Senin, 21 Januari 2013

Hujan, Berhentilah! (cerpenku ini menang lomba yang diadakan dkm masjid ITB)


            Siang memang tak begitu memanggang. Mendung tampak melenggang, tak berjalan di langit yang luas. Masih berdiam diri, mengumpulkan awal hitam dan siap untuk menurunkan hujan. Salma menengok telepon genggamnya, melihat waktu yang tertera di layarnya yang sudah mulai dimakan usia. Maklum. Di rumah yang disewanya dari seorang penjual bakso selepas dia melahirkan belum terpasang jam dinding yang bisa dengan cepat dipandang. Hanya ada kalender besar terpampang di tembok yang lembab karena cuaca. Sudah pukul satu siang. Saatnya memandikan si kecil yang masih berumur 1 bulan. Air hangat sudah siap, handuk, dan perlengkapan bayi lainnya pun komplit di atas kasur yang tak lagi empuk, dipinjamkan oleh si pemilik rumah. Di dalam kamar tanpa langit-langit, terkadang air hujan suka jatuh menembus genting tanpa permisi. Pun tingkah tikus-tikus layaknya pelari marathon meramaikan seisi rumah. Tak malam, tak siang.
            “Zaid, ikut bunda ngaji ya? Biar dekat ma Allah. Biar tenang hati ini,” kata Salma mengajak bicara bayi laki-lakinya yang mungil saat mandi. Operasi Caesar yang baru saja dijalaninya tak meredupkan keinginannya untuk menghadiri majelis ilmu rutin mingguan yang biasa didatanginya. Salma memang termasuk wanita yang kuat dan rajin untuk belajar. Ketika bayinya pun masih berumur satu minggu, dia pun belajar untuk memandikan si buah hatinya, anak pertama, sendiri meski bak mandi ditaruh di atas lantai. Salma pun harus jongkok untuk bisa memandikan bayinya. Otomatis, sakit yang masih terasa bekas operasi tak terkira dia tahan. Tapi, dia ingin belajar. Maka, tak heran, aktivitas mengaji pun tak ingin pula dia tinggalkan.
            Salma menikah Desember 2008 dengan seorang lak-laki baik tentunya. Sama-sama mempunyai aktivitas mengaji. Suaminya pun tergolong orang yang tak pernah absen dari aktivitas yang satu ini. Meski hujan, suami Salma selalu berusaha datang. Tentu, terkadang ada andil Salma yang turut mendorongnya. Keluarga yang luar biasa.
            “Bunda, dah selesai mandinya?” sapa suami Salma, Fatih namanya, dari kamar, yang kebetulan bersebelahan persis dengan kamar mandi.
            “Ya, dah ganti pakaian. Zaid masih tidur kan?” jawab Salma dari kamar mandi sambil mengeringkan badan.
            “Iya sih, tapi di luar gerimis,” ujar Fatih ketika melihat Salma sudah di depan pintu kamar.
            Salma pun melongok ke depan, mengintip dari balik kaca. Gerimis memang mengundang. Padahal waktu sudah berjalan satu jam dari Zaid mandi tadi. Berarti tersisa 1 jam untuk bisa sampai ke tempat mengaji. Perjalanan yang dibutuhkan kira-kira 45 menit untuk sampai ke sana. Surabaya wilayah utara timur, tepatnya. Sedang Salma dengan modal bismillah, kontrak rumah di Surabaya selatan. Gelisah membunuh perlahan-lahan hati Salma. Keinginannya mengaji begitu kuat. Apalagi selama nifas satu bulan, ada gersang yang terhampar di padang kehidupannya. Salma menggigit bibir mulutnya, berharap Allah mendengar doanya, “Hujan, berhentilah!”
            “Jadi berangkat? Hujan tuh!” Fatih membuyarkan pikiran Salma.
            “Tunggu sampai ba’da ashar ya ayah. Ayah sholat di masjid dulu aja. InsyaAllah cuaca terang ntar. Semoga,” jawab Salma penuh kekhawatiran. Dia sangat kental dengan karakter suaminya. Suaminya pasti tak mengijinkan dan tak mau mengantar mengaji jika hujan entah rintik-rintik atau deras. Sejak ada Zaid. Minggu sebelumnya juga hampir saja perang kecil terjadi antara Salma dan Fatih, tapi untung bomnya tak meledak. Ketika pulang mengaji, langit gelap dan tak kuasa meneteskan airnya. Spontan, Fatih pun mengencangkan laju sepeda motor.
            “Ayah, pelan dong, kasihan Zaid kena anginnya,” pinta Salma sambil menggendong dan memangku Zaid. Tak lupa, selimut tebal sudah dipasangnya menutupi tubuh Zaid agar terlindung dari gerimis hujan.
