Jumat, 18 Januari 2013

Where Will You Go


Membuka netbook yang baru saja dibeli, nampak tulisan ini di dekstop,”Where will you go?”Pertanyaan yang sama pada syair lagu seperti ini,”Where will you go,my loving? Where will you go?” Lagunya siapa ya? Ada yang ingat?
Sama tak berarti harus sama. Apa maksudnya?
Ya tergantung siapa yang bertanya. Kemana kamu akan pergi? Jika orang tua kepada anaknya yang menginjak dewasa biasanya melontarkan pertanyaan ini setiap kali anaknya mau pergi ke luar rumah dengan rasa khawatir. Berharap mereka akan melangkahkan kaki mereka ke tempat yang baik.Kalau pertanyaan ini diajukan pada pasangan hidup kita, biasanya ada rasa takut yang menyertai kalau-kalau, maaf,ada sesuatu yang membuatnya pindah ke lain hati. (aduh, kayak iklan di tivi aja. “Mau ke mana? Dengan siapa? Sedang ngapain?”). Tapi, seandainya “Where will you go ini” ditanyakan Allah, apa jawabannya? Kira-kira saja.
Pertanyaan yang seharusnya membuat manusia gelisah. Setiap mau memakai sepatu atau alas kaki untuk beranjak pergi akan diingatkan oleh 4 kata ini. Ada tanda seru di sini, seperti rambu-rambu lalu lintas yang sering kita jumpai di jalan-jalan. Hati-hati. Pertanyaan mendasar agar manusia tidak kesasar. Jalan kehidupan sangatlah banyak arahnya, tidak seperti jalan di akherat kelak yang hanya dua, surga atau neraka. Padahal antara 2 jalan inilah seharusnya tujuan pilihan yang hendak manusia tuju. Jalan kehidupan penuh dengan liku-liku, ada tikungan tajam,ada pula jalan menanjak. Yang lurus-lurus saja juga tak kalah banyaknya. Kalau melewati jalan-jalan ini saja manusia mengatur kecepatan kendaraannya, apalagi jika jalan yang akan dilewati menuju surga. Pasti manusia akan lebih berpikir bagaimana bisa selamat menuju ke sana.
“Where will you go?” Surga. Memang sih, ini pun masih kontroversi. “Hidup kok mau ke surga. Manusia beramal kok karena takut neraka? Beramal ya karena mengharap ridho Allah dong! Surga itu akan otomatis jika kita melakukannya untuk mengharapkan rahmat Allah.” Begitu celoteh, oh maaf, nasihat sepertinya lebih pas, yang pernah terdengar di telinga. Betul juga. Tepat sekali. Tapi sekali lagi, ini soal manusia (apalagi manusia jaman sekarang yang jauh dari Rasulullah dan para sahabatnya, jauh dari para salafus sholih). Manusia yang akhir-akhir ini setan makin gencar melakukan serangannya. Menggoda, membisikkan kesesatan, memperindah dosa di pelupuk hati, mata, dan perbuatan manusia. Manusia Allah akan didapatkannya. Banyak sekali dimensinya. Kesehatan adalah rahmat, keluarga bahagia sejahtera adalah rahmat, keamanan adalah rahmat, kenikmatan beribadah adalah rahmat. Banyak, tak terhitung. Manusia juga cukup sulit menggambarkan bagaimana Allah ridho. Dan faktanya manusia mudah melukiskan bagaimana indahnya surga. Surga adalah kolam susu, bidadari bermata jeli yang selalu suci, terlengkap mengalahkan pusat perbelanjaan apapun, surga adalah sungai yang mengalir, makanan serba lezat. Sedang neraka adalah nanah, darah, panas, kulit mengelupas, api yang menyala.
Memang, rasanya sulit sekali manusia bisa masuk surga murni karena amalnya, maka dalam doa pun ada sebuah pinta,”Masukkanlah kami ke sana karena rahmatMu saja.” Tapi disisi lain Rasulullah juga mengajarkan doa,”Ya Allah, aku meminta surga, dan lindungilah aku dari neraka.” Sama saja.
“Where will you go?” Pertanyaan ini seharusnya senantiasa terpatri dalam benak yang sering lalai ini. Agar langkah kaki tak sia-sia ke sana kemari. Ada tujuan besar yang hakiki. Surga atau ridho Illahi (pilih sendiri).
“Where will you go?” Semoga takkan pernah mati mengisi detik, menit, jam, hari, dan tahun, jatah usia manusia di dunia ini. Satu lagi, semoga tidak hanya menjadi background deskstop netbook tempat aku menorehkan pikiran ini. Amin.
(catatan kala 2010 silam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar