?” batin saya sambil saya langsung menyamperin dia. Saya elus-elus agar tidur lagi dan tidak mengganggu adiknya yang masih tidur.
Eh, dari masjid dekat rumah tiba-tiba terdengar suara MC menggelegar mengajak kaum bapak dan lelaki lainnya untuk shalat Jumat. Sang adik bangun, menyusu. Semoga tidur kembali. Namun, sang kakak cemburunya kumat.
“Bunda hadap mas Qowiyy saja, nggak usah ke Nasywah,” rengeknya.
“Eh, Mas, adik kan haus. Ngomongnya pelan ya, biar adik tidur lagi.”
“Eh, a, pa-pa,” sang adik berceloteh. Matanya langsung berbinar dan senyam senyum melihat kakaknya. Alamat mereka tak akan tidur lagi. Di luar kamar masih berantakan gunting dan teman-temannya. Kan belum selesai aku membuat sesuatu untuk HUT IIDN kali ini. Percuma ditidurin kembali, wong di masjid masih terdengar adzan sekali lagi, belum khotbah Jumat, dan suara imam memimpin sholat Jumat berjamaah. Pasti juga takkan nyenyak tidurnya. Akhirnya saya temani mereka berdua di dalam kamar. Tak ada tanda-tanda mengantuk lagi di kedua mata anak-anak saya. Padahal mereka baru tidur 1 jam-an saja.
“Bunda lagi buat apa itu?” sang kakak nggak betah di kamar, ngacir ke depan dan melihat apa yang sudah saya buat meski belum sempurna.
“Biarin ya, jangan disentuh, itu belum jadi, ntar sebentar lagi setelah bunda foto bisa dimainin lagi,” teriak saya dari kamar. Namun, karena masih khawatir dirusak saya segera ke depan menggendong si kecil satunya lagi. Kali ini ganti sang adik yang rasa ingin tahunya muncul. Sang kakak ternyata menurut. Dalam pangkuan saya sang adik menggeliat-menggeliat, berontak, ingin meraih gunting dan spidol yang gantian saya pegang untuk menyelesaikan pekerjaan saya yang belum selesai. Harus segera dituntaskan. Bayi saya 9 bulan itu memang aktif.
“Sebentar ya Nak, dikit lagi nih,” kata saya sambil terus sambil menggunting, menulis, dan menempel.
“Ah, adik, jangan ditarik keretanya! Ntar rusak, ini punya mas Qowiyy!” teriak sang kakak marah. Ih, tapi ge-er dia. Kan keretanya bukan untuk dia. Saya juga sih yang salah, pinjam mainannya tak pakai ijin.
“Maafin Bunda ya Mas. Habis difoto keretanya bisa buat mas.”
Dan ta-ra! Kereta api IIDN nya sudah jadi nih. Lihat! Maaf ya mbak Indari Mastuti bikinnya buru-buru, motretnya juga sambil gendong sang bayi. Begini deh jadinya!
Kereta api IIDN buatanku!

Yang di kepala gerbong ada masinisnya. Maaf ya mbak, bukan berarti si beruang itu adalah mbak. Mbak Indari tetap founder IIDN dan Indscript Creative yang benar-benar kreatif. Maaf ya teh Lygia Pecanduhujan, bukan berarti yang nangkring di gerbong kedua itu adalah teteh. Teh Lygia yang asli mah tetap cantik dan luar biasa. Mbak Nunu, juga begitu ya, jangan diambil hati ya jika yang numpang di gerbong ketiga itu gambarnya buaya. Hiks!