            “Dah gerimis bunda, ntar tambah deras. Kasihan Zaid juga. Jalan yang cepat menuju rumah yang mana enaknya?” tanya Fatih.
            “Terserah! Ya kalau hujannya deras berhenti dulu. Berteduh!” ujar Salma.
            “Wah, tambah kasihan Zaid,” Fatih terus menyetir sepedanya.
            Salma terdiam. Dalam hati dia berharap moga Allah menghentikan gerimisnya. Agar tak berujung hujan deras. Apa yang dilakukan suaminya tak lagi ditanggapinya. Salma hanya fokus melindungi Zaid.
            “Sayang, kamu kuat. Jangan takut, Allah Maha Menjaga,” Salma menghibur Zaid yang mulai risih dan menggoyang-goyangkan kakinya. Selimut yang menutupinya rupanya membuatnya gerah. Ditambah cuaca yang mendung dan rintik-rintik hujan, angin pun enggan berhembus menyejukkan. Panas. Dan terlihat semua pengendara buru-buru mengendalikan tunggangannya. Salma menghibur anaknya lagi,”Zaid sholih. Yuk doa ma Allah. “Ya Allah, hentikan hujannya, Zaid mau pulang!””
***
            “Jadi berangkat Bunda?” Fatih bertanya seusai pulang dari masjid dengan berjalan kaki.
            “Enaknya gimana? Gerimisnya dah nggak kayak tadi sih. Nggak deras amat! Kecil-kecil. Lagian langit utara sepertinya nggak mendung,” jawab Salma berharap suaminya mau mengantarnya mengaji.
            “Zaid gimana?” tanya Fatih enggan untuk mengiyakan.
            “Ya diajak,” jawab Salma yang sudah mulai tahu arah pembicaraannya. Bahwa suaminya tak mengijinkannya berangkat. Dia pun beralih, beranjak menuju kamar. Dia pandangi Zaid yang tidur pulas, mengenakan baju lengan panjang warna merah muda, dipadu dengan celana warna putih. Terkadang, batin Salma begitu paham maksud suaminya, namun di sisi lain, ada gejolak penolakan yang besar dirasakannya. Salma tak ingin kehadiran sang anak justru membuat dirinya lemah. Lesu dalam menuntut ilmu, lesu untuk berdakwah, lesu untuk melakukan kebaikan. Dia hanya bisa yakin, bahwa jika dia menolong agama Allah, maka Allah pun akan menolongnya. Dalam menghadapi biji demi biji ujian. Dan kini, hujan dan suami adalah ujiannya.
            “Kenapa menangis? Karena ayah nggak mau berangkat antar bunda?” tiba-tiba suara Fatih memecah alam pikir istrinya yang memang mudah sekali menangis.
            “Nggak apa-apa? Lihat Zaid saja pengin nangis rasanya.”
            “Ah, pasti bunda marah karena nggak jadi berangkat?”
            “Emang kalau ya kenapa?”
            “Bunda, tahu nggak jika bunda berangkat siapa yang ayah khawatirkan?”
            “Tahu. Tapi kan cuma gerimis kecil ayah! Seminggu yang lalu juga nggak apa-apa Zaid kita bonceng waktu pulang mengaji. Toh, bunda kan mesti menutupinya. Kalau deras ya berhenti.”
            “Bunda tahu nggak bagaimana Surabaya?”
            “Iya. Bunda paham. Banyak kendaraan, banyak asap. Bahaya buat Zaid!”
            “Nah tuh.Terus?”
            “Terus kapan dong Bunda bisa mengaji lagi? Masak gara-gara hujan dan Zaid yang masih bayi, bunda nggak ngaji? Sampai kapan ayah? Bunda kan juga harus memikirkan umat juga. Dan ayah sangat tahu, kalau waktu ngaji sebenarnya bunda nggak hanya ngaji, tapi juga selalu membicarakan masalah strategi pengembangan dakwah di masyarakat,” Salma menjelaskan dengan sedikit kesal. Suaranya agak melirih karena takut membangunkan Zaid. Dan dia sebenarnya masih sangat pantangan berselisih dengan suaminya di depan anaknya. Namun, rumah kontrakan bercat biru itu memang tak seberapa besar. Hanya ada 1 kamar, 1 kamar mandi, dan ruang tamu yang tak begitu luas. Berhimpit lagi rumah kontrakan itu dengan rumah sang pemilik aslinya. Maka, tak ada jalan lain. Merendahkan suara.
            “Ya udah kalau mau berangkat. Terserah bagaimana baiknya Zaid menurut bunda,” jawab Fatih.
            “Apa-apa kok terserah bunda sih? Ayah tuh aneh. Terkadang bunda heran!”
            “Aneh apanya?”
            “Kemarin Selasa juga begitu. Ketika mau diantar ayah pergi ke tempat adik-adik binaan bunda, ayah juga menanyakan,”Berangkat nggak?” Eh, sebenarnya bunda tuh sebel ma ayah. Ayah kan sudah tahu kalau ngisi ngaji adik-adik itu kan hal yang baik. Seharusnya ayah mendukung dong! Seharusnya tuh berkata,”Ayo Bunda berangkat!” Apalagi saat itu nggak hujan. Cuma mendung saja!”
            Fatih tersenyum. Ya, dia tahu bahwa tak seharusnya bersikap seperti itu. Tapi, entah mengapa, sejak Zaid lahir, Fatih tak seperti sebelumnya.
            “Tapi maksud ayah bukannya nggak mendukung, tapi ayah khawatir ma Zaid,” jelas Fatih.
            “Kan belum hujan ayah! Kalau hujannya deras bunda kan pasti berpikir ulang. Ah, masak gara-gara ada anak, bunda hanya bisa di rumah saja.”
            “Iya, iya ayah salah. Maaf! Jadi berangkat nggak sekarang? Masih gerimis tuh!”
            “Nggak usah berangkat. Sudah telat. Sampai sana sudah selesai. Dan bukan ini yang bunda harapkan dari ayah yang semuanya selalu diserahkan kepada bunda!”
            “Lho katanya ntar katanya kalau hujan deras berhenti? Kalau masih gerimis begini Zaid ditutupi?” Fatih bertanya ulang seolah menyindir.
            “Iya, tapi jam berapa sekarang? Sebenarnya tadi bunda tuh dah perkirakan waktunya, tapi ayah begitu sih! Nggak pernah ada sepakatnya ma bunda soal hal ini. Terlalu banyak kekhawatiran. Padahal sudah jelas, maksud bunda kan baik. Tujuan bunda kan baik. Ayah malah nggak mendukung! Bunda kan jadi kesal!”
            Menengang wajah Salma. Tak ada senyum menggaris di bibirnya. Dia peluk Zaid yang masih tidur. Perlahan namun pasti, air matanya luluh. Buru-buru dia menyeka, karena tak ingin mengenai bayinya. Salma masih menunggu suaminya angkat mulut untuk mengutarakan solusinya. Bukan untuk sekarang, karena waktu sudah berjalan sampai pukul 4 sore dan mereka berdua masih hanyut dalam persengketaan. Tapi untuk minggu depan, hari-hari berikutnya yang masih selalu menunggu kehadiran Salma dalam majelis mengaji itu. Salma tak berhenti bergerak. Dirapikannya tas berisikan perlengkapan Zaid yang tadi sudah dipersiapkan ke tempatnya semula. Dikeluarkan isinya, lalu dia pun mendekap Zaid lagi sambil berkata,”Zaid, siapa bilang bunda nggak khawatir sama Zaid? Bunda sayang Zaid. Bunda cinta Zaid. Tapi bunda juga cinta Allah, Nak.”
            “Ya udah, ke depan kalau bunda waktunya mengaji bunda berangkat saja. Jika cuaca baik bawa Zaid, Jika hujan, bunda bisa bawa Zaid tapi naik taksi atau bunda naik sepeda sendiri, tapi bunda dah siapkan perahan ASI untuk Zaid. Biar Zaid sama ayah di rumah,” Fatih akhirnya berbicara.
            “Kenapa nggak dari kemarin-kemarin ayah bilang begini? Ini yang sebenarnya bunda tunggu. Bunda tu pingin berepakat ma ayah tentang hal ini. Bukan semua terserah bunda,” Salma menjawab. Lega sudah merambah dalam dadanya. Paling tidak suaminya ternyata masih bijak dan paham bahwa memang kebaikan tetap harus dijalankan. Apalagi ini demi tegaknya agama yang mulia ini. Toh, Fatih juga mengaji selama ini. Jadi, dia masih paham dengan semua ini. Zaid hanya sentilan kecil yang wajar jika sempat mengganggu ketenangan hatinya. Anak pertama yang memang dinantikannya. Namun, memang sebenarnya Fatih orang yang sangat lembut. Perselisihan apa pun dengan Salma selalu diakhirinya dengan keputusan yang melapangkan dada keduanya. Menggoreskan senyum dan tetes air mata yang mengharukan jiwa. Hingga Salma dan Fatih kembali saling menguatkan untuk mencapai tujuan mereka berumah tangga. Senantiasa dalam ketaatan, membangun keluarga percontohan dengan iman dan taqwa sebagai landasan utamanya.
            Salma pun berlalu. Kali ini dibukanya pintu rumah. Semilir angin melanjutkan roda kehidupan setelah gerimis berhenti tak berbuah hujan. Pukul 16.15. Salma mengambil telepon genggamnya yang sudah usang. Dipencetnya tombol-tombol kecil mengetikkan kalimat ijin kepada guru ngajinya. Bahwa dia tak bisa datang. Syukur, respon yang positif pun mengalir dari guru ngajinya. Lalu, Salma pun meraih Al Quran. Dilantunkannya perlahan meski ada isak tangis yang belum hilang. Sebelumnya sempat tertahan. Dengan pakaian yang masih lengkap seperti ketika dia akan berangkat mengaji tadi. Pakai kerudung putih dan gamis berkancing depan. Suaranya pun memecah senja hingga ambangnya akan hilang menjelang magrib dan malam.
            Tak tertinggal pula Fatih. Dia pun berlalu. Entah kemana perginya, dia keluar rumah, berjalan kaki. Kalau tidak ke masjid, pasti ke warung internet. Dua orang ini memang begitu. Ketika sedikit tak akur, untuk menentramkan jiwa agar tak menambah keruh, ada caranya masing-masing.
            “Ayah, maafkan bunda atas kejadian barusan. Bagaimanapun bunda butuh untuk menghidupkan kembali hati yang tertidur. Nifas membuat bunda gersang. Bunda juga kangen teman-teman seperjuangan yang ada di tempat mengaji. Bunda butuh taujih, bunda butuh itu. Terima kasih atas solusi yang barusan ayah utarakan. Semoga bisa diwujudkan ke depannya. Ke mana ayah pergi sekarang? Terserah ayah jika itu memang membuat hati ayah tenang. Bunda dan Zaid tetap akan membukakan pintu ketika ayah sudah mau pulang,” Salma berkata lewat SMS.
            Tak ada jawaban. Ah, biarlah! Begitu batin Salma. Sebentar lagi juga akan reda gejolak hati suaminya yang baru saja tersulut. Seusai tilawah, Salma pun masuk ke kamar. Direbahkannya tubuhnya miring ke kanan menghadap Zaid yang masih tertidur. Biasanya pukul 17.00 bayi yang lahir dengan berat badan 2,6 kg ini bangun. Menyusu. Dan benar, selang beberapa menit kemudian, Zaid terbangun. Salma pun segera melayani permintaan anaknya. Ketika sudah kenyang, diletakkannya kembali Zaid ke tempat tidurnya semula dan Salma mulai mendendangkan dzikir pagi dan petang dilanjutkan hafalan surat-surat pendek juz 30.
            Pintu rumah diketuk. Fatih pulang. Salma pun turun kasur beranjak membukakan pintu. Keadaan sudah aman, kembali normal.
            “Makan yuk Bunda! Ayah dah lapar,” ajak Fatih memulai percakapan.
            “Emang ayah sudah beli lauk?”
            “Ini!” Fatih menjawab sambil menjulurkan kresek hitam berisikan capjay kesukaan Salma.
            “Ayo!”
            Piring digelar. Nasi sudah ditumpahkan siap untuk dituangkan capjaynya. Lalu disantap hangat-hangat. Salma dan suaminya terihat lahap. Cekcok yang singkat rupanya sudah cukup menguras energi mereka sehingga perut tak tahan lagi membunyikan keroncongnya. Dan nasi plus capjay adalah penawarnya.
            “Bunda, maafin ayah! Seharusnya ayah tak bersikap seperti itu. Apa yang dilakukan bunda kan sesuatu yang baik. Ayah egois. Ayah terlalu khawatir sama Zaid. Padahal Allah pasti menolong hambaNya yang berjuang untuk agamaNya,” Fatih berkata tatkala dia dan istrinya merebahkan badan ketika menjelang tidur malam.
            “Nggak papa. Bunda ngerti kok. Tapi solusi tadi bisa dijalankan, bukan?”
            Fatih mengangguk. Dipegangnya jemari tangan istrinya. Ada haru yang membiru di dada Salma. Peristiwa sore itu begitu membuatnya mendesah berkali-kali. Desah harapan agar tercipta sebuah kesepakatan. Bersama Fatih, suaminya tercinta. Dan kini, desah berubah bungah. Keduanya saling menguatkan.
            “Ya Allah, terima kasih,” ucap lirih Salma.
            Dan malam mengantarkan kantuk hingga pasangan suami istri ini pun terlelap. Namun, masih ada hari esok yang menantang, menuntut keduanya untuk lebih matang menghadapi segala rintangan. Utamanya ketika ada aral saat perbuatan baik akan dilakukan. Ketika turun hujan, yang sangat wajar sebagai alasan. Lalu keduanya menjalankan alternatif solusi yang sudah disepakatkan sambil hati takkan seraya berhenti berdoa,”Hujan, berhentilah!” 

1 komentar: