Senin, 21 Januari 2013

Maaf, Aku Tuli


            Jajaran besi yang kadang lurus, kadang berkelok-kelok itu menorehkan prasasti duka. Diciprati sinar mentari dengan derajat suhu yang masih enggan meninggi, terlihat besi-besi hampir karatan itu sedikit menyilaukan. Merah, hanya di sebagian kecilnya, meskipun dia panjang tak tahu ujungnya. Menghampiri tiap pos-pos mangkalnya calon penumpang kelas ekonomi, bisnis, atau eksekutif. Cairan agak kental tercecer membuat blok-blok di aspal pinggir rel kereta api.. Tubuhku berlumuran darah tergeletak layaknya mati. Tapi seonggok ringkihku belum mau melayangkan ruhnya. Dibopong seorang laki-laki tegap, sepertinya. Namun, tidak saat itu. Matanya terbelalak biasa, ada guratan di bawah matanya bekas lipatan lengan baju sempat menjadi bantal tidurnya. Bunyi isyarat kereta api datang mengagetkan tidur pulasnya. Terlambat! Palang pelintas jalan terlambat diturunkannya dan laju kereta melibas sepeda motor Yamaha tak sempurna melintas paksa alias nylonong di depannya. Terjebak di antara dua palang yang menghalangi lajunya.
            “Tidak!” jerit bapak penjaga palang kereta.
            ”Bres!” kereta tak berhenti melindas-lindas sepeda bermesin itu. Remuk. Rengsek. Untung, pengemudinya, aku, sempat terpental.
            Ambulans datang menjemputku nan tergolek lemah, dilarikan ke rumah sakit. Tergopoh-gopoh, perempuan berhidung mancung mendatangiku. Membawa degup jantung, ketir-ketir ingin segera tahu kabar anaknya.
            ”Makanya, kalau dibilangin orang tua tuh manut?” perempuan bertahi lalat di pipi itu duduk sambil memarahiku yang belum melek.
            ”Sudah Bu, nggak ada gunanya marah-marah! Semua dah terjadi,” sahut laki-laki ceking berkumis tebal, berdiri di depan ibuku, yang tak lain adalah dokter yang merawatku. Tak nampak bapakku. Tulang-tulangnya yang tak berbalut kulit bisa dilihat di tanah makamnya. Kini, setelah lewat lima tahun yang lalu.
            Tersedu-sedu, menumpahkan tetes-tetes air. Ibuku yang malang. Sosoknya sebenarnya sangat aku kagumi. Dulu. Jiwa mandiri, sosoknya yang penuh kasih sayang. Tapi, semenjak ibuku melahirkan adik-adikku sebanyak tiga berjarak tiga tahunan dan sekarang hamil lagi anak kelima, hidupku jadi berantakan, carut marut dan cemberut. Umurku sudah 20 tahun, namun kemelut cemburu masih meluap-luap memupuk subur di dadaku. Batang kasih ibuku kian mencabang, lalu memanjang. Apalagi sekarang, entah karena bawaan si jabang bayi di kandungannya yang ngalem atau faktor lainnya, ibuku mirip harimau kelaparan mengaum pada mangsanya. Marah-marah melulu. Meledak-ledak menyemburkan asap panas menyesakkan organ pemompa darahku. Ah, ibu! Mengapa? Aku pun tak luput lagi, memberontak sebisaku.
            ”Ibu nih kenapa sih!”
            ”Kenapa, kenapa! Mau ke mana lagi kamu, hah?” dengan nada tinggi ibuku menyapa kasar aku di depan pintu kamar.
            Tak kuhirau. Berlalu, masuk telinga kanan, keluar lagi dari telinga kiriku. Pertanyaan yang memuakkan, hampir setiap hari menderu-deru di telingaku. Tak jarang, cibiran bibirku kuhadiahkan pula pada ibuku. Langsung! Ah, ibu, begitu mudahnya ku menyakitimu?
            ”Biar saja. Emang aku anak kecil apa? Ditanya ini ditanya itu! Sebel!”aku mencucu, memajukan bibir tipisku. Gumamku menahan jengkel. Uhhhhh!
            ”Dasar anak tak tahu diuntung. Ngluyur aja kerjaannya!” celetuk ibuku lagi sambil mengelus-elus perut buntingnya. Sudah 8 bulan lebih 12 hari.
            Angin lalu. Masih bagiku. Kata-kata itu sudah basi mengusik-usik di indra pendengaranku. Sontak, kugaet tas lebus hitam lemah terbaring di sofa ruang tamu. Beberapa seratnya sudah keluar dari pola-pola teraturnya. Aku lenyap, menelantarkan suara-suara aneh ibuku yang terus mengudara. Aku menang.
            Sederhana. Lain halnya dulu. Pernah, ibuku ngamuk tak kepalang ngerinya. Buas, sampai-sampai beberapa barang ditembakkannya ke arahku. Nada yang seirama. Memojokkanku dengan omelan-omelan garing, dilontarkannya lalu aku buang lagi di tempat sampah. Pasalnya tak serumit yang dikira. Menurutku.
            ”Lihat nih! Gara-gara ulahmu di sekolah, ibu disemprot sama kepala sekolahmu!”ibu gemes membayangkan tingkahku. Bantal sofa melayang ke arahku. Ah, tak terlalu sakit menghantam dadaku. Santai saja.
            ”Sekolah tuh ya buat belajar, ini malah tawuran. Jadi gembongnya lagi! Nggak malu apa?”
            ”Lha sana nyerang duluan!”
            ”Alah, alasan aja. Ngalah kenapa? Ujung-ujungnya ibu juga kan yang kena. Sadar nggak sih?”
            ”Yah, nggak keren dong Bu! Aku kan laki-laki!”
            ”Hiiiiiiih! Keren digedhein. Nggak tahu ibu nih sudah susah ngurus adikmu! Eh, kamunya malah kumat tabiatnya yang dulu!”ibu maju menggoyang-goyang pipiku setelah sebelumnya sovenir kayu di dekat televisi dilemparkannya keras pula ke tubuhku. Yak! Pas! Tangkapan yang bagus. Yeach, ibuku kalah lagi!
            Begitulah! Kasus-kasus yang menumbuhkan geram ibuku rasanya sudah melampaui batas. Menguncup lalu mekar. Tak seindah kembang. Meski aku kerempeng, tapi aku bak banteng. Menyeruduk, membabat habis dengan tanduk kesaktian yang kumiliki. Teguran dan nasihat tak terhitung lagi mendarat di dermaga hati. Namun, semuanya merapat sebentar lalu pergi. Hatiku bagai baju besi, memantulkan kembali panah-panah yang tak lagi sakti.
            Pernah, di penghujung akhir tahun, detik-detik menunggu manusia seantero dunia akan menapaki babak baru. Hura-hura mewarnai setiap lini dan lapisan kota. Gebyar gempita lampu jalan raya, meriam-meriam mungil menyalakan apinya ke angkasa, seakan-akan telah menjadi ikon resmi setiap penyambutan tahun baru. Aku pun tak kasep mencicipi hidangan lezat malam itu. Hingar bingar kota plus dipandu teman-teman satu geng, aku menikmati perayaan dengan minum sepuasnya.
            ”Tok, tok, tok!”pintu kuketuk dengan kerasnya. Aku sempoyongan.
            ”Ya Allah!”ibuku yang sudah memakai baju kebesarannya untuk tidur menangkap tubuhku. Teler! Bau! Krah baju kaos yang kukenakan basah dilumur air-air jahannam.
            ”Bruk!”aku terlempar di sofa coklat rumah. Di bawahnya ada karpet, biasa aku duduki saat menyantap sarapan dan makan malamku.
            ”Jadi gini ya! Berani-beraninya mabuk tanpa sepengetahuan ibu! Siapa yang ngajak gini tadi?”ibu memulai ocehannya.
            ”Ibu, biarkan aku tidur sebentar ya,”nada suaraku lemas.
            ”Tidur? Nggak tahu apa ibu cemas dari tadi!”
            ”Bu!”gertakku bangkit ingin segera menuju kamarku.
            ”Nggak! Jelaskan pada ibu dulu!”ibu menarik tangan menahanku.
            ”Plak!”pipi ibu aku tampar. Melengos menyemat warna merah. Tak sadar aku melambaikan tangan ini penuh emosi.
            ”Ohhh, tega ya ma ibu! Ibu ini yang melahirkanmu Nak. Ibu yang mengurusmu sejak bayi. Ini balasannya?”kulihat ibu mulai terisak tersedak-sedak.
            Ku berlari. Ah, ibu! Andai engkau tahu aku memang jengkel padamu. Aku rindu pelukmu tapi engkau tak pernah menyambut kelapangan dadaku merengkuh tubuhmu. Meski sekedar kuingin bersandar di pundakmu. Rindu aku ibu tatkala kecilku tidur engkau menawarkan seribu kasih mengisahkan dongeng,  membetulkan selimut, dan mencium keningku. Ah, ibu!
            Selanjutnya, masih perihal diriku. Album sejarah melambangkan begitu keras hati dan otakku.
”Aduh! Kenapa benjol-benjol begini?”suara cempreng ibuku mendarat kasar di landasan telingaku malam selepas isya. Aku terburu-buru mencari tempat persembunyian aman dalam rumahku yang tak terlalu besar. Warisan turun menurun dari keluarga mendingan bapak.
            ”Oi, dasar maling tengik! Kembalikan tuh sandal-sandalnya!”tiga orang berteriak dari luar rumah. Para jamaah masjid komplek perumahan menyerbu melampiaskan uneg-unegnya. Desas-desus kehilangan sandal seminggu sebelum akhirnya pelaku dikonangi, sudah sempat mengalun-ngalun dari mulut ke mulut.
            ”Brak, brak, brak!”pintu usang rumah digebrak berirama cepat memekakkan telinga. Ibu menghampiri dan membukanya.
            ”Ada apa Pak?”
            ”Makanya Bu, kalau punya anak diurus. Mana dia? Dia harus mengganti sandal jamaah yang diembatnya. Untung tadi ketahuan!”
            ”Ya betul!” serombongan jamaah lagi tiba-tiba datang berdemo menyerbu teras rumah tak seberapa terang.
            ”Maling sandal? Emang siapa yang maling? Berapa dia harus mengganti?”
            ”Anak Ibu yang kurang kerjaan itu. Siapa lagi kalau bukan dia? Pokoknya ganti! Kami nggak terima!”berontak mereka.
            Ibu mengeluarkan uang dari dompet kecil bunga-bunga di kantongnya. Disodorkannya lembaran seratus ribuan sebanyak dua kepada pengurus masjid yang kebetulan juga turut dalam rombongan. Ah, ibu! Aku terharu. Namun, bebalku malah semakin tebal. Tak tergores kalimat taubat di gelaran luas hatiku. sejak ku SMP hingga akhirnya kumat lagi. Padahal, ibu tak henti-hentinya, bak pahlawan angkatan 45 menegurku.
            Hanya bapak yang mumpuni. Aji-aji kanuragan yang dipunyai seolah menyalurkan energi terapi menyembuhkanku. Entahlah, tiba-tiba aku manut. Persis seperti kelapa muda tak menolak ketika diparut. Atau seperti cabe, bawang, dan gerombolannya digerus-gerus menjadi bumbu ikan laut. Makanan favorit keluargaku. Hanya sebentar. Dua tahun cukup, hingga lantai kamar mandi sialan itu menggelincirkan kakinya, tumbang, terbentur, dan akhirnya bablas.
            Ibuku yang tersisa. Pemain cadangan yang menggantikan peran bapakku. Sungguh sempat kumerasakan hal yang sama. Perjuangannya menyambung hidup kami, aku bilang bisa diacungi jempol. Melayani guru privat tiap sore di rumah, tiga anak SD bergantian dengan total upah enam ratus ribu per bulan. Tidak cukup memang, tapi ibuku, itulah yang aku banggakan. Sepertinya sudah naluri keibuan pandai mengatur uang. Bahkan sepeda motor yang kupakai ke sekolah dulu juga hasil jerih payahnya. Ah, ibu! Jujur, sebenarnya aku pun melabuhkan sayangku kepadamu.
***
            Lampu bundar redup di atap langit kamarku tergeletak masih belum menamatkan riwayatnya, meski malam kian tenggelam. Aku, sebenarnya paling doyan berbaring tanpa lampu memendarkan sinarnya. Tapi, tidak kali ini. On atau off sama saja. Tak berasa, hambar memberikan sorotannya. Terkulai aku dua malam bak mayat hidup. Aku pun enggan mengigau meski hanya sekedar melapangkan napas khawatir ibuku. Sembujur kaku, khusyuk tanpa pemaknaan. Aku membatu.
            Kerling-kerling air mata meratap saksikan fakta. Ibu mendesah membuang resah. Hembuskan CO2 kesedihan. Berkali-kali sesosoknya mengeluhkan polah tingkah diriku. Aku adalah pengkhianat, makhluk paling tega membuat ibuku mengurai butir-butir air suci matanya. Ah, ibu! Mengapa lagi-lagi aku biang keroknya?
            ”Nak, bangun dong Nak!”
            Ibu berbicara lembut melontarkan permintaan harap padaku. Tak kudengar, memang. Namun, sentuhan tangannya menyapu-nyapu wajahku menggetarkan denyut-denyut nadiku. Mengalir bersama darah, menembus dinding-dinding tulang menyampaikan salam kasih yang lama kurindukan. Di mendungnya pagi, kurasakan ada hangatnya mentari mengiringi kembang kempis jantungku. Itu, dari ibuku. Perempuan berbadan dua itu setia menungguku. Rambut ikalku dirapikannya. Selimut penutup sebagian tubuh bawahku dibetulkannya. Sengaja, meredam rasa duka jika ibuku tak sengaja harus melihatnya. Kaki kananku diamputasi. Tulang penegaknya patah ketika menghantam badan jalan dilindas roda mobil kijang. Aku mengerang di bawah pohon besar pinggir jalan. Kejet-kejet bergerak kaget, lalu lunglai tak berkutik.
            ”Nak! Bangun, Nak!”ibuku merayu lagi menutupi hidungnya. Ada ingus-ingus bening mbeler seiring dengan tangisnya. Tenang, bukan ingus penyakit atau ingus gejala flu, tidak menular.
            Aku merengek patah-patah belum kuat membuka mata. Ada sakit tak berperi mengogrok-ogrok, menyepak-nyepak sekujur tubuhku. Sekali lagi aku merengek. Buru-buru, ibu menggenggam jemariku yang mendingin dibalut keringat merembes melalui pori-pori kulitku.
            ”Ada apa Nak? Ibu panggilkan dokter ya?”simbol khawatir menggurat di raut muka ibuku. Beberapa detik saja. Aku merengek sekali lagi, lalu bungkam tak menyahut lagi. Dalam waktu 4 sampai 5 jam lagi, menurut perkiraan dokter aku pasti akan siuman. Ah, ibu! Itu terlalu lama.
            Hening bergeming di hari yang mulai merayap menuju ubun-ubunnya. Hilir mudik kendaraan bervariasi banyak roda lalu lalang melintas di jalanan. Kecek-kecek pengamen pun digoyang-goyang menciptakan irama monoton tak renyah didengarnya. Hidup di kota memang harus berani pasang muka. Keras, banyak pergulatan manusia sikut-menyikut mengais rezekinya. Ampun! Tapi tidak dengan ibuku. Cukup jadi guru les privat tetangga-tetanggaku. Profesi yang tak terlalu kugemborkan di hadapan teman-temanku yang rata-rata anaknya pegawai negeri. Aku malu. Kalau dulu tidak begitu. Karena bapakku orang yang cukup mapan. Posisi mentereng di sebuah penerbitan media kota mencuatkan keadaan ekonomi keluargaku. Aku berani mengumbar sana-sini tentang status diriku. Padahal, tak pernah sedikit pun orang tuaku mengajarkan itu. Namun, setelah sosok kepala keluargaku out, buyar pameran kemegahan itu. Ah, ibu! Maafkan aku telah menilai kecil pekerjaanmu! Padahal dari jerih payahmu aku bisa menyantap sepiring nasi komplit dengan lauk dan sayurnya. Pun menunjukkan kegagahanku membuat manuver-manuver di jalan dengan sepeda motor pemberianmu. Jelek memang yang kulakukan, tapi itulah aku.
            ”I-bu, I-bu!”aku mengerang memanggil nama ibuku. Parau, seperti ada yang mengganjal di leherku. Pantas! Ada gips putih melingkar menyangga dagu, mengangkat wajahku mendongak sedikit ke atas. Ada sumbu kebahagiaan menyulut di lesung pipi ibu. Diraihnya tubuhku. Dia mendekat menyalakan cinta mengusap-usap dahiku.
            ”Ka-ki-ku sa-sa-kit!”aku meringis.
            ”Sabar ya Nak,”ibu menunduk meleleh.
            ”Du-duk,”pintaku.
            Seketika, ibu mengganti posisi tubuhku. Diberdirikannya bantal putih penopang kepalaku. Kutarik tubuhku mundur. Ada yang aneh. Tak seimbang antara kedua kakiku. Jangan-jangan? Pertanyaan itu kulontarkan diam-diam mengetuk pintu hatiku. Lima kali terus dan terus aku bertanya dalam hati. Ragu-ragu aku memberikan jawaban. Tanpa pikir panjang lagi. Kusibakkan selimut loreng hitam putih ciri khas zebra langsung dengan tanganku. Sontak, aku terperanjat. Kugigit bibir pecah-pecahku, kering tak tersentuh air menahan turunnya hujan deras mataku. Sekali, dua kali, tiga kali aku gigit, bisa. Setelahnya, meluber ke arah yang dia suka, menyapa pipi, masuk pula ke mulutku. Tak sengaja.
            ”Tidak!”ratapku histeris, menggema di seluruh ruangan.
            ”Sabar Nak, sabar!”ibu memeluk tubuhku erat-erat, menghiburku.
            ”Tidak!”kugoyang-goyang kepalaku. Kasur-kasur tak berdosa juga jadi sasarannya. Kuhantam berulang kali dengan genggaman tanganku. Seperempat jam aku meronta, berontak menjelek-jelekkan tuhanku. Betapa tak adil takdir-Nya bagiku. Kurang ajar, bisa aku katakan begitu. Aku pun mulai menyalahkan ibuku lagi. Karenanya, kecelakaan itu mampir dalam hidupku. Andai Rabu pagi itu ibu bisa lembut padaku soal ijinku ke malam pesta ulang tahun temanku, maka nasib sialku ini pasti tak akan terjadi. Ibu khawatir aku mabuk-mabukan lagi. Ah, Ibu! Aku kecewa. Tiga kali sudah aku memohon. Akhirnya, kupasang kuda-kuda mengembara dengan sepeda motorku.
            ”Ke mana kamu? Dibilangin orang tua selalu aja nggak didengerin!”kubiarkan menguap omelan ibuku saat itu.
            Kutancap gas. Kecepatan tinggi. Lenyap ditelan bumi yang mendengar dendam kesumatku pada ibuku. Lagi-lagi ibu melarangku. Menyekat-nyekat hidupku. Dengan petuahnya yang terlalu kuno untukku. Sepeda motor melaju berteman sungut mulutku. Terkoyak aku hingga sampai di lintasan rel kereta api kecelakaan itu akhirnya merenggut kaki kananku. Uhhhhh! Sebel!
Aku masih shock! Suara tangis ibu mendekapku menambah riuh suasana kamar kecil itu. Bergetar, seolah ada gempa dengan kekuatan beberapa skala richter. Dokter dan perawatku turun tangan, berhasil membius teriakan dan polahku, protes terhadap nasibku.
***
            Itu dulu. Aku termenung, kini. Bersandar pada kursi goyang rotan, tahta almarhum bapakku sambil membaca koran. Aku menerawang jauh menembus batas pandangku di teras rumahku. Malam hari tatkala gelap mulai menyembunyikan awan di langit yang sudah tak tampak biru. Kecoa-kecoa liar berjalan malu-malu melintas di depanku. Pun, geming-geming angin menyusup dingin ke dalam kudukku. Perlahan tapi pasti, air itu menetes memberi sentuhan baru di lembehan lengan tanganku. Hal yang sebenarnya paling tabu bagiku sebagai seorang laki-laki. Pantang cengeng apalagi sampai menangis.
            Lagi-lagi, itu dulu. Di saat aku tuli. Menutup rapat-rapat telinga kanan dan kiri. Ketika jengkel dan nasib buruk kuciptakan sendiri. Ibu menyusul bapakku. Terpeleset di kamar mandi. Licin. Karena ulah yang sama saat bapakku mati. Aku malas menguras meski aku sudah tahu itu adalah tugas rumahku. Bahkan ibuku pun tak jera memberi peringatan padaku. Ah, ibu! Aku sendiri, kini. Empat adik kau warisi, tak tahu bagaimana kumengurusi. Terbayang kesulitan nan pernah kau lakoni sampai-sampai menyita waktumu bermanja diri. Aku kian menunduk lesu. Menggunung rasa sesal menyarat di sekujur relung hatiku. Ah, ibu! Maafkan aku! Maaf, aku tuli terhadap nasehatmu. Egoisku mampu mengalahkan logika dan rasa empatiku. Tak pernah kurasakan betapa sulit engkau menghidupiku.
            ”Andai aku tak tuli, andai aku tak tuli,”kumendesah menghembuskan napas sesalku.
            ”Maaf, aku tuli, Ibu!”pelan dan lirih sambil kuelus-elus dadaku.

2 komentar: