Sabtu, 09 Maret 2013

Jejak Cinta


“Nak, jadilah engkau duta Islam sebagaimana Mush’ab bin Umair yang senantiasa mengajak manusia ke dalam Islam. Jadilah engkau duta ekonomi sebagaimana Abdurrahman bin Auf yang sukses berdagang dan menyumbangkan hasilnya untuk dakwah Islam.” Ini ada sepenggal kalimat seorang ibu yang menuliskan pesannya di diary anaknya ketika menjenguk sang buah hati di Pondok Pesantren Gontor. Dan pesan-pesan seperti ini senantiasa beliau tuliskan setiap kali ke sana.
Atau seorang ibu juga pernah bercerita bahwa ibundanya senantiasa memberikan segelas air putih kepadanya, juga saudara yang lainnya ketika datang mengunjunginya. Beliau menyuruhnya untuk meminum terlebih dahulu kemudian barulah mereka bercengkrama melepas rindu. Satu pun protes tak keluar dari anak-anaknya. Ketika ditanya mengapa sang ibunda melakukan itu? Jawabannya sederhana,”Itulah jejak cinta yang bisa saya berikan kepada anak-anak saya.”
Pesan yang tertoreh di awal tulisan ini juga merupakan jejak cinta seorang ibu kepada anaknya. Selalu dilakukannya. Jejak cinta orang tua tentu tak sekedar jejak, namun ini adalah jejak yang bisa membuat hati anaknya bergetar, tersentuh, karena keberadaannya diakui. Ada orang yang mencintainya. Jejak cinta orang tua bahkan bisa menjadikan kekuatan tersendiri hingga sang anak tak bisa berkata tidak untuk berusaha membahagiakan orang tuanya meski orang tua tak pernah meminta.
Jembatan itu adalah jejak cinta. Anak merasakan besarnya cinta melalui jembatan ini. Jembatan yang dibangun tanpa berharap pamrih dari sang anak. Ikhlas orang tua melakukannya. Dan jembatan ini akan senantiasa melintas di ruang angkasa ingatannya. Memori akan selalu dijejali kalimat,”Orang tuaku mencintaiku. Aku pun cinta kepada keduanya.”
Tak harus puitis seperti tulisan seorang ibu yang anaknya di Gontor tadi, atau tak harus mutlak seperti segelas air putih tadi. Terserah orang tua bagaimana akan melukis jejak cinta ini. Aktivitas mendongeng ketika anak akan melelapkan dirinya malam hari juga bisa menjadi salah satu alternatif cara. Mencium kening anak, pun sangat bisa menjadi jembatan ini. Saya ingat betul bagaimana direktur saya dulu ketika saya bekerja berkata,”Saya masih suka mencium kening anak saya tiap hari ketika mereka akan berangkat ke mana saja meski usia mereka sudah ada yang 17 tahun.” Saya takjub, dan lebih takjub lagi dari kelima anak beliau ternyata benar-benar menjadi anak yang menyejukkan hati. Semuanya berbakti.
Mengapa anak-anak zaman sekarang tak menghormati orang tuanya? Mengapa banyak di antara mereka membangkang kepada orang tuanya? Bisa jadi karena orang tua tak pernah membuat jejak cinta untuk anak-anaknya. Gaya memerintah, membandingkan, menyalahkan, mengkritik, dsb masih mendominasi komunikasi orang tua kepada anak. Alhasil, anak tak pernah menangkap kesan cinta, kasih sayang orang tuanya.
Sekali lagi, sederhana saja jika susah melakukan yang rumit. Setiap hari bahkan kalau perlu setiap waktu. Apa susahnya jika kita berkata,”Nak, bunda mencintaimu!”sebagai salah satu bentuk usaha kita menorehkan jejak cinta.
Jejak cinta akan meninggalkan bekasnya. Inilah yang akan diingat sepanjang masa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar