Kamis, 19 Maret 2015

MOMOGI

Garnier Duo Clean
Kamis sore yang melelahkan. Nyetir motor ngebut di atas jalanan yang becek. Belum lagi sampai di perempatan lampu merah menyala cukup lama. Wuih, nggak tahan bau asap motor dan asap mobil dimana-mana. Apalagi saya risih jika pakai helm harus diturunkan penutup wajahnya. 

Pulangnya, tak jauh beda. Bahkan saya kehujanan. Iseng mampir penjual tempe penyet untuk pakai jas hujan. Malu dong nggak beli. Akhirnya saya meminta abang penjualnya untuk membuatkan saya 1 porsi penyetan untuk dibawa pulang. Kembali bau asap dari kompor menyapu wajah ini. Hujan masih deras, dan wajah ini tertampar air hujan berkali-kali.

Merasa sudah sangat lelah sampai di rumah, dan ingat kalau sore hari tadi sudah mandi, maka tak ada mandi kedua. Saya cuci kaki dan langsung menuju kamar. Tepar, tidur melingkar. Tak ingat yang lainnya. Namun, semakin malam semakin gerah. Maklum, saya tak tahan kalau harus menyalakan kipas angin atau AC.

Tengah malam terjaga. O, o, ada yang tak enak rasanya. Wajah rasanya kusam. Saya sentuh terasa licin. Lalu saya mencari Garnier Duo Clean yang sudah saya beli sebelumnya dan memakainya. Wow, segarnya! Lembabnya juga terasa. Adem! Trus, harum apelnya itu lho! Sampai saya menulis setengah jam juga tak hilang-hilang. Kesat dan ringan! Ehm, jadi ingin memakai lagi dan lagi.




Selasa, 17 Maret 2015

Tips Mengatasi Sembelit


                Melihat orang lain lancar buang air besar setiap hari, tentu senang dan berharap tubuh yang kita miliki juga memiliki siklus pencernaan yang bagus seperti itu. Kotoran tubuh bisa dikeluarkan tanpa ada hambatan. Sembelit memang membuat gelisah dan makin stres saja. Ketika sembelit menyerang, badan pegal bahkan kepala juga pusing dibuatnya. Tak enak sama sekali.

                Lantas bagaimana? Bagi sebagian orang,melakukan detoksifikasi dengan meminum ramuan, obat, atau herbal tertentu sangat membantu. Beberapa kali mengkonsumsinya, buang air besar jadi lancar. Namun, bagi sebagian orang tidak berpengaruh sama sekali kecuali memang harus mengubah pola hidup sehat dalam kesehariannya.

            Berikut tips sederhana, namun butuh komitmen dan kekonsistenan untuk melakukannya agar sembelit tak menyerang.

1.       Pola makan
Salah satunya dengan menggunakan pola makan sehat ala food combaining. Ketika bangun tidur pagi, saat mulut belum kemasukan apapun, segera siapkan air hangat berisi perasan air jeruk nipis. Lanjutkan ketika waktu biasa Anda sarapan dengan menyantap buah berserat dan cukup kandungan airnya minimal 3 jenis buah. Pisang tidak termasuk di sini karena pisang mengandung zat pati. Sebisa mungkin pagi sampai jelang makan siang tidak mengkonsumsi nasi. Cukup buah. Kalau mau pisang,silakan disantap jelang makan siang. Kapan makan nasi? Manfaatkan makan siang dan makan malam dengan dilengkapi sayur bergizi (mentah atau melalui proses pemanasan yang tidak lama) serta lauk yang kaya  protein nabati. Oh ya tak harus nasi ya. Bisa juga makanan lain sumber karbohidrat yang cukup.
Tak lupa minum air putih yang cukup. Dalam piramida makanan, kebutuhan air putih adalah kebutuhan terbesar tubuh kita. Jangan sampai Anda melupakannya. Termasuk anak Anda, ketika usia 2 tahun, air putih adalah kebutuhan utama.

2.       Olahraga
Aha! Ini yang biasanya terlewat dari agenda rutin harian kita. Padahal ini penting untuk kesehatan tubuh. Badan yang terbiasa olahraga akan mudah buang air besar karena gerak peristaltic ususnya bekerja dengan baik. 30 menit saja setiap hari.

3.       Hilangkan stres
Seorang bapak pernah bercerita bahwa pola makan yang sehat sudah dijalaninya selama ini. Olahraga juga, namun dia tetap saja sembelit. Apa pasalnya? Ternyata si bapak mudah sekali stres. Ketika tubuh stres, memang akhirnya anggota tubuh tidak bekerja sebagaimana juknisnya. Tertekan, dan biasanya jika stres menyerang, yang muncul adalah pikiran negatif. Kalau sudah negatif, mau apa saja juga bisa gagal, termasuk buang air besar.

Relaksasi sebentar akan bisa membantu Anda. Ajak ngobrol anggota tubuh Anda, ucapkan terimakasih karena selama ini menjalankan tugasnya dengan baik, dan bersyukurlah kepada Sang Maha Pencipta. Ambil nafas dan keluarkan dengan teratur, maka aliran positif akan menjalar di seluruh tubuh Anda.


Sembelit memang menyiksa. Anda tak bisa melakukan pekerjaan Anda dengan lincah dan lancar karena banyak gangguan yang terjadi ketika sembelit datang. Cek pola hidup Anda!

Minggu, 15 Maret 2015

1001

          Ini  bukan kisah 1001 malam. Yup, ini adalah permainan matematika yang sangat menyenangkan. Bisa dipraktikkan oleh anak SD minimal kelas 3. Tapi, jangan salah! Bahkan orang tua pun ternyata suka juga melakukan permainan ini. Hiks, pengalaman nih!

          Tak usah lama-lama ya! Bagaimana sih aturan permainannya?
·       Permainan ini dilakukan oleh 2 pemain. Maka, jika anak ibu mau melakukan permainan ini harus mencari 1 orang teman untuk dijadikan lawan tanding. Atau ibu bisa melakukannya bersama anak ibu.

·                          Secara bergiliran, pemain menyebut bilangan, misalkan dari 985 sampai 1001 secara urut satu atau dua bilangan. Bilangan awal seperti 985 adalah sesuai kesepakatan. Jika ingin menggunakan bilangan lain, silakan saja.

         Contoh simulasi untuk aturan kedua permainan ini adalah sebagai berikut:
Giliran pertama, pemain pertama, misal ibu. Ibu menyebut bilangan 985, 986 (sebenarnya ibu bisa juga hanya menyebut 985 saja), maka anak (pemain kedua) boleh menyebut selanjutnya 987 (atau 987, 988, terserah saja!), dst. Intinya maksimal hanya boleh menyebut dua bilangan saja. Tentu saja, hal ini juga sudah disepakati sebelumnya. Bisa saja jika mau menyepakati boleh menyebut maksimal 3, 4, atau berapa pun bilangan.
·         Pemain yang menyebut bilangan 1001 terlebih dahulu dialah yang akan menjadi pemenangnya.

        Coba deh! Dan rasakan! Bagaimana sebenarnya matematika tak harus berhadapan dengan kertas dan pensil saja. Tak harus mengerjakan LKS, tak harus menulis.

        Kembali ke permainan 1001, kira-kira konsep matematika apa yang ingin dilihat ibu dari anaknya? Aha, ya! Mengurutkan bilangan dari yang terkecil ke terbesar. Selama ini seringnya ditulis di buku soal seperti ini: 985, …, 987, …, …, 989, dst. Bosan, sangat membosankan. Anak pun cenderung tak menyukainya. Permainan ini juga sekaligus melihat kemampuan anak dalam membilang dan membaca bilangan. Ingat! Bahwa 985 dibacanya sembilan ratus delapan puluh lima, bukan sembilan delapan lima. Nah, meski begitu permainan ini juga bisa lho jika bilangannya diganti dengan bilangan loncat, bilangan pecahan, bahkan bilangan bulat sekalipun.

       Ada hebatnya lagi permainan ini lho! Yang jelas, ibu dan anak jadi semakin erat jalinannya. Anak semakin percaya bahwa ibunya benar-benar teman yang enak diajak bermain bersamanya.


         Ok, selamat bermain!

Sabtu, 14 Maret 2015

Ibu, Peluklah Kembali Anakmu!



            Ini tentang cinta. Dan tak ada yang bisa memberikan cinta kepada seorang anak, melainkan ibunya sendiri. Seorang pengasuh bisa memberikan perhatian kepada seorang anak manakala ditinggal ibunya bekerja. Namun, pengasuh tak bisa memberikan cinta. Sekelas Halimatus Sa’diah sekalipun, ketika Muhammad kecil disusui dan diasuhnya, tetap saja Halimatus tak sanggup memberikan cinta. Ketika peristiwa pembelahan dada atau ketika Muhammad akan diculik orang dari Habasyah, Halimatus mengambil keputusan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya. Aminah memeluk dan menggendongnya. Tak ada ketakutan sedikit pun atas peristiwa yang dialami anaknya. Aminah tenang, maka Muhammad pun tenang.

            Ini tentang siapakah madrasah anak pertama dan utama? Ibu, jawabannya. Memeluk adalah bagian pengejawantahan kasih sayang serta cinta, dan karenanya anak akan dekat dengan ibunya. Kalau sudah dekat, ibu berkata apa saja akan mudah anak menerimanya. Ketika pertama kali ibu yang mengajarkan kebaikan, anak akan mengingatkan dalam pikiran bawah sadarnya. Apalagi jika berulang-ulang terekam. Apa jadinya jika pertama kali dekat dengan anak adalah keburukan yang datang di luar ibunya? Oh, mohon jangan salahkan anak! Ibu, peluklah kembali anakmu!

            Tapi bagaimana? Terkadang ibu terpaksa harus bekerja. Berangkat pagi pulang malam, sampai rumah lelah melanda. Masalahnya bukan karena itu. Namun, seberapa mau ibu kembali memeluk anaknya. Memeluk itu mudah, namun memulainya kembali yang susah. Apalagi jika anak sudah tak balita lagi. Sudah saatnya menyudahi. Meluangkan waktu sesaat sebelum dan sesudah pulang kerja untuk memeluk anak adalah terapi hubungan yang luar biasa. Tahanlah kantuk, bercengkramalah sebentar dengan anak. Anak akan memahami kelelahan ibunya. Bahwa bekerjanya ibu bukan adalah untuk kebaikannya. Dua jam sehari sungguh akan memberi rasa dan warna.

            Ini soal peradaban. Dan pepatah berkata bahwa ibu adalah tiang negara, patut direnungkan kembali dalam dada. Asma binti Abu Bakar, sang ibu yang begitu luar biasa menggembleng anaknya hingga berani syahid membela Islam adalah contohnya. Peradaban ada karena peran seorang ibu di dalamnya. Serangkaian motivasi dan pembelajaran berharga dari ibu akan mudah diserap anak manakala ibu bersamanya. Memeluk, mencium, dan ungkapan kasih sayang lain hingga mampu mensibghah kebenaran dan kebaikan dalam jiwa, pikiran, dan tingkah laku anaknya.

            Bukankah tujuh tahun pertama adalah pondasi yang seharusnya kuat untuk anak bertumbuh dan berkembang setelahnya? Golden age akan mencapai puncaknya manakala anak benar-benar merasakan kelembutan dan sentuhan kasih sayang ibunya. Tak ada hukuman fisik ataupun hukuman verbal. Tujuh tahun berikutnya, pelukan itu tetaplah dibutuhkan. Ibu sedang cerewet-cerewetnya mendampingi anak mengenal dan mempraktikkan kebaikan hingga usia ini pun mencapai masa emasnya. Memeluk bisa menjadi baterai baru bagi anak. Dan tujuh tahun berikutnya lagi anak sudah siap dan matang menjalani hidupnya. Mana yang benar dan mana yang salah, anak sudah punya landasannya.

            Tabungan pelukan tetaplah harus diberikan oleh seorang ibu. Banyak godaan dan masalah yang membelit anak. Rona kehidupan bersliweran tiada henti di hadapannya. Ada yang menakjubkan namun mengandung dosa. Ada pula yang kelihatannya tak sedap dinikmati, namun sebenarnya jalan surga. Anak bimbang. Ada kebingungan. Peluklah, karena pelukan itu menentramkannya, menyejukkannya. Ibu akan mudah menjelaskan mengapa itu demikian.


            Memeluk bukan persoalan sempat atau tidak sempat. Memeluk adalah bagian yang tak boleh terlupakan dari seorang ibu kepada anak. Memeluk adalah bagian pengungkapan bagaimana peradaban itu sanggup tercipta. Ibu, peluklah kembali anakmu!

Kamis, 12 Maret 2015

Islam dan Pemuda, bukan Islam dan Remaja


Ini adalah tulisan saya yang dimuat di Majalah Al Falah Surabaya, Januari 2015
Belum ada foto bukti dimuatnya nih! Tapi tulisan aslinya seperti ini. Moga bermanfaat.

            Dia adalah seorang panglima muda Islam yang gagah berani, kuat, matang, dan berkepribadian mulia. Rasulullah tak salah memilihnya untuk menjadi panglima perang meski saat itu ada sahabat senior sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Putra Zaid bin Haritshah dan Ummu Aiman ini memikat hati Rasulullah untuk memimpin pasukan perang. Padahal usianya ketika itu masihlah 16 tahun. Siapakah dia? Ya, Usamah bin Zaid.

            Usia 16 tahun merupakan usia remaja. Tepatnya remaja pertengahan. Begitu menurut pandangan beberapa ahli di dunia ini. Pada usia ini, atau remaja pada umumnya (13-21 tahun) identik dengan manusia yang penuh masalah. Kondisi emosi yang labil karena peralihan dari anak-anak menuju orang dewasa. Kadang sok berani, namun dalam hati juga masih merasa takut. Kecenderungan untuk ikut-ikutan pun tinggi, seolah remaja adalah pribadi yang plin plan, bodoh, dan tak punya pendirian. Keguncangan sering terjadi dalam jiwa remaja. Pokoknya bermasalah! Sering menimbulkan kegelisahan orang tua.  Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan bahwa usia remaja memang usia penuh masalah. Banyak perubahan terjadi dan butuh penyesuaian. Dan adakalanya, remaja beradaptasi dengan cara yang ekstrim.

            Banyak definisi remaja (adolensence) yang diungkap para ahli. Secara umum memang menyatakan masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Belum matang karena peralihan dan masih dalam proses menuju kematangan dalam segala aspek. Dalam bahasa arab, istilah remaja dikenal dengan sebutan Al Murohaqoh, yang memiliki makna dungu,jahat, dzalim, dan senang melakukan kesalahan. Intinya, remaja adalah pribadi yang bermasalah, senada dengan ciri yang sudah tertulis sebelumnya.

            Lantas, apakah seperti ini generasi remaja Islam? Bagaimana dengan Usamah bin Zaid tadi? Tampakkah kedunguan dan kejahatan, atau masalah lain yang tak beres dalam dirinya? Tidak! Dan sejarah Islam sudah banyak menelurkan generasi yang matang di usia remaja ini. Karena itulah, istilah remaja tidak layak ada dalam kamus Islam. Rasulullah sendiri tak pernah menggunakan istilah ini. Yang ada adalah “pemuda”. Pemuda (syabab) memiliki arti yang beda. Kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Dari definisi ini menunjukkan bahwa pemuda itu lambang optimisme, kemenangan, positif. Bukan kebalikannya, sebuah penyakit dan masalah.

            Allah berfirman,”Dialah Allah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS ar Ruum:54)

            Dari ayat di atas tampak ada fase lemah lalu kuat dan berakhir lemah kembali. Kata “lemah” yang pertama memang menunjukkan masa anak-anak, sedangkan kata “lemah” yang kedua menunjukkan masa tua. Hanya ada satu masa di antaranya, yaitu masa kuat. Dan inilah masa muda, masa pemuda (syabab), masa penuh kekuatan.

            Apa yang ada di pikiran, itulah yang akan jadi lisan yang terucap. Lisan inilah yang akan membentuk kebiasaan hingga berujung kepada karakter yang terbentuk. Apa yang terjadi jika dalam benak orang tua bahwa ketika anaknya berusia 13-21 tahun adalah remaja? Orang tua senantiasa berpikir penuh ketakutan karena anaknya pasti bermasalah. Orang tua akan dibuat bingung meski bagaimana memperlakukan anaknya dalam usia ini. Berbeda jika mindset awal bahwa anaknya usia tersebut adalah seorang pemuda (syabab). Keyakinan orang tua bertambah karena generasi hebat dan tangguh muncul di tengah-tengah kehidupan mereka.Apalagi jika sang anaknya sendiri berpikiran bahwa dirinya adalah pemuda. Peradaban akan terjadi.

            Mulai sekarang, gunakan istilah “pemuda”! Islam jaya karena peran pemuda. Islam tampak tinggi di dunia juga karena semangat dan kemauan keras pemuda. Mari kita tilik beberapanya. Ada Zaid bin Tsabit sang pakar faraidh (ahli ilmu waris) yang ketika Nabi Muhammad wafat usianya tidak lebih dari 23 tahun. Tercatat dalam sejarah pula bagaimana Rafi’bin Khudaij, seorang ahli panah dan Samurah bin Jundub (ahli gulat) akhirnya pun berhasil menaklukkan hati Rasulullah untuk bisa ikut perang Uhud padahal usia keduanya belum mencapai 15 tahun. Atau Umair bin Abi Waqqas, saudara Sa’ad bin Abi Waqqash yang secara sembunyi-sembunyi ikut perang Badar karena tak ingin Rasulullah menolaknya hanya karena beliau menganggap dirinya masih kecil.


            Cukup satu kata “pemuda”. Bukan remaja.  

Minggu, 08 Februari 2015

Faktor

Faktor bilangan 8 dan faktor bilangan 9


           “Ayah, apa yang menyebabkan orang bisa buta?” Malik tiba-tiba datang terengah-engah mengganggu ayahnya yang sedang membaca koran di teras. Sedang Malik sendiri baru saja pulang dari bermain bersama temannya.
            “Kenapa tiba-tiba tanya hal itu?’
            “Tadi waktu bermain bersama Fadhil, Fadhil cerita tentang orang buta yang baik yang dijumpainya saat pergi ke supermarket minggu kemarin.”
            “Memang baiknya orang buta itu apa kok Fadhil sampai bilang begitu?”
            “Orang buta itu kan lagi berjalan, ditabrak pengendara sepeda motor. Nggak sampai luka parah sih, eh, tapi pengendara motornya malah marah-marah karena orang buta tersebut nggak lihat-lihat. Kan wajar ayah, orang buta nggak lihat. Tapi, orang buta itu malah berbalik minta maaf dengan bertutur kata yang sopan. Nah, Fadhil iba dengan orang buta tadi. Katanya pingin menyembuhkan mata orang buta tadi andai dia bisa.”
            “O begitu ceritanya, subhanallah ya orang buta tadi?”
            “Iya, tapi apa jawabannya ayah, tentang apa penyebab buta?”
            “Ya macam-macam. Bisa sudah takdir Allah semenjak dia lahir. Ada yang karena kecelakaan hingga syaraf matanya rusak dan menyebabkan kebutaan. Itu sih yang ayah tahu.”
            “Segala sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya ya ayah?”
            “Begitulah! Nah, sekarang ayah tanya biar kamu lebih mendapatkan gambarannya yang lebih gamblang.”
            “Apa ayah? Nggak sulit, kan?”
            “Berapakah faktor dari 8?”
            “1, 2, 4, dan 8. Kok jadi pelajaran matematika Ayah?”
            “Sabar, ntar kamu akan mengerti sendiri apa kaitannya. Terus, mengapa bilangan-bilangan itu disebut faktor dari 8?”
            “Ya karena ketika bilangan itu dikalikan akan menghasilkan bilangan 8. Misalkan 1 x 8, 2 x 4, 4 x 2, dan 8 x 1.”
            “Kalau faktor dari 10?”
            “Ah Ayah, mau menguji kemampuan Malik ya? Faktor 10 itu 1, 2, 5, dan 10. Betul, bukan?”
            “Sipplah! Nah, kira-kira apa yang menyebabkan orang bisa masuk surga, Nak? Maksudnya kalau mau dicari faktornya, apa coba?”
            “Banyak, bisa karena amal kebaikan yang dia lakukan, bisa karena rahmat Allah.”
            “Lalu, orang yang buta tadi bisa masuk surga tidak karena sifat pemaafnya terhadap orang yang menabraknya?”
            “Ya bisalah. Kan pemaaf adalah amal baik.”
            “Terus, dengan menjadi orang buta, ada tidak peluang orang tersebut untuk lebih menjadikannya penghuni surga?”
            Malik tampak berpikir keras. Dia nampak memutar otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan ayahnya. Ayahnya pun menunggu dengan sabar dan tenang sambil meneruskan membaca koran. Sesekali dilirik anaknya, jari-jari tangannya masih memukul-mukul ringan meja di samping ayahnya. Tampak kosong, belum ada tanda-tanda dia berhasil mendapatkan jawaban.
            Sang ayah segara meletakkan kembali korannya. Malik cengar-cengir berkata bahwa dia menyerah. Lalu ayahnya bercerita tentang seorang anak yang diajak ayahnya jalan-jalan, dan selama dalam perjalanan mereka melihat seorang perempuan bertangan satu. Tangan sebelahnya lagi sudah tidak ada alias buntung. Sang ayah bertanya tentang siapakah yang lebih beruntung antara perempuan tersebut dengan diri anaknya. Sang anak menjawab bahwa dia sendiri yang lebih beruntung karena dengan punya tangan lengkap dia bisa melakukan banyak hal dengan sempurna dan lebih cepat. Sedangkan perempuan yang dilihatnya tidak demikian. Sang ayah mengiyakan, lalu beliau bertanya tentang peluang perempuan tersebut untuk berbuat maksiat dengan tangannya. Sang anak menjawab bahwa perempuan tersebut akan merasa senang karena minimal satu tangannya tidak akan pernah berbuat maksiat. Otomatis satu tangannya yang tidak ada tidak ada dimintai pertanggungjawaban. Sang ayah menegaskan tentang siapa yang sebenarnya lebih beruntung.
            “Oh, aku tahu ayah. Berarti orang yang buta tadi bisa menjadi penghuni surga lagi karena matanya diselamatkan dari melihat yang tidak diperbolehkan ayah. Betul, bukan?”
            “Luar biasa anak ayah,”sanjung ayah Malik sambil mengelus rambut anaknya yang mulai kemerah-merahan.
           
            Wahai para orang tua, apa yang didiskusikan Malik dan ayahnya sungguh suatu hal yang membawa kebaikan. Mengapa? Secara tak langsung, meski ayah Malik menanyakan tentang faktor sebuah bilangan, namun beliau cerdas sekali mengajak anaknya mengambil hikmah dari makna faktor tersebut. Bahwa segala sesuatu terjadi karena ada faktor penyebabnya. Dan semuanya kembali kepada kehendak Allah.

            Anak jadi memahami ada peran Allah dibalik semua peristiwa. Dan setiap kejadian yang menimpa manusia tidak akan melebihi kemampuan manusia itu sendiri, bahwa ada pelajaran berharga yang bisa dipetik jika manusia mampu memaknai. Pun, dari dialog di atas, dari bab faktor sebuah bilangan, anak akan mengerti bahwa sesuatu bisa menyebabkan sesuatu. Ada hukum sebab akibat disana. Lebih jauh, ayah Malik begitu pintar mengajak anaknya berpikir tentang demikianlah sifat Allah. Allah Maha Memberi Pembalasan. Setiap amal kebaikan diganjar dengan kebaikan, demikian pula sebaliknya. Anak tak hanya pintar menjawab bahwa 1 x 8 akan menyebabkan hasil 8, namun anak punya pikiran yang mendalam bahwa amal baik bisa membawa manusia ke dalam surga. Sehingga manusia tidak dinilai dari bentuk fisiknya, namun lebih kepada amal yang dilakukannya.

Senin, 02 Februari 2015

Karakter Positif Anakku Mulai Tampak Wujudnya

Dimuat di Nakita Januari 2015

Membangun karakter positif pada anak dibutuhkan pembiasaan (Indari Mastuti)

            Jangan dikira kalau anak usia balita tidak mengerti tentang “mimpi”. Memang, ketika orang tua bertanya,”Nak, apakah mimpi yang ingin kau capai?” anak belum tentu mengerti apa maksudnya. Dengan penggunaan bahasa yang tepat sesuai dengan kemampuan anak, istilah “mimpi” akan mudah dipahaminya.
            Anak usia 2 tahun biasanya memiliki kemampuan berbicara dan perbendaharaan kata yang cukup banyak. Berbicara 2 kata atau lebih sekaligus juga sudah dikuasainya. Bahkan, kecenderungan anak usia ini senang dan selalu bertanya “apa” tentang kata baru yang didengarnya. Dengan kemampuan berbicara dan menangkap bahasa ini pun, anak dengan mudah memahami 1-2 perintah sekaligus untuk bisa dilakukannya.
            Sudah menjadi hal yang wajar bahwa orang tua ingin anaknya nanti tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter positif. Membangunnya ini tidak serta merta langsung jadi. Ada proses yang harus dilakukan orang tua dan anak sendiri dengan penuh kesabaran, Menurut Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, minimal ada 3 hal yang harus dicermati dan dilakukan sungguh-sungguh untuk membentuk karakter positif anak ini, yaitu konsisten, berkelanjutan, dan konsekuen. Proses ini membutuhkan waktu. Karakter positif tidak tumbuh alami dalam diri anak.
            Awalnya, saya bingung bagaimana bisa mengontrol proses pembiasaan ini. Apakah seperti saya yang tiap bulan selalu mengeprint target jadwal sebulan lalu diisikan? Ah, rasanya akan tidak menghemat kertas. Belum lagi kalau lupa mengeprint karena printer rusak/tintanya habis. Dicatat di buku? Anak tak bisa melihat langsung dengan mudah setiap saat. Untunglah, akhirnya saya menemukan papan target ajaib bernama metrik. Saya tuliskan target hariannya di kolom yang disediakan dan saya catat hasilnya setiap hari. Jika terpenuhi targetnya, maka tak ada utang. Jika tidak terpenuhi, maka target esok harinya ditambah. Namun jika berlebih targetnya, keesokan harinya tetap dengan target yang sama.
            Sulung saya. Qowiyy (5 tahun) yang pertama kali menggunakan metrik di keluarga saya. Qowiyy anak yang enggan berbicara dengan orang lain jika belum kenal sebelumnya. Dia cenderung diam dan mengamati. Ketika ditanya orang juga cenderung enggan menjawab. Saya mencoba menantang dia agar dalam sehari berani berbicara dengan orang lain di setiap kesempatan. Awalnya susah. Qowiyy belum keluar dari zona nyamannya. Bahkan sering tak tercapai target harian itu. Namun, lambat laun, dengan terus saya dampingi setiap kali mau berbicara dengan orang lain, Qowiyy tampak kepercayaan dirinya meski belum seignifikan. Paling tidak jika ketemu kakek neneknya dan saudara lain yang jauh di luar kota, Qowiyy sudah menunjukkan rasa percaya diri yang berarti.
            Orang tua Nasywah (2 tahun 4 bulan) sejak bulan November 2014 kemarin memberlakukan target harian “merapikan mainan setelah selesai bermain” kepada anaknya. Pasalnya, Nasywah cukup sulit diminta untuk merapikan mainan jika sudah usai bermain. Ada saja alasannya, entah lapar, capek, ngantuk, dsb. Bahkan diajak merapikan bersama-sama pun Nasywah malah tidak ikut membantu. Untuk memulai membentuk karakter ini, ada pembicaraan awal antara ibunda Nasywah dengan anaknya.
            “Kau tahu, Nak, apa itu tanggung jawab?”
            Nasywah tentu saja menggeleng tidak tahu, bahkan dia lanjut bertanya apa itu tanggung jawab. Ibundanya pun memberikan keteladanan langsung tentang tanggung jawab ini dengan mengajak Nasywah merapikan mainan. Ogah-ogahan? Ya.
            “Nasywah, gimana sih senyum itu? Nasywah suka ayah dan bunda tersenyum?” Nasywah  mempraktikkannya dan menjawab,”Iya, aku tak mau lihat ayah bunda sedih.”. Dari jawaban ini, tampak bahwa Nasywah bermimpi, berkeinginan melihat orang tuanya tersenyum untuknya. Lalu, ibundanya berkata bahwa senyum itu akan didapatkannya jika dalam sehari berhasil merapikan mainannya sebanyak 2 kali. Dilengkapi dengan stiker bergambar emoticon “senyum” ibundanya berharap kesenangan Nasywah merapikan mainan bisa terwujud. Setiap hari, stiker ini ditempel di papan target harian Nasywah yang dipasang di kamarnya. Kegiatan menempel stiker ini pun menyenangkan baginya selain mengasah motorik halus anak.
            Bulan November berlalu. Ibundanya mendapati Nasywah cukup kooperatif. Sempat bolong 3 hari Nasywah tidak mau bertanggung jawab merapikan mainannya, namun selebihnya ada hal yang mengesankan terlontar dari Nasywah. “Biar Nasywah aja yang merapikan. Kamu jangan merapikan!” Bermula dari mainan favoritnya, kini di bulan Desember, Nasywah mau merapikan mainan apa saja.
            Ashalina, anak dengan usia yang tidak terpaut jauh dari Nasywah, tapi lebih tua, demikian halnya. Anak yang dititip di sebuah daycare ini berasal dari keluarga yang mapan. Namun, bagaimanapun dititip bukan berarti anak dimanja, bukan? Karakter tanggung jawab untuk hal sesederhana sekalipun tetap harus dilatihkan. Karena anak-anak di daycare cukup banyak tentunya Asha memiliki kecenderungan ingin bermain dengan teman-temannya. Makan pun akan sulit duduk tenang. Apalagi jika makan sudah selesai, inginnya kabur saja segera bergabung dengan temannya. Lupa dengan piring yang dipakainya makan. Apalagi ada pengasuh daycare dan pegawai kebersihan daycare. Anak bisa memanfaatkan mereka untuk mengangkat piring dan meletakkannya di tempat cucian piring.
            Pengasuh Asha tidak ingin hal itu terus terjadi. Dengan target harian bahwa sehari 2 kali Asha mau membawa dan menaruh piring bekas makannya di tempat semestinya, pengasuh berharap Asha lebih bertanggung jawab. Hasilnya, sesekali saja Asha lalai. Sampai bulan Desember ini didapati Asha sudah makin terbiasa melakukannya. Jika lupa dan buru-buru ingin main, pengasuhnya hanya berkata,”Ini piring makan siapa ya?” Tak lupa sang pengasuh memberikan penguatan selesai Asha melakukannya.

            Inilah konsisten itu. Inilah berkelanjutan itu. Tak cukup sekali saja atau sehari saja. Harus terus menerus, berkelanjutan setiap hari. Rutinitas akan membiasakan karakter positif pada diri anak. Orang tua harus telaten dan konsekuen dengan apa yang dilakukan bersama anaknya. Ketika anak berbuat sesuai harapan, ada penguatan yang diberikan orang tua untuk anaknya. Jika ternyata belum berhasil mengajak anak mencapai targetnya, orang tua dituntut kreatif berbahasa dan mempersuasif anak. Memasang papan target harian sebagai salah satu caranya.

Topi Merah Kesayangan


Alhamdulillah dimuat!
Ini tulisan aslinya ya. Yang ada di majalah Ummi-Permata edisi Februari 2015 sudah direvisi sama sananya. Beberapa saja. Tapi tak mengurangi isinya.
Selamat membaca!



            Semua geleng-geleng kepala melihat tingkah Dindo. Ke sekolah pakai topi. Bermain di lapangan dekat rumah juga pakai topi. Ke toko buku juga memakai topi. Bahkan pergi ke masjid pun memakai topi. Warnanya yang merah meski sudah agak luntur sedikit tak menyurutkan rasa sayangnya kepada topi itu.
            “Nak, bunda cucikan ya topi merah kesayanganmu itu?” Bu Riska menawarkan diri. Ibu Dindo ini merasa risih karena topi idola Dindo itu tak pernah dicuci sejak membelinya 1 bulan yang lalu.
            “Nggak usah, Bunda! Kalau mau dicuci, ntar biar Dindo yang lakuin sendiri.”
            Dindo meskipun baru kelas 5 SD memang sudah bisa mencuci, terutama kaos dan celana dalamnya. Kalau mencuci topi, pasti bisa. Namun, sudah berkali-kali bundanya mengingatkan, rupanya Dindo merasa sayang kalau topinya dicuci. Takut jika ada yang rusak nantinya. Saking khawatirnya diambil bundanya masuk bak cucian, Dindo pun memakainya sepanjang hari. Ketika mandi pun dibawanya serta ke kamar mandi.
            “Dindo,emang nggak bau topimu itu?” Bu Riska bertanya lagi.
            Dindo nyengir. Dengan centil dan sok percaya diri dia menjawab kalau topinya baik-baik saja. Daripada ngobrol sama bundanya panjang lebar yang ujung-ujungnya topi mau dicuci, Dindo segera pamit main di lapangan. Sudah banyak teman menunggunya di sana bermain sepak bola.
            Sore itu adalah kesempatan pertama Dindo bermain sepak bola lagi sejak memiliki topi merah itu. Musim hujan membuatnya tak bisa bermain sepak bola di sore hari. Hari itu cuaca tampak cerah. Begitu girang hati Dindo dan teman-temannya karena bisa bermain sepak bola lagi. Seperti biasa, Dindo memakai topi merah kesayangannya.
            Sudah berkumpul semua teman-temannya. Dibagi dua kelompok agar bisa bertanding bermain sepak bola. Dindo siap bermain memenangkan pertandingan sepak bola sore itu. Ada Firzi di regunya. Teman yang sangat cerewet tapi banyak disenangi anak-anak. Idenya suka di luar pikiran anak pada umumnya. Namun benar dan sangat berguna.
            Pertandingan sepak bola pun dimulai. Bunyi peluit wasit sudah terdengar kencang. Para pemain siap menjebol gawang lawan. Tak terkecuali Dindo. Kakinya semangat menendang bola. Diarahkan ke temannya. Tak jarang dia pun menerima umpan dari temannya. Semua berjalan lancar. Meski demikian gol belum juga tercipta.
            “Dindo, sundul bola ini!” teriak Firzi.
            Dindo segera sigap menyundul. Namun, sundulannya tak sempurna. Meleset. Bahkan berhasil diambil alih lawan penguasaan bolanya. Firzi sedikit kecewa. Masalahnya bukan sekali saja Dindo gagal menyundul bola dengan benar. Berkali-kali. Sampai babak pertama berhasil, regunya Dindo tak berhasil mencetak gol. Bahkan sudah ketinggalan 0-1 dibanding lawannya.
            “Dindo, tadi kenapa dengan sundulanmu?” tanya Firzi.
            Dindo mengangkat kedua pundaknya pertanda tak tahu. Firzi tambah berpikir keras apa yang menyebabkan sundulan Dindo meleset terus. Padahal sebelumnya Dindo jago soal sundulan bola. Dindo hanya terdiam. Dia masih setia memakai topinya. Babak kedua segera dimulai lagi. Waktu istirahat sudah hampir habis. Tiba-tiba Firzi menyeletuk.
            “Wah, kayaknya kamu harus lepas topimu itu Dindo!”
            Dindo terperanjat kaget. Mana mungkin dia melepas topinya. Sore itu dia tidak membawa tas untuk menyimpan topinya. Temannya pun demikian halnya. Biasanya juga begitu. Kalau mau menang, topi kesayangannya harus terpaksa dilepas sejenak selama pertandingan babak kedua dimulai. 20 menit saja. Dindo masih ragu. Mau ditaruh mana topinya?
            “Topinya cantolin di ranting pohon itu saja. Aman kok. Nggak usah takut hilang!” sahut Firzi lagi setengah mendesak Dindo.
            Bagaimanapun sepak bola adalah kesenangan Dindo juga. Tak pernah kalah sebelumnya. Apakah sore ini harus kalah gara-gara topinya? Dindo akhirnya menuruti nasihat Firzi. Dan babak kedua pun berlangsung dengan seru. Sundulan Dindo tak meleset lagi. Bisa diterima temannya dengan baik dan akhirnya berhasil menjebol gawang lawan. Sedikit mulai gentar lawannya. Pertandingan semakin ramai dan Dindo seolah lupa dengan topinya. Regu Dindo pun akhirnya unggul dengan skor 1-2.
            “Hore! Kita menang!” teriak Firzi mendekap Dindo.
            Dindo tampak gembira juga. Namun, buru-buru dilepaskannya dekapan Dindo. Dia segera bergegas menuju pohon dimana topinya ditaruh di rantingnya. Topi itu tidak ada di tempatnya. Dindo memarahi Firzi. Sore jelang magrib itu berubah warna raut wajah Dindo. Dicarinya topi merah kesayangannya itu di sekitar lapangan. Tak ditemukannya juga. Sambil cemberut dan menggerutu karena tak menemukan topinya, Dindo berjalan kesal menuju rumah.
            “Kok kesal begitu wajahnya? Lho topinya mana?” tanya Bu Riska.
            Dindo tak menjawab. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan bajunya. Dan di sana dia temukan topinya sudah terendam air sabun, siap untuk dicuci.

            “Kak, kebersihan pangkal kesehatan, bukan? Ntar rambut Kakak bau dan penuh kuman lho!” sahut Tiara, adik Dindo ketika kakaknya keluar kamar mandi.