He, he, he. Jadi, apa sih yang Anda bisa katakan tentang kereta api? Punya gerbong kah? Panjang kah? Ada masinisnya kah? Penumpangnya banyak kah? That’s right! Kereta api memang seperti itu. Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis yang dikomandani oleh Indari Mastuti bisa dikatakan seperti kereta api. Punya kepala gerbong yaitu IIDN itu sendiri, ada masinisnya, ya Mbak Indari Mastuti, dan ada penumpangnya yaitu ibu-ibu yang semakin hari semakin gila menulis. Sudah 6.600 lebih penumpang berada dalam kereta api IIDN ini. Dan pastinya jumlah ini akan semakin bertambah dan memungkinkan pihak IIDN menambah gerbong sehingga akan semakin panjang keretanya. Kesuksesan acara Writerpreneur Buku Laris Rejeki Manis dan Writerpreneur Artikel yang dikampanyekan terus sama Teh LygiaPecanduhujan sebagai Markom IIDN diyakini juga ikut memperpanjang deretan gerbong kereta api IIDN ini. Anggotanya tak cukup yang ada di nusantara saja. Di luar negeri juga beterbaran penulis jebolan IIDN yang luar biasa.
Kereta api. Mari sejenak kita amati kereta api dengan lebih teliti! Untuk tujuan Depok-Jakarta Kota saja, apakah masinis yang berada di kepala gerbong akan mengendalikan keretanya di luar rute yang telah ditentukan? Tentu tidak! Lalu, apakah gerbong-gerbong di belakangnya akan turut serta menuju Jakarta Kota? Ya, iyalah! Kok bisa?
Itulah hebatnya kereta api. Sehebat IIDN ini. Ada ikatan yang menghubungkan antara gerbong satu dengan gerbong yang lainnya sehingga tidak terputus bahkan berjalan bersama. Lihat saja dan terus scroll ke bawah wall IIDN-Interaktif. Isinya saling menyapa, saling memotivasi, saling membantu, tapi juga saling kompetisi dalam kebaikan. Jelas, dong! Penumpang kereta api juga berkompetisi mencari tempat duduk yang enak. Rebutan agar tidak sampai berdiri.
Tiket untuk bisa naik kendaraan ini pun terbilang murah. Bahkan memang benar-benar gratis, segingga kita bisa naik dengan percuma. IIDN tidak terbagi atas kelas eksekutif, bisnis, ataupun ekonomi. IIDN untuk semua ibu-ibu, bahkan untuk calon ibu. Syaratnya juga gampang, pokoknya tertarik untuk menulis meskipun belum pernah menulis sama sekali. Bahkan lebih gampang lagi “suka bergabung dengan komunitas perempuan”! Gampang banget, kan?

So, tunggu apa lagi! Yang belum gabung, segera deh naik kereta apinya! Kan, keretaku tak berhenti lama?

Minggu, 21 April 2013

Silakan Masuk, Bu!



Mempunyai daycare adalah impian saya. Dan ternyata Rumah Pelangi Daycare yang saya kelola berhasil beroperasi di hari pertamanya tanggal 2 Januari 2012. Waktu semakin bergulir dan daycare semakin diminati orang tua untuk menitipkan anaknya sembari mereka bekerja. Sampai lebih dari 1 tahun ini sudah ada 50 anak pernah dititip di daycare.
Namun, bukan berarti saya puas sampai di sini. Kehadiran daycare di tengah masyarakat harus bisa memberi manfaat lebih dan lebih. Saya pun akhirnya mengadakan acara “Pelangi Parenting Class (PPC)” tiap dua bulan sekali. Target pesertanya adalah ibu-ibu baik yang anaknya dititipkan di daycare ataupun tidak. Saya datangkan parenter dari Sygma asuhan Bunda Neno untuk memberikan pencerahan kepada para peserta. Di PPC 1 peserta yang datang membludak. Saya sambut peserta yang datang sambil berucap,"Silakan masuk, Bu!" Dan ketika kelas berlangsung banyak saya dapati peserta menangis karena selama ini salah cara dalam mendidik dan memberikan pola asuh kepada anak. Saya pun ikut menangis. Terharu.
Tak hanya itu. Saya juga selalu mengajak ibu-ibu untuk mengikuti bazar ketika PPC berlangsung. Kegiatan ini sengaja dimasukkan karena saya tahu sebagian ibu-ibu menjadikan berjualan sebagai jalan hidupnya. Daycare ingin adanya bazar ketika PPC juga turut andil menambah pendapatan ibu-ibu.
Saya sedang menyambut peserta PPC dan menyaksikan bazar. Tahu dong yang mana saya? Itu lho yang pakai kerudung oranye ...

Itu baru PPC dan bazar, selanjutnya Rumah Pelangi Daycare akan coba buat terobosan bagaimana daycare yang saya kelola bisa lebih bermanfaat. Ehm, apa ya? Tunggu kejuatannya!

Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi