Senin, 30 Maret 2015

Telur Mirip Bola



            “Ma, enaknya pagi-pagi begini ngapain ya? Mumpung masih libur sekolah nih!”tiba-tiba Lutfiah menyeletuk mamanya yang ada di dapur.
            “Lha mau ngapain sayang? Gimana kalau bantu mama masak sekarang. Biar cepat selesai juga, biar cepat sarapan,” Bu Ridho menawarkan.
            “Ehm, boleh-boleh.”
            “Oke, sekarang tolong bantu mama ambil telur di kulkas sebanyak 4 ya!”
         Lutfiyah langsung melangkahkan kaki. Diambilnya telur sebanyak 4 lalu diberikannya kepada mamanya.
            “Ok, terima kasih sayang! Nah, sebelum kita masak telurnya, mama mau tanya dulu sama adik Lutfiah.”
            “Katanya mau masak, kok pakai pertanyaan segala, Ma.”
            “Nggak apa-apa, biar masaknya nggak bisu, nggak sepi.”
            “Oh. Ok, Lutfiyah siap!”
          “Dari 4 telur yang kamu ambil tadi, mana yang mirip bola?”tanya Bu Ridho.
            “Yang mana ya? Sepertinya nggak ada. Kan bola itu bulat penuh, Ma.”
            “Coba dilihat lagi dengan lebih teliti!”
          Lutfiyah memandangi kembali 4 telur yang diambilnya tadi. Diamati satu per satu, tapi bentuknya tidak ada yang seperti yang ditanyakan mamanya. Bola itu kelereng, bola itu bola tenis, bola pingpong. Telur bukan bola. Demikian yang dipikirkan Lutfiyah.
            “Nggak ada yang bentuknya seperti bola, Ma!” 
           “Benar? Coba simak kembali pertanyaan mama tadi! Manakah dari 4 telur tadi yang bentuknya mirip bola?”
            Lutfiyah diam sejenak. Dicernanya kembali pertanyaan ulangan dari mamanya. 
            “Mirip bola? Oh ya, yang ini Ma. Yang agak kecilan ini!”
            “Pinternya anak mama. Emang yang lain kenapa nggak mirip bola?”
            “Yang lain lebih panjangan. Nggak bulat-bulat amat.”
            “Kok bisa tahu?”
            “Kan mama yang suruh Luthfiyah teliti lagi!”
           “Kira-kira kalau mama berkata bahwa kemarin Luthfiyah marah karena nggak dibelikan mainan sama papa, gimana?”
            “Ya marah! Kan bukan karena itu!”
            “Kenapa marah?”
            “Ya bukan karena itu!”

            Telur mirip bola. Namanya saja mirip, bukan seperti. Tapi, karena justru namanya mirip, maka butuh kejelian apakah telur tersebut benar-benar mirip bola. Butuh kejelasan melihat. Teliti. Bahkan, butuh kejelasan mendengar, jika memang kabar yang didengar masih samar-samar. Tak perlu berprasangka buruk karena itu berbahaya. 

         Buku Seven Habits for Teens karangan Sean Covey juga menceritakan bahayanya berprasangka buruk. Ada seseorang bernama A sedang menunggu kedatangan pesawatnya di ruang tunggu keberangkatan bandara. Karena bosan, ia ingin sekali memakan makanan ringan yang ia beli sebelumnya. Makanan ringan itu belum dimakan, tiba-tiba seseorang bernama B mengambilnya dari tempat duduk di sampingnya dan tanpa minta izin langsung membuka dan memakannya. A langsung kaget.
A segera merebut kembali makanan ringan tersebut dari tangan B, kemudian memakannya dengan penuh emosi. Karena jengkel, B pun mencomot makanan yang telah direbut sama A lagi. A merebutnya lagi lalu segera menghabiskannya.
Begitu akhirnya pesawat tiba. Dan A sudah duduk di dalamnya, alangkah terkejutnya ia ketika membuka tas, rupanya makanan yang ia beli masih berada di dalam tasnya. Berarti, makanan ringan yang tadi ia makan adalah milik B. 

            Seram, bukan? Alias ngeri! Bisa juga memalukan! Maka, itulah yang sedang ditumbuhkan dalam diri Luthfiyah oleh mamanya. Sikap berprasangka, hindari prasangka buruk. KH Abdullah Gymnastiar berkata bahwa su `udzon atau berburuk sangka dapat membuat hati kita menjadi busuk karena apapun yang kita sangka akan mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita bersikap, dan cara kita mengambil keputusan. Berbahagialah bagi orang-orang yang bisa berkhusnudzon atau berbaik sangka.

            

            

1 komentar:

  1. keren mbk analoginya dalam menumbuhkan sift positif thinking hehe...

    BalasHapus