Minggu, 03 Agustus 2014

Mewujudkan Slogan “Orang Bijak Taat Pajak”

 
Zati Arina, konsultan pajak berpengalaman
           
                       “Orang Bijak Taat Pajak”. Slogan ini bukan slogan biasa. Terpampang jelas di jalan raya dan di website Dirjen Pajak. Tentu ada maksudnya. Bukan sekedar jadi slogan apa adanya. Indonesia, sebagai negara berkembang masih membutuhkan banyak dana untuk pembangunan negaranya. Salah satu sumber dananya adalah dari pajak. Oleh karenanya, warga negara yang taat bayar pajak seperti PPh, PPn, PBB, dan jenis pajak lainnya maka tergolong warga yang bijak.

                Tak mudah merealisasikan slogan indah ini, faktanya. Masyarakat masih ada yang enggan membayar karena muncul ketidaksinkronnan peristiwa. Pejabat pajak malah banyak yang mengorupsi pajak yang dibayarkan masyarakat. Kasus korupsi yang dilakukan Gayus Tambunan dan pengikutnya Dhana pada akhirnya melunturkan semangat dan kemauan masyarakat untuk membayar pajak. Buat apa? Toh, pembangunan di Indonesia juga masih saja tersendat-sendat. Banjir dimana-mana, jalan banyak yang rusak, dsb.

                Memang, hal ini berimbas pada peran aktif masyarakat membayar pajak. Namun, seharusnya pemerintah tak tinggal diam. Kasus korupsi tetap harus dituntaskan seadil-adilnya. Mengajak dan menyosialisasikan kewajiban membayar pajak juga tetap jalan. Bagaimanapun slogan ini bukan slogan yang salah. Jika berhasil diterapkan di seluruh ranah masyarakat Indonesia, dampaknya akan bagus. Permasalahan juga muncul karena tidak semua masyarakat atau perusahaan bisa dengan mahir menghitung pajak. Hal ini menyebabkan mereka pun malas membayar pajak.

               Tak perlu bingung. Menggunakan jasa konsultan pajak adalah solusi terbaik. Salah satu diantaranya adalah Zeti Arina. Perempuan yang berprofesi di bidang ini sejak tahun 1995 berpandangan bahwa kehadiran konsultan pajak sangatlah penting. Bahkan harus bersinergi positif bersama pemerintah dan masyarakat khususnya yang wajib pajak. Konsultan pajak berpartisipasi dalam menyosialisasikan peraturan tentang kewajiban pajak dan bagaimana menghitungnya dengan benar dan tepat kepada masyarakat. Sedang pemerintah bertugas mengamankan pajak yang sudah terbayar sehingga benar-benar amanah bisa dipertanggungjawabkan untuk pembangunan negara. Dengan kolaborasi yang cantik maka tugas pemerintah bisa fokus dan berharap korupsi pajak tidak terjadi lagi. Masyarakat wajib pajak kembali dan sadar membayarkan pajaknya.

                Meski demikian, menjadi konsultan pajak, tutur perempuan berkacamata ini, tidaklah mudah dan sembarangan. Untuk menunjukkan keprofesionalannya, konsultan pajak juga harus mengantongi kemahiran-kemahiran tertentu. Untuk menjadi konsultan pajak, wajib lulus ujian sertifikasi dari Brevet A, Brevet b, dan Brevet C. Pendidikan minimalnya pun harus Strata 1 atau Diploma 4.
                Menjadi konsultan pajak pun bisa berubah jadi ladang bisnis yang manis. Anggapan bahwa konsultan pajak adalah pencuri pajak, sama dengan Gayus Tambunan yang korupsi pajak bisa ditepis jika konsultan pajak bekerja dengan professional. Dan Zati Arina sudah menunjukkan kinerjanya. Menjadi konsultan pajak sekaligus CEO Artha Raya Consultant selama bertahun-tahun, justru membuatnya terkenal. Menurutnya, membayar pajak bisa dengan cara hemat tanpa denda namun tetap sesuai aturan yang berlaku. Kata “hemat” ini yang akhirnya mampu membius masyarakat wajib pajak untuk memanfaatkan jasanya. Mereka pun berbondong-bondong untuk membayarkan pajaknya.


                Kalau sudah begini, mewujudkan slogan “Orang Bijak Taat Pajak” bukan omong kosong belaka. Sinergi yang kuat antara konsultan pajak dan pemerintah bisa membantu merealisasikannya. 

Jumat, 01 Agustus 2014

Ketika Harus Menyapih


Menyusui atau tidak, kasih sayang ibu tiada peri 
             
              Menyapih. Kata ini yang menjadi fokus saya ketika lebaran ini. Anak kedua saya Agustus ini usianya sudah menginjak 2 tahun. Berbekal pengalaman sebelumnya menyapih anak pertama, maka proses menyapih yang sekarang pun dilakukan sesuai dengan yang sebelumnya. Namun, apa yang terjadi? Saya lupa, bahwa anak itu beda. Pengalaman memang bisa memberi bekal, tapi tak 100% bisa dijalankan sempurna.
                Menyapih dengan bertahap. Ini yang dulu saya lakukan pada anak pertama saya. Usia 19 bulan sudah saya sounding tentang menyapih. Tidur malam pun sudah tidak menyusu lagi. Hanya 2 hari saya meladeni amukannya. Dan itu masih dalam batas yang biasa. Tidak mengganggu tetangga. Menginjak usia 20 bulan, frekuensi menyusu saya kurangi lagi. Demikian di bulan-bulan berikutnya hingga akhirnya sukses menyapih si sulung di usia 23 bulan. Selain juga sudah “kesundulan”  adiknya lagi di rahim saya.
                Anak kedua, saya perlakukan hal yang sama. Bertahap menyapihnya. Usia 20 bulan saya coba kurangi malam tidak menyusu lagi. Empat hari baru bisa terkondisikan. Hari kelima, ternyata saya sakit dan tak mungkin bisa melanjutkan proses menyapih. Akhirnya si kecil saya susui kembali. Bagaimanapun, menyapih itu melelahkan dan butuh energi besar. Apalagi kasus anak kedua saya ini. Ketika saya coba sapih di usia ini ngamuknya luar biasa. Di malam pertama nangis sampai 1,5 jam. Berhasil minum dari gelas dan tidur dalam gendongan. Ketika diletakkan di kasur, satu jam sekali sudah bangun. Pegal? Iya. Tapi itulah proses yang harus dinikmati.
                Proses menyapih bertahap pertama sudah gagal. Saya akhirnya menyusui si kecil lagi sampai saya pindah rumah. Di rumah baru, saya coba menyapih lagi ketika kondisi sudah fit. Namun, ketika itu saya lupa kalau ada bapak saya menginap beberapa hari di rumah dan status saya adalah tetangga baru. Saya mencoba di suatu malam mengurangi frekuensi menyusu si kecil. Wow! Ngamuknya lebih dahsyat ketika usianya 20 bulan dulu. Sampai-sampai saya dimarahi bapak saya. Dari kejadian ini akhirnya saya dan suami sepakat,”Ya udah ntar sajalah!”
                Hingga lebaran tahun ini akan datang. Saya dan suami sepakat memanfaatkan momen tetangga yang mudik ke kampung untuk menyapih si kecil. Maklum, si kecil ini tenaganya luar biasa. Kalau nangis teriak-teriak sampai sekomplek bisa dengar. Bagaimanapun saya harus tetap menjaga adab bertetangga. Sebisa mungkin tidak mengganggu mereka meski saya sudah ijin ke mereka kalau saya mau menyapih. Alhasil dua hari sebelum lebaran saya mulai proses mendebarkan ini. Harap-harap cemas akankah berhasil. Tapi saya optimis, kali ini pasti berhasil. Momen suami libur lebaran juga menjadi pemantik semangat bahwa menyapih akan lebih mudah dijalani.
                Hari pertama dan kedua saya mengurangi frekuensi menyusui di pagi sampai sore hari. Saya tidak mengurangi frekuensinya di malam hari karena malam untuk memaksimalkan I’tikaf. Lagi pula siang pagi sampai sore bukanlah waktu istirahat, sehingga saya tak khawatir akan sangat menganggu tetatngga. Dan sudah saya duga kejadiannya lebih heboh lagi. Si kecil nendang-nendang, “mancal-mancal” sambil nangis dan berteriak. Saya dekap, gendong, elus-elus lembut masih saja mengamuk. Kadang, sampai tak kuatnya tangan saya menggendong, saya letakkan si kecil di kasur dan saya tak melihatnya sebentar sampai kemudian saya angkat lagi tubuhnya. Saya tawari susu, air putih, cemilan, dsb masih saja menolak. Sampai 1 jam akhirnya mau. Alhamdulillah bisa tidur cukup lama. Hari kedua merengek dan merontanya sudah 20 menitan. Namun, biasanya tidur 2 kali, jadinya tidur sekali.
                Melihat efek menyapih di pagi hari sampai sore hingga si kecil doyan makan dan minum, maka di hari ketiga, pas lebaran, saya dan suami memutuskan menyapih total. Malam pertama si kecil disapih, tak jauh beda ketika hari pertama siang disapih. Ditawari susu ditampik, dikasih air putih malah ditaruh di atas kulkas. Tidur pun harus dengan menggendong. Menghentikan tangisnya harus dengan menunjukkan sesuatu yang baru. Susu UHT tak lagi langsung disedot dari kotaknya, tapi ditumpah di gelas. Ditunjukkan suasana malam yang sepi di luar juga saya lakukan. Sampai suara kucing di atap pun saya pakai untuk menenangkan. Bahkan, ada katak berloncatan di rumah serta serangga bergelantungan juga saya gunakan untuk menarik perhatiannya agar bisa tenang. Ampuh cara ini. Terjaga dari tidur malam hanya dua kali.
                Hari kedua, karena seharian berkelana ke Ragunan, ternyata si kecil malamnya rewel sekali. Ngamuknya sudah berkurang, namun dua jam sekali terbangun. Tak mau ditaruh kasur lagi. Minta tidur di gendongan. Alhasil, semalaman saya begadang. Tidur sebentar-sebentar sambil duduk di kasur, bersandar di bantal. Pagi hari, lelahnya tiada kira. Untung ada suami yang mau memijat sampai otot-otot tubuh saya kembali lentur.
                Hari ketiga, keempat, sampai hari ketujuh, alhamdulillah si kecil jauh lebih terkondisi. Bangun tidur pagi berhasil dialihkan dengan memberinya air putih/susu dan cemilan. Malam pun sudah bisa tidur dengan tenang. Terjaga hanya sekali atau dua kali dan bisa tidur kembali dengan cepat. Tak mau digendong lagi. Masih teringat sih si kecil dengan kata “mimik”, maksudnya mau nyusu, namun tak lagi mengamuk. Malah si kecil berkata,”Nasywah dah besar ya, nggak mimik lagi!”
                Alhamdulillah. Apa peran suami saya? He, minimal pas si kecil terjaga dan meminta perhatian saya, suami saya juga ikut terbangun. Sesekali menggendong dan menenangkan si kecil, meski si kecil menolak karena maunya sama saya. Suami lah yang mengambilkan minum dan cemilan untuk mengganti ASI. Dan suami lah yang menjaga si sulung saya agar tak terjaga tidurnya karena adiknya yang mengamuk dengan begitu kuatnya.

                Menyapih dengan cinta? Beginilah rasanya. Berjuta perasaan berkecamuk di dada. Rasa iba, rasa bersalah, cinta, sedih, semuanya. Namun harus dijalani dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Tanpa tipu-tipu, ya!

Di mana Harus Sekolah Seni Tari?


           
              Setiap anak adalah unik. Ada anak yang berkecenderungan suka hal-hal berbau sains, ada juga anak yang dominan logik matematik. Namun, tak sedikit pula anak yang memiliki jiwa seni yang tinggi, seperti halnya seni tari.
                Selama ini, kita banyak menjumpai sekolah sebagaimana umumnya. Anak datang belajar banyak hal. Semua mata pelajaran dipelajari anak. Padahal, setiap anak dikaruniai kecerdasan dan talenta yang berbeda-beda. Parahnya lagi, orang tua memaksakan anaknya untuk bisa semuanya. Wajar, dong, jika akhirnya anak malah melempem. Kelebihan anak tak nampak, keunggulannya tersembunyi.
             Sekolah bakat, adalah solusi bagaimana anak yang unik ini terfasilitasi, termasuk anak yang menyukai seni tari. Meski anggapan orang masih miring terhadap seni, namun jika kemampuan ini terus diasah, niscaya anak akan menjadi mega bintang. Stefie Siera Ngangi, pendiri Stefie’s House of Creativity (SHOC) adalah salah satu contohnya. Sejak kecil dia menekuni tari balet, operet, dan modelling. Sekarang, kiprahnya di seni ini berhasil membawanya membangun bisnis di usia yang masih belia. Dengan menawarkan kurikulum yang bagus, perempuan muda energik ini berharap SHOC bisa lebih dikenal masyarakat, bahkan mendunia.  Nilai unggul SHOC ada pada tenaga pengajar yang mumpuni dan fasilitas yang memadai. Stefie Siera Ngangi pun berhasil membangun networking yang luas untuk mengembangkan SHOC. Di samping menawarkan program dance, balet, dan modelling, SHOC siap pula jika harus melayani special concept dari customernya. Kepedulian Stefie Siera Ngangi terhadap bakat anak ini tidaklah main-main. Layak diacungi jempol.

                Dimana harus sekolah tari bagi anak yang memiliki bakat ini? Haruskah dipaksa di sekolah yang menyuguhkan banyak materi pelajaran? 

Menangkap Ilmu untuk Modal Menulis


             
                  Selain terus berlatih menulis, ada hal penting agar penulis tak berhenti menulis. Yang namanya semangat memang bisa luntur. Yang namanya kemauan terkadang ada saja yang menghalangi. Akhirnya malah tak jadi menulis.
                Ada yang masih gamang di pikiran, apa yang mau ditulis. Ada yang masih ragu jika menulis adakah media atau penerbit yang mau menerima tulisan yang sudah dibuat? Bagaimana caranya? Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga malah mengendorkan semangat. Padahal, tinta juga belum mulai tertoreh. Salahkah?
                Tidak, apalagi bagi penulis pemula. Tips 3M dari ibu 2 anak, Indari Mastuti, memang cespleng. Ingin jadi penulis, ya harus menulis. Namun, Indari Mastuti melihat kasus-kasus di atas masih berseliweran di hati dan pikiran ibu-ibu, khususnya. Melalui grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) yang digagasnya sering kali pendatang baru atau anggota lama masih mengeluhkan tentang seluk-beluk menulis. Menjembatani hal ini, Indari Mastuti mengadakan program tanya jawab bagi anggota komunitas ini.
                Menangkap ilmu bagi seorang penulis itu perlu. Jika tak bisa ikut kelas bebayar mahal/murah, memanfaatkan program tanya jawab bisa menjadi solusi. Begitu nasihat Indari Mastuti, perempuan yang juga mendirikan Sekolah Perempuan dan Indari Mastuti Management. Ilmu tentang menulis bertebaran dimana-mana. Sudah menjadi tradisi penulis untuk bisa menangkap ilmunya. Sesudah ditangkap, tak ada kata lain selain harus menulis, menulis, dan menulis.
                Sekarang, sudah banyak pertanyaan tentang penerbitan buku yang sudah dijawab Indari Mastuti di grup IIDN. Setiap hari selalu ada pertanyaan yang dilayani oleh perempuan super aktif dan produktif ini. Berlabuh harapan agar kaum perempuan khususnya ibu-ibu tidak canggung menulis. Virus menulis itu gampang harus sering ditularkan. Dengan program tanya jawab penerbitan buku ini, berharap semakin banyak ibu-ibu menelurkan karyanya dalam hal menulis.

                Menangkap ilmu bagi seorang penulis itu modal. Sudah ada wadahnya, sudah ada sarananya. Indari Mastuti sudah menyediakannya umpannya. Ayo, segera tangkap! 

Kamis, 10 Juli 2014

Lembaran Al Quran yang Hilang

           

           Ramadhan semakin membuat Qowiyy semangat mengaji. Ke mana-mana membawa Al Quran Syamil kepunyaannya. Qowiyy membacanya selalu setiap menyelesaikan sholat 5 waktu. Hari ini istimewa. Lepas ashar akan ada simakan bacaan Al Quran dari ayahnya.
            “Qowiyy, kalau lancar dan benar bacanya, ada hadiah untukmu!”
         Qowiyy tak sabar menunggu waktu ashar tiba. Dia membaca AlQuran agar nanti semakin lancar. Masih penasaran surat apa nanti yang akan dibacanya. Ayahnya tak memberitahukannya.
            Adzan ashar berkumandang. Qowiyy dan ayahnya sholat berjamaah di masjid.
            “Sudah siap Qowiyy?” tanya ayahnya sembari jalan pulang dari masjid.
            Qowiyy mengangguk yakin dan tersenyum. Sore itu simakan digelar. Ayahnya memintanya membaca salah satu surat di juz 28. Qowiyy tak menyangka. Sampai Ramadhan hari ke-10, dia masih membaca sampai juz 5. Sehari setengah juz.  Ramadhan kali ini pertama kalinya dia membaca Al Quran. Setelah sebelumnya belajar abatasa, panjang pendek, dengung, dst.
            “Ayo dibaca, Nak!” ayahnya berkata lembut.
            Qowiyy membuka Al Quran juz 28. Dia pun mulai membaca. Ayahnya mendengarkan dengan penuh seksama sambil menyimak. Terdengar merdu Qowiyy mengaji. Bacaannya sudah benar. Tak ditemukan kesalahan. Namun, tiba-tiba, ayahnya memberhentikan bacaannya.
            “Ada apa, Ayah?” tanya Qowiyy heran.
            “Sepertinya ada yang keliru, Nak! Coba bawa sini Al Quranmu!”
           Qowiyy menyerahkan Al Qurannya. Sudah lama Al Quran itu dibelikan ayahnya. Terkadang, adiknya yang masih usia 2 tahun suka juga memainkannya. Seolah sudah bisa membaca dengan gaya biacaranya yang lucu.
            Ayah Qowiyy tertawa ringan. Qowiyy penasaran.
“Kenapa tertawa, Ayah? Adakah yang salah?”
“Coba cek ayatnya, Nak!”

Qowiyy menelusuri ayat demi ayat. Masih urut hingga kemudian dia mendapati hal yang aneh. Ayatnya meloncat jauh. Tidak urut ketika dia pindah halaman. Ternyata, ada satu lembar Al Quran yang dibaca Qowiyy hilang. Qowiyy baru ingat, adiknya lah yang lusa kemarin mengambil lembaran itu. Kebetulan memang sudah lepas lembarannya, sehingga adiknya mudah mengambilnya. Tapi, ditaruh mana ya? Mengitari kamarnya tak kunjung dia menemukannya.

Kamis, 03 Juli 2014

Review "Perempuan Bertanya, Fikih Menjawab"


Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban nantinya. Tak terkecuali perempuan sebagai hamba Allah. Perannya sebagai ibu menuntutnya untuk senantiasa bertindak sebagaimana Allah memerintahkannya. Posisinya sebagai istri tak luput pula atas tanggung jawab ini. Kesenangan menjadi istri dan ibu tetap harus terbalut dalam rangka ibadah kepada Allah. Dan karenanya, ada banyak masalah kehidupan terkait perempuan ini yang harus terjawab dan bisa dijalani dengan benar. Jawabnya adalah fikih. Karena ilmu ini memang yang mumpuni untuk menjawabnya. Islam telah menyediakannya dengan komplit.  Berdasarkan Al Quran dan Sunnah Nabi, fikih sangat menolong kaum hawa sebagai pedoman untuk beramal dengan sempurna di hadapan-Nya.

Buku “Perempuan Bertanya, Fikih Menjawab” dengan bahasanya yang sederhana bisa menjadi referensi dan acuan para perempuan dalam hal ini. Ditulis apik oleh Nurul Asmayani dan lengkapi dengan kisah inspiratif, buku ini makin enak dibaca dan mudah dipahami karena ada peristiwanya langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan mempermudah kaum hawa yang membacanya. Apalagi adanya tips-tips jitu dalam buku ini semakin memberikan solusi cerdas dan cepat bagaimana kaum hawa menyikapi kondisinya. Pun, ilustrasi pendukung yang memadai dalam buku ini kian memperjelas langkah-langkah apa yang harus ditempuh para perempuan ini. Lengkap dan berisi, dan yang terpenting tak membuat pusing para perempuan. Beda sekali jika para perempuan membaca buku fikih langsung yang banyak tebal, belum lagi ada perbedaan pendapat di dalamnya. Malas membaca akhirnya muncul dalam diri. Buku ini bisa menjembatani.

Apa saja yang dibahas dalam buku ini? Jelasnya tentang hal-hal yang terjadi pada perempuan dengan perannya yang banyak.
§  Ibadah yang shahih, terkait tata cara para perempuan beribadah langsung kepada Allah.
§  Sunnah-sunnah fitrah
§  Mengenai darah seperti haid, istihadah, dan nifas.
§  Hukum tentang bagaimana perempuan berxakat dan bersedekah
§  Bagaimana perempuan haji dan umrah
§  Hukum waris
§  Bagaimana wanita bekerja dan menjalani kehidupan sosialnya
§  Sejauh mana perempuan boleh berhias dan memakai parfum
§  Bagaimana seharusnya perempuan mengatur rumah tangga dan mendidik anak-anaknya


Perempuan Bertanya, Fikih Menjawab, pas dan cepat memberi jawab. 

Rabu, 25 Juni 2014

Bukan Lagi Anjungan Tunai Mandiri

              
sumber : foto pribadi

sumber : foto pribadi
              Beberapa kali mampir ke ATM di SPBU Jalan Kartini Depok selalu saja saya dapati pemandangan kotor di dalam ruang kecil itu. Sampah berserakan dan tidak dibuang pada tempatnya. Memang, di dalam ruang tempat ATM berada tidak ada tempat sampah. Kecuali tempat kecil di mesin ATM sendiri yang memang berfungsi untuk tempat sampah. Namun, masih di kitaran SPBU, disediakan tempat sampah. Apa susahnya membawa selembar kertas kecil lalu membuangnya ke tempat sampah. Terutama jika tempat kecil di mesin ATM tadi sudah penuh sampah.

                ATM bukan lagi Anjungan Tunai Mandiri. ATM berubah jadi tempat sampah. Selain kertas bukti transaksi yang sudah dianggap tidak penting dibuang di sana, juga ditemukan sampah lainnya. Bungkus permen dan makanan ringan juga turut memperparah keadaan. Brosur-brosur kecil atau tisu yang sudah kotor. Susahkah mengantongi sebentar dalam plastik dan menyimpannya dalam tas sampai bertemu tempat sampah?

                Sungguh kasihan petugas kebersihan di SPBU itu. Tiap hari harus menyapu sampah yang ada di ATM. Kesadaran pengguna ATM tentang sampah masih lemah. Padahal jika diteliti, mereka orang-orang yang ke ATM bukanlah orang yang bodoh. Bukan orang yang tak tahu apa-apa. Namun, fakta berkata sebaliknya. Bahkan, dimana harus buang sampah pun tidak tahu.

                Apa yang salah? Siapa yang salah? Masalah sampah tidak hanya terjadi di ruang kecil ATM. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya masih menjadi kebiasaan segelintir orang. Budaya membaca juga jarang dijadikan sarana untuk berbuat semestinya. Sudah jelas terpampang tulisan “Buanglah sampah pada tempatnya!” namun masih saja melempar sampah di sembarang tempat.

                Apakah keteladanan harus tetap dituntut ada untuk hal seperti ini? Akankah sangsi hukum juga harus ditegakkan lagi setegas-tegasnya bagi pembuang sampah sembarangan? Atau kesadaran pribadi masing-masing individu yang harus dilecutkan kembali? Membuang sampah sembarangan adalah masalah klasik yang memang harus segera diatasi.

Senin, 23 Juni 2014

Guru pun Harus Membaca

sumber:google

Musim ujian memang telah usai. Sekarang anak-anak lagi semangat mengisi hari libur mereka. Namun, ada juga yang masih sibuk mencari sekolah jenjang baru yang pas untuk menimba ilmu. Sang guru pun sibuk menyiapkan tahun ajaran baru. Ada yang menyiapkan RPP, program semester, silabus, dsb. Ada pula yang giat mengikuti seminar/pelatihan pendidikan. Namun, sering kali satu hal ini justru terlewatkan.

Sebuah percakapan sederhana terdengar di telinga saya beberapa waktu yang lalu. Dua orang guru sedang mengobrol. Guru yang lebih tua mengeluhkan siswanya banyak salah menjawab ketika ujian bahasa Indonesia. Khususnya pada pertanyaan bahan bacaan. Anak-anak malas membaca. Buru-buru dan cenderung tak mengerti maksudnya. Meski sudah diingatkan kembali, anak membaca sekedar membaca, tanpa sungguh-sungguh memaknai isinya. Dan keseharian mereka memang jauh dari membaca. Guru yang lebih muda mempunyai kisah yang sama.

“Anak-anak sekarang malas kalau disuruh baca.”

Jawaban salah seorang guru itu lebih membuat saya terkejut. Bagaimana dengan gurunya? Suka baca kah? Tidak juga. Padahal, semestinya kebiasaan ini sudah menjadi makanan guru setiap harinya. Gurunya saja tidak doyan membaca, bagaimana dengan anak didiknya? Kontradiksi sekali bila guru menuntut mereka bisa dengan mudah memahami bacaan yang cukup panjang di soal. Kebiasaan gemar membacanya saja tidak dibangun.

Tak semua guru demikian. Di Surabaya, ada sekolah yang mewajibkan guru-gurunya untuk membaca sepekan sekali. Buku yang dibaca bisa meminjam di perpustakaan sekolah. Setelah membacanya, setiap guru diwajibkan untuk membuat rangkuman isinya. Kebiasaan ini juga dilakukan anak didik di sekolah itu. Setiap beberapa hari sekali merekadiwajibkan pinjam buku di perpustakaan. Jam istirahat ramai dengan siswa yang memilih buku di sana. Ada yang dibaca langsung, ada juga yang membawanya pulang untuk dibaca.

Ternyata, budaya membaca memang menjadi salah satu jaminan mutu sekolah itu untuk setiap lulusannya. Tak heran, setiap waktu buku di perpustakaan senantiasa ada yang baru. Lengkap koleksinya. Wajar, jika guru dan siswa senang meminjam buku dari sana. Bahkan, karena budaya ini, guru dan siswa di sana sering sekali menjadi juara lomba yang melibatkan kemampuan menulis.

Membaca membuat paham. Menuliskannya lagi akan melekatkan pengetahuan. Namun, faktanya, tidak semua kondisi sekolah bisa seperti itu. Termasuk sekolah dua guru yang tengah bercakap-cakap tadi. Sekolah dimana guru yang lebih tua mengajar ada di kota. Sayang, koleksi buku di perpustakaannya sedikit dan sudah using. Jarang dibuka hingga lusuh dan berwarna coklat. Sekolah guru satunya memang tak punya perpustakaan. Tempatnya terpencil di perkampungan. Benarkah guru harus bergantung dari buku di perpustakaan sekolah untuk bisa membaca?

Membaca sangat tergantung kepada niat dan minatnya untuk membaca. Banyak orang tak punya koleksi buku di rumah bisa banyak membaca entah bagaimana caranya. Begitu sebaliknya. Banyak yang punya judul buku, tapi hanya menghias rak di rumah. Guru mestinya punya semangat tinggi untuk membaca. Kekuatan niat untuk melakukannya harus ada, apalagi posisi guru menjadi teladan bagi siswanya.


Guru membaca? Pasti bisa!