Jumat, 18 Januari 2013

Matang Tak Harus Menunggu Tua


“Buah alpukatnya yang matang dong Pak. Satu kilo aja,” pinta seorang ibu di pasar.
“Nyari pasangan tuh yang bener. Yang sudah matang untuk berumah tangga,” seorang bapak menasihati anak perempuannya yang ingin sekali segera menikah.
Sama-sama matang. Tapi jika ditilik dengan lebih detail lagi ada perbedaan antara matang yang pertama dengan matang yang kedua. Alpukat yang matang tentu karena usianya telah tua, tapi pasangan hidup yang matang tak ditentukan oleh berapa usianya.
Tentu, orang tua sangat menginginkan menantu yang tanggung jawab lahir dan batin untuk anaknya. Bisa menafkahi, mampu memberi rasa aman. Bisa ngemong, istilah Jawanya. Iya, betul. Tapi itu hanya salah satu aspek seseorang dikatakan matang. Masih ada aspek yang lainnya lagi.
Mari kita lihat sejenak kisah berikut. Anas ra menceritakan,"Suatu ketika Nabi sedang berada di rumah salah seorang istri beliau. Tiba-tiba istri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, istri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya sambil berkata,"Ibu kalian sedang cemburu." Lalu Nabi menahan pelayan tersebut, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik istri yang sedang bersama beliau untuk memberikan kepada pemilik mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah istri yang sedang bersama beliau." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa istri Nabi saw yang memecahkan mangkuk adalah Ummul Mukminin Aisyah. Sedangkan yang mengirim makanan adalah Zainab binti Jahsy.
Rasulullah memang teladan seluruh umat, termasuk dalam urusan pernik-pernik rumah tangga. Riwayat di atas kental sekali menunjukkan bagaimana kematangan diri melekat pada diri sosok agung ini. Respon yang beliau berikan ketika Aisyah marah, bukan berbalik marah, tapi dengan perilaku yang santun Rasulullah memungut pecahan mangkuk, meladeni Aisyah dengan sabar. Paham, bahwa kekasih hatinya sedang cemburu dan memberitahukannya kepada pelayan Zainab tentang hal tersebut. Zainab pun mengangguk tanda mengerti. Tak ada kemarahan.Keputusan yang diambil beliau bukanlah emosional semata tapi berdasarkan rasional. Cemburu tak harus dibalas dengan bumbu cemburu.
Rasulullah dan Zainab sama-sama matang. Keduanya bisa memandang masalah dari sudut pandang orang lain. Kecemburuan Aisyah dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Tak perlu ditanggapi dengan buru-buru melontarkan kata-kata kasar ataupun tindakan yang brutal. Tetap tenang. Mampu mengelola hati.
Bagaimana dengan Aisyah? Apakah wanita mulia ini tidak punya kematangan diri? Tidak benar. Aisyah adalah pribadi yang matang pula meski usianya muda. Maski ada cemburu menggejolak dalam hatinya. Bergemuruh, bagai ombak laut menerjang batu karang. Namun, pada akhirnya bisa terkendali. Aisyah pun melemah. Tak menolak ketika Rasulullah mengganti mangkuk yang pecah. Mau jika di rumahnya dipakai pula untuk menyimpan mangkuk milik Zainab yang pecah. Ada rasa tanggung jawab di sana. Diajarkan langsung oleh Rasulullah. Kritik yang tak langsung terucap ini membuat Aisyah sadar dan belajar dari kesalahan.
Sungguh, kematangan diri tak berhubungan langsung dengan berapa tahun usia dijalani manusia. Kematangan membuahkan pribadi yang semakin hari semakin baik. Ada proses berkelanjutan di sini. Ada persiapan agar bisa diunduh hasil yang diinginkan. Bukan sulap, bukan sihir. Perlu kemauan hati untuk rela menerima kritik, menjadi pendengar aktif. Tak ada sikap reaktif yang negatif.
Kematangan diri juga terlihat dari kemampuan seseorang mengelola ketakutan sehingga keputusan yang diambil memang rasional. Hal buruk selalu dipandang dengan positif. Ada pengambilan hikmah. Dan rumah tangga adalah medan laga yang mampu menjadikan suami istri mendownload banyak hikmah. Belajar. Rumah tangga adalah universitas agar suami istri sadar bahwa membangunnya adalah sebuah kebutuhan untuk saling mendewasakan diri. Bukan hanya sebuah keinginan,”Ya, aku ingin menikah.”
Lambat laun, cepat lambat, suami istri memang harus belajar untuk mengkarbit diri agar matang. Dan rumah tangga adalah salah satu jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar