Senin, 05 Mei 2014

Homeschooling Ala Saya Itu Mudah

Sedotan, media sederhana dan murah untuk homeschooling

Janganlah kau persulit, namun mudahkanlah! Hadits ini begitu menginspirasi saya dalam berbagai hal, termasuk mendidik anak-anak saya. Bukan berarti menggampangkan lho! Tapi bagaimana mendidik anak menjadi proses yang sangat menyenangkan, meski terkadang fasilitas minim dipunyai. Mudah! Itu dalam benak saya. Homeschooling bagi saya pun gampang-gampang saja.

Tak pernah ada jadwal khusus untuk saya melakukan homeschooling. Semua sangat tergantung maunya anak. Ketika anak menemukan sedotan sebagai media menarik untuk dimainkan, maka momen inilah yang saya manfaatkan untuk homeschooling. Suatu ketika, Qowiyy menyambung sedotan satu dengan sedotan yang lainnya. Dia tampak senang melakukannya. Saya ikut-ikutan melakukan hal yang sama untuk adiknya, Saya berhasil menyambung 2 sedotan, sedang Qowiyy menyambung 3 sedotan. Tiba-tiba Qowiyy meminta ijin mengambil sedotan yang sudah saya sambung. Lalu disambungkan dengan kepunyaannya.
“Hore, sedotannya jadi lebih panjang!” teriaknya.
“Kok tahu, Mas?”
“Iya, kan disambung jadi satu. Tadi kan dipegang bunda, trus Qowiyy ambil dijadikan satu!”
“Wah, kalau jadi panjang gitu kira-kira nyampai tidak kena lampu di atap sana?”
“Gak bisa, harus disambung lagi! Kurang!”

Sederhana. Dari sedotan, Qowiyy memahami penjumlahan secara tidak langsung. Pun konsep panjang, bahkan daya nalarnya terasah ketika saya menanyakan pertanyaan terakhir.

Bahkan, ketika jalan-jalan keliling perumahan pun, homeschooling bisa dilakukan.
“Bunda, itu asap!” teriak Qowiyy melihat asap.
“Wah, asap dari mana ya?”
“Dari api!”
“Mana apinya? Nggak ada tuh?”
“Oh iya ya.”
Qowiyy tampak masih bingung. Api memang sudah tidak tampak, namun asap masih mengepul. Inilah momen yang tepat menjelaskan mengapa asap itu ada. Qowiyy manggut-manggut bahkan dia nyeletuk kembali,”Asap itu bikin nggak enak. Mobil di depannya itu pasti bau. Baju yang dijemur juga pasti bau!”
Luar biasa!
“Kok bisa bau?”
“Kan punya hidung, kan?”
“Siapa yang bikin hidung?”
“Allah!”

Jalan-jalan jadi lebih menyenangkan. Sampai-sampai harus jalan menanjak pun Qowiyy tak merasa lelah. Pulang pergi, bahkan bisa mencapai 45 menit jalan, Qowiyy pun betah dan tahan. Banyak yang bisa dia pelajari dari alam.

Mudah, bukan? Beginilah sebagian homeschooling ala saya. Bagaimana dengan Anda?

Senin, 21 Oktober 2013

Kecil-kecil Sudah Jadi Pemimpin, Apalagi Nanti

Inilah Qowiyy ... sang pemimpin sekarang dan nanti

Pemimpin itu visioner. Paling tidak ini yang saya pahami dari seorang kepala sekolah yang pernah saya kenal. Beliau berkata,”Tahun pertama kepemimpinan saya harus ada siswa yang lulus dengan nilai matematika 10.” Abdullah Gymnastiar menegaskan pula bahwa visioner itu memiliki strategi yang tepat, dapat membaca potensi dan menyinergikannya serta mampu memotivasi. Bagaimana agar anak saya, Qowiyy dipanggilnya bisa berjiwa demikian? Ini dia yang selama ini saya lakukan.
“Mas, habis mandi sore ngapain?”
“Baca Quranlah, terus baca buku.”
“Kenapa suka baca Quran dan baca buku?”
“Kan Qowiyy bisa. Qowiyy suka baca buku.”
“Biar bisa apa lakukan itu?”
“Masuk surga lah! Biar dapat bintang dari bunda juga.”
O, o. Qowiyy visioner. Dia tahu kesukaannya dan dia tahu mengapa dia melakukan hal itu. Selamat, Nak!

Lalu, pemimpin itu kreatif dan inovatif. Kehidupan dunia yang semakin menggila dan global menuntut seorang pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah secara kreatif dan cara yang tak terduga. Tidak stagnan, senantiasa berpikir dan berpikir. Sesungguhnya, secara fitrah, anak itu kreatif dan inovatif. Sejak kecil dia sudah layak disebut pemimpin. Tugas orang tua hanya mengarahkan dan membimbingnya. Tips saya sederhana, biarkan anak bereskplorasi dengan bebas. Ketika mewarnai sebuah bunga dengan mahkota yang banyak saya membiarkan Qowiyy memilih warnanya dengan bebas. Alhasil terciptalah bunga sapta warna. Saya acungi jempol dan Qowiyy tersenyum bahagia.

Ehm, apalagi ya? Oh ya, pemimpin itu mudah beradaptasi. Maksudnya tidak hanya bisa bergaul saja lho, namun bisa menempatkan diri. Jika salah mau diluruskan, jika benar haknya untuk diikuti. Sebuah percakapan Qowiyy dengan adiknya berikut ini membuat saya bangga.
“Adik, nggak boleh mandi sama-sama. Harus antri Adik! Mas Qowiyy dulu. Malu!”
“Kenapa Mas?” tanya saya.
“Kan bunda mandinya juga sendiri. Kan adik perempuan, nggak baik mandi sama-sama.”
He,he. Benar juga. Namun, suatu hari ketika saya memandikan adiknya yang masih setahun usianya, Qowiyy tiba-tiba ikutan masuk di kamar mandi. “Mas Qowiyy!” sapa saya dengan nada melenggang. “Harus antri ya Bunda?” Keren, bukan?

Selanjutnya, pemimpin itu memiliki kecerdasan intrapersonal yang tinggi. “Mintalah fatwa pada dirimu sendiri”. Kata bijak dari sang nabi ini yang selalu menginspirasi. Dan ini pula yang saya stimulus terus terhadap Qowiyy. Saya suguhkan kisah menarik ini, pengalaman saya menumbuhkan kecerdasan ini.
“Bunda, ntar kalau ikut bunda ngajar ibu-ibu Mas Qowiyy boleh nggak mainan gelas?”
“Ehm, gimana lho?” saya balik bertanya.
“Nggak boleh ya, ntar bisa-bisa gelasnya pecah. Ntar lantainya kotor karena kena air yang tumpah.”
Saya tersenyum dan berkata,”Hebat Nak!”
“Boleh nggak Mas Qowiyy main puzzle?”
“Ehm, gimana lho?”
“Boleh lah, kan biar pinter. Ntar mainnya sama-sama adik ya.”
Qowiyy bisa memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain karena dia terbiasa meminta fatwa pada dirinya sendiri.

Tentu, usaha saya agar ciri-ciri pemimpin yang sudah ada pada diri Qowiyy terus berlanjut sampai nanti harus senantiasa saya pupuk. Pemberian kasih sayang yang tepat, dukungan doa yang tiada henti, serta seperangkat nutrisi yang mampu menjaga fisik dan akalnya senantiasa dalam kondisi ready. Lucu jika pemimpin gampang sakit-sakitan. Aneh jika seorang pemimpin juga berotak “dodol”. Pemberian makanan yang sehat selalu menjadi perhatian saya. Sayur dan buah harus senantiasa menjadi menu hariannya. Bagaimana dengan asupan akal? Memasukkannya di sekolah yang bagus serta merangsang otaknya dengan permainan edukatif di rumah juga tak luput dari keseharian saya mendampingi Qowiyy, bocah 3 tahun 8 bulan ini, menjalani hari-hari.

Kini, Qowiyy sudah bisa menjadi seorang pemimpin, apalagi nanti. Optimis itu sebuah kemestian. 

Selasa, 24 September 2013

Matematika Asyik untuk Balita

Matematika itu asyik seperti orang yang mau tidur. Siapkan baju hangat, pules deh!

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah peristiwa yang dialami anak saya yang sekarang masih berusia 3,5 tahun. Suatu saat dia menata banyak benda yang ada di kamarnya. Biasanya paling dia membentuknya menjadi panjang seperti kereta api. Namun ketika itu tidak. Qowiyy menata benda-benda itu (ada buku, pensil, kotak minuman, botol sambal, dsb) hingga menjadi lingkaran yang besar sampai memenuhi kasur. Ketika saya datang membawa adiknya yang baru saja mandi untuk ganti pakaian saya kagum dengan yang dikerjakan Qowiyy. Lalu, saya bertanya,”Wow, keren banget! Bikin apa itu Mas?” Anak saya menjawab,”Ini lingkaran besar Bunda. Eit, Bunda dan adik nggak boleh ke sini, soalnya ini mobilnya macet (sambil menunjuk benda-benda yang ditatanya) panjang sekali. Kayak yang ada di Jakarta itu lho, yang ada air mancurnya (maksudnya adalah Bundaran HI). Jangan ke sini ya, ntar sempit kasurnya, rusak macet-macetannya.”

Mana matematikanya ya? Sepertinya tak ada hitung-hitungannya ya? Memang tidak ada, namun perlu diketahui matematika tidak sesempit itu. Matematika sejatinya adalah melatih daya nalar anak, membangun logika anak agar anak mampu menyelesaikan masalah. Berhitung memang bagian dari matematika, penting juga. Maka sebaiknya, tak perlu dipertentangkan. Saya pernah pengalaman mengadakan tes hitung dasar (pola seperti tes toefl yang dibatasi waktu) dan tes matematika yang melibatkan konsep dasar dan pemecahan masalah. Ada dua sekolah yang menunjukkan hasil berbeda namun ini menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Sekolah yang pertama, siswa-siswanya sangat cepat mengerjakan tes hitung dasarnya. Dan rata-rata hasilnya sangat memuaskan. Namun, ketika mengerjakan tes yang satunya rata-rata tak lebih dari 7. Sekolah yang satunya kebalikannya. Dari rentetan cara penyelesaian masalah dari konsep dasar yang diberikan, siswanya tak mengalami kesulitan. Siswa paham konsep dengan benar sehingga bisa menentukan jalan/cara menyelesaikan masalahnya. Namun, karena hasil tes hitung dasarnya lemah, permasalahan konsep dasar yang membutuhkan hitungan meski sedikit, anak-anak tak mampu mengerjakannya.
Jadi, sebenarnya keduanya bekerja saling melengkapi. Pemahaman konsep dasar sangat diperlukan dalam aplikasi memecahkan masalah keseharian, sedangkan berhitung sebagai alat yang dalam keadaan tertentu juga dibutuhkan. Termasuk untuk balita.

Kembali ke jawaban Qowiyy anak saya tadi. Lingkaran. Konsep dasar lingkaran ternyata Qowiyy sudah mengenalnya dengan baik. Banyaknya benda-benda di sekitar yang berbentuk lingkaran semakin membantu dia lebih mengenal apa itu lingkaran. Selanjutnya, besar. Ini juga logika matematika. Qowiyy sudah bisa membedakan lingkaran besar dan kecil buktinya. Bahkan pernah dia menyanyi lagu “Lingkaran kecil lingkaran kecil, lingkaran besar” dia pun bisa memutar badannya sesuai dengan lagunya. Kalau lingkaran kecil, ya, dia hanya memutar badannya kecil saja. Dan akibar baik selanjutnya adalah Qowiyy akhirnya memahami konsep luas sederhana. Tahu dari mana? Dari kata “sempit” yang diucapkannya. Qowiyy juga bisa melakukan proses generalisasi dengan baik, bahwa kalau terjadi macet maka bisa dipastikan ada mobil yang berjalan lambat dalam antrian panjang. Ya, panjang juga merupakan konsep matematika.
Anak saya sudah dalam keadaan senang memainkan benda-benda di kamar menjadi sebuah lingkaran besar dan kemacetan yang panjang. Saya pun kembali bertanya,”Truknya yang mana ya?” Qowiyy menunjuk buku dan botol sambal. Saya bertanya lagi,”Ada berapa truknya?” Dia pun bisa menjawab,”Dua.” Selesai. Adakah berhitungnya? Ada, tapi ketika belajar itu, ketika menjawab pertanyaan saya, Qowiyy dalam keadaan senang bermain.

Belajar matematika ketika balita sebenarnya tak perlu susah-susah. Bangun dulu logika anak tentang konsep dasar sederhana dan jika mau ditambahi hitungan, juga hitungan yang sederhana disesuaikan usianya. Matematika anak usia dini sifatnya lebih pada persiapan anak agar kelak bisa belajar matematika yang lebih mendalam lagi.

Toh, pada dasarnya hitung sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan sudah sering dipahami anak balita sehari-hari, meski mereka belum mengerti simbol kurang (-) atau tulisan lengkap seperti 1-1=0. Ketika segelas susunya habis diminumnya anak sebenarnya sudah mengenal bahwa dia minum susunya maka susu dalam gelas akan habis. Atau ketika dia mengambil 2 telur di kulkas lalu telur yang diambilnya ternyata jatuh dan pecah satu, dia pun mengerti bahwa kini tinggal 1 telurnya yang masih utuh.

Dan ini memang harus disiapkan. Seorang psikolog anak berkata bahwa salah satu indikasi anak siap belajar adalah bahwa kemampuan logika anak bagus disamping kemampuan linguistiknya. Dari hal ini wajar sekali jika pendidikan anak usia dini khususnya TK A dan TK B memasukkan sentra persiapan di dalam kurikulumnya. Yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan kemampuan logika ini dengan cara bermain, dengan cara yang lebih memanusiakan anak-anak, yaitu dengan cara yang menyenangkan.


Balita belajar matematika? Asyik kok!

Rabu, 18 September 2013

Bahagia dengan Sejenak Hening

Semua manusia pasti ingin kedamaian, merindukan kebahagiaan, dan menikmati ketentraman hidup. Namun, sebagian besar dari manusia tidak sadar bahwa ketika kegalauan, kekalutan, dan kesedihan datang menghampiri mereka, sebenarnya itu adalah salah mereka sendiri.
Manusia lupa dengan inderanya. Padahal indera itu adalah jendela. Terlalu sering dibuka maka segala informasi dan rupa dunia menerobos masuk ke kehidupan manusia. Tanpa saringan. Padahal mestinya manusia bisa membuka dan menutup jendela dengan lebih bijaksana. Sama halnya ketika kita berada di sebelah aliran sungai yang jernih sambil mendengarkan alunan musik yang syahdu, kita pun tidak akan terhanyut sempurna di dalamnya.
Bagaimana agar kebahagiaan mampu kita rasakan? Ada beberapa kunci yang bisa kita pakai untuk membuka pintu-pintu kebahagiaan itu. Nikmati hadiah terindah dalam hidup berupa hari ini. Hanya 24 jam ini kita bisa merasakan kedamaian tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita lihat. Syukuri saja, tak perlu membayangkan kebahagiaan esok hari atau masa mendatang. Ketika kita membayangkan hari depan yang masih misteri sesungguhnya kita telah menunda bahagia itu sendiri.
Nikmati, nikmati, dan nikmati meskipun saat itu Anda sedang minum segelas air putih sekalipun. Tak perlu buru-buru sehingga Anda punya waktu untuk mensyukuri apa yang ada dan hadir saat ini. Dengan bersyukur, Anda akan rasakan bahwa kegelisahan tentang impian takkan pernah terjadi menghampiri Anda. Anda akan tenang menjalani hidup Anda hari ini. Anda merasa utuh karena Anda benar-benar bisa memaknai kehadiran hari ini.
Kunci berikutnya adalah cobalah untuk tersenyum. Anda akan temui betapa senyum yang Anda lakukan mampu membius Anda dan orang lain untuk lebih bersemangat lagi menjalani hidup. Kita semua harus belajar menjadi seorang fotografer yang murah senyum. Apa efeknya jika dia ketika memotret modelnya dalam keadaan tersenyum? Sang model pun ikut-ikutan senyum.
Ada banyak cara untuk bisa tersenyum. Menikmati pagi, melihat orang tersenyum, melihat benda pujaan. Dan yang lebih penting lagi adalah lakukan semuanya dengan penuh kesadaran. Full 100% sadar.
Untuk bahagia, kita juga perlu untuk bisa membungkus marah dengan bijak. Bernafas masuk dan bernafas keluar. Marah datang menyerang, marilah kita diam sejenak, pejamkan mata, lalu tarik nafas sambil berkata “Bernafas masuk”. Hembuskan pelan sambil berkata,”Bernafas keluar.” Nikmati prosesnya hingga marah berujung hilang. Bahagia, kini Anda dapatkan. Istirahat itu perlu sedang aksi tak perlu buru-buru. Marah bisa diredam, bahagia akan datang.
Sungguh, tak seorang pun dapat memperkirakan apa yang akan terjadi besok dan bagaimana keadaannya. Yang jelas diri kita harus siap-siap untuk berubah. Terobosan apapun bisa kita lakukan manakala kita sadar dengan momen sekarang.
Sekarang tentang tawa, ya, ini juga merupakan resep agar bahagia. Perlu diketahu bahwa anak-anak bisa tertawa kurang lebih 300 kali dalam satu hari. Semakin usianya bertambah, frekuensi tertawa itu semakin berkurang. Orang yang sudah menginjak usia 40 tahun rata-rata hanya tertawa 4 kali dalam sehari. Makanya tak heran anak-anak cenderung tampak lebih bahagia. Ingin bahagia? Kembalilah menjadi anak-anak, sungguh itu tak mengapa.

Tubuh kita bukanlah mesin. Tuhan sangat tahu  dan hebat menciptakannya. Holistik, utuh, dan menyeluruh sehingga saling mempengaruhi di antaranya. 

Sabtu, 14 September 2013

Dapat THR Bawang Merah

Aku sudah siap-siap pulang kampung jelang lebaran 2011 meski tinggal beberapa hari. Aku bersihkan kulkas dan sebisa mungkin tidak ada bumbu dapur apa pun yang tersisa hingga akhirnya busuk selama aku tinggal pulang kampung.
Tapi, tiba-tiba sore itu suami pulang membawa sesuatu sekantong plastik besar. Sambil senyum-senyum suami berkata,”Jangan kaget ya, ini THR ayah dari kantor!”
Bayanganku langsung tertuju pada sebotol sirup, minyak goreng 1 liter, sekaleng biskuit merk terkenal, dan bla-bla-bla. Asyik, lumayan untuk persediaan. Dan ternyata setelah saya buka, kaget yang saya rasakan.
“Kok?”
“Iya, itu hasil panen bawang merah dari daerah Brebes. Harga lagi turun, trus dibeli sama Pak Menteri,” jelas suami.
“Kok dikasihkan ke ayah?”
“Iya, katanya ini THR nya untuk lebaran.”
THR? Aku geleng-geleng kepala. Kalau diberi bawang merah begini banyaknya, kapan habisnya? Apalagi ini mau pulang kampung, bakal busuk ketika balik lagi ke Depok.
Aku tatap kembali bawang merah itu. Masih ada daun dan tangkainya ditambah tanah coklat yang menempel di sekujur tubuh bawang merah. Kotor.
“Kasihkan saja ke tetangga, cukup itu untuk 6 keluarga,” imbau suami.
“Iya ini mau dikasihkan, tapi kok yo kotor gini. Bersihinnya itu lho yang males!”
Tapi, bagaimana lagi. Nasib bawang merah harus segera diselamatkan. Baiklah! Aku pun akhirnya membersihkan bawang merah yang banyak itu lalu kubagi ke 6 tetangga.
THR saat itu tak bisa kunikmati secara fisik, tapi kunikmati secara psikis. Tetangga-tetangga senang sekali menerima bawang merah dari THR suamiku.

"Mana matanya Dik?" Hiks, asyiknya membuat mata, hidung, dan mulut dari bawang merah untuk mngenalkan anggota tubuh ke anak.

Tulisan ini diikutkan dalam "Give Away Aku dan Pohon".

Sekilas tentang bawang merah:
Bawang merah, atau nama ilmiahnya Allium Cepa, memang selalu hadir di keseharian hidup manusi di dunia. Memasak tanpa bawang merah rasanya kurang lengkap dan hambar. Bisa diuleg, diiris ketika digunakan untuk menambah aroma masakan. Terkadang juga sering kita jumpai bawang merah dalam keadaan diiris halus dan digoreng. Bawang merah goreng. Dicemplungkan ke sayur sop, enak rasanya.
Yang biasa digunakan sebagai bumbu masak biasanya bagian umbinya, namun beberapa kuliner bisa juga menggunakan daun dan tangkai bunganya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bawang_merah)

Sabtu, 24 Agustus 2013

Sama Saja Kok, Oyong Itu Ya Gambas!

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Masih ingat kan makna peribahasa ini? Wah, malu sendiri jika saya mengingat peristiwa ini.
“Bu, beli gambas dong!” pinta saya kepada tukang sayur di minggu kedua kepindahan saya dari Kediri ke Depok.
“Gambas itu apa teh?” ibu tukang sayur kebingungan.
“Itu lho Bu, yang biasa disayur bening. Panjang, kulitnya warnanya hijau dan tebal. Ada bijinya.”
“Aduh yang mana ya? Teteh bukan dari Depok asli ya?”
Ketahuan deh! Padahal sudah diingatkan suami berkali-kali kalau ngobrol sama orang Depok pakai bahasa Indonesia saja. Tapi jujur, saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya “gambas” yang ingin saya beli.
Saya tersenyum. Mata saya juga melihat satu per satu sayur yang dijual si ibu tukang sayur.
“Itu lho Bu gambas!” saya setengah berteriak menunjuk gambas.
“Oalah, itu namanya oyong. Bukan gambas.”
Saya tersenyum lagi. Setelah mendapatkan gambas saya berlalu pergi. Malu setengah mati karena saya nggak ngerti kalau di Depok gambas disebut oyong. Peristiwa itu cukup sekali terjadi. Selanjutnya, ketika saya belanja lagi, saya sudah bisa meminta kepada ibu tukang sayur,”Bu, tolong oyongnya dong!” Tak ketahuan lagi kalau saya bukan orang Depok asli. Kok bisa? Lha wong saya belanjanya di ibu tukang sayur yang lain lagi. Hiks, malu belanja lagidi ibu tukang sayur yang sebelumnya.
Dan, gara-gara ajang Give Away ini, saya jadi tahu ketika mencari tahu apa itu oyong, search di Wikipedia Indonesia, malah yang keluar judulnya adalah Gambas. He, he, he. Oalah! Masih berlakukah peribahasa tadi?

"Ini oyong Nak. Bisa juga disebut gambas."
Tulisan ini diikutkan dalam "Give Away Aku dan Pohon"

Sekilas tentang oyong:
Oyong atau gambas merupakan tanaman yang biasa dipanen buahnya ketika masih muda. Biasanya memang diolah menjadi sayur. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gambas)
Oyong atau gambas, nama ilmiahnya adalah Luffa acutangula, juga bisa digunakan sebagai antidiabetes. Jadi bagi Anda penderita diabetes, konsumsi oyong atau gambas aman bagi Anda.

Rabu, 14 Agustus 2013

SPK Pertama

“Ayah, bunda baru saja dapat SPK dari penerbit. Isinya tentang royalty yang akan bunda dapatkan jika setuju naskah buku bunda diterbitkan. Gimana nih?” sms Nuri kepada suaminya.
“Emang nominalnya berapa? Sistem royaltinya gimana?” balas Ridwan.
“2 juta rupiah. Beli putus lagi. Gimana? SPK harus segera dibalas.”
Ridwan ternyata keberatan jika naskah istrinya hanya dibayar segitu. Padahal dia tahu untuk mengerjakan naskah tersebut jalan yang ditempuh istrinya lumayan butuh tenaga. Malam-malam melembur untuk mengerjakannya.Menahan kantuk, meminta tolong tetangga untuk membantu membuatkan alat peraganya.
“Coba lobi pihak penerbitnya bisa tidak harganya dinaikkan!” balas Ridwan lagi.
Nuri pun mencobanya. Alhasil, malah dia kena semprot pihak redaksi penerbitnya. Yang katanya dia penulis amatiran, yang katanya dia belum tahu dunia kepenulisan. Ada kecewa dalam benaknya.
“Lihat nih, gara-gara ayah, bunda diolok-olok kayak begini. Padahal bunda kan nanyanya dah baik-baik.”
“Ya udah sekarang enaknya bagaimana? Coba tanya teman bunda yang sudah berkali-kali bukunya diterbitkan, mungkin ada solusi.”
Akhirnya Nuri menghubungi temannya yang penulis juga. Lewat SMS juga karena ada jarak yang memisahkan mereka. Temannya memberi saran agar SPK tersebut diterima saja.
“Sebagai langkah awal, Mbak. InsyaAllah ke depannya Mbak akan produktif. Seneng lho buku bisa terbit itu, karena nembus penerbit itu susah-susah gampang.”
“Iya sih Mbak. Dulu niat awalnya juga memang agar buku saya yang bisa terbit ini bisa bermanfaat. Bisa menginspirasi. Bukan untuk mengejar materi.”
SPK balasan sudah dilayangkan kembali oleh Nuri. Uang royalty juga sudah dia dapatkan dari penerbit. Syukur yang tak terhingga dia panjatkan kepada Allah sebesar-besarnya. Dia tak peduli berapa eksemplar bukunya sudah laku. Nuri hanya berharap bukunya bisa membawa kebaikan kepada orang lain.
“Mbak, saya Desi. Mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah, saya suka sekali dengan buku yang ditulis oleh Mbak Nuri. Sangat membantu skripsi saya. Bisa tanya-tanya lagi tentang isi buku itu Mbak?”
Air mata Nuri langsung pecah. Ya Allah, sebegitunya? Bahagia tumpah ruah mengisi rongga dadanya. Tak bisa berkata-kata. Minggu sore itu benar-benar dia merasakan syukur yang memuncak tiada tara. Dia layani SMS mahasiswa itu dengan senang hati. Ya Allah, benarkah? Seakan Nuri tak percaya. Apalagi di kesempatan lain dia pun pernah mendapatkan SMS yang serupa.
“Siang Mbak. Saya penggemar buku yang ditulis oleh mbak. Adakah versi lain untuk bisa diterapkan di bidang saya?”
Oh, syukur itu kembali menyeruak. Belum lagi teman Nuri yang ada di pulau lain juga minta dikirimi buku tersebut karena di daerahnya, di toko bukunya tak ditemukan buku tersebut.
“Ayah, bunda senang kok buku bunda bisa terbit. Biar bisa menyemangati bunda.”
Ridwan tersenyum. Motivasi yang tinggi pun diberikannya kepada istri tercinta agar ketertarikannya di dunia menulis bisa terus berlanjut dan membawa berkah.
***
Ridwan sedang di luar kota. Nuri selepas mengantar anak sulungnya ke sekolah dan menitipkan adiknya ke tetangga segera meluncur ke stasiun menuju Jakarta. Ada acara yang harus dia ikuti sampai dhuhur tiba. Di tengah-tengah acara Nuri juga nampak sibuk mengontrol anaknya yang diasuh tetangga dan si sulung apakah sudah dijemput atau belum. Pikirannya tak tenang, namun Nuri tetap berkonsentrasi dengan acara yang diikutinya. Lemper, kue sus, aneka kue lainnya tak menarik baginya untuk diincipi. Nuri tak sabar menunggu pengumuman lomba nulis yang diikuti.
“Pemenang kedua dari lomba ini adalah ….,” si MC sengaja membuat jantung lebih berdebar. Dia tidak melanjutkan perkataannya, malah mengatakan bahwa hadiahnya untuk pemenang kedua adalah sebuah gadget senilai 4 juta.
“Ya Allah, alhamdulillah, aku menang juara 2,” Nuri kaget setelah akhirnya namanya disebut. Dia pun langsung mengirim SMS suaminya yang ada di luar kota. Pulang dengan membawa rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan kata-kata.
“Aku akan terus menulis. Lagi dan lagi. Mau dapat uang atau tidak aku tak peduli. Hidup terasa lebih aku nikmati dengan menulis. Moga bermanfaat dan menjadikan pembacanya, termasuk aku yang menulisnya agar lebih baik lagi. Ya Allah, bantu hamba-Mu ini,” doa Nuri.
“Amin! Tapi jangan lupakan aku ya!” tiba-tiba Ridwan muncul di balik kamar. Nuri tersenyum renyah menatap suaminya tercinta.
“Emang kenapa?”
“Kalau sudah nulis susah dibendung.”
Tawa kecil keluar dari mulut Nuri. Ridwan juga nampak bercanda rupanya. Toh, sejak awal menikah Ridwan memang tak pernah melarang Nuri melakukan kesenangannya, asal tak sia-sia. Di dunia dan di akhirat tentunya.
“Semua gara-gara SPK pertama itu, Ayah. Bunda bersyukur banget. Dan ternyata Allah memberikan lebih setelahnya. Bunda jadi bergairah menulis lagi,” Nuri berkata ketika sedang berduaan dengan suaminya di kamar.
“Iya. Siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Tapi bunda harus menjadikan pengalaman sebagai media belajar.”
“Ok!”

Malam semakin gelap. Nuri dan Ridwan akhirnya juga terlelap. Nyamuk-nyamuk malam siap melebarkan sayap. 


Senin, 12 Agustus 2013

Kolak Blonceng? Aneh!

Semua karena kebiasaan. Orang yang terbiasa ngopi tiap pagi sambil baca koran akan terasa aneh jika suatu pagi tak melakukan itu. Bahkan ketika ternyata kopinya habis dibela-belain membelinya meski warung belum buka. Orang yang terbiasa nulis dengan cara kidal juga akan terasa janggal jika tiba-tiba dia disuruh untuk menulis dengan tangan kanan.

Ini tentang kisahku dengan si blonceng. Sejak kecil hingga aku menikah blonceng selalu saja aku santap dalam bentuk sayur.Dihidangkan bersama bayam. Ehm, segarnya. Jadi kangen nih sama blonceng. Namun, di Depok nggak ada yang jual blonceng. Mau nyari sampai ke pasar dan swalayan juga tidak saya temukan tanaman merambat ini.

Ah, bukan. Bukan ini masalahnya. Semenjak peristiwa itu saya tak ingin makan blonceng lagi. Meski ada kangen yang mendera untuk melahapnya.

“Nih, coba rasain!” suami saya menawari semangkuk minuman seperti kolak namun tanpa santan dan berisi sesuatu.
“Apa ini?” tanya saya sambil menunjuk isi mangkuk itu.
“Ini namanya kenthi.”
“Kok kayak blonceng sih?”
“Blonceng?” suami heran karena di daerahnya Lamongan blonceng biasa disebut dengan nama kenthi.
Saya pun mencobanya sedikit. Benar, itu blonceng. Manis sih, tapi karena dalam benak saya blonceng itu dibuat sayuran, saya tak ingin melanjutkan minum kolak blonceng itu. Aneh.
“Gimana? Enak kan?”
“Hi…blonceng kok dibuat minuman kolak kayak gini. Ini mah biasanya dibuat sayur sama bayam. Ayah saja ah yang nerusin habisin minuman ini!”
“Walah, kan dah dibuatin emak.”
“Ogah ah, aneh rasanya.”

Akhirnya, minuman kolak dengan isi irisan kenthi itu, eh blonceng itu dihabiskan suami saya. Sejak saat itu saya enggan makan blonceng meski dimasak sayur dengan bayam ketika pulang kampung ke Kediri. Peristiwa itu masih terngiang.

Blonceng oleh-oleh dari Lamongan

Mau disayur atau dibuat kolak ya? Ehm, dikasihkan ibu saja deh! 

Tulisan ini diikutkan dalam "Give Away Aku dan Pohon"


Sekilas tentang blonceng:
Blonceng atau lebih dikenal dengan nama Labu air memang selama ini sering diolah menjadi sayuran. Apalagi jika bloncengnya masih muda. Bentuknya ada yang seperti labu ukur di laboratorium, ada juga yang lonjong memanjang. (http://id.wikipedia.org/wiki/Labu_air)

Ada yang menyamakan blonceng dengan beligo/kundur. Keduanya memang berasal dari ordo dan family yang sama, namun genus keduanya berbeda. Blonceng dikenal dengan nama ilmiah Lagenaria siceraria, sedang beligo dikenal dengan nama ilmiah Benincasa hispida. (http://id.wikipedia.org/wiki/Beligo)