Minggu, 23 November 2014

Tetap Menulis Meski Anak Sakit Campak

Buku keduaku

                Rasanya sujud syukur mendengar kabar buku keduaku terbit. Saat itu Juni 2014 saya menerima bukti terbitnya. Bukunya sih sudah terbit sejak Mei 2014. Sangat berterima kasih kepada Allah karena kemudahan diberikan-Nya kepadaku dalam menyelesaikan naskahnya 10 November 2013-9 Januari 2014.

                Yah, ingat betul. Saat itu kedua anakku terserang campak bergantian namun dalam jeda waktu yang tidak lama. Qowiyy kena campak duluan. Awalnya demam dan keluar bintik-bintik merah. Eh, juga ada batuknya lho! Langsung deh ke dokter. Kata dokter itu campak Jerman yang dalam waktu 3 hari juga akan sembuh. Batinku, paling nggak hanya 3 hari saja mungkin menulis naskah buku keduaku agak tertanggu, tak sesuai target. Tapi aku tetap menulis meski sedikit. Apalagi ketika harus menginap di rumah teman karena tak ingin adiknya Qowiyy ketularan, malam malah tak bisa menulis. Pagi harinya, demi melindungi Nasywah dan saya bisa mengejar ketertinggalan menulis, anak keduaku terpaksa dititip di RumahPelangi Daycare. Namun, sama saja. Menulis hari itu sambil merawat Qowiyy yang akhirnya ingusan juga tak sesuai dengan yang kuharapkan. Tak apalah, yang penting masih bisa menulis. Untung, kalau malam Qowiyy mau bersama ayahnya. Malam selanjutnya, aku sungkan menginap di rumah teman lagi. Nasywah dan aku tidur di ruang tamu. Qowiyy dan ayahnya di kamar tidur. Maklum, saat itu masih tinggal di kontrakan kecil. Pasrah.

                Qowiyy sudah membaik setelah 10 hari sakit campak. Selama 10 hari itu tak ada tanda-tanda adiknya ketularan. Ealah, ternyata aku salah. Di hari berikutnya gantian Nasywah yang kena campak. Malah lebih parah. Saat itu Nasywah masih berusia 16 bulan. Masih menyusui. Campak datang menyerang, lengketnya bukan kepalang. Tak mau lepas ASI sama sekali. Bahkan tak mau sama ayahnya juga. Kalau kutinggal sebentar nangisnya luar biasa. Alhasil, menulis jadi tersendat. Saat itu juga barengan menulis buku antalagi. Sampai-sampai saya hampir nyerah karena revisi terus. Sedang naskah buku keduaku ada permintaan tambahan banyaknya halaman dari penerbit dari 120 halaman menjadi 170 halaman. Menengok yang sudah kukerjakan baru 70 halaman. Nasywah campak juga 10 hari.

                Bagaimanapun target harus tetap diusahakan tercapai tepat waktu. Dari sisa hari sebanyak 20 hari aku harus menyelesaikan 100 halaman lagi. Berarti sehari menulis 5 halaman. Bukan hal yang mudah di tengah anak sedang sakit. Sambil duduk menyusui mengetik dengan satu jari. Sambil tiduran dan menyusui, juga mengetik dengan satu hari. Capek? Sangat! Malam hampir begadang. Untungnya suami rela menggantikan peran memasak tiap pagi karena si kecil juga masih nempel saja.


                Syukurlah, naskah buku keduaku berhasil selesai juga. Dan buku ini hadir untuk meramaikan khasanah perbukuan Indonesia. Bisa didapatkan online atau di toko buku Gramedia..

1 komentar: