Sabtu, 09 Maret 2013

Gampang Kok untuk Cerdas!


“Ayo tangkap, Mas Qowiyy!” saya menyemangati anak saya yang sedang berjuang menangkap ikan ketika minggu  pagi di gelaran pasar kaget.
Qowiyy pun berusaha semaksimal mungkin untuk menangkap ikan. Namun, sebelum permainan dimulai saya dan suami sudah berpesan,”Mas, jika ikannya tertangkap, segera dilepaskan kembali ya! Kasihan, dia juga pingin hidup. Bisa makan, bisa minum, sama kayak Mas Qowiyy.”
Ya, itu salah satu permainan yang saya gunakan dalam rangka stimulasi kecerdasan anak. Tangkap ikan kecil di kolam buatan. Kebetulan saat itu di pasar kaget, namun pernah juga saya dan suami sengaja membeli ikan kecil lalu mengajak Qowiyy menangkapnya di rumah setelah memasukkan ikan-ikan tersebut ke dalam bak. Kecerdasan apa yang terasah dalam kegiatan ini? Diantaranya kecerdasan visual dimana mata anak harus jeli mengamati kemana ikan berenang dan di saat yang tepat bisa ditangkap. Tak cukup itu. Ketika Qowiyy mengembalikan ikan yang sudah tertangkap kembali ke air, maka kecerdasan natural anak juga terasah. Anak menjadi paham bahwa ikan makhluk hidup yang sama seperti dirinya. Ada empati yang ditumbuhkan agar anak bisa akrab dengan lingkungannya, tidak menyakitinya. Menangkap ikan juga membutuhkan kesabaran dan kegigihan sehingga kegiatan ini sekaligus bisa merangsang kecerdasan emosional dan adversity quotient anak.

"Lepaskan lagi ya, Nak! Dia juga butuh hidup."

Selain itu, ada beberapa permainan juga yang biasa saya/suami mainkan bersama Qowiyy.
  • Mencuci sepeda

Air merupakan media bermain yang sangat disukai Qowiyy. Berlama-lama dengan air pun dia betah. Termasuk ketika mencuci sepedanya sendiri, Qowiyy senang sekali. Dengan kegiatan seperti ini kecerdasan anak bisa distimulus. Ada kecerdasan body kinestetik, dimana kecerdasan ini nampak dari gerakan-gerakan tangan anak mengelap sepedanya dengan kain yang sudah dibasahi air serta mengambil gayung berisikan air  untuk disiramkan ke sepeda. Pun, kecerdasan natural dengan tetap mengingatkan Qowiyy untuk menggunakan air secukupnya saja.

"Bersih-bersih sepeda!"
  •  Lagu tanpa lirik

Bisa dengan bergumam atau menyalakan laptop dan memilih perangkat winamp untuk menyetel file lagu anak yang tak ada liriknya. Dengan permainan ini, daya konsentrasi anak akan dituntut untuk menyimak dengan seksama nada lagunya, lalu Qowiyy menyebutkan judul lagunya. Saya tentu saja memulai dari lagu yang paling disukai Qowiyy, dalam hal ini adalah “Naik Kereta Api” agar dia bersemangat untuk terus melanjutkan permainan. Kecerdasan musikal Qowiyy bisa ditingkatkan melalui aktivitas permainan ini.
  • “Kok hilang sih?”

Meski Qowiyy anak laki-laki, namun tak kemudian menjadikan saya tidak mengajaknya untuk memasak bersama. Ingat! Koki di hotel berbintang kebanyakan laki-laki juga, bukan? Maka, memasak menjadi andalan saya untuk melejitkan kecerdasan anak. Qowiyy sudah tahu mengapa gula dan garam bisa hilang alias larut di dalam kuah sayur yang sedang dimasak. Dia juga mengerti mengapa telur jika digoreng/direbus bisa berubah bentuknya dari telur awalnya. Atau ketika membuat puding kesukaannya yang awalnya hanya serbuk terus berubah menjadi kenyal. Bahkan, Qowiyy jadi tahu mengapa ikan yang dimasak tak lagi bisa berenang. Kecerdasan logika matematika bisa ditingkatkan melalui kegiatan memasak ini. Ingat, matematika tak hanya melulu dengan angka.
"Aku sedang buat puding nih!"

Qowiyy juga terbiasa membantu saya mengambilkan beberapa bahan makanan untuk dimasak. “Mas, tolong ambilkan 2 tomat dong!” Qowiyy mengambilnya meski terkadang benar dan terkadang salah tentang konsep 2 nya. Namun, lambat laun aktivitas ini juga akan mampu mengasah kecerdasan logika matematikanya.
  • Asyiknya bercerita

“Mas Qowiyy tadi dari mana?”
“Dari Rumah Pelangi. Tadi Nindya nangis kuenya direbut. Shafa main tumpuk-tumpuk. Nggak mau main sama Mirza, kemarin Qowiyy dipukul. Tadi aku main plrorotan ma ayunan di sana. Hanin nggak ada ya?” celoteh anak saya sesampainya di rumah.
Saya yang mendengarkan tersenyum, betapa dia mengingat semuanya, padahal saya hanya bertanya sedikit. Kecerdasan linguistik Qowiyy nampak di sini. Dia pun bisa bercerita tentang buku yang dibacanya atau gambar dari sebuah brosur yang berisi gambar benda-benda, namun dengan bahasanya yang lugu. Qowiyy bisa mengulasnya. Kuncinya adalah keterbukaan.
Dari jawaban Qowiyy di atas nampak bahwa kecerdasan body kinestetiknya juga saya latih dengan mengajaknya bermain plorotan dan ayunan. Pun dia bermain dengan teman-temannya di Rumah Pelangi secara tak langsung mengasah kecerdasan interpersonalnya.

"Ini gambar baterai, Bunda. Buat nge-ces HP ama laptop!"
Belajar mengoles roti bersama teman-teman

  • Silakan dipilih!

“Bunda, itu ngapain?” jari telunjuk Qowiyy mengarah pada tukang penjual makanan arum manis.
“Bapak itu jualan agar dapat uang biar bisa makan anaknya. Tuh lihat anaknya juga membantu jualan,” jawab saya.
“Kayak ayah Mas Qowiyy ya kerja?”
“Iya, tapi ayah lebih beruntung, tanpa dibantu Mas Qowiyy ayah diberi kemudahan sama Allah untuk mendapatkan uang. Mas Qowiyy kalau dah besar pingin kerja apa? Kayak bapak penjual itu apa kayak ayah?”
“Kerja di kantor ja kayak ayah,” jawabnya polos.
“Kenapa?”
“Bisa naik kereta api.”
“Oh ya, Allah suka anak yang bantu bapak penjual tadi lho? Karena dia berbakti sama orang tua. Kalau dibilangin nurut. Anak yang begitu masuk surga. Qowiyy mau ke surga atau neraka?”
“Nggak mau ke neraka. Panas!” jawabnya.
Memilih membutuhkan akal dan hati untuk memutuskannya. Cerdas diri diasah di sini. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, pasti ada alasannya. Dan Qowiyy berusaha mengungkapkan alasan pilihannya. Semakin terus diberi pilihan dalam hidupnya, kecerdasan intrapersonal anak akan semakin melejit.

Mudah, bukan agar anak bisa cerdas? Tak harus memerlukan media yang mahal. Kegiatan sehari-hari bisa menjadi arena permainan yang mengasyikkan untuk anak sekaligus untuk mengasah kecerdasannya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Moms dan Baby's Diary


Tidak ada komentar:

Posting Komentar