Rabu, 05 November 2014

Agar Pengasuh Daycare Awet


                Membangun bisnis daycare itu mudah. Disiapkan kurikulumnya yang pas, modal yang cukup, tempat yang memadai, dan adanya mainan edukatif yang menunjang. Tak lupa, ketersediaan pengasuh juga perlu dipertimbangkan. Mereka adalah jantung daycare. Mereka urat nadi keberlangsungan daycare.

               Kurikulum, modal, tempat, dan failitas mainan atau yang lainnya memang mudah untuk didapatkan. Namun, keberadaan pengasuh yang pas di hati untuk dipekerjakan belum tentu. Pasalnya, sekarang baby sitter atau orang yang sudah punya pengalaman mengasuh anak juga suka sok jual mahal. Padahal kerja juga belum tentu bagus.

                Memang pengalaman bekerja atau latar belakang pendidikan itu penting, bahkan untuk posisi pengasuh sekalipun. Tetapi, yang paling bisa membuat posisi ini tidak berganti-ganti orang adalah potensi pengasuh sendiri yang memang suka dunia anak. Ini harus menjadi syarat pertama ketika akan merekrut pengasuh untuk daycare. Suka di sini termasuk sabar dan sayang. Bisa terlihat dari cara berkomunikasi yang lembut kepada anak. Tidak suka membentak dan lebih banyak memberikan senyum. Hampir 3 tahun berdiri, Rumah Pelangi Daycare yang saya kelola mempunyai seorang pengasuh yang bertahan hingga saat ini sejak dia bekerja pertama kali daycare beroperasi. Memang ada pengasuh lain yang akhirnya mengundurkan diri. Bukan karena tak betah di daycare, namun karena hal lain yang akhirnya harus berhenti bekerja seperti melahirkan dan menikah. Bahkan ada dari mereka sampai berkata,"Kalau anak saya sudah besar dan saya pingin kerja lagi di daycare, boleh, Bu?" Mengapa? Karena kecintaan mereka kepada anak-anak.

                Agar pengasuh awet bekerja di daycare juga perlu ramuan manjur. Semua bisa dilihat ketika interview semenjak awal melamar kerja dan kualitas ibadahnya. Apakah niatnya bekerja? Bagaimana kondisi sholat wajibnya? Minimal itu. Ketika niat bekerja yang terucap adalah uang, maka itu tanda-tanda pengasuh tidak akan awet. Jika niatnya mencari pengalaman dan belajar lebih baik yang paling dominan, itu tanda calon pengasuh yang akan awet. Sah-sah saja sih karena uang. Manusiawi. Namun, pengasuh daycare yang mau belajar dan menjadikan pengalaman sebagai bahan perenungan untuk bekerja lebih baik, itu jauh lebih disukai. Menjaga, mengasuh, dan mendidik anak selama di daycare juga pada dasarnya akan menuntut pengasuh seperti orang tua anak-anak. Dan menjadi orang tua senantiasa butuh belajar,belajar, dan belajar.

                Ketika sudah menemukan pengasuh seperti ini, tugas daycare adalah tidak menyia-nyiakan. Bekali mereka dengan training, magang, seminar, dsb agar mereka berkembang lebih positif. Memberikan wawasan keilmuwan dan ketrampilan hingga makin mahir mendidik anak-anak. Berikan kesempatan mereka untuk berkarya seperti mencipta lagu sendiri, mengusulkan ide kegiatan untuk anak-anak. Apa tujuannya? Agar pengasuh open mind, bisa aktualisasi, dan terasah kreativitasnya.

                Dan yang perlu diingat, pengasuh itu bukan bawahan. Maksudnya adalah tetaplah menjaga komunikasi yang baik antara pemilik daycare dengan pengasuh. Saya, sering kali bercanda dengan pengasuh. Bertukar pikiran, ngobrol berbagai masalah, bahkan bercerita. Hampir tak ada sekat. Menganggap pengasuh sebagai teman justru membuat hubungan menjadi baik. Ketika saya memberlakukan aturan apa saja, pengasuh relatif tak banyak protes. Meski demikian, kata ajaib “terima kasih” wajib dilontarkan pemilik daycare atas dedikasi pengasuh selama ini.


                Kunci utama daycare ada pada pengasuh. Rawat mereka agar awet berada di daycare Anda! 

1 komentar: