Jumat, 18 Januari 2013

Belajar Matematika = Berbelanja di Supermaket


Fakta Berbicara
            Prestasi anak bangsa ini tentang sebuah mata pelajaran yang disebut matematika masih saja di bawah ambang batas kenormalan. Berdasarkan data nilai rata-rata matematika UASBN SD di Jawa Timur sebesar 6,33 dan di Surabaya sebesar 6,64 (Kompas, 19 Juni 2008), maka rata-rata ini masih menempati urutan terakhir dari dua bidang studi lainnya yang mencapai angka 7 lebih. Bahkan, di Surabaya masih ditemuai siswa SD mendapatkan nilai matematika UASBN kurang dari 1 sebanyak 10 anak. Meskipun fakta menunjukkan adanya anak bangsa yang mampu meraih nilai 10 bulat untuk pelajaran ini di tingkat SMP (66 siswa di Jakarta dan Bekasi, www.republika.co.id, 21 Juni 2008) dan dua kali meraih medali perunggu olimpiade matematika internasional di Ukraina (kick andy metro tv, 12 Juni 2008), namun masih belum mampu mendongkrak kualitas prestasi matematika secara menyeluruh. Terbukti saat Ujian Nasional baik SMP/MTs maupun SMA/MA, sebagian besar ketidaklulusan/ rendahnya rata-rata disebabkan mata pelajaran ini. Kasubag Humas Kanwil Depag Jatim, M. Nawawi menuturkan bahwa bagi siswa MA program keagamaan dan IPA, pelajaran matematika masih merupakan momok yang paling ditakuti (Jawa Pos, 15 Juni 2008). Pada situs www.metrotv.news tanggal 15 Juni 2008 juga melaporkan hal yang senada. 172 siswa dari 1300 siswa SMA di Kutacene, Aceh Tenggara tidak lulus dan salah satu penyebabnya adalah sulitnya pelajaran matematika. Siswa program Bahasa di SMAN 1 Pare-Pare pun merasakan hal yang tak jauh beda.


Lalu, alternatif solusinya?
            Sekarang, coba bayangkan seorang pembeli berada di dalam supermarket. Apa yang terlintas dan tervisualisasikan di benak Anda?
            Pertama, kesan positif yang menggoda. Ketika pembeli masuk ke dalam supermarket, nampak di penglihatannya adalah kertas-kertas indah bergelantungan di tengah-tengah ruangan atau lorong-lorong bertuliskan harga sebuah produk, berwarna warni, menggiurkan hati untuk membeli produknya. Selain itu, ada juga papan-papan berdiri menyuguhkan gambar produk yang besar, pun mengajak pembeli untuk segera menghampiri produknya. Maka begitulah seharusnya matematika. Apa yang terjadi jika rumah, kamar, dan ruang kelas siswa Anda penuh dengan poster matematika? Lengkap dengan atributnya yang menarik, menyimbolkan betapa matematika itu tidak sulit? Tak ayal, siswa Anda pun pasti tergoda. Lingkungan begitu luar biasa memberi kesan. Jika setiap hari siswa Anda dicekoki hal-hal positif matematika maka kesan positif pula yang akan terbesit dalam pikiran anak itu. Meningkatkan gairahnya untuk belajar matematika. Apalagi jika target rata-rata UASBN/UN sudah disepakati guru dan siswa jauh-jauh sebelumnya serta ditempel di mading kelas, maka segala aktivitas belajar akan mengarah ke sana.
            Kedua, keramaian yang menyenangkan. Apa yang terjadi jika supermarket tidak ada musik yang menggema di dalamnya? Tanpa lampu bersinar menerangi ruangannya? Tanpa aroma wangi merebak di dalamnya? Sepi dan suram. Tidak menyenangkan, tak ada pelibatan emosi pembeli untuk melakukan aksinya. Ketika masuk, bisa saja langsung pergi lagi. Maka, ketika siswa Anda sudah siap belajar matematika, libatkanlah emosinya. Belajar dengan perasaan senang. Gampang saja! Aktivitas permainan, penggunaan media dalam prosesnya, menyimpulkan dengan nyanyian yang disukainya, serta tepuk-tepuk, mampu membuat siswa Anda kerasan menikmati suguhan matematika. Emosi siswa juga akan lebih nampak jika guru berani menyodorkan peristiwa-peristiwa kontekstual matematika terkait dengan kehidupan siswa sehari-hari.
            Ketiga, pembeli yang aktif. Hampir bisa dipastikan, ketika pembeli tertarik dengan sebuah produk maka dengan segera dia menghampirinya, melihat-lihat kemasannya, lalu mengambilnya. Supermarket dan produk dagangannya tak akan berarti apa-apa jika tak ada pembeli yang terlibat di dalamnya. Pembeli adalah siswa Anda , sedang produk adalah matematika itu sendiri. Ketertarikan anak Anda terhadap matematika secara otomatis akan menjadikannya untuk segera aktif mempelajarinya.
            Keempat, komentar pembeli. Produk sudah di tangan lalu dikonsumsi oleh pembeli. Selanjutnya, apa yang akan dilakukan pembeli itu? Biasanya, komentarlah yang muncul duluan. Ditanya keluarga, teman, bahkan tetangga, pembeli itu pun berusaha menjelaskan tentang kualitas produk yang dibelinya. Jika baik akan menularkan virus baik bagi pembeli lain untuk melakukan hal yang sama. Jika buruk, tentu saja berlaku sebaliknya. Matematika hanya menjadi produk bisu jika tidak dipromosikan oleh siswa Anda. Usahakan, setiap kali belajar Matematika ajak siswa Anda untuk mengutarakan pendapatnya. Siswa terkadang memiliki kelebihan ilmu yang luar biasa, didapatkannya dari banyak referensi dan lingkungannya. Maka, akomodasikanlah kelebihannya dengan memintanya untuk menjelaskan dan mengungkapkan perasaannya belajar matematika.

Akhirnya, tak ada waktu lagi untuk kita berleha-leha. Merevisi cara didik terhadap anak-anak kita. Matematika menjadi idola, bukan lagi sebuah keniscayaan di angan-angan saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